Kisah Kasih Sang Gajah


Pengucilan kelompok unggas

Dikisahkan Sang Gajah marah terhadap bebek, ayam dan kalkun. Bebek, ayam dan kalkun dikirimi surat bahwa mereka dan bangsa unggas dikeluarkan dari keanggotaan hutan, mereka dipersilakan mencari pelindung sendiri, Sang Gajah tidak mau melindungi lagi. Kelompok bebek, ayam dan kalkun ‘stress’, mereka sadar akan kesalahan mereka yang tidak pernah akur dalam mengelola masyarakat unggas. Hampir setiap saat terjadi lomba bebek terbang, adu jago dan ‘miss-miss’ an kalkun. Mereka sadar yang namanya dikeluarkan dari perlindungan Sang Gajah berarti sudah tidak ada perlindungan terhadap serangan luar dan tidak akan selamat hidup di hutan belantara.

Mereka bukan golongan ikan mas yang dapat berenang sendiri mencapai pantai seberang. Hanya sedikit sekali Ikan mas yang sudah cerah yang telah mencapai pantai seberang dengan cara berenang. Para bijak menyebut cara ikan mencapai seberang sebagai ‘jalan pengetahuan’. Sang ikan harus melepaskan berbagai belenggu melalui perenungan, melalui olah ruhani untuk mencapai Kebenaran di pantai seberang.

Kelompok unggas seharusnya hidup dalam lindungan ‘perahu’ Sang Gajah agar selamat. Para Bijak menyebut jalan kedua sebagai jalan pengabdian, mereka harus pasrah kepada Ilahi. Memasuki jalan pengabdian berarti melakoni 4 hal utama yang merupakan satu kesatuan: 1. kemampuan untuk menerima ketidakadilan; 2. kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan; 3. berhenti mengejar sesuatu; dan 4. menerjemahkan dharma atau kebajikan dalam hidup sehari-hari. Kelompok unggas belum sadar ‘laku pertama’ bahwa ketidak adilan yang sering menimpa setiap individu disebabkan tindakan masa lalu yang telah terlupakan. Mereka bertangis-tangisan dan sangat berputus asa. Dua hari berlalu dengan penuh kepedihan dan penuh keputusasaan.

Seekor itik tua juga termasuk yang dikeluarkan keanggotaannya. Tetapi sang itik telah berjanji pada minggu sebelumnya untuk menghadapkan anak-anaknya untuk berkenalan dengan Sang Gajah. Dari mulut ke mulut bebek, ayam dan kalkun mendengar sang itik mau menghadap adik Sang Gajah. Dalam keadaan ‘stress’, bebek, ayam dan kalkun berpikir jangan sampai informasi yang disampaikan sang  itik salah, itik sudah tua dan kurang mengetahui permasalahan perunggasan, karena tempat tinggalnya yang berbeda. Mereka harus lapor kepada Sang  Gajah pada kesempatan  pertama, dan harus mohon ampun segera, maka ketiganya mendahului itik menuju ke Griya Sang Gajah.

Ketika mereka akan menghadap Sang Gajah, adik Sang Gajah yang selalu mendampingi Sang Gajah mengatakan: “Kalian sudah terlambat, seharusnya kalian segera datang begitu ada surat yang memutuskan pengucilan kalian. Surat adalah benda mati, sedang Sang Gajah hidup”.

 

Bukan ‘clash of vision’ tetapi ‘clash of egoes’

Seharusnya semua anggota kelompok unggas melakukan refleksi, “Betapa banyak umat manusia yang merasa lebih tinggi kesadarannya dari semua hewan, yang telah memandang surat peninggalan Sang Bijak sebagai  pedoman dengan harga mati”. Betapa banyak terjadi pertikaian karena beda menafsirkan surat, sehingga terjadi banyak aliran yang bermusuhan, padahal sumbernya Orang Bijak yang sama. Betapa banyak darah mengalir karena surat-surat warisan dari Para Bijak, yang menurut  pemahaman pengikutnya, isi surat yang diwasiatkan berbeda. Padahal semua Para Bijak tersebut sejatinya mengajarkan hal yang sama. Beda waktu, beda keadaan, dan beda umat yang diajak bicara menyebabkan warisan- warisan surat dimaknai pengikutnya secara berbeda. Alangkah bodohnya mereka, seandainya Para Bijak masih hidup maka makna surat dapat ditanyakan dan tidak akan ada permasalahan. Mereka yang gila kekuasaan menggunakan pemahaman terhadap surat wasiatnya sebagai alat untuk membangun kekuasaan. Bukan perang berdasarkan beda pemahaman tetapi perebutan kekuasaan menggunakan beda pemahaman sebagai alat yang ampuh. Seandainya Sang Bijak hidup kembali, mungkin semua aliran juga akan dibubarkan. Para Bijak telah menyampaikan: “Setelah tidak ada aku nanti, mungkin pentolan-pentolan  kelompokku sudah tidak punya ‘clash of vision’, tetapi mereka tetap punya ‘clash of minds’, ‘clash of egoes’, merasa bahwa tindakan yang dipilihnya benar menurut pemahamannya, dan kalian akan melihat banyaknya aliran muncul”. Inilah sumber kekacauan di dunia. Melepaskan ‘mind’ memang tidak mudah, ‘mind’ itulah yang membuat diri seakan berharga. Manusia yang terbelenggu egonya membuat kekacauan dunia. Surat pengucilan ternyata butir permata  pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang banyak belum dipahami dan mungkin tidak akan dipahami, hanya pembuat surat yang bisa memahami sepenuhnya.

 

Kasih Sang Gajah

Bebek, ayam dan kalkun paham,  ternyata sang itik tua mengantarkan putra-putrinya agar berkenalan dengan Sang Gajah. Mereka paham, sang itik sudah bau tanah, dan perlu segera memperkenalkan generasi penerusnya kepada sang Gajah. Sebetulnya pemangilan sang itik diketahui Sang Gajah. Ke-‘stress’-an bebek, ayam dan kalkun  juga diketahui Sang Gajah. Sang Gajah sayang kepada mereka semuanya, agar mereka segera kembali  ke jalan benar. Fokusnya adalah Sang Gajah bukan suratnya. Gajah sangat mengasihi semuanya dan membuat permainan agar mereka sadar. Sang itik pun juga tidak perlu menenangkan semuanya, sang itik sadar bahwa teguran yang sangat keras dari Sang Gajah adalah wujud kasihnya dan dia tidak perlu menjadi penenang, menjadi pemadam kebakaran.

Betapa luar biasanya Sang Gajah. Permainan Sang Gajah mungkin untuk menasehati agar mereka tidak menjadi representasi umat yang hanya berpegang kepada surat dan tidak mengikuti ‘jalan’ Sang Bijak. Pemandulah yang bertugas menghidupkan makna surat-surat lama, bukankah yang demikian sudah dilakukannya? Dengan alasan mengolah masakan lama dan menyajikannya dengan penampilan baru? Surat kepada bangsa unggas adalah pelajaran yang amat berharga.

Pada hari itu, banyak anggota kelompok unggas yang datang ke Griya Sang Gajah, mereka semuanya diterima oleh saudara-saudara dari berbagai jenis seakan-akan tidak ada permasalahan di antara mereka. Mereka semuanya terngiang-ngiang nasehat Sang Gajah:  “Kepedihan jiwa dan keperihan hati kadang menjadi energi yang dahsyat untuk membangkitkan semangat yang sudah tertidur lama”. Mungkin saja surat pengucilan hanya wujud kasih agar golongan unggas merasakan kepedihan jiwa dan bangkit semangatnya dari tidur lelap yang lama. …. Terima kasih Guru. Semangat teman-teman!

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. bagoooooesss seeekuuuaaalliiii…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: