Menjadi ‘Anak’ Yang Berbhakti


Sepasang anak manusia itu sudah berusia diatas limapuluhan tahun. Anak-anak mereka sudah menginjak dewasa, tetapi tingkah laku mereka masih seperti anak-anak, mereka ‘kuper’, kurang pergaulan dan tidak tahu ruwetnya hidup di dunia. Di lingkungan pekerjaan, di masyarakat mereka bergaul biasa-biasa saja, mereka tidak punya teman dekat, akan tetapi hidup mereka lancar-lancar saja. Sampai pada suatu ketika seorang Guru memberi makna kepada kehidupan mereka. Mereka ingat kata-kata Sang Guru, “Lebih baik ‘kuper’ daripada ‘salah gaul’!” Bukankah anak-anak kecil yang lugu dan polos yang dicintai Gusti Yesus itu ‘kuper’ juga? Setelah bertemu Guru, hidup mereka menjadi lebih sederhana, hanya meningkatkan kesadaran, membina anak keturunan, berusaha mengikuti petunjuk Guru serta ceria. Itu saja.

Sang Isteri: Aku ingat buku “Bersama Kahlil Gibran, Menyelami ABC Kehidupan”, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999……. Kahlil Gibran menulis: ”Remember that Divinity is the true self of the Man. It cannot be sold for gold; neither can it be heaped up as are the riches of the world today. The rich man has cast off Divinity, and has clung to his gold. And the young today have forsaken their Divinity and pursue self indulgence and pleasure.”……. “Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta-benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat.”……… Bagaimana pendapatmu suamiku?

Sang suami: Begini isteriku, misalnya dibandingkan antara pemberian orang tua dengan pemberian Tuhan…. Agama adalah pemberian orang tua. Mereka memberikan identitas agama kepada kita sejak masih bayi. Mungkin di antara manusia, ada yang lantas mencampakkan pemberian orang tua mereka setelah merasa menemukan yang lebih. Akan tetapi, sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama” kepada kita, Tuhan sudah membekali kita dengan “keilahian”, kemuliaan”.

Sang Isteri: Betul suamiku, seseorang hanya dapat memberikan apa yang dipunyainya. Orang tua memilki karakter bawaan, pengalaman dan pengetahuan, maka itulah yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Guru telah memahami ‘A-B-C’ kehidupan maka itu pulalah yang diberikan Guru. Tuhan memiliki “keilahian” dan “kemuliaan”, itu pulalah yang telah Dia berikan kepada semua makhluk.

Sang Suami: Aththar an Nisaburi, salah seorang sufi bercerita bahwa Gusti Yesus pada suatu hari berjalan melintasi kota, dan beberapa orang mencaci-makinya. Merespon hal tersebut, Gusti Yesus menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka. Seseorang berkomentar: ”Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah Engkau merasa marah kepada mereka?” Gusti Yesus menanggapi : “Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.” Seseorang yang hatinya penuh kasih, yang diungkapkan pun hanya kasih, karena di dalam hatinya hanya ada kasih, ‘nothing else’. Guru yang luar biasa.

Sang Isteri: Walaupun kita sudah tua, kita tidak dapat dipisahkan dari orang tua, pemberian orang tua yang masih kita bawa adalah ‘genetik bawaan’ dari ayah dan ibu. Guru pun tidak dapat dipisahkan dari kita. Api Kasih Guru telah membangkitkan pelita di dalam diri, bagaimana dapat dipisahkan lagi. Sekarang setelah mendapat pengetahuan dari Guru, genetik bawaan yang tidak baik, harus segera diputus siklusnya, jangan diwariskan ke generasi berikutnya, sedangkan genetik bawaan yang baik perlu kita kembangkan. Meningkatkan evolusi genetik, meningkatkan karakter itulah yang dapat dipersembahkan sebagai anak yang  berbhakti.

Sang Suami: Jiwa manusia telah dibekali “keilahian” dan “kemuliaan”. Menerapkan “keilahian” dan “kemuliaan” dalam kehidupan itulah persembahan makhluk kepada “Nya”, persembahan ‘anak’ kepada ‘Bunda Ilahi’. Oleh karena telah dibekali “keilahian” dan “kemuliaan”, maka Kahlil Gibran memberi nasehat bahwa sesungguhnya manusia tidak lemah. Dan setelah menyadari kekuatan diri jangan duduk diam. ‘Share your awareness!’. Membagikan kesadaran tanpa mengharapkan suaranya terdengar orang lain atau tidak, orang lain menjadi sadar atau tidak.

Sang Isteri: Jujur ya suamiku, aku terobsesi oleh kalimat Kahlil Gibran: “Are you troubled by the many faiths that Mankind professes? Are you lost in the valley of conflicting beliefs? …… If such be the case, then make Beauty your religion, and worship her as your godhead; for she is the visible, manifest and perfect handiwork of God. ….. (believe) in the divinity of beauty that is at once the beginning of your worship of Life, and the source of your hunger for Happiness.”……….. “Apakah kau sudah muak dengan kepercayaan-kepercayaan yang dimiliki oleh manusia? Apakah kau merasakan dirimu hilang di antara kepercayan-kepercayaan yang berbeda itu? Apabila demikian, maka jadikanlah Keindahan sebagai agamamu. Pujilah Keindahan sebagaimana kau memuji Tuhan, karena Ia-lah Wujud Nyata Ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Percayailah, yakinilah keilahian Keindahan, yang merupakan awal mula persembahanmu kepada Kehidupan, yang merupakan sumber kehausanmu akan kebahagiaan.”……………

Sang Suami: Pengetahuan berlebihan akan mengaktifkan pikiran. Dan pikiran tidak berkepentingan dengan Keindahan dalam diri. Pikiran selalu mencarinya di luar. Dengan pikiran yang superaktif, kita semakin jauh dari rasa, dari hati. Kita semakin jauh dari Keindahan yang ada di dalam diri. Agama yang seharusnya berfungsi sebagai ‘fasilitator’ untuk menunjang perkembangan diri, sekarang oleh para pelaku dan pakarnya sudah dijadikan ‘provokator’. Alhasil perkembangan diri tidak terjadi. Yang terjadi adalah kemerosotan kesadaran. Kebanyakan pelaku agama hanya bisa melihat kebenaran dalam agama mereka sendiri. Sangat ‘shortsighted’, penglihatan mereka sangat sempit. Mereka tidak dapat melihat jauh……………… Kemudian resapi,…….. Perhatikan apa yang terjadi! Setiap kali melihat sesuatu yang indah, tiba-tiba kesadaran kita beralih dari ‘pikiran’ ke ‘rasa’. Sewaktu kita mendengar lagu atau musik yang indah, sewaktu membaca sesuatu yang indah, sewaktu mencium wewangian yang indah, tiba-tiba kita terlepaskan dari pikiran. Kita memasuki alam rasa.

Sang Isteri: Berani! Itulah kesan saya terhadap Kahlil Gibran. Itulah sebabnya dia menulis: When I wrote on my door: “Leave your traditions outside, Before you come in,” Not a soul dared to visit me or open my door.

Sang Suami: Seorang Kahlil Gibran tidak menawarkan harapan akan “Zaman Baru”. Ia mengajak kita untuk menjadi “Manusia Baru”. Betapa pun indahnya, yang lama sudah aus karena waktu, dan harus ditinggalkan….. Mari kita berdoa kepada Guru yang telah menghidupkan pelita dalam diri. Terima Kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

4 Tanggapan

  1. makanya berikanlah hati kita untuk keluarga dan yang lainnya beberapa persen saja. tapi untuk Allah 100% setuju om

  2. makasih saya usahakan menjadi anak yang berbakti , walau hanya tinggal ibu saja. Tetapi anak2 saya berbakti semua karena ibunya dulu jadi anak berbakti he…he…narsis

  3. saya juga sudah buka Fb tapi biasa lupa password saya sudah lihat Fb pak tri tolong bagaimana caranya karena saya utakutik terus ya gak bisa tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: