Refleksi Hari Raya Nyepi , 26 Maret 2009


Waktu masih menunjukkan pukul  9 malam, ketika sepasang suami-istri  bercengkerama di ruang keluarga. Ruangan hanya diterangi lampu 5 watt yang diselimuti kristal garam dari Himalaya. Harum dupa cendana yang berasal dari altar di ruangan tersebut ikut menenangkan syaraf-syaraf pikiran mereka, yang baru saja menyelesaikan doa bersama. Untuk bercengkerama di halaman terbuka dengan panaroma bulan dan bintang sudah sulit dilaksanakan, karena begitu banyaknya nyamuk di malam hari di luar rumah.

Sang Isteri: Besok adalah Hari Raya Nyepi yang bertepatan dengan Tahun Baru Saka yang menginjak usia 1931. Kalendar kita menunjukkan tanggal 26 Maret 2009. Sedangkan Kalendar Jawa menunjukkan 29 Mulud 1942. Suamiku, mengapa ada penanggalan yang berbeda-beda?

Sang Suami: Bukankah bahasa manusia pun berbeda-beda, semuanya ada dasarnya, tetapi ada kesepakatan bahwa bahasa internasional adalah bahasa Inggris, dan bahasa nasional adalah bahasa Indonesia. Demikian juga kalender yang merupakan kesepakatan untuk menetapkan waktu. Dulu pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu Kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, maka Tahun Baru Jawa tidak sama dengan Tahun Baru Saka. Karena tahun Saka menggunakan kalender sistem solar. Teman-teman Bali merayakan hari raya Nyepi berdasar Kalender Tahun saka.

Sang Isteri:  Kita berterima kasih kepada Guru yang mengajarkan kita untuk mengapresiasi keyakinan lain, pasti di belakangnya ada hikmah yang dapat kita petik. Saya menghormati keluarga teman saya, Ibu Ketut yang suaminya bekerja di Balai Bengawan Solo, dia orang Islam tetapi suaminya orang Bali dan dia bahkan bertugas mengantarkan anak-anaknya sembahyangan di Pura. Keluarga mereka adalah keluarga yang religius dan hidup mereka juga tenang. Dari dia aku sedikit-sedikit  mengerti hikmah hari raya Nyepi.

Sang Suami: Secara formal yang dilakukan pada waktu Nyepi ada 4 hal:  1. Puasa; 2. Tidak menyalakan api; 3. Tidak bekerja atau bepergian; 4. Tidak mencari hiburan. Sehingga suasana di Bali betul-betul  berbeda. Suasana yang tenang dan damai.

Sang Isteri: Suamiku, saya melihat ada persamaannya dengan latihan meditasi. Duduk hening, memperhatikan napas atau memperhatikan pikiran sampai menjadi tenang  sendiri. Keheningan dalam latihan meditasi itu penting. Dan setelah itu keheningan yang terjadi perlu dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Energi yang terkumpul pada waktu meditasi dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran. Bukankah Nyepi itu juga wujud mengheningkan diri?

Sang Suami: Benar Isteriku mengheningkan diri itu penting, tidur adalah juga proses se cara alami untuk mengheningkan diri? Dari gelombang ‘Alfa’ sekitar 14 cps sewaktu bekerja sehari-hari ,ketika tidur gelombang otak semakin tenang dan akhirnya mencapai  keadaan tidur tanpa mimpi, “deep sleep” dengan gelombang 0.5-3.5 cps. Keadaan dimana terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Itulah sebabnya ketika sedang sakit, tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan dirinya sendiri.  Juga dengan “deep sleep” selama  2-3 jam manusia mendapatkan energi luar biasa untuk melakukan kegiatan sepanjang hari. Bukankah keheningan dalam Nyepi juga mempunyai  benang merah kesamaan?

Sang Isteri: Aku ingat setelah kita latihan “Dynamic Meditation”, kita diam mematung  sebentar. Kemudian juga pada waktu latihan “Cleansing” setelah membuang sampah-sampah pikiran, kita berbaring hening dan terasa ada energi  alam yang masuk? Keheningan memunculkan energi seperti Nyepi juga memunculkan energi.

Sang Suami: Pikiran adalah proses yang dinamis sehingga harus dijaga dan dipelihara ketenangannya. Hidup ini juga dapat dinamis bergejolak, maka harus dijaga kedamaiannya. Perdamaian pun adalah proses yang dinamis, maka perdamaian di bumi harus dipelihara dan diwaspadai gejala yang akan mengganggunya. Setelah latihan Meditasi yang menciptakan ketenangan,  maka harus diterjemahkan dalam kehidupan dengan menciptakan dan memelihara kedamaian di bumi. Nyepi sangat berharga untuk menghadapi kehidupan yang dinamis.

Sang Isteri: Suamiku, mengapa kita harus mendapatkan ketenangan dulu sebelum berkarya penuh semangat?

Sang Suami: Aku baru saja membaca Bhagavad Gita Bab V Sanyas Yoga Teks 6-9, dimana disebutkan: Wahai Arjuna, melepaskan diri dari keterikatan tidak mudah bagi mereka yang belum mendapatkan ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan lewat meditasi dengan mudah dapat melepaskan dirinya dan mencapai Kesadaran Tinggi;  Ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan jiwa menyadari adanya persatuan antara “Aku” yang bersemayam dalam dirinya dan “Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Demikian walaupun ia berkarya, ia tetap juga tidak terikat pada apa pun; Ia yang bijak menyadari bahwa yang terlibat dengan benda-benda duniawi hanyalah panca inderanya. Sebenarnya “Ia” tidak terlibat………………….. Mendapatkan ketenangan jiwa itu perlu agar kita tahu hakikat hidup dan setelah itu kita dapat berkarya dengan lebih baik.

Sang Isteri: Kalau sudah memahami hakikat hidup yang hanya sementara dan tidak abadi, mengapa harus berkarya?

Sang Suami: Dalam Bhagavad Gita Bab III Karma Yoga Teks 22-25, disebutkan: Wahai putra Partha, walaupun tidak ada sesuatu yang tidak pernah kulakukan, tidak ada pula yang masih harus kulakukan, namun aku tetap berkarya;  Apabila aku berhenti berkarya, banyak sekali yang akan mencontoh aku;  Jika saya tidak bertindak semestinya, aku akan mengacaukan tatanan masyarakat. Aku akan membingungkan mereka dan menjadi sebab kemerosotan;  Wahai keturunan Bharata, mereka yang belum mencapai pencerahan, berkarya karena keterikatan. Sebaliknya, mereka yang telah mencapai pencerahan tetap juga berkarya, namun tanpa keterikatan apa pun. Mereka berkarya supaya dicontoh oleh masyarakat luas.

Sang Isteri: Terima kasih Suamiku, Terima Kasih Guru. Selamat Hari Raya Nyepi Teman-Teman Bali.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/

https://triwidodo.wordpress.com/

March 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: