Mewaspadai Hiranyakasipu dalam diri manusia

Manusia yang selalu menuruti keserakahan nafsunya dapat digambarkan sebagai  Hiranyakasipu. Dia mempunyai obsesi menjadi penguasa abadi yang  tidak bisa mati. Brahma, Kekuatan Mencipta mengatakan bahwa dia sendiri pun tidak abadi, dia tunduk kepada Dia yang tak terjelaskan yang merupakan awal dan akhir kehidupan. Dengan referensi yang ada dalam otaknya, Hiranyakasipu telah meminta bahwa tidak ada satu pun ciptaan yang menjadi penyebab kematiannya. Tidak ada senjata yang bisa membunuhnya. Sepanjang hari dan sepanjang malam dia tak bisa mati. Manusia tak bisa membunuhnya. Binatang juga tak bisa membunuhnya. Dia tak bisa mati di bumi maupun di langit. Bagi dia keadaan itu sama dengan hidup abadi. Dan, permintaan itu dikabulkan Brahma. Baca lebih lanjut

Antara Korawa dan Sun Tzu

Potensi ke-Pandawa-an dan ke-Korawa-an dalam diri

Mahabharata memberikan contoh-contoh karakter pribadi manusia pada tokoh-tokoh utama secara konsisten dari awal sampai akhir cerita. Reaksi para tokoh utama dalam setiap keadaan mencerminkan adanya suatu pilihan manusia dalam mengatasi permasalahanya.

Kanjeng Nabi Sulaiman, Baginda Raja Salomo pernah menyampaikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu terjadi pula di masa depan, tak ada sesuatu yang baru di bawah langit ini. Walau “setting” panggung dan pemeran berbeda akan tetapi skenarionya tidak jauh berbeda. Perang semacam bharatayudha ini juga terjadi saat ini, di dunia, di suatu negara, di suatu perusahaan ataupun di dalam diri manusia.Oleh karena itu sejarah lama tersebut tetap dapat dimaknai pada masa kini dengan pemahaman baru dimana otak kita sudah mengalami suatu perkembangan yang signifikan. Baca lebih lanjut

DEKLARASI Indonesian Youth Revolution

PRESS RELEASE

 Keadaan Bangsa Indonesia saat ini tengah memasuki masa-masa yang kritis dan di ambang perpecahan. Berbagai macam konflik di antara sesama anak bangsa terus saja terjadi, karena anak-anak bangsa telah lupa akan jati dirinya, dan berupaya bersandar pada pengaruh budaya asing. Namun, sungguh ironis, segolongan anak bangsa justru sibuk menggadaikan kekayaan alam Indonesia. Motif-motif ekonomi dan politik yang sempit telah membutakan mata hati mereka, sehingga mereka malah lebih mengutamakan kepentingan individu maupun kelompok daripada kepentingan bangsa dan negara. Baca lebih lanjut

Bakti Burung Garuda Kendaraan Wisnu Terhadap Ibu

Kisah tentang telur yang lama menetas. Mempunyai tugas mulia melepaskan Ibu dari perbudakan. Memiliki sifat berani dan tidak ragu yang merupakan modal utama dalam meniti jalur spiritual. Dan, pada akhirnya  dijadikan kendaraan Sang Pemelihara Alam.

 

Patung Garuda Wisnu Kencana

Tiket Promo bagi seseorang yang bepergian sangat berarti, karena bisa mencapai separuh harga dari tiket biasa. Harganya di sedikit di atas perjalanan naik bis, sedangkan waktunya jauh lebih singkat. Hanya saja, di kala orang masih terlena dalam mimpi, kami harus sudah di airport, jam setengah empat alarm berbunyi, dan jam empat pagi sudah mandi. Keuntungannya berangkat dini adalah waktu yang hampir selalu tepat, karena merupakan flight pertama. Tiket promo, bisa juga berarti, sewaktu orang lain sudah santai di depan tivi sebelum masuk peraduan, para penumpangnya  masih berada di udara, ditambah lagi flight terakhir biasanya selalu telat. Wong namanya promo, perlu disyukuri, Alhamdulillah, Puji Tuhan. Baca lebih lanjut

Merenungkan Kesalahan Pandita Drona Dalam Perang Bharatayuda

Beberapa kesalahan Pandita Drona

Guru adalah seorang Brahmana. Seorang Guru sejatinya adalah seorang Duta Ilahi, Utusan Ilahi. Dia datang ke dunia karena melihat benih-benih kesadaran dalam diri murid-muridnya. Dia menjadi Guru karena petunjuk Ilahi, dia mendapatkan muridnya atas petunjuk Ilahi. Dia hadir untuk mengembangkan kesadaran muridnya. Dan, Pandita Drona adalah Guru Besar bagi Kerajaan Hastina. Akan tetapi sebelum menjadi Guru, Pandita Drona telah mengalami hal-hal yang menyakitkan di masa lalu.

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita badan masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama. Baca lebih lanjut

Puisi Revolusi Untuk Kaum Muda

20 Mei 2009, 17:11:05 | Ahmad Yulden Erwin

“Jika kami mati, jangan cari kubur kami di bumi, tetapi carilah di dalam hati para Pecinta.” (Jalaluddin Rumi)

Kini saatnya kaum muda musti bergerak lagi, menjatuhkan rezim penindas rakyat, menumbangkan tirani pengkhianat rakyat. Kita sudah muak dengan basa-basi para penguasa, berpuluh tahun mereka telah membodohi kita.

Sementara para menir dan mullah leluasa terus-terusan menjajah kita, astaga!, pemerintah kita sudah cukup puas sekedar menjadi anjing penjaga. Cukup sudah jargon ekonomi dan agama mereka mainkan. Cukup sudah janji dan kebohongan mereka dengungkan. Mereka semua sama saja!, sama-sama menindas rakyat jelata, sama-sama menindas hak asasi kita. Baca lebih lanjut

Antara Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan dari Keterpurukan Bangsa

Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasonal ke 101 tahun 2009

 

Kaitan Masa Lalu dan Masa Depan

Sebagai  marka perjalanan sebuah bangsa, Hari Kebangkitan Nasional  (Harkitnas) harus terus dikumandangkan dan dilakukan rekontekstualisasi sesuai masanya. Sebuah bangsa tidak pernah lahir dan jadi begitu saja, akan tetapi  selalu berproses, dan karena itu selalu dalam keadaan menjadi, yaitu selalu dalam proses lahir kembali. Kesadaran ini harus kita tanamkan dalam memperingati Harkitnas.

Bapak Anand Krishna dalam buku THE GITA OF MANAGEMENT, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 mengetengahkan kaitan antara masa lalu dan masa depan dengan gamblang.

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama. Baca lebih lanjut