Renungan Sepasang Staf dari Sebuah Kantor Cabang


Pakdhe Jarkoni merenung lama di  beranda rumahnya yang terletak di jalan Anjasmoro, nama sebuah Gunung yang tetap megah sejak zaman Majapahit bahkan dari masa sebelumnya sampai dengan masa pemerintahan Republik Indonesia saat ini. Sebuah Refleksi muncul dari benak Pakdhe Jarkoni tentang sepenggal cerita Kantor Cabang Perusahaan Ismaya & Co Ltd, dimana Pakdhe dan Budhe Jarkoni mengabdi. Berlainan dengan semua kantor konvensional, di perusahaan tersebut suami istri diperbolehkan mengabdi dalam satu kantor. Jarkoni sendiri adalah singkatan dari ‘fasih berujar tidak bisa melakoni’. ‘Nickname’ tersebut cocok bagi pribadi Pakdhe Jarkoni. Sejak Guru Sekolah Dasar sampai Direktur Utama dan Komisaris Perusahaan ‘judheg’, kerepotan ngajari ‘laku’, ‘action’, tindakan pada Pakdhe Jarkoni yang suka merenung. Sudah ‘telmi’, telat mikir, ditambah ‘kuper’, kurang pergaulan lagi. Beruntung Gusti itu Maha Sabar, Maha Pemaaf, dan Maha Pengasih………………. Kantor Cabang Perusahaan Ismaya & Co Ltd sudah tidak dibekukan lagi, akan tetapi kedepan masih banyak peristiwa yang akan dialami Kantor Cabang tersebut. ‘Who Knows?’…………. Tiba-tiba Budhe Jarkoni datang, duduk dan memecah keheningan.

Bu Dhe Jarkoni: Saya ingat betul bahwa seluruh teman-teman se kantor pernah ‘down’ dengan surat pembekuan Kantor Cabang oleh Bapak Komisaris Utama. Mereka begitu terpukul dengan selembar surat pembekuan dan semua berakhir dengan tangis-tangisan. Tangis-tangisan yang sebetulnya tidak bermakna. Tanpa perubahan diri, tangisan dan permohonan maaf hanya menyentuh lapisan kulit luar belaka. Yang penting bukan permohonan maaf atas kesalahan fatal yang telah dilakukan, akan tetapi berubah dan tidak mau mengulangi lagi. “Sin No More”, kata Gusti Yesus. Bapak Komisaris yang menjadi idola dan ‘real-father’ bagi seluruh staf telah memberi nasehat: “Kantor Cabang mungkin telah bertindak banyak kesalahan, akan tetapi yang penting Kantor Cabang tersebut telah menyadari kekurangannya dan ber-‘committed’ untuk tidak mengulangi kesalahannya. Bukankah manusia lahir di dunia juga sudah merupakan bukti bahwa dirinya tidak sempurna, bila sudah sempurna manusia tidak perlu lahir di dunia lagi. Yang penting mau berubah dan tidak mengulangi kesalahan.”

Pakdhe Jarkoni: Saya lama merenung isteriku! Bagi saya pribadi, semua kejadian bukan pelajaran bisnis perusahaan semata, akan tetapi merupakan pelajaran hidup bagi umat manusia. Ketika badan manusia akan dibekukan Gusti, entah karena usia tua atau karena sakit yang tak terobati, dia juga merasa tak rela, merasa depresi. Dia tak mau mati. Padahal dia telah paham bahwa sebetulnya roh itu tidak bisa mati, setelah tubuh yang lama dibekukan dan terurai menjadi unsur-unsur alami, pada suatu saat dia akan dilahirkan lagi………… Kita harus menerima pembekuan, setelah itu lahir lagi dengan ‘pakaian baru’, tubuh baru, semangat baru, agar dapat bertindak dengan penuh kesadaran, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalau kita tetap hidup tidak berkesadaran, kita akan mati-hidup, mati-hidup tak berkesudahan. Baik Bapak Komisaris maupun Gusti membekukan dengan penuh KASIH. Bapak Komisaris telah meminta kita menghayati betul-betul Nama Perusahaan Ismaya & Co Ltd, Ismaya adalah Semar, rohnya Indonesia, sehingga bila kita berbuat salah maka kita berbuat salah terhadap Indonesia, terhadap Ibu Pertiwi.

Budhe Jarkoni: Saya ingat pesan Bapak Komisaris bahwa perusahaan Ismaya & Co Ltd adalah perusahaan yang sangat spesial. Kegagalan Kantor Cabang akan berpengaruh ke kinerja Perusahaan, sudah banyak energi dan waktu yang tersia-siakan karena Kantor Cabang telah bertindak dengan tanpa kesadaran. Keberhasilan harus tertunda sampai beberapa lama lagi.

Pakdhe Jarkoni: Betul isteriku, selama ini Kantor Cabang kita adalah representasi dari masyarakat yang menggunakan kebiasaan lama, pola lama yang tidak mau berubah. Kalau dibiarkan, kita tidak ubahnya seperti berbagai ‘denomination’, berbagai aliran yang merasa benar menurut pemahamannya masing-masing, padahal sumbernya satu dan sama. Bagi mereka visi mereka telah sama dengan visi pembawa kitab suci, akan tetapi mereka menggunakan egonya, menggunakan ‘mind’-nya, sehingga visi pembawa kitab suci tercemari ego mereka yang merasa paling memahami. Dalam hal keyakinan, seandainya Para Pembawa Kitab Suci masih hidup, apakah Beliau-Beliau juga tidak membubarkan masing-masing aliran yang merasa benar sendiri tersebut? Sudah sepantasnya Bapak Komisaris membubarkan Kantor Cabang kita. Masing-masing staf Kantor Cabang telah merasa bertindak benar sendiri.

Budhe Jarkoni: Mereka yang diam, yang patuh menerima Surat Pembekuan dan berlatih dengan membuka perusahaan sendiri, dengan berpegang pada Garis Besar Buku-Buku Pedoman Bapak Komisaris, telah menempuh ‘jalan pengetahuan’, apakah mereka yakin diri mereka bisa ‘berenang’ dan tidak perlu menumpang ‘perahu’ Perusahaan. Siapakah diri kita ini yang merasa mampu ‘berenang’ sendiri di samudera bisnis yang penuh gelombang badai yang tak terduga? Menurut kami pribadi, jangan sampai kita keluar dari ‘perahu’.

Pakdhe Jarkoni: Sekarang telah jelas, Bapak Komisaris tidak mau bertemu dengan orang-orang yang tidak mau mengubah dirinya. Kantor Cabang telah diminta memulai lembaran baru. Kantor Cabang telah dibuka kembali. Sebuah harapan baru……….. Kantor Cabang yang lemah, akan membuat perusahaan menjadi lemah. Taruhannya adalah Ismaya, Semar, roh Indonesia. Selanjutnya, untuk menjaga agar visi misi tetap lestari, maka diperlukan anak muda yang belum tercemari dunia sebagai kader. Usia yang paling kreatif adalah usia dibawah 25 tahun.

Budhe Jarkoni: Kemarin Bapak Komisaris membuka rahasia. Orang yang punya masalah akan mendatangi dan ‘curhat’ kepada orang yang punya masalah juga. Ini sesuai dengan hukum ‘law of attraction’. Kita yang bermasalah mencari penyelesaian pada orang lain yang juga bermasalah, sehingga masalah tidak pernah beres. Bapak Komisaris telah membuka komunikasi lewat dunia maya, dua jam sehari, dan kita bisa bertanya pada beliau. Menurut beliau ada dua kunci untuk menjadi staf perusahaan yang baik. Pertama ‘trust’, percaya, yakin kepada Pimpinan dan kedua patuh terhadapnya, itu saja. Hanya yakin tanpa patuh tidak membawa hasil. Hanya patuh tanpa keyakinan akan membuat gampang diombang-ambingkan keadaan. Bagi kita-kita ini Bapak Komisaris adalah wakil Keberadaan. Apabila Bapak Komisaris tidak menghukum kita, maka Keberadaanlah yang akan menghukumnya.

Pakdhe Jarkoni: Betul isteriku, saya ingat karena Gusti Yesus sangat pemaaf, dia memaafkan bangsa Yahudi yang telah berkonspirasi untuk menyalibnya. Gusti Yesus bisa memaafkan, karena yang ada dalam dirinya hanya kasih, tetapi Keberadaan menghukum mereka dan konon selama 2.000 tahun bangsa ini tak pernah tenang. Dari internet, saya tahu banyak alasan bahwa sebagian besar orang Yahudi tidak bersalah, yang bersalah adalah para pemimpinnya. Tetapi, bukankah mereka membebek saja terhadap pemimpin mereka yang tidak benar. Bukan hanya bangsa Yahudi, saya pikir semua bangsa termasuk bangsa Indonesia juga akan mengalami hukuman dari Keberadaan bila banyak warga diam melihat ketidakbenaran berlangsung. ‘Silent majority’  tidak pernah mampu mengubah bangsa.

Budhe Jarkoni: Bapak Komisaris adalah guru sekaligus pemandu perusahaan, beliau adalah wujud kasih dalam membimbing staf yang bertekad memulai hidup memberdaya diri. Berbakti terhadap Bapak Komisaris adalah  berbakti terhadap Ismaya, terhadap Semar, terhadap roh Ibu Pertiwi. Seorang Ibu tidak akan tega terhadap anaknya yang berniat kembali ke jalan yang benar, yang melakukan perubahan dan tidak mengulangi kesalahan. Sudahlah Bapak Komisaris, kami belum tahu apa-apa, mohon bimbinganmu Bapak.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. sangat bagus cerita dan dialog atara Pakdhe dan Budhe Jarkoni.
    Para pegawai/staff yg bisa yakin dan patuh kepada bapak Komisaris rasanya sich bukan kebetulan saja atau diajak yakin dan patuh begitu saja, pastinya mereka mempunyai latar belakang “pendidikan” yg cukup memadai untuk bs yakin dan patuh.
    Kemana harus kuliah…?

    trims Kang Mas
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: