Mendatangkan Dewi Sri di Pulau Lombok (Artikel Ketiga, Filosofi Rumah Sasak)


Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok

Pertama kali melihat rumah Sasak di Sade, Pulau Lombok, ingatan langsung menerawang ke masa silam. Inilah rumah asli para leluhurku. Pada zaman dahulu Nusataran terkenal dengan sebutan Kepulauan Sunda. Kepulauan Sunda Besar terdiri dari pulau-pulau Kalimantan atau Borneo,  Jawa,  Sulawesi  dan Sumatra . Sedangkan Kepulauan Sunda Kecil  atau Kepulauan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat, pulau Lombok hingga Pulau Timor di sebelah timur. Ada kaitan erat antara suku-suku yang berada di Nusantara. Entah itu berupa penjajahan atau persahabatan hal itu sudah terjadi, dan genetik para leluhur sudah terwariskan kepada kita. Adalah tugas kita memperbaiki karakter nenek moyang. Karakter yang jelek dibuang dan karakter yang baik ditumbuh-kembangkan.

Cuplikan dibawah diambil dari artikel di Harian Kompas  3 Juni 2005, ‘Arsitektur dan Tata Ruang Rumah Tradisional Sasak Lombok’ :

RUMAH bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya. Memang fungsi dan bentuk fisiknya, rumah tradisional itu ada yang berubah dan berbeda, sejalan dengan bertambahnya jumlah penghuni maupun tergantung risiko (kondisi keamanan, geografis, dan topografis) di masing-masing dusun. Namun konsep pembangunannya: arsitektur, tata ruang, dan pola tampaknya merujuk tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya.

Sedangkan bangunan yang ada meliputi bale (rumah), berugak (bale-bale bertiang empat disebut sekepat atau bertiang enam atau sekenem), lumbung dan kandang (bare) ternak. Atap dan bubungan (bungus)-nya adalah alang-alang yang umumnya menghadap Gunung Rinjani dan berdinding anyaman bambu (kampu). Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah bila ada penghuninya sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben dan dapur, sempare (tempat menyimpan makanan, peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) tanpa jendela. Lantai rumah umumnya tanah yang dicampur dengan kotoran kuda, getah, dan abu jerami,

SEPERTI disinggung di atas, selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai.

Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

 

Arsitektur rumah warga di tiga dusun itu relatif mirip, yang agak berbeda mungkin fungsi ruangannya. Hanya rong dalam rumah di Dusun Segenter lekat tradisi wetu telu-nya. Misalnya, di inan bale, kecuali menyimpan beras dalam gentong (temberasan/kemeras), barang berharga lainnya, juga tempat menyimpan nenoq (sesaji bagi arwah leluhur dan roh penghuni rumah), dan saat tertentu dijadikan tempat pemujaan/meditasi keluarga…………………

 

Filosofi Rumah Sasak

Menurut kami ada benang merah persamaannya dengan rumah Joglo di Pulau Jawa, dimana pada hakikatnya ada keterbukaan antara orang tua dan anak-anak. Tamu biasa ditemui di beranda depan rumah, kecuali tamu orang dalam. Bagi tamu orang dalam dengan rumah bagian dalam hanya dibatasi dengan ‘rana’, Skelsel, pembatas ruangan dari ukiran kayu setinggi orang. Pembatas kamar pun hanya berupa ‘gebyog’, papan penuh ukiran dari kayu. Hanya ‘sentong’, lumbung atau gudang makanan yang dibuatkan dinding permanen.

Hubungan antara orang tua dengan anak harus transparan, sampai si anak mendirikan rumah keluarga sendiri. Pengaruh budaya satu anak diberikan satu kamar sendiri dengan tivi dan komputer membuat anak merasa mempunyai kamar pribadi dan bahkan bisa menyembunyikan komik atau video porno yang kamarnya dapat dikunci dari dalam. Hubungan antar anak dalam filosofi leluhur adalah hubungan yang harmonis karena mereka merasa satu keluarga.

Demikian juga semua warga negara Indonesia ini adalah putra-putri Ibu Pertiwi. Jangan dibiasakan mereka hidup terkotak-kotak dalam dinding agama bahkan saling mencurigai dan saling bertengkar. Leluhur kita mempunyai  semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Perekatnya adalah satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air Indonesia. Para ‘founding fathers’ telah menemukan sari budaya nusantara yang dirumuskan dalam Pancasila.

Sudah saatnya kita yang hidup dalam rumah Ibu Pertiwi dengan mengharmoniskan diri, saling mengapresiasi dan berhati-hati dengan keluarga lain rumah yang ingin merusakkan keharmonisan keluarga Indonesia.

Kami melihat Lombok membunyai potensi pariwisata yang luarbiasa. Pantai Senggigi, Pantai Kuta, pantai Gili Asahan, Danau Segara Anak di Gunung Rinjani dan segudang potensi pariwisata lainnya. Bandara Internasional Lombok sedang dalam taraf penyelesaian, jaringan jalan pulau Lombok perlu ditingkatkan, demikian pula jaringan listrik dan jaringan air minum. Yang penting adalah kehidupan damai dan harmonis antar umat beragama. Peristiwa Bom Bali bagaimana pun berdampak ke Pulau Lombok.

Semboyan Kota Mataram IBADAH, Indah, Bersih, Damai dan Harmonis perlu dijadikan afirmasi sehari-hari. Kami mimpi suatu kali turis mancanegara setelah masuk Pura Besakih di Bali memakai kain sarung, diperbolehkan masuk Mesjid Suci di Lombok dengan memakai kain sarung tenun dan udeng khas Lombok dan harus berwudhu terlebih dahulu. ‘Tampi Kasih’.

Terima Kasih Guru. Indonesia Jaya.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April  2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Hi, good post. I have been pondering this issue,so thanks for blogging. I’ll definitely be coming back to your site. Keep up the good posts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: