Antara Zaman ‘On-Line’ & Zaman ‘In-Line’


Materi Teknologi Informasi di Balikpapan oleh Dosen Unsud Purwokerto

….It is not the biggest or the strongest who survive, but the one is responsive to change…… demikian akhir penjelasan Materi Dr. Ali Rokhman pada tanggal 23 April 2009 di Hotel Bahtera Balikpapan, yang ketika kuliah di Jepang dipanggil Ari Rokumon-san (bahasa Jepang tidak punya huruf ‘l’ dan tidak ada huruf mati kecuali ‘n’)dan beliau mengatakan telah meng ‘quote’ dari Yuki Uchida. Mungkin Pak Dosen Unsud ini penggemar aktris, model, penyanyi dan idola masyarakat Jepang, Yuki Uchida yang cantik.

Yang Jelas Opa Charles Darwin mengatakan:  “It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change”. Bukan yang terkuat atau yang paling cerdas yang dapat ‘survive’, tetapi dia yang tanggap terhadap perubahan.

Artikel ini berdasarkan materi TI dari ‘Dr. Ari Rokumon-san’…………….

Pesan Bill Gates tentang TI

Bill Gates pada tahun 2007 berpesan: “Kita sedang melintasi suatu batas teknologi yang akan senantiasa merubah cara kita baik tentang: belajar; bekerja; bergaul; berbelanja. Teknologi tersebut akan mempengaruhi dan lebih merasuk pada cara hidup kita yang belum kita kenal  sebelumnya”.

Pertama tentang belajar, anak kami yang masih duduk di SMA lebih sering mencari informasi di internet daripada di perpustakaan. Apalagi sejak di rumah dipasang ‘speedy’. Dia kontak dengan teman-temannya untuk belajar bersama tidak dengan telepon tetapi dengan SMS. Dia telah kontak teman SD dan SMP lewat ‘facebook’. Sepuluh tahun lalu kami belum membayangkan hal-hal  demikian bisa terjadi. Kedua tentang bekerja, kami sudah membuat laporan progress pekerjaan ke Departemen lewat internet. Pada saat ini setiap orang praktis bekerja sepanjang hari. Walaupun berada di Balikpapan yang terpisahkan laut dari Semarang, tetapi kosultasi dengan kantor tetap jalan. Bahkan ketika sedang sakit pun sms tetap menyambangi kita. Laporan kejadian bencana di Situ Gintung kita dapatkan dengan foto-foto yang detail. Ketiga tentang bergaul, undangan suatu acara sudah lewat SMS dan ‘facebook’. Dimana pun kita berada kita terhubung dengan keluarga dan sahabat-sahabat kita. Kartu lebaran sudah berkurang diganti SMS bahkan lengkap dengan huruf Arab segala. Orang tidak pernah kesepian walaupun dia sendirian karena bisa ‘chatting’ lewat ponsel atau ‘netbook’. Berbelanja, membayar pajak, transfer uang pun dapat dilakukan di depan layar monitor dari rumah.

Pada tahun 2008, Bill Gates ke Jakarta dan berbicara di depan sekitar 2.000 orang tentang: konvergensi; keterhubungan; dan kebutuhan untuk berhubungan secara alami. Pertama, konvergensi, ada penyatuan antara computer, telekomunikasi, hiburan dan alat rumah tangga dan tentu saja nirkabel, seperti bluetooth, infrared, wifi, wimax dalam satu alat. Ponsel akan menjadi PC dan PC akan menjadi Ponsel. Kedua keterhubungan, dimana pun kita berada selalu terhubung dengan relasi kita. Ketika stasiun seluler berhenti, atau kita berada di kota yang tak ada sinyal, kita agak gugup, merasa ada sesuatu yang hilang. Ketinggalan HP di rumah pun membuat kita kurang PeDe.  Ketiga Kebutuhan keterhubungan secara alami. Walaupun tanpa membawa laptop ke luar kota dapat terhubung dengan ‘facebook’, akan tetapi terasa ada kelemahan pada HP, diantaranya huruf yang terlalu kecil yang tidak seperti kemauan kita. Mungkin suatu kali kita cukup bicara dan HP akan mentrasfer ke bentuk tulisan. Membawa laptop ke luar kota pun khawatir bila ditinggalkan di kamar hotel atau di mobil, sedangkan bertamu membawa laptop terasa kurang pas.

John Naisbitt dalam Megatrends 2000 mengungkapkan: komputer akan menghuni setiap rumah; kita bakan saling terhubung dalam suatu jaringan informasi; Surat Kabar melalui komputer dan media kertas berkurang.

Pesan Opa Charles Darwin perlu diingat: “Bukan yang terkuat atau yang paling cerdas yang dapat ‘survive’, tetapi dia yang tanggap terhadap perubahan”. Teman kami tukang ahli ngetik 10 jari mulai tertinggal, kemudian tilgram di Kantor Pos sudah terlupakan, padahal sewaktu SD kami pernah diajari menulis tilgram dan huruf steno.

Pada kesempatan di Balikpapan ‘Dr. Ari Rokumon’ juga sempat membuat pemirsa terpana dengan pemutaran video “Old School Friends”. Lima orang sahabat ketika masih sekolah di SD menulis cita-cita, disimpan dalam ‘time capsule’  dan dikubur. Setelah 30 tahun salah seorang ingat akan cita-cita ‘time capsule’ tersebut. Teknologi IT yang digunakan untukmenghubungi teman-teman tersebut sudah sangat maju dan menjadi visi NTT Docomo tahun dua ribu belasan.

Anak kami saya minta men-‘download’ video dari NTT Docomo, sebuah perusahaan Telekomunikasi di Jepang. Dan banyak versi dari cerita serupa yang mengimaginasikan visi IT modern. Dan, visi tersebut mungkin sekali akan tercapai dalam beberapa tahun ke depan.

 

Mempelajari  Kebenaran lewat IT

Dimanapun berada kita bisa terhubung dengan Guru, baik lewat catatan Guru atau komentar Guru atas tulisan teman di ‘facebook’, ataupun lewat SMS Wisdom. Apa pun nasehat Guru tentang film atau buku yang baik misalnya ‘Anand Math’, kita bisa ‘browsing’ di internet. Lagu rohani, terjemahan Kitab Suci, quotation dari Guru Rohani semacam Thomas Merton dan para Pemikir Besar pun dapat dijangkau dari layar monitor.

Dari internet kita dapat membenarkan komentar Einstein tentang kenyataan yang telah terjadi di dunia. “Selama ini agama menentukan cinta kasih di antara sesama saudara dalam hubungan antar individu dan antar golongan , namun pemandangan sebenarnya lebih menggambarkan peperangan daripada sebuah orkestra yang indah. Dalam dunia ekonomi dan dunia politik terjadi perjuangan kejam yang merugikan orang lain. Semangat kompetisi ini muncul juga di sekolahan dan menghancurkan rasa persaudaraandan semangat kebersamaan manusia, yang menempatkan pencapaian yang  bukan berasal dari cinta, melainkan bersumber dari ambisi pribadi”. (Menemukan Tuhan dalam Fisika Einstein, Max Jammer, Multi Solusindo 2008).

Mahasiswa yang karakter dirinya terbentuk dari pendidikan dengan mencari Indeks Prestasi Tinggi, bahkan dalam organisasi spiritualitas pun selalu mendasarkan kepada ambisi pribadi.

Dari panduan Guru dan diteruskan dengan penjelajahan internet, kita dapat memahami pendapat Einstein: “Saya bukan seorang ateis, dan tidak terpikir saya dapat menyebut diri saya sebagai seorang panteis. Posisi kita seperti seorang anak kecil yang memasuki perpustakaan raksasa yang dipenuhi buku-buku aneka bahasa. Anak itu mengetahui seseorang pasti telah menulis buku-buku tersebut. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu bahasa-bahasa yang digunakan untuk menulis semua itu. Anak itu menduga ada sebuah keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu, namun tidak mengetahui apakah itu. Seperti demikian itu menurut saya, adalah sikap setiap manusia dengan keluhuran intelegensi terhadap Tuhan. Kita melihat jagat raya yang tertata secara mengagumkan dan tunduk pada suatu hukum, tetapi hanya sedikit yang memahami hukum ini. Pikiran kita yang terbatas  menangkap kekuatan misterius yang menggerakkan konstelasi (bintang-bintang). Saya terpesona dengan panteisme Spinoza, tetapi saya lebih mengagumi sumbangannya pada pemikiran modern karena ia adalah filsuf pertama yang menjelaskan (persoalan) jiwa-tubuh dalam suatu kesatuan, dan bukan sebagai dua hal yang terpisah”.  ”. (Menemukan Tuhan dalam Fisika Einstein, Max Jammer, Multi Solusindo 2008).

Terima Kasih Guru atas segala Panduannya.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April  2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: