Refleksi Bencana di Situ Gintung Bencana di ‘NKRI’ dan Bencana di dalam Diri


Kejadian bencana di Situ Gintung

Akibat hujan deras selama 5 jam pada malam sebelumnya, Jum’at 26 Maret 2009 pukul 05.00, tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang Selatan jebol. Wilayah seluas 10 hektar di Cirendeu menjadi porak poranda diterjang air bah yang datang seperti Tsunami. Sampai Hari Senin, 30 Maret 2009 tercatat korban tewas berjumlah 99 orang dan 102 warga masih belum ditemukan, dan ratusan warga masih tinggal di pengungsian. Ratusan rumah hancur. Ratusan jiwa mendapat trauma yang dalam.

Lokasi bencana yang berada di tepi ibukota,  laporan media televisi maupun media cetak yang intensif membangkitkan rasa dukacita kita semua. Kita perlu introspeksi, benarkah kata orang bahwa kita ‘lemah’ dalam hal ‘operasi dan pemeliharaan’ sarana dan prasarana bangunan?  Jebolnya tanggul Situ Gintung mengingatkan kita akan banyaknya situ dan tanggul sungai yang rawan bencana di Indonesia. Kegiatan ‘operasi dan pemeliharaan’ memang kurang bobot politisnya, kurang mendapat perhatian masyarakat, tidak seperti halnya kegiatan pembangunan yang menyedot perhatian publik.

 

Situ Gintung

Situ Gintung dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1932-1933. Bendungan ‘homogen’ dengan satu jenis tanah buatan Belanda tersebut sudah berusia 76 tahun. Sebagai sebuah bendungan maka pada situ tersebut juga dibangun bangunan pelimpah yang biasa disebut “spillway”, yang merupakan pelimpah ketika volume air melampaui ketinggian tertentu yang dianggap aman. Pada zaman Belanda, situ tersebut juga dimanfaatkan untuk irigasi, akan tetapi pintu irigasi tersebut sudah tidak berfungsi lagi karena lahan persawahan sudah berubah menjadi daerah pemukiman.

Perlu evaluasi keamanan pada bendungan-bendungan yang dibangun pada  zaman dahulu yang mempergunakan teknik tertentu yang dimungkinkan pada saat itu, yang mungkin saja sudah berkurang keamanannya karena faktor usia dan perubahan lingkungan. Terdesak kebutuhan pemukiman, zona konservasi yang terletak di atas bendungan dan zona keamanan yang berada di bawah bendung berubah menjadi pemukiman. Manusia telah melupakan bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancamnya.

Operasi dan Pemeliharaan Situ

Pada setiap bendungan haruslah ada buku manual ‘operasi dan pemeliharaan’ bangunan. Dalam pedoman tersebut disebutkan kapan spillway harus dibuka, dalam jangka berapa lama inspeksi periodik terhadap bangunan utama dan pintu-pintu harus dilakukan, dan siapa petugas pintu yang bertanggung jawab, serta apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Operasi dan Pemeliharaan dimaksudkan agar suatu bangunan dapat dijalankan sesuai fungsinya dan kelestarian bangunan dapat dipertahankan.

Untuk menghitung besarnya anggaran yang diperlukan bagi ‘operasi dan pemeliharaan’ bangunan perlu dilakukan ‘walkthrough’, pengamatan bangunan yang dilakukan secara periodik. Hasil dari ‘walkthrough’ tersebut menghasilkan AKNOP, Angka Kebutuhan Nyata untuk Operasi dan Pemeliharaan. Estimasi AKNOP itulah yang menjadi dasar penganggaran ‘operasi dan pemeliharaan’ sebuah bangunan sarana dan prasarana.

Dalam setiap pembangunan ada tiga tahap proses pembuatan anggaran: Tahap Pertama, pertimbangan teknis yang dibuat berdasarkan perhitungan teknis dan estimasi besarnya anggaran; Tahap Kedua, dipandang dari segi ekonomis, apakah suatu kegiatan yang secara teknis dapat dilaksanakan tersebut feasible, layak dan perlu dibuatkan urutan prioritas kegiatan mana yang lebih didahulukan; Tahap ketiga adalah segi politis, keputusan politislah yang menentukan anggaran tersebut disetujui atau tidak. Sebagai seorang insinyur, seseorang harus menyadari, bahwa semua hal mungkin dapat dilaksanakan dengan konsekuensi biaya yang sebanding. Bukankah membuat air laut menjadi air minum pun bisa dilakukan. Mengairi gurun pasir California dengan memompa air dari bawah pun bisa dilaksanakan? Selanjutnya, pertimbangan ekonomis dan prioritas kegiatan dibandingkan dengan bangunan di daerah lain menjadi pertimbangan Badan Perencanaan. Dan, terakhir keputusan anggaran adalah keputusan politis, yang dapat dilaksanakan oleh yang berwenang setelah mendapat persetujuan pihak legislatif. Prosedur demikian perlu dicermati agar semuanya dapat berjalan baik. Masalah-masalah yang terjadi dalam tahap-tahap tersebut mempengaruhi pengoperasian dan pemeliharaan sebuah bangunan.

Biarlah para ahli menganalisa sebab-musabab masalah yang telah terjadi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Instansi pengelola, instansi perencanaan, institusi politis dan masyarakat harus merasa ‘handarbeni’ sebuah bangunan penting.

 

Efek Pemanasan Global

Kami belum mendapatkan data curah hujan yang terjadi di wilayah tersebut. Akan tetapi bercermin pada kejadian banjir terakhir di Bengawan Solo dalam bulan Maret 2009, hujan yang terjadi adalah sekitar 300 mm. Ini adalah fenomena intensitas hujan yang luar biasa yang disebabkan oleh pemanansan global. Rata-rata curah hujan di sekitar Solo adalah 2500 mm per tahun. Artinya hujan 300/2500 tahun atau hujan 1,4 bulan diturunkan dalam 1 hari, ya jelas sungai tidak akan mampu menampungnya.

Pada waktu banjir ketinggian muka air Bendungan Wonogiri dipantau terus dan apabila mencapai ketinggian tertentu maka air harus dibuang melalui ‘spillway’, agar tidak terjadi bencana jebolnya bendungan yang dapat mengancam kota Surakarta. Khusus pada waktu banjir bulan Maret 2009, kondisi permukaan air di Bendungan Wonogiri tidak membahayakan, berarti yang menjadi sebab banjir pada waktu itu adalah hujan lokal.

 

Pemeliharaan Situ Negara Kesatuan Republik Indonesia

Menurut para pakar, jebolnya Situ Gintung dapat terjadi dari beberapa kemungkinan antara lain:

1.       Usia situ yang sudah tua dan sebagian badan tanggul yang keropos misalnya oleh kerusakan-kerusakan.

2.       Pengoperasian ‘spillway’ yang kurang benar.

3.       Inspeksi periodik yang kurang sempurna.

4.       Keterbatasan anggaran

(Beberapa teman menambahkan pembagian kewenangan antara Pusat, Provinsi dan Kabupten/Kota sudah jelas dalam UU 7/2004 tentang Sumber daya Air, akan tetapi aturan lanjutan seperti PP dan Perda belum selesai. Sehingga ada keraguan dalam mengelola sebuah Situ. Dalam PP mungkin perlu Kerjasama dengan penggunaan tenaga OP dari Daerah).

Yang pada hakikatnya adalah kurangnya kewaspadaan masyarakat dan pemerintah terhadap kemunkinan terjadinya bencana.

Kami hanya melihat hal yang sama yang sedang terjadi pada ‘Situ Negera Kesatuan Republik Indonesia’.

Tanggul Pelindung Bangsa Pancasila telah digerogoti oleh pihak-pihak yang kurang peduli terhadap  NKRI, mereka tidak menyadari bahwa terbangunnya ‘Situ NKRI’ adalah berkah rahmat Yang Maha Kuasa.

Ada sebagian kelompok yang mempunyai persepsi bahwa Yang Maha Kuasa hanya meridhoi aturan yang dibuat oleh-Nya. Benar. Akan tetapi pertanyaan mendasarnya adalah ada Wasiat yang disampaikan Seorang Suci yang satu dan sama, akan tetapi mengapa terjadi banyak aliran yang bahkan saling bertentangan. Jawabannya adalah bahwa visi semua aliran mungkin sama dengan visi Wasiat, akan tetapi ada ‘pikiran’ ada ‘ego’ dari pemimpin aliran yang merasuki visi tersebut. Apalagi kalau ‘ego kekuasaan’ merasuk dalam Wasiat, hal tersebut akan mengotori Wasiat yang Suci.

Mungkin ada beberapa pemimpin kita yang kurang pas dalam menerapkan Pancasila pada zamannya, tetapi Pancasila adalah benteng tanggul ‘Situ NKRI’  yang tangguh. Kerajaan Sriwijaya bertahan selama 12 abad, Majapahit eksis selama 4 abad karena mempergunakan ‘semacam Pancasila’, minimal mereka memegang teguh ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Pancasila adalah saripati budaya bangsa Indonesia.

Dalam zaman global ini, intensitas hujan lebat luar biasa yang turun adalah hujan-hujan budaya asing, food, fun, fashion yang dapat mengancam ‘Situ NKRI’. Para pemimpin bangsa perlu turun ke bawah inspeksi rutin keamanan ‘Situ NKRI’. Para Perencana, Bappenas perlu mendukung anggaran penyelamatan. Para politisi pun harus mendukung dana keamanan ‘Situ NKRI’. Selanjutnya, rembesan-rembesan yang membahayakan NKRI, segera ditutup, ‘please’!

Secara pribadi dapat pula diterapkan pula benteng keamanan ‘Situ Diri’, agar bangunan ‘Situ Diri’ tidak jebol karena hujan lebat harta, tahta dan wanita. Kalau sudah membahayakan jangan lupa gunakan ‘spillway’. Katarsis adalah spillway diri yang efektif!

Semoga mereka yang menerima musibah segera mendapat penerangan dan kasih dari Yang Maha Kuasa. Terima kasih Guru. Berkahmu selalu.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: