EKLAVYA and DRONA – Bad Student and Worse Guru


1 Mei 2009, jam 17:59

Oleh Anand Krishna

In the epic Mahabharata there is this tragic story of Eklavya and Drona. One was a bad example of a student, stealing knowledge without guru’s permission, and the other was a bad example of a guru asking the stealer to cut his finger as a punishment, so he could not practice what he learnt.

One must approach a guru in all humility.

Perhaps Eklavya did so, and Drona refused to teach him. So? How can you force someone to teach you something? Eklavya did, he would ear the guru teaching others, from his hiding place. This was an act of violence. He forced himself unto the Guru.

And, the result was violence too.

He was punished by Drona.

Violence begets violence.

This is the only lesson we learn from this episode in the great epic.

The question is: Do we have to understand this point?

Or, do we consider Eklavya’s act of cutting his finger as guru-bhakti?

Vyaasa, the author of Mahabharata does not judge. He allows us to learn our lesson by ourselves.

Tambahan atas tanggapan 4 Mei 2009.

Oleh Anand Krishna

Bung Radius memang tidak bisa menerima budaya yang berasal dari Sindhu Valley, Shintu, Hindu, Indus, Indies, India, Hindia, Indo – maka saya dapat memahami beliau.

Drona adalah contoh guru yang tidak baik. Dia menanamkan benih permusuhan dan kebencian dalam diri para pendawa dan kurawa,. Sebagai fee, anak didiknya itu diminta untuk menangkap dan mempermalukan Raja Drupada, hanya karena dia punya masalah pribadi dengan sang raja.

HE WAS NOT A GURU, he was merely a teacher, yang sesungguhnya sudah dibayar oleh kerajaan hastina dan tidak perlu diberi Guru Dakshina lagi…. Baca Selengkapnya

Bicara soal kasta dengan menggebu-gebu, kita lupa bahwa anak haram dari kasta rendah (nelayan), Sang Vyaasa mendapatkan julukan Guru Sejagad.

Bung Amin, jangan khawatir, Anda tidak memaksa, dan saya tidak pernah menolak Anda. Plus, tentunya segala apa yang telah dibukukan itu memang dengan tujuan untuk dishare dengan semua.

Ya, ada beberapa hal yang diberikan secara pribadi, seperti obat saja, hanya berguna u/pnerima.

Jadi obat itu tidak bisa dipreskrepsikan untuk orang tertentu tapi dikonsumsi oleh semua. Malah bisa berbahaya.

Apa yang terjaid di pakistan adalah contoh yang sangat relevan. Bom Nuklir disana menjadi rebutan karena pemerintahan yang lemah.

Pendidikan tidak bisa tidak guru-siswa oriented. Tanpa siswa, guru bukanlah seorang guru. Dan, tanpa guru siswa bukanlah siswa….

Masyarakat yang hanya guru oriented atau siswa oriented tidak akan pernah berkembang,

Sekian dulu penjelasan saya.

U/Bung Arief, ya semestinya itu yang terjadi. Just love, pure unconditional love, tanpa embel embel ayat, kitab suci, wahyu Tuhan, malaikat…. I love for love’s sake, karena cinta adalah sifat saya…. Ini yang mesti saya capai, kamu capai, kita semua capai… love always

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: