Perbaikan Karakter Diri dan Perbaikan karakter Bangsa


Pada hari itu seorang ayah dan anak lelaki bungsunya menengok anak lelaki sulungnya yang berada di Jakarta. Di rumah makan Mbah Jingkrak di Setiabudi, mereka bercengkerama.

Sang Ayah: Anak-anakku, kalian telah dewasa, dan sudah waktunya aku membuka rahasia dasar-dasar tindakan Papa selama ini. Papa melaksanakan nasehat Guru:  Rasa hormat terhadap hak serta pendapat orang lain merupakan sisi lain dari Kasih.” Oleh karena itu Papa menghargai pendapat kalian.

Anak Pertama: Apakah ada hubungannya dengan tulisan Papa di fesbuk tentang anak yang berbhakti? Bahwa ada karakter bawaan orang tua yang harus kita sempurnakan?

Sang Ayah: Benar anak-anakku. Kita tidak dapat dipisahkan dari orang tua. Pemberian orang tua yang masih kita bawa adalah ‘genetik bawaan’. Sekarang, setelah mendapat pengetahuan dari Guru, ‘genetik bawaan’ yang tidak baik, harus segera diputus siklusnya, jangan diwariskan ke generasi berikutnya, sedangkan genetik bawaan yang baik perlu kita kembangkan. Meningkatkan evolusi genetik, meningkatkan karakter itulah yang dapat dipersembahkan sebagai anak yang  berbhakti.

Anak Kedua: Jadi tindakan Papa selama ini didasarkan pada hasrat untuk menjadi anak berbhakti? Papa mempelajari karakter Yangkung dan Yangti (kakek dan nenek) dan berusaha memperbaikinya? Bukankah karakter itu pola lama yang telah mendarah daging? Segala sesuatu yang diulang-ulang menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan terus menjadi perilaku baru dan akhirnya menjadi karakter. Yang  terbawa mati dan terlahir lagi sebagai karakter bawaan dalam meneruskan evolusinya?

Sang Ayah: Selama Papa masih sadar, Papa berusaha menjadi anak yang berbhakti. Papa mempelajari karakter Yangkung dan Yangti. Kalian pun bisa memperhatikan karakter Papa dan Mimi. Tetapi genetik Kakek dan Nenek yang diwarisi olehmu bisa dilihat juga dari karakter saudara-saudara Papa dan saudara-saudara Mimi. Perhatikan, ada paman-bibimu yang mengalami masalah keluarga. Potensi genetik mereka juga ada dalam dirimu. Perhatikan  Pakdhe dan Budhe kalian, ada yang hidupnya ruwet,  potensi karakter mereka juga kalian bawa.

Anak Pertama: Itukah rahasia dasar tindakan Papa? Seandainya  Yangkung dulu punya sifat playboy, berarti perjuangan Papa untuk memutus siklus genetik yang tidak baik cukup berat? Apakah itu dilakukan dengan melalui katarsis?

Sang Ayah: Salah satunya dengan katarsis, melakukan ‘cleansing’ setiap hari. Selain itu hidup dengan kesadaran, setiap ada godaan melakukan karakter tidak baik, berlindung dengan membaca mantra Guru dan tidak melakukan perbuatan yang tidak baik. Kalian silahkan mempelajari karakter genetik bawaan dari Papa Mimi dan saudara-saudara Papa Mimi…….. Setelah saya beritahu pemahaman ini, bila kamu merasa tindakanmu  sudah benar,  ya lakukan saja. Tetapi ingat kalau kalian masih meneruskan karakter bawaan yang jelek, maka  jalan menuju ‘penerangan’ semakin panjang. Itu saja.

Anak Kedua: Terim a kasih Papa, atas nasehatnya, tolong saya diingatkan bila ada tindakan saya yang tidak benar, dan masih saja meneruskan karakter lama yang perlu perbaikan.

Sang Ayah: Papa melihat Kasih Guru kepada murid-muridnya yang diwujudkan dengan nasehat,  Rasa hormat terhadap hak serta pendapat orang lain merupakan sisi lain dari Kasih.” ………. Sekarang mari kita melihat karakter bangsa kita.

Anak pertama: Papa mau mengatakan bahwa bangsa Indonesia pada saat ini mempunyai keterkaitan dengan karakter bangsa masa lalu. Ada karakter bangsa yang kurang baik, seperti  terlalu kompromistis, membiarkan hal buruk terjadi karena rasa tenggang rasa, memaafkan korupsi karena memahami posisi pejabat; akan tetapi bangsa kita juga punya karakter  baik raja-raja Sriwijaya dan Majapahit, serta Pujangga Besar lainnya?

Sang Ayah: Benar, karakter bangsa yang baik, kita kembangkan dan karakter yang kurang baik, kita putus siklusnya. Guru memahami karakter bangsa tersebut, itulah sebabnya Papa dan Mimi mengikuti jejak Guru. Papa ingin membuat ‘support group yang baik dari keluarga. Keberhasilan ‘support group’ keluarga ini akan berpengaruh keluar. Sehingga akhirnya kalian mencapai : “has no family other than the entire humankind; has no home other than the entire world; has no friend or relation other than YOU. Love you all…”One Earth One Sky One Human Kind. Semoga semua warga Indonesia sadar, segera mengubah karakter keluarganya. Guru Terima Kasih. Mohon bimbinganmu.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: