“Update Story” Singa Telengas dan Kancil Yang Pilek


Keahlian Si Kancil untuk menyelamatkan diri

Menghadapi Pemimpin telengas memang membingungkan, pada suatu hari seekor Singa Raksasa memanggil para pembantunya untuk melakukan introspeksi diri. “Aku tidak pernah mandi, akan tetapi aku tidak pernah terkena lumpur, dan kulitku selalu sehat, apakah bau badanku busuk? Bagaimana pendapatmu Bebek?” Bebek adalah makhluk yang jujur, maka dia menjawab: “Ampun Tuanku, memang benar bau paduka sangat parah, dari jarak 10 m saja hewan lain sudah tidak tahan baunya”. “Baik, terima kasih dan kau kubunuh untuk kejujuranmu”. “Bagaimana pendapatmu Tikus?” Tikus yang ketakutan berkata terbata-bata: “Ampun Tuanku, bau Paduka harum, kami yakin permaisuri akan senang membauinya”. “Baik, terima kasih atas pujianmu, tetapi yang kau katakan tidak benar, permaisuriku tidak suka bauku, maka kau kubunuh juga”. “Sekarang kau Kancil, katakanlah kesanmu tentang bauku! Cepat!” Si Kancil tersengal-sengal, seakan terserang pilek. “Mohon maaf paduka, hamba sedang pilek, ijinkan kami mengatakan setelah kami sembuh nanti”. Dan selamatlah Si Kancil…………… tetapi itu dongeng zaman dulu dan terjadi di tahun enam-puluhan.

Banyak orang mengikuti jejak Si Kancil untuk melepaskan diri dari belitan keadaan yang membahayakan. Akan tetapi apakah cara tersebut dapat mengubah perilaku Singa agar berubah menjadi suka membersihkan diri? Hanya seorang pawang yang dapat menundukkan Singa. Pawang yang mengerti  sifat-sifat dasar Singa, dan menggunakan sifat-sifat dasar tersebut untuk menaklukkannya. Beruntunglah hewan-hewan yang telah menemukan pawangnya, dan kesadaran mereka akan segera meningkat, meninggalkan sifat kehewanian mereka.

 

Pelajaran Sang Pawang

“Witnesses the trial, loss and gain, defeat and victory; also history repeating itself. Illusory SAMSARA, cycle of endless births n deaths. TIME, who can defy Thee?” Pertanyaan Sang Pawang membongkar tumpukan pikiran si Kancil yang telah mengeras, “Saksikan tindakan nyata yang telah kau lakukan, kau pernah kehilangan pernah pula memperoleh; kau pernah dikalahkan dan kau pernah pula mendapat kemenangan; perhatikan juga sejarah yang berulang dengan sendirinya. Ilusi Samsara, lingkaran tanpa henti dari kelahiran dan kematian. Waktu, siapakah yang dapat mendefinisikannya?

Waktu seakan berjalan dari pagi menuju malam hari, tetapi sesungguhnya waktu beredar, berputar dari malam hari menuju pagi hari, lagi dan lagi. Si kancil merasa telah terjebak dalam jeratan ilusi waktu, dan hanya Sang Pawang yang dapat melepaskannya. Dulu tahun 1954 kini tahun 2009, memang waktu berjalan, tetapi dalam tahun 1954 ada bulan Januari, Februari sampai Desember, dalam tahun 2009 pun ada bulan Januari, Februari sampai Desember juga. Memang semua Menuju kesempurnaan tetapi memakan waktu yang lama dan melelahkan. Betapa membosankannya hidup berulang-ulang. Untuk melepaskan diri dari belitan Sang Waktu, ikutlah Sang Pawang…………………..

Si Kancil sadar, tidak mudah memang mengikuti Sang Pawang, ilusi duniawi masih mencengkeramnya. Dikajinya Wisdom dari Sang Pawang: “Kelahiranmu bukanlah suatu kecelakaan. Isilah hidupmu dengan sesuatu yang bermakna, dan kematianmu akan menjadi klimaks bagi sebuah roman kehidupan tentang Kasih’……………………… “Isilah harimu dengan kasih, maka kau tak akan pernah salah. Kekuatan kasih itu, cahaya cinta itu akan menerangi pikiranmu dan mengarahkan setiap langkahmu”…………………… “Awali harimu dengan cinta kasih, isilah harimu dengan cinta kasih, akhirilah harimu dengan cinta kasih, itulah jalan menuju Tuhan”……………….. “Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan Kasih”.

Sang Pawang menyampaikan: “Believes in the Religion of Love, in God that is Love, in the path leading to Love, in sharing Love, in being Love, in discovering Love within all beings”.……………

Terima kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Ceritanya kelihatan sangatlah sederhana, tetapi pesan yg disampaikan amat dalam dan sangat sulit untuk diaplikasikan apalagi agar sampe kpd hasil yg disebut memancarkan kasih.
    Kata orang, Pawang yg sejati akan hadir manakala sejumlah point yg dimaksud sbg persyaratan sdh terpenuhi.
    Karena sebelum memiliki point yg cukup memadai seorang Pawang bagi si Kancil, mungkin saja akan nampak tak ubah seperti seorang Pemburu yg harus ditinggal kabur sejauh2nya, dan kalau pun terpaksa ditangkap olehnya paling2 si Kancil akan pura2 menurut, dan kalau ada kesempatan tetap akan berusaha kabur.

    mhn petunjuk/bantuan agar bs meningkatkan jumlah point yg ada sebelum bertemu sang Pawang.

    matur suwun Kang Mas.
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: