‘Update Story’ Kancil Sapi dan Buaya


Dongeng tahun enam-puluhan yang masih relevan di masa kini

Untuk berbuat benar, masyarakat masih dihantui berbagai masalah yang akan muncul sebagai akibatnya, sehingga masyarakat terdorong menjadi acuh tak acuh, tidak pedulian dan bersemboyan “Emangnya Gua Pikirin?”

Diceritakan bahwa seekor Sapi yang baik hati melihat buaya tertindih pohon besar yang roboh. Melihat buaya yang memelas dan memerlukan pertolongan, dengan kedua tanduknya Sapi bekerja sekuat tenaga untuk menggeser pohon tersebut, sehingga Buaya dapat terlepas dari tindihan pohon. Akan tetapi begitu selamat, alih-alih berterima kasih, Buaya malah langsung mencengkeram punggung Sapi yang kelelahan. Sapi hanya akan dilepaskan setelah Sapi bersedia memberikan ‘punuk’nya untuk dimakan Buaya yang kelaparan. Ibarat sudah memberi air susu dibalas dengan air tuba, demikianlah Sapi berada dalam masalah besar. Untung Si Kancil datang, dan menanyakan permasalahannya. Kebetulan saja Buaya dan Sapi pada waktu masih lugu, ‘telmi’ dan dapat diperdaya oleh Kancil. Si Kancil berkata: “Awal mula permasalahan sebetulnya bagaimana?” Sang Sapi menjelaskan kronologis kejadian yang menimpanya. Si Kancil berkomentar: “Baik, tetapi saya tidak percaya bahwa Sapi sanggup menggeser pohon yang besar ini, kalau Buaya yang kuat mungkin saja mampu, coba saya ingin melihat kenyataannya, saya ingin mengetahui keadaan sebelumnya, mari kita kembalikan semuanya kepada awalnya”. Dan Buaya kembali ke tempat semula, dan Sapi menindih buaya dengan batang pohon yang roboh. Buaya kembali memelas minta pertolongan, akan tetapi Si Kancil mengajak Sapi pergi meninggalkan tempat tersebut………………….

Keadaan di kota-kota Besar di Indonesia sekarang ini, sudah lebih parah lagi. Tidak ada lagi Buaya-Buaya  yang lugu dan ‘telmi’, para Buaya telah berpikir jauh ke depan. Cara lama Si Kancil tidak akan mempan lagi. Dalam kondisi demikian, Sapi-Sapi yang baik hati diam saja melihat ketidakbenaran. Melihat pimpinan atau teman sekolega berbuat tidak benar yang merugikan rakyat, para Sapi diam, tidak mau mendapat masalah baru. Melihat orang dicopet dompetnya di bis kota, para Sapi diam, karena melihat banyak orang menyeramkan di sekelilingnya. Melihat suatu kelompok dikebiri hak asasinya secara sepihak oleh kelompok lain yang mengatasnamakan kebenaran, bahkan melihat Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dipinggirkan, para Sapi yang baik di Indonesia tetap diam. ‘The silent majority’, kebanyakan warga negara sudah tahu ada yang salah dalam bernegara, tetapi mereka diam. Selanjutnya untuk mencari pembenaran diri, mereka menggunakan pedoman dari luar, bukan berpedoman pada hati nurani, bukan berpedoman pada akal sehat.

 

Pedoman dari luar dan bukan pedoman hati nurani

                Dalam masyarakat Indonesia saat ini, kalau mau jujur, telah terjadi kemalasan dalam menggunakan akal sehat. Bertindak baik membutuhkan kesadaran, dan tidak mudah melaksanakannya dalam masyarakat yang berbudaya instan, budaya yang siap saji, budaya yang gampangan. Orang senang bila masyarakat atau lembaga tertentu yang menetapkan haram-halal bagi dirinya. Dalam keadaan sadar seseorang tahu dia melakukan hal yang salah, tetapi karena masyarakat mendiamkannya maka dia beranggapan bahwa dia tidak melakukan kesalahan. Seringnya hal demikian terjadi, semakin menutup hati nurani dan dia semakin menggantungkan diri pada pandangan luar. Pada suatu saat, bila dia tergoda melakukan tindakan benar, hati nuraninya membenarkannya, akan tetapi dia menoleh ke arah fatwa di luar yang membolehkannya tidak berbuat apa-apa. Akalnya yang cerdik membenarkan tindakannya, dan hati nuraninya semakin tersudutkan ke dalam. Mereka yang melakukan tindakan berdasarkan pikiran sehat yang bersumber dari hati nurani yang jernih, justru tersudutkan. Hampir semua orang menipu diri sendiri. Tidak salah ungkapan dalam Jangka Jayabaya: “Akeh kelakuan sing ganjil. Wong apik padha kapencil. Akeh wong gawe kabecikan padha krasa isin. Luwih utama ngapusi”. Banyak ulah-tabiat ganjil. Orang yang baik justru tersisih. Banyak orang malu untuk bertindak baik. Lebih mengutamakan menipu.

 

Menikmati ‘comfort zone’sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar

Segala sesuatu yang dilakukan berulang kali akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan apabila dibiarkan berlama-lama akan menjadi perilaku, bahkan karakter seseorang, synap saraf di otaknya telah menjadi permanen dan sulit untuk diubah. Kesemrawutan yang terjadi di Indonesia disebabkan perilaku para Sapi yang baik yang berkarakter diam.

Seandainya kelompok sel darah putih ‘miris’, ‘keder’ melihat pasukan penyakit yang menyerang tubuh, dan mereka diam tidak mau berjuang, apa jadinya tubuh kita? Peran darah putih adalah menyerang penyakit yang masuk, walau mati, akan ada yang lahir menggantikan untuk meneruskan perjuangannya. Kalau tidak ada musuh dari luar, dalam tiga bulan pun sel-sel darah putih juga akan mati. Sama-sama mati mengapa tidak mau mati menjadi pahlawan? Kita perlu bersyukur, kelompok sel darah putih tidak diam melihat musuh yang datang membahayakan tubuh kita. Kita belum seperti sel darah putih, kita belum selaras dengan alam.

Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa membiarkan kakak sulungnya Yudistira berjudi main dadu, tindakan yang salah didiamkan, dan akibatnya mereka harus hidup belasan tahun dalam pengasingan dan berakhir dengan perang habis-habisan Bharatayuda. Haruskah Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa masa kini diam saja melihat ketidak benaran?

Tiba-tiba Si Kancil mendapat SMS Wisdom: “Jihad sejati adalah upaya batin untuk mewarnai setiap kegiatan dengan kesadaran Ilahi”. Bagi setiap Warga Indonesia yang bekerja dalam bidang apa pun juga, tetap akan menghadapi peran yang tidak jauh berbeda. Untuk berjihad kita perlu mengupayakan tindakan penuh kesadaran Ilahi dalam menghadapi setiap permasalahan. Seseorang yang diam dalam melihat ketidakbenaran tidak akan mengubah masyarakat ke arah kebaikan. Dia kurang peka, ibaratnya dia telah melihat luka di tubuh, akan tetapi hal tersebut dibiarkan saja menunggu sampai bernanah. Mereka yang peka tetapi malas juga tahu bahwa lukanya bisa bernanah, tetapi dia bungkam. Nanti kan sembuh sendiri.

Dengan berdiam diri, seseorang menciptakan ‘comfort zone’ dan ‘bumpers’ demi kenyamanan diri. Barangkali dia dapat menyamankan raga tetapi bagaimana dengan jiwa? Sang jiwa adalah saksi yang tidak pernah tertipu. Seseorang adalah bagian dari masyarakat, dan dia harus mulai berbuat benar dan tindakan ini akan diikuti orang sekelilingnya. Kita harus memulai hidup baru tanpa menunggu datangnya zaman baru dan orang sekeliling kita akan meneladani dan mengikuti kita, sehingga tercipta zaman baru.

Betapa banyaknya para Sapi yang ingin melihat perubahan tetapi diam dan hanya mengharap. Si Kancilmengingatkan beberapa catatan SMS Wisdomnya: “Mengharapkan perkembangan tanpa perubahan, persis seperti mengharapkan kesembuhan tanpa upaya”……………. “Negeri ini hanya dapat diselamatkan oleh mereka yang jujur dan mau mengabdi pada Ibu Pertiwi tanpa kepentingan pribadi. Janganlah berharap dari para politisi yang mengabdi pada kursi”. Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Salam

    Mas Triwidodo, saya kira cerita kancil ini masih relevan untuk zaman kita.

    Masalahnya adalah bagaimana caranya mencari “kancil-kancil” baru yang lincah dan cerdik untuk zaman kita. Keyakinan saya, kejujuran dan kebenaran akan selalu tegak.
    Negeri ini membutuhkan orang-orang seperti bapak, yang berani bertutur dengan santun, dan mengajak orang untuk menggunakan hati nurani untuk menyikapi keadaan yang kadang-kadang tidak bersahabat.

    Salam hormat

    Nengah Suama.

  2. Terima kasih Mas Nengah, kesadaran dimulai dari diri dan menyebar lewat keluarga dan masyarakat. semoga mereka yang sadar ikut menyebarkan virus kebenaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: