It’s a Mind Zone, Brothers and Sisters………………….


Beberapa orang terdiri dari gabungan anak-anak muda dan beberapa orang tua duduk dalam empat  deretan yang sejajar. Di deretan pertama seorang pemandu membisikkan sebuah kalimat berbahasa Inggris yang terdiri dari sembilan buah kata kepada orang pertama dalam deretan tersebut. Orang pertama mendengar kalimat tersebut dan harus membisikkan kalimat tersebut kepada yang orang yang berada disebelahnya dan demikian seterusnya  sampai kepada orang yang duduk di paling ujung. Pada deretan kedua juga dibisikkan dengan kalimat yang berbeda, demikian juga untuk deretan ke tiga dan ke empat …………………. Hasilnya membuat semua orang tertawa, kalimat yang diucapkan orang terakhir melenceng jauh dari kalimat yang dibisikkan pada waktu awal. ‘Every body happy’, ketawa riuh rendah, tepuk tangan menggema, ‘it’s a game’. Orang tua pun ketawa terpingkal-pingkal, apalagi yang masih muda ………………  Bagi mereka mungkin hanya sekedar ‘game’, tetapi tidak demikian bagi pasangan suami istri yang masih teringat permainan tersebut ketika kejadian telah seminggu berlalu.

Sang Isteri: Gembira juga bermain-main dengan teman-teman, akan tetapi selalu ada saja yang ngotot ingin menang, saya agak nggak enak, karena kurang menguasai  bahasa Inggris, maka kalimat yang disdampaikan di deretan kedua menjadi ngaco. Saya yakin permainan yang dilakukan di depan Guru tersebut bukan sekedar ‘just a game’, betul nggak suamiku?

Sang Suami: Setiap orang punya pola ‘mind’, apapun yang masuk ke dalam dirinya baik yang jelas ataupun yang  kurang jelas akan diolah dan dikeluarkan menurut pola yang ada dalam pikirannya. Satu kalimat yang sama setelah melalui serangkaian ‘individual mind pattern’ akan melenceng jauh dari awalnya, dan semakin lama semakin jauh, apalagi kalau diwariskan lewat beberapa  generasi. Itulah sebabnya seorang Guru selalu ‘gathering’, berbicara langsung dengan orang banyak bukan lewat mulut ke mulut. Hanya untuk hal yang khusus, Guru hanya menyampaikan kepada para ‘inner-circle’.

Sang Isteri: Tetapi bukankah disebutkan di masa lampau ada beberapa murid yang ingatannya luar biasa sehingga apa pun yang diucapkan seorang Guru dapat diingat tanpa ada perubahan? Kitab atau Pedoman ditulis berdasarkan ingatan yang luar biasa tersebut. Walaupun tetap ada pertanyaan yang mengganjal, mengapa dengan Kitab dan pedoman yang sama masih terjadi  banyak aliran yang berbeda-beda yang kadang malah bertolak belakang.

Sang Suami: Coba perhatikan penjelasan dalam buku ‘Neo Psychic Awareness’ karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005………. Setiap pikiran yang muncul dalam otak merupakan ‘electric impulse’. Kemudian ‘electric impulse’ itu berubah menjadi ‘radio waves’, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir akan terucap. Akan tetapi……. Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang Guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah penurunan kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa ‘electric impulse’.

Seorang Guru menyadari keterbatasan itu, maka ia menciptakan keadaan di mana para siswa bisa bertahan dengan penuh kesabaran untuk kejadian itu. Apa pun yang telah disampaikannya lewat wejangan dan tulisan tidak berarti dibanding apa yang ingin disampaikannya lewat transmisi energi, lewat ‘shaktipaat’. Kendati demikian, ‘shaktipaat’ tidak dapat dipaksakan. Memang dapat dipercepat dengan mempersiapkan diri kita supaya bergetar pada gelombang yang sama dengan sang Guru, tapi cara untuk mempersiapkan diri pun diperoleh dari sang Guru, karena ternyata kesadaran kita tidak perlu tinggi untuk berada di gelombang yang sama dengan sang Guru. Kesadaran itu justru meningkat setelah berada di gelombang yang sama. Berada pada gelombang yang sama dengan sang Guru, kita menjadi bagian dari pengembangan dirinya yang tak pernah berhenti. Sang Guru berkembang, kita pun ikut berkembang. Kita tidak perlu bersusah-payah, tidak perlu melakukan sesuatu kecuali mempertahankan keberadaan kita pada gelombang yang sama dengannya.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, aku belum pernah mendengar tentang ‘shaktipaat’ sebelumnya. Pola pemikiran setiap orang berbeda karena beda genetik, beda pendidikan dan beda lingkungannya sehingga pemahaman setiap orang  pasti berbeda. Apalagi orang yang beda bahasanya. Ketika Guru-Guru Suci masih hidup, sebetulnya permasalahan apa pun dapat ditanyakan dan diberi jawabannya. Setelah Guru-Guru Suci  wafat segepok buku dijadikan pedoman. Pedoman jelas benar, ‘haqqul yakin’. Akan tetapi bukankah penafsiran setiap ahli kitab juga berbeda. Memang sudah tidak ada ‘clash of vision’, tetapi yang terjadi adalah ‘clash of egoes’, clash of minds’. Sehingga  terjadi lah banyak aliran setelah lewat beberapa generasi. Itulah sebabnya para Guru Suci selalu dimusuhi para ahli kitab.

Sang Suami: Zaman telah maju, buku ditulis sendiri oleh Guru, hubungan langsung juga tidak lewat mulut ke mulut tetapi bisa melalui fesbuk. Curhat dengan teman tidak perlu, karena instruksi Guru kepada murid boleh jadi bersifat pribadi. Sri Ramakrishna memarahi muridnya yang diam saja ketika mendengar nama Gurunya dilecehkan. Seorang murid yang lain langsung memukul orang yang sedang berbicara kepadanya, karena telah melecehkan nama Gurunya.  Tetapi murid kedua dimarahi juga, ada murid yang terlalu lembek sehingga perlu diberi semangat, dan ada murid yang keras dan perlu dilembutkan. Bagi Guru yang penting adalah peningkatan kesadaran murid-muridnya.

Sang Isteri: Organisasi birokrasi berbeda dengan organisasi spiritual. Dalam birokrasi ada pendelegasian wewenang, ada hirarki kepemimpinan. Hubungan seorang Guru dengan seorang murid adalah langsung, dan diungkapkan dalam khotbah di atas bukit atau duduk melingkar dan Guru sebagai ‘Kendra’ di tengah. Kita perlu bersyukur bertemu Guru yang hidup, bukan mendengar bisikan para ahli kitab yang kadang berbisik kadang berteriak memaksa untuk diikuti kebenarannya.

Sang Suami: Mari kita berdoa untuk kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan Guru. Terima Kasih Guru. Hanya lewat Guru kami dapat meningkatkan kesadaran.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: