Mendatangkan Dewi Sri di Pulau Lombok (Artikel Pertama Saluran Interkoneksi)


Membawa air dari daerah surplus air di Lombok Barat ke daerah minus air di Lombok Tengah dan lombok Timur Bagian Selatan

Melihat hal yang sama dengan pemahaman berbeda, itulah uniknya manusia. Pola pikiran manusia dipengaruhi sifat genetik warisan orang tuanya, pendidikan sekolah, lingkungan dan pengalamannya. Dewi Sri bagi kami adalah Kekuatan Ilahi Pemberi Rizki, untuk memudahkan imaginasi, maka wujud Ilahi yang tak dapat diserupakan, digambarkan sebagai Dewi cantik pemberi rizki.

Adik Pulau Bali yang masih kecil ini menyimpan potensi kemakmuran yang luar biasa. Hanya potensi tersebut perlu diwujudkan dengan perjuangan yang tanpa henti. Pertama kali perlu dilihat banyaknya curah hujan di pulau Lombok, karena tanahnya mempunyai kesuburan yang cukup baikbaik.  Sebagai perbandingan curah hujan di wilayah Jawa Tengah adalah sekitar 3.000 mm per tahun. Di daerah Lombok Barat mempunyai curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun kemudian ke arah timur semakin berkurang sehingga  di Lombok Tengah sekitar 900 mm per tahun, dan Lombok Timur sekitar 830 mm per tahun. Pada hal ada lahan pertanian sekitar 50.000 ha di Lombok Tengah dan Lombok Timur bagian Selatan yang karena curah hujan yang kecil maka sering mengalami masa kekeringan yang berkepanjangan.

Pemerintah membangun Jaringan Irigasi Interkoneksi  untuk membawa kelebihan air di Lombok Barat ke Lombok selatan. Total area yang dapat diairi Jaringan Irigasi Interkoneksi Lombok Selatan adalah sekitar 61.000 ha. Sebuah perjuangan untuk mendatangkan Dewi Sri ke Pulau Lombok. Secara keseluruhan Sistem Interkoneksi HLD (High Level Diversion) Lombok Selatan terdiri dari 23 sungai, 2 waduk besar dan 57 Daerah Irigasi dengan 2 Saluran interkoneksi  sepanjang 35.5 km. Dan telah dapat diselesaikan pada tahun 1996. Saluran Interkoneksi Jangkok Babak Keru mengalirkan debit sekitar 40% dari rencana  dan Saluran Interkoneksi Babak Renggung Rutus mengalirkan 25% dari rencana. Sebuah perjuangan yang luar biasa yang dapat dinikmati oleh generasi selanjutnya. Permasalahannya  adalah bagaimana menjaga Jaringan Irigasi Interkoneksi agar lestari, terpelihara dan menghemat penggunaan air agar air dapat lebih optimal penggunaannya.

 

Penghormatan terhadap air pada khususnya dan terhadap alam pada umumnya

Air adalah salah satu unsur alam, dan menurut Dr. Emoto dapat membentuk kristal hexagonal yang indah apabila merasakan suatu kebahagiaan atau mendapatkan vibrasi penuh kasih. Air yang diperlakukan dengan hormat misalkan dengan mendengar nyanyian yang indah atau diberi doa akan memberikan respon dengan membentuk kristal hexagonal yang indah. Pada zaman dahulu, ketika air diperlakukan sebagai tamu pembawa berkah, air hujan yang turun ke bumi ‘krasan’ berada dalam akar tanaman hutan di gunung sehingga air yang limpas di permukaan tidak begitu banyak. Pada musim kemarau ketika hujan sedikit turun, masih ada air keluar dari gunung sehingga pada waktu kemarau pun air di sungai masih cukup besar jumlahnya. Pada waktu ini, ketika hutan banyak yang gundul, air tidak ‘krasan’ lagi di gunung, langsung melimpas di permukaan membuat banjir. Pada waktu musim kemarau, simpanan air di gunung tidak banyak dan sungai-sungai menjadi kering. Penggundulan hutan adalah sebuah perilaku yang tidak menghormati air, dan air tidak menjadi tamu pembawa berkah lagi.

Ilmuwan di berbagai belahan dunia telah membuktikan hubungan langsung antara kerusakan hutan dengan bencana banjir dan longsor, konflik dengan masyarakat, hilangnya keanekaragaman hayati, timbulnya  kebakaran hutan dan juga sebagai salah satu faktor pemicu perubahan iklim global.

Keserakahan manusia juga mengakibatkan emisi gas karbon dari energi fosil dan deforestasi  semakin mempercepat perubahan iklim. Emisi gas karbon membentuk rumah kaca di sekeliling bumi, sehingga panas sinar matahari yang diserap bumi sulit untuk dipantulkan kembali dan menyebabkan terjadinya bumi yang semakin panas.

Bumi membutuhkan rata-rata 2,1 hektar lahan per orang untuk memproduksi sumberdaya kebutuhan manusia sekaligus untuk menangkap emisi karbon, tetapi faktanya manusia mengambil lebih banyak lagi, 2,7 persen. Satu indeks baru telah menunjukkan ada biaya ekonomi tersembunyi dibalik konsumsi air. Satu T-shirt berbahan katun misalnya, membutuhkan 2.900 liter air, dari sejak bahan dasar pertanian (kapas) sampai pengolahan (di pabrik). Dengan demikian, setiap orang di dunia rata-rata mengkonsumsi 1,24 juta liter air per tahun, atau setara dengan setengah air di kolam renang berkelas Olimpiade. Secara nasional kebutuhan ini akan mencapai antara 1,48 juta liter per orang per tahun di AS dan 619 ribu liter per kapita di Timur Tengah. Perubahan iklim hampir pasti memperburuk kelangkaan air yang telah menghantam 50 negara dewasa ini. Pemanasan global, mempercepat pencairan es di kutub yang menyebabkan air laut semakin meninggi dan tidak teraturnya arah angin yang sering mengakibatkan badai.

Para pembaca yang telah telah melihat film Dashavatar, dapat merenung, bahwa melihat gejala tsunami, musim yang ekstrem, mungkin sekali pada suatu saat bumi kita hancur karena kerusakan alam. Kemudian hanya beberapa gelintir manusia yang selamat dan memulai hidup dari sederhana lagi. Bukankah cerita semacam Nabi Nuh juga demikian? Bukankah ada scientist yang meyakini bahwa Masyarakat Atlantis yang maju musnah karena meletusnya gunung dengan sangat dahsyat dan meninggalkan bekas sebagai Danau Toba? Setelah bencana besar di bumi, selain beberapa gelintir manusia pilihan yang selamat, mungkin kehidupan akan berevolusi lagi, dimulai dari ikan, reptilia, raksasa (campuran manusia dan binatang), manusia mini kearah manusia sempurna.

 

Berjuang melestarikan  keberadaan air

Pemerintah telah memperlakukan air dengan penuh hormat, memaksimalkan curah hujan yang berlebih dan dibawa ke daerah yang kurang air. Tindakan tersebut merupakan tindakan yang mulia yang harus dilestarikan. Pembuatan konservasi di daerah tangkapan hujan juga merupakan tantangan sendiri untuk melestarikan keberadaan air. Semoga kita semua bersatu untuk berjuang melestarikan keberadaan air.

Terima Kasih Guru, yang telah memberikan ‘wisdom’ untuk memperbaiki pikiran dan melakukan perbuatan yang selaras dengan alam antara lain sebagai berikut:

‘Bertindak sesuai dan selaras dengan hukum-hukum alam membawa keberhasilan’………. ‘Pikiran merupakan fondasi dari tindakan. Pikiran yang bermanfat dan kreatif  akan menghasilkan tindakan yang bermanfaat  dan kreatif’………’Seperti apakah mencintai itu?  Tidak menguasai, tidak merebut tetapi berbagi, memberi’……… ‘Keserakahan menyebabkan kegelisahan, kekecewaan, kebingungan dan segudang masalah lainnya’………. ‘Mengharapkan perkembangan tanpa perubahan, persis seperti mengharapkan kesembuhan tanpa upaya’. Selamat berjuang!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April  2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: