‘Update Story’ Kancil dan Kera


Nostalgia Kancil ngerjain Kera yang pelit

Di tengah-tengah kebun pisang Si Kancil duduk merenung. Di tahun enam puluhan dia pernah bertemu dengan Kera di kebun tersebut. Pada waktu itu dirinya yang sedang kelaparan dan bingung, karena tidak dapat memanjat pohon dan mengambil buah pisang, padahal tandan pisang amat banyak menggantung di banyak pohon. Pada waktu tersebut Kera sedang menikmati buah pisang di atas pohon dan tidak mau membaginya, dia hanya melemparkan sisa kulit pisang ke bawah. Si Kancil tertawa sendiri, dia ingat bagaimana dia mengumpulkan kerikil dan mulai melempari Kera dengan kerikil-kerikil. Kera yang marah membalas dengan benda apa saja yang dia peroleh di atas pohon. Karena di atas pohon yang ada hanya buah-buah pisang, maka buah-buah pisang itulah yang dilemparkan Kera kepada Si Kancil. Dengan menggunakan tipu muslihatnya Si Kancil dapat memperoleh pisang-pisang tanpa harus memanjat. Si Kancil merasa puas dapat melempari Kera yang pelit dan memperoleh pisang tanpa memanjat. Akan tetapi itu adalah kisah zaman dahulu. Tiba-tiba Si Kancil ingat cerita Wahyu Cakraningrat……

 

Kelemahan yang menyebabkan perginya Wahyu Cakraningrat

Wahyu Cakraningrat adalah wahyu ‘wijining ratu’, wahyu pewaris raja. Alkisah banyak pemuda mencari wahyu cakraningrat agar keturunannya dapat  menjadi raja. Disebutkan ada tiga pemuda yang mencari Wahyu Cakraningrat: Raden Abimanyu, Ksatria Plangkawati putra Raden Arjuna dengan Dewi Wara Subadra; Raden Samba Wisnubratha, Ksatria Parang Garuda, putra Prabu Kresna dengan Dewi Jembawati; serta Raden Lesmana Mandrakumara, Ksatria Sarojabinangun, putra Prabu Suyudana dengan Dewi Banowati.

Ketiganya bertapa di Alas Krendhawahana, sebuah hutan ‘gung liwang liwung, gawat keliwat-liwat, janma mara janma mati, sato mara sato mati’, daerah angker tempat Bathari Durga bersemayam, makhluk apa pun yang masuk akan mati. Raden Abimanyu berangkat ke lokasi dikawal oleh panakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Raden Samba Wisnubratha dikawal oleh pamannya, Arya Setyaki dan Patih Udawa. Raden Lesmana Mandrakumara dikawal oleh sepasukan prajurit Kerajaan Astina, lengkap dengan perbekalan, koki-juru masak dan persenjataan.

Pertama kali Raden Abimanyu ditakut-takuti para jin dan demit yang mengganggu orang-orang yang bertapa. Ini adalah lambang bahwa seseorang yang menempuh laku akan ditakut-takuti kecemasan batin. Raden Abimanyu tetap tenang sampai jin dan demit pergi sendiri. Selanjutnya muncul sepasang raksasa yang mengamuk bernama Maling Raga dan Maling Sukma. Kedua raksasa itu pun berperang tanding melawan Abimanyu. Keduanya tewas terkena panah sakti Abimanyu. Jasad Maling Raga berubah menjadi Bathara Indra, dan jasad Maling Sukma berubah menjadi Bathara Kamajaya. Kedua dewa itu pun memberikan banyak petuah, bagaimana caranya agar Abimanyu berhasil mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Sesuatu yang mengancam dan menakutkan pada saat melakukan ‘laku’ ternyata di kemudian hari membawa hikmah yang besar.

Alkisah, pada suatu tengah malam, terlihat seberkas sinar yang sangat terang berkeliling di atas Alas Krendhawahana. Sinar itu tak lain adalah Wahyu Cakraningrat yang tengah mencari ‘wadah’, pemuda yang sanggup menerimanya. Pertama-tama, Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam diri raden Lesmana Mandrakumara. Merasa kemasukan wahyu, ia pun menyudahi tapanya. Dia sangat girang dan  berpesta pora merayakannya bersama para prajurit Korawa. Mereka mabok kelezatan makanan dan minuman. Tingkat kesadaran Raden Lesmana Mandrakumara masih di cakra bawah, cakra makan minum, sehingga Sang Wahyu Cakraningrat tidak dapat bertahan lama. Hawa nafsu makan dan minum Raden Lesmana Mandrakumara membuat suasana panas dan Wahyu pergi ke luar.

Selanjutnya Wahyu Cakraningrat mencoba “masuk” ke dalam jasad Raden Samba Wisnubratha. Merasa kemasukan wahyu, dia pun menyudahi tapanya. Bathari Durga tidak berkenan dengan hal tersebut dan mengubah dirinya menjadi bidadari yang cantik jelita. Dia pun menggoda Raden Samba.  Raden Samba Wisnubratha terpengaruh dan tergoda. Dia pun mencumbu dan memperlakukan si wanita itu layaknya istri sendiri. Akibatnya sangat fatal, Wahyu Cakraningrat yang berada dalam tubuhnya seketika keluar dan melesat, mencari pertapa yang lain. Prabu Kresna adalah seorang avatar bijak, akan tetapi genetik yang menurun ke putranya adalah genetik suka wanita, yang menjadi kelemahan Raden Samba. Pusat kesadaran Raden Samba masih di cakra seks, energinya masih cair dan selalu bergerak ke bawah menuju cakra kedua.

Kemudian Wahyu Cakraningrat “masuk” ke dalam tubuh Raden Abimanyu. Merasa kemasukan wahyu, ksatria putra Raden Arjuna ini pun merasa sangat bersyukur kepada Gusti. Mengetahui momongannya kemasukan wahyu, Semar pun mewanti-wanti agar Raden Abimanyu semakin berhati-hati. Semar adalah pemandu manusia yang bijak, mereka yang mengikuti perintahnya akan selamat. Ketika bidadari jelmaan Bathari Durga menggodanya, Raden Abimanyu pun selalu menghindar meski si wanita terus-menerus mengejarnya. Melihat momongannya dalam kesulitan, Semar segera membantu. Dia menghajar Sang Bidadari habis-habisan. Tiba-tiba, si wanita cantik itu berubah wujud aslinya sebagai Bathari Durga yang bersegera mohon maaf dan menghilang. Guru, dalam hal ini Semar, Sang Pemandu mempunyai pengaruh luar biasa terhadap muridnya. Keyakinan seorang murid terhadap Gurunya akan menyelamatkannya. Di kemudian hari Raden Abimanyu menurunkan putra Raden Parikesit yang menjadi raja Hastina paska perang Bharatayudha ………..

Pada zaman dahulu kelemahan Kera adalah obsesinya terhadap makanan. Kera adalah binatang yang mempunyai sifat, terampil, lincah, sederhana, kuat dan patuh terhadap majikannya, hanya mereka akan kembali ke sifat asalnya ketika berada dalam kelompoknya. ‘Sangha’, persaudaraan para peniti jalan kebenaran sangat penting agar seseorang yang masih mempunyai sifat ke-kera-an tidak terseret ke dalam kesadaran rendah.

Pertemuan dengan Kera

Pada masa kini Kera hanya ada di tempat pariwisata dan di hutan……. Tiba-tiba kancil mendengar bunyi tabuhan dan kelihatan……… seekor kera masa kini yang sudah bersahabat dengan manusia.

Seekor monyet memakai celana blue jean overall, berkacamata hitam, dengan topi di kepala, dan tas sekolah dipunggungnya, mengayuh sepeda kecil dengan dada dibusungkan. Dengan penampilan luar sesuai tradisi manusia, mungkin dia sudah  merasa sebagai manusia. Bunyi gendang, tepuk tangan dan sorak sorai penonton, membuat dia semakin yakin bahwa dirinya adalah manusia yang sedang menari. Tetapi……….. ketika ada kacang disebarkan didepannya, dia lupa persepsinya sebagai manusia, di-‘rayuk’-nya kacang tersebar, didekap dan dimakannya sendiri sambil berjalan.                

Memperhatikan tingkah Topeng Monyet, Si Kancil sadar, ternyata Kera masa kini masih terobsesi dengan makanan, dan walau mempunyai fasilitas hidup lebih baik masih juga terobsesi dengan perhatian orang banyak, obsesi untuk menjadi yang ternama.  Si Kancil juga melakukan perenungan apakah mereka yang merasa sebagai manusia, tetapi begitu dihadapkan pada kesukaan dan kenikmatan di depan mereka, lantas mereka pun tidak berbeda dengan Topeng Monyet, dan muncul sifat-sifat aslinya. Apakah setelan jas dan dasi, peci, batik, baju koko, jilbab serta seragam korpri hanya penampilan luarnya saja, dan ketika ketika ada fulus manusia berebut tanpa etika?

Seekor kera yang sudah terbelenggu dengan perannya sebagai topeng monyet sudah sulit diberi tahu tentang bahagianya kebebasan seperti yang dialami Si Kancil. Manusia yang sudah terbelenggu dengan perannya di dunia ilusi juga  sulit memahami tentang hakikat kebebasan.

Si Kancil dengan mengendap-endap meninggalkan kebun pisang……………….Si Kancil sangat bersyukur bahwa dia telah bertemu Sang Gajah, pemandu di hutan belantara Nusantara. Dirinya telah berubah, walau masih sedikit perubahannya, dia sudah tidak seperti Kera yang nampaknya akan sulit bertemu dengan Sang Gajah. “Aku tidak akan melepaskan diri dari Sang Gajah”. Tiba-tiba Si Kancil ingat pesan sang Gajah: “Keberadaan akan memberi segala macam kemudahan, bila kau selaras dengan kehendak-Nya. Bagaimana menyelaraskan diri? Berkaryalah tanpa pamrih!”……………… “Menyadari kelemahan diri adalah anak tangga pertama menuju pemberdayaan diri. Karena hanyalah mereka yang menyadari kelemahannya yang akan berupaya untuk mengatasinya pula”……………”Menyadari kelemahan diri adalah anak tangga pertama menuju pemberdayaan diri. Karena hanyalah mereka yang menyadari kelemahannya yang akan berupaya untuk mengatasinya pula”…….. Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: