Belajar Dari Sejarah Pemilihan Umum Republik Indonesia


Pemilu dengan banyak partai

Dengan membuka catatan sejarah NKRI, kita dapat mempelajari pemilu pertama RI yang dilaksanakan pada tahun 1955. Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Pemilu untuk memilih anggota DPR diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu. Sedangkan pemilu untuk memilih anggota Konstituante diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Pemilu 1955 tidak dilanjutkan sesuai jadwal pada tahun 1960, karena pada tanggal 5 Juli 1959, diterbitkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1955 yang membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945. Banyaknya partai yang ada terasa merepotkan penyelenggaraan pemerintahan, sehingga Presiden Soekarno menggagas  adanya poros NASAKOM yaitu kelompok Nasionalis, Kelompok Agama dan Kelompok Komunis.

Berdasar hasil pemilu kedua pada tahun1971, Presiden Suharto memformulasikan adanya 2 Partai dan 1 Golongan Karya untuk penyederhanaan peserta untuk pemilu berikutnya. Tidak sama tetapi ada kemiripannya dengan NASAKOM, yaitu Partai Demokrasi Indonesia – representasi kelompok Nasionalis, Partai Persatuan Pembangunan – representasi kelompok Agama, dan Golongan Karya representasi kelompok non partai.

 Setelah masa reformasi, jumlah partai kembali kembali membengkak. Yang perlu direnungkan adalah, apakah partai yang berjumlah banyak tersebut merupakan keinginan rakyat atau keinginan elite politik. Karena bukankah pada akhirnya sewaktu pemilihan presiden partai yang banyak tersebut akan mengadakan koalisi juga. Bagi elit politik hal tersebut memberikan nilai tawar yang baik bagi mereka, akan tetapi apakah hal demikian banyak untungnya bagi rakyat?  Ternyata guna memenuhi ego kelompok dan elite politik, bangsa kita telah melupakan sejarah pemerintahan dengan banyak partai.

Selama ini pemerintah kita begitu yakin dengan sistem yang baru akan berhasil, akan tetapi pelaku sistem atau manusianya sendiri belum banyak mengalami perubahan. Sistemnya baru tetapi keserakahan, keangkuhan, ego manusia yang menjalani sistem tetap sama. Kita perlu memperbaiki akhlak manusia Indonesia. Dan kembali perbaikan akhlak pun menjadi ajang politik. Untuk memperbaiki akhlak, beberapa ajaran mengklaim ajaran merekalah yang paling benar untuk memperbaiki akhlak. Kami hanya mengingat, di tahun lima puluhan semua pelajar diberi pelajaran budi pekerti. Ajaran yang berupa peningkatan kesadaran dan bukan sekedar pelajaran moralitas.

 

Kesadaran dan moralitas

Berulang-ulang kami membaca buku Bhagavad Gita bagi Orang Modern. Ungkapan alinea berikut  perlu direnungkan dalam-dalam.

Kesadaran dulu baru moralitas. Seseorang yang sadar dengan sendirinya akan menjadi moralis, tetapi seorang moralis belum tentu sadar. Sadar akan hakikat dirinya, sadar akan lingkungan, sadar akan kewajibannyaterhadap keluarga, perusahaan di mana ia bekerja – sadar akan segala sesuatu. BHAGAVAD GITA Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama  2002 halaman 59.

Lihat apa yang (pernah) terjadi di sekitar Anda. Gedung-gedung dibakar, tempat-tempat ibadah dibakar, masa mengamuk dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Apakah mereka tidak pernah mendapatkan pelajaran moralitas? Apakah mereka tidak beragama? Semuanya sia-sia. Tanpa kesadaran, agama dan moralitas hanya menyentuh kulit mereka. Mereka tetap berbahaya. Sifat-sifat kebinatangan mereka masih ada. BHAGAVAD GITA Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama  2002 halaman 314.

 

Ujian Bangsa

Banyak masyarakat yang menganggap ini adalah ‘Ujian Bangsa’. Kita perlu merenungkan dalam-dalam,  ujian yang bagaimana? Kita telah memilih tindakan dan kita harus berani menghadapi konsekuensinya. Banyaknya partai, adanya KPU, Panwaslu, DPT dan lain-lainnya semuanya merupakan keputusan bangsa kita. Hanya perlu direnungkan kembali, sudahkah kita berpikir untuk melepaskan diri dari kemelut bangsayang berkepanjangan ini?

Walaupun masalah bangsa, kami terinspirasi dengan penjelasan Hukum Karma dalam buku Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002.

Pertama, tentang hukum karma; ada yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Apa sebabnya? Apabila kita percaya bahwa Tuhan Adalah Maha Adil, bahwa Tuhan Adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, lantas kenapa ada yang berbuat baik, tetapi menderita terus? Lantas ada pula yang berbuat jahat, tetapi berjaya terus? Ada yang mengatakan, “Tuhan sedang menguji mereka”. Ujian macam apa? Apabila betul ujian, maka sangat tidak adil. Ada yang diuji, ada yang tidak diuji. Anda harus meninggalkan konsep-konsep semu, dan berani menerima sesuatu yang baru. Apabila Anda belum berani menerima sesuatu yang baru, dan masih nyaman dengan dogma-dogma lama yang sudah tidak relevan, ilmu yoga tidak cocok untuk Anda. Anda tidak akan memperoleh sesuatu apa pun. Anda berada di tepi sungai, tetapi tetap haus. Kehidupan ini akan melewati Anda begitu saja! Hukum Karma berarti hukum sebab-akibat. Setiap sebab akan berakibat. Kehidupan kita sekarang ini merupakan akibat dari kehidupan yang lalu. Perilaku kita dalam hidup ini akan menentukan kehidupan kita berikutnya. 

Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002 halaman 270.

Demikian berlaku bagi pribadi demikian pula berlaku bagi bangsa. Terima Kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Mei 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: