Pengambilan Keputusan Bangsa Melalui “Rasa”


Perasaan setara membuahkan voting

Voting sudah menjadi aturan baku dari satu paham demokrasi. Suara terbanyak adalah pemenang. Prinsipnya sama dengan lembaga perseroaan para pedagang. Pemegang saham mayoritas yang berhak mengatur. Antara dunia politik dan dunia dagang memang tidak jauh beda, dasarnya adalah  soal kepentingan. Bagaimana pun perusahaan harus mencapai keuntungan. Bahkan hampir semua lembaga multilateral maupun PBB menggunakan aturan voting untuk melegitimasi keputusan.

Partai politik  mengadakan koalisi untuk mendapatkan suara mayoritas. Ada deal-deal tertentu yang tidak lepas dari kepentingan:  kepentingan pribadi, kepentingan partai, kepentingan kelompok dan kepentingan lainnya. Kepentingan negara patut dipertanyakan.

Hal ini bukan dimaksudkan untuk mengkritik sistem pemilihan, karena keputusan telah diambil dan telah dijadikan landasan bernegara, dan itu tidak lepas dari pengalaman masa lalu, akan tetapi walau bagaimana pun kebenaran harus disampaikan. Mungkin bagi masyarakat yang sudah mencapai “civil society”, masyarakat yang semuanya paham akan hak dan kewajiban bermasyarakat, keputusan lewat voting lebih sesuai. Walalu bagaimana pun kita harus belajar dari sejarah masyarakat Jerman yang pernah memberikan keleluasaan kekuasaan kepada Adolf Hitler.

 

Pengambilan keputusan dalam bidang ilmu pengetahuan dan keyakinan

Konon, terjadilah perdebatan sengit di antara para ilmuwan kelas tinggi, dan diputuskanlah “Hukum Fisika Kuantum” lewat voting……… Apakah Albert Einstein dapat menerima? Dasar ilmu pengetahuan adalah kebenaran,  mungkin kebenaran pada saat ini, dan setelah ada pencapaian pengetahuan yang lebih sempurna maka kebenaran pengetahuan itu pun perlu diperbaiki.

Selanjutnya, sekelompok ahli tafsir berkumpul membuat kesepakatan dan ingin memaknai tafsir sebuah kitab suci, apakah pantas meraka menggunakan voting?

Kemudian, ketika diri kita memilih pasangan hidup, apakah kita akan kumpulkan sahabat dan kerabat untuk diadakan voting?

Karena voting mendasarkan  suara mayoritas yang berkuasa,  maka jangan ditanyakan masalah hakikat dari kebenaran, kebaikan dan keadilan. Voting mengabaikan hal demikian. Walau yang minoritas menyampaikan usulan tentang kebenaran namun tak akan bermakna bila mayoritas mengatakan hal tersebut tidak benar. Dalam sekumpulan maling, maka yang dipilih sebagai pemimpin adalah bukan orang yang benar. Dalam setiap voting pasti ada yang kalah dan yang menang. Kehidupan kelembagaan terhormat memang di design layaknya medan pertempuran. Yang kuat makan yang lemah. Tak ada nuasa hikmat dari pelaku untuk menghasilkan kebijaksanaan.

Pertanyaannya apakah mungkin pluralitas dapat hidup dalam bernegara cara tersebut? Kelompok minoritas harus berjuang dengan segala cara agar dia dapat eksis. Kalau sudah demikian maka pengetahuan leluhur tentang “Sapa sing nandur bakal ngundhuh”, siapa yang menanam akan menuai, Hukum Alam Sebab-Akibat, Hukum Kebenaran tidak dijadikan acuan maka pada suatu saat akan datang akibat dari perbuatan kita.

 

Pengambilan keputusan berdasar kebenaran

Einstein menguraikan tentang mekanika kuantum, menguraikan tentang Hukum kekekalan energi bahwa semua benda dalam kecepatan tertentu adalah energi. Pada hakikatnya yang ada di alam ini adalah energi……  yang berbeda hanya kerapatannya. Banyak sekali tantangan yang dihadapinya, tetapi hal tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya.

Para Orang Suci juga tidak goyah dalam menyampaikan kebenaran, itulah sebabnya dalam organisasi spiritual keputusan orang yang diyakini benar oleh pengikutnya adalah keputusan mutlak. Masalah yang terjadi adalah pada generasi sesudahnya yang tidak bisa lagi bertanya kepada Orang Suci tersebut.

Dalam diri setiap orang terdapat pola pemikiran , terdapat ego, sehingga penafsiran suatu pedoman dari satu Orang Suci dapat berbeda. Dalam beberapa generasi pedoman Orang Suci yang sama dapat dimaknai sangat berbeda. Apalagi apabila kepentingan kekuasaan sudah masuk ke dalam pemaknaan.

Berbahagialah mereka yang mendalami ilmu pengetahuan, keyakinan tentang kebenaran  mereka dalam hal pengetahuan tidak akan goyah.

 

Pemikiran para founding fathers

Di bawah ini adalah suatu pemikiran yang perlu kita renungkan bersama yang kami dapat dari browsing internet……. http://culas.blogspot.com/2008/11/voting.html.

Para pendiri negara ini ketika menyusun konsep dasar negara. Sadar betul bahwa kesatuan bangsa ini harus tegak diatas kekuatan moral yang universal. Bhineka Tunggal Ika bukanlah istilah mudah untuk dipahami apabila tidak didasarkan oleh keyakinan bersama tentang asas moral yang universal. Bagaimana perbedaan ( plurarisme) dapat diakui untuk menjalin persatuan ( tunggal) ? caranya , pendiri negara menempatkan ruh kekuasaan kedalam sila ke empat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Bahwa negara ini adalah negara kerakyatan. Bukan negara kekuasaan. Bukan pula negara partai. Ini Negara kerakyatan ! Para wakil disebut pemimpin. Mereka ini adalah orang orang yang terpilih akan hikmatnya untuk lahirnya kebijaksanaan berdasarkan musyawarah.

Kini setelah reformasi dan di amandemen nya UUD 45 maka kekuatan Pancasila sebagai pemersatu dari pluralisme menjadi luntur. Hikmat kebijaksanaan digantikan kepentingan mayoritas. Makanya tidak aneh bila Politik Parlemen kita menjadi seperti bursa saham. Birokrat kita seperti broker. Penegak hukum kita seperti arranger. Semuanya harus ada fee dan laba yang harus didapat. Ujung ujungnya ya duit alias UUD. Maka jangan pernah berharap akan lahirkan kebijakan untuk menjawab masalah kebenaran, kebaikan dan keadilan.

 

Pengambilan keputusan berdasar “Rasa”

Sekelompok orang yang belum berkenalan secara akrab bertemu, maka kesetaraan yang akan dijadikan dasar, sehingga voting adalah cara yang benar.

Setelah semua orang saling mengenal, maka masing-masing orang perlu menyampaikan pandangannya, semua orang dapat mendalami pandangan orang lain, maka cara yang sesuai adalah cara musyawarah mufakat.

Karena anggota kelompok sudah terlalu banyak maka yang sesuai adalah “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.

Dalam bidang spiritual, setelah semua orang yakin akan kebenaran pemimpinnya, maka keputusan pemimpin tersebut dianggap kebenaran.

Tidak mudah mengambil keputusan di tengah orang yang belum berkesadaran, dalam jiwanya masih ada keserakahan hewaniah.

Terima Kasih Guru atas panduan-Mu. Indonesia Jaya.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

April 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: