Perbaikan Karakter Diri dan Perbaikan karakter Bangsa

Pada hari itu seorang ayah dan anak lelaki bungsunya menengok anak lelaki sulungnya yang berada di Jakarta. Di rumah makan Mbah Jingkrak di Setiabudi, mereka bercengkerama.

Sang Ayah: Anak-anakku, kalian telah dewasa, dan sudah waktunya aku membuka rahasia dasar-dasar tindakan Papa selama ini. Papa melaksanakan nasehat Guru:  Rasa hormat terhadap hak serta pendapat orang lain merupakan sisi lain dari Kasih.” Oleh karena itu Papa menghargai pendapat kalian.

Anak Pertama: Apakah ada hubungannya dengan tulisan Papa di fesbuk tentang anak yang berbhakti? Bahwa ada karakter bawaan orang tua yang harus kita sempurnakan?

Sang Ayah: Benar anak-anakku. Kita tidak dapat dipisahkan dari orang tua. Pemberian orang tua yang masih kita bawa adalah ‘genetik bawaan’. Sekarang, setelah mendapat pengetahuan dari Guru, ‘genetik bawaan’ yang tidak baik, harus segera diputus siklusnya, jangan diwariskan ke generasi berikutnya, sedangkan genetik bawaan yang baik perlu kita kembangkan. Meningkatkan evolusi genetik, meningkatkan karakter itulah yang dapat dipersembahkan sebagai anak yang  berbhakti. Baca lebih lanjut

Iklan

Alam Semesta Merupakan Kesatuan Terpisah Tapi Satu Seperti Hologram

(Diambil dari http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/message/6582)

 

 

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di

Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain

Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan

eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak

mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda

biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak

pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang

merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.

 

Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan

tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron,

mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa

tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada

bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km

satu sama lain. Baca lebih lanjut

Antara Materi dan Energi dan Ruh

Nyawa yang melayang

Di tahun enam-puluhan, banyak anak-anak remaja di Indonesia suka membaca buku komik Perang Bharatayuda oleh RA Kosasih. Di buku komik tersebut digambarkan ketika seorang prajurit Korawa terkena anak panah oleh Prajurit Pandawa, disebutkan nyawanya telah melayang. Leluhur kita meyakini bahwa setelah meninggal dunia, nyawa tidak musnah, tetapi ‘melayang’. Leluhur kita juga mengatakan bahwa kita hidup di ‘mayapada’. Kehidupan itu maya, ilusi bukan sejati. Masih relevankah pernyataan para leluhur kita tersebut pada masa kini?

 

Pandangan Einstein

Kepada para murid SMA sudah diberikan rumus Einstein: E=MC2 dimana E adalah energi, M adalah massa materi dan C adalah konstanta kecepatan cahaya. Semua materi dalam fungsi kecepatan cahaya tertentu adalah energi. Pada pelajaran biologi disebutkan karbohidrat (materi) ditambah oksigen (materi) dengan sebuah proses di dalam tubuh diubah menjadi energi dan air (materi). Ada hubungan antara materi dan energi yang dikenal sebagai hukum kekekalan energi. Baca lebih lanjut