Antara Penerima Wahyu dan Ahli Kitab


Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, ketika sepasang suami istri berbicara mengenai putranya yang masih duduk di bangku SMA belum pulang ke rumah, karena kesibukan mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama teman-temannya.

Sang Isteri: Saya merasakan semua guru sekolah berlomba memberikan ilmu yang terbaik, dan semuanya memberi tugas mata pelajaran agar para murid menguasai dengan sempurna. Problemnya adalah terlalu banyaknya mata pelajaran bagi murid, sehingga murid harus jatuh bangun untuk dapat mengikuti. Apakah pendidikan model demikian tidak membuat generasi muda menjadi lebih mudah terkena stress? Menurut pengalaman kita dalam menjalani kehidupan, hanya dengan mengasah otak saja, hanya dengan menimba ilmu saja, hanya dengan membaca berbagai buku saja, kita tidak menjadi pribadi yang utuh. Dengan mengasah otak, kadang kita justru mematikan intuisi di dalam diri. Kita menjadi sangat tergantung pada informasi yang kita peroleh dari luar. Dapat saya rasakan, bahwa makin banyak informasi yang ada di dalam otak, kita semakin tegang saat berpikir. Pendidikan tanpa mengasah rasa hanya memaksimalkan kinerja otak kiri.

Sang Suami: Isteriku, otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita  ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk mengenal fakta datang dari ilmu pengetahuan sedangkan kepekaan untuk melihat kebenaran berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya memang akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka semua pintu ilmu. Kita sendiri sebagai suami istri tidak akan dapat merasakan persatuan dan kesatuan bila landasannya hanyalah ilmu, rasa lah yang telah mempersatukan kita.

Sang Isteri: Suamiku, mengapa masyarakat tidak sadar bahwa para Nabi adalah bukan dari mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri. Yang menerima wahyu adalah nabi Muhammad yang yatim piatu dan buta huruf. Gusti Yesus juga merupakan anak tukang kayu. Siddharta Gautama mendapatkan wahyu bukan didalam istana yang mestinya penuh pengetahuan luar. Krishna pun tadinya seorang gembala sapi. Para penerima wahyu bukanlah para ahli kitab.

Sang Suami: Benar Isteriku, saya baru saja membaca ulang buku ‘SURAH-SURAH TERAKHIR Bagi Orang Modern’ karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia Pustaka Utama,2000. Ada hal yang menarik tentang pendapat Bapak Anand Krishna: “Biarkan saya bicara. Biarkan saya memberikan pandangan saya tentang apa yang disebut wahyu. Anda tidak perlu sependapat. Silahkan menolak saya. Tetapi 50 tahun kemudian, generasi penerus anda, cucu dan cicit anda akan menerima pandangan ini. Saya sedang bicara 50 tahun sebelum waktunya, karena sudah tidak tahan lagi melihat ketololan manusia. Tolol tetapi angkuh”.

Sang Isteri: Saya juga masih ingat bahwa beliau menyebutkan bahwa wahyu adalah getaran-getaran ilahi. Seperti siaran radio dan gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan dimana  kita berada saat ini. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah ‘receiver’, alat penerima – radio. Nah, sekarang  tergantung betapa canggihnya alat penerima kita. Semakin canggih radio yang kita miliki, semakin banyak siaran yang dapat kita terima.

Sang Suami: Benar Isteriku, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. ‘Short wave’ bisa menerima siaran-siaran manca-negara. Tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Wahyu adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam kita meniti ke dalam diri, semakin jelas penerimaan kita. Perbedaan yang terlihat disebabkan oleh alat penerima. Apalagi dalam hal ini, setiap alat penerima adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda. Alat penerima wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari alat penerima di India. Begitu pula alat penerima di China tentu lain dari alat penerima yang lain. Setiap alat penerima dipengaruhi oleh budaya setempat.

Sang Isteri: Menurut beliau, Getaran-Getaran Ilahi atas wahyu yang diterima oleh masing-masing alat penerima diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian setempat. Itu sebabnya setiap kitab suci selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat konstektual.

Sang Suami: Dalam buku ‘Neo Psychic Awareness’ karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 dijelaskan bahwa setiap pikiran yang muncul dalam otak merupakan ‘electric impulse’. Kemudian ‘electric impulse’ itu berubah menjadi ‘radio waves’, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir akan terucap. Akan tetapi……. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang Guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah penurunan kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa ‘electric impulse’. Problemnya adalah para murid atau penerus ajaran tidak dapat mengakses ‘electric impulse’ Sang Guru. Dengan gelombang terbatas yang dipunyainya mereka menerjemahkan pengetahuan Guru, sehingga setelah lewat beberapa generasi mungkin saja terjadi perbedaan makna dari awalnya. Buktinya begitu banyak aliran yang berasal dari Guru yang sama.

Sang Isteri: Mari kita bersyukur kepada Guru yang telah memberikan pengetahuan tentang rasa, tentang intuisi, dan semoga gelombang pikiran kita dapat sinkron dengan gelombang jernih pikiran Guru. Terima Kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: