Renungan Perjalanan ke Kebon Sayur, Pusat Cindera Mata Kota Balikpapan


Perjalanan di Kota Balikpapan

Banyak orang yang melupakan pengalaman batin yang dialami ketika sedang melakukan suatu tindakan. Menurut mereka hanya pribadi melankolis yang akan mengingatnya, apalagi keinginannya sudah tercapai, untuk apa mengingat-ingat kejadian yang telah lalu. Akan tetapi menurut pemahaman kami tentang Sufi, perjalanan itu lebih penting daripada tujuan. Pola pemikiran kita pun sebetulnya terbentuk oleh berbagai perjalanan hidup yang telah kita alami.

Memanfaatkan dua malam dan tiga siang di suatu kota yang baru dikunjungi pertama kali, mengingatkan diri atas perjalanan hidup di dunia ini yang hanya ‘sesaat’ juga. Apabila kita dapat menikmati perjalanan sekilas di suatu kota yang baru, mestinya kita pun dapat menikmati hidup yang hanya mampir ‘ngombe’, singgah untuk minum, menurut nasehat para leluhur.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 15.00, setelah perjalanan panjang dari Semarang, dan stop over di Surabaya. Kepada portir hotel, kami menanyakan tempat yang khas bagi pelancong domestik, dan dijawab agar melihat Kebon Sayur, Pusat Cindera Mata Kota Balikpapan, mumpung masih ada waktu karena pasar akan tutup pada pukul 17.00.

Dalam setengah jam perjalanan naik mobil umum angkutan kota, kami menikmati jantung kehidupan Kota Balikpapan. Hanya dua penumpang tetap yang berada di atas kendaraan yaitu kami berdua, dan sesekali satu orang naik dan turun kendaraan, sehingga kami bisa enak ngobrol dengan pengemudi. Di Balikpapan, kendaraan angkutan kota jumlahnya banyak dan mereka tidak saling berebutan penumpang, tidak ngebut, dan memperoleh dua orang penumpang pun mereka sudah melanjutkan perjalanan. Tak ada ketergesaan di wajah pengemudi, kesan kami mereka hidup layak dan yang perlu dicatat mereka bangga dengan kebersihan kota Balikpapan.

Toko-toko sepanjang jalan nampak berukuran besar-besar, ciri khas sebuah kota perdagangan dan terbukti dari kesibukan Bandara Sepinggan yang konon termasuk Bandara tersibuk ketiga setelah Bandara di Jakarta dan Surabaya.

Ketika mendapatkan waktu luang lagi, maka kami menyempatkan pergi ke pantai, menikmati luasnya samudera, melakukan afirmasi cinta alam semesta, agar diri ini sadar bahwa kita hidup di alam yang luas, dan tentu saja setelah itu mengambil beberapa foto dan menikmati ikan kakap sayur dengan bumbu Wotu khas Balikpapan.

Terima Kasih Guru, yang telah mengajari cara menikmati hidup…………. dan tiba-tiba kami merenung mengapa kami bisa menikmati perjalanan sekilas di suatu kota di luar kesibukan waktu menyelesaikan tugas dinas yang harus diselesaikan. Mungkin karena niat untuk menyelesaikan tugas, dan waktu senggang bukan untuk menambah masalah baru, bukan untuk membuat keterkaitan baru. Seandainya saja perjalanan hidup kami berjalan seperti demikian, hidup di dunia untuk menyelesaikan tugas, dan di luar itu tidak membuat keterkaitan baru, seandainya saja …………

Tiba-tiba kami ingat pesan Guru, bukan tujuan tetapi pengalaman lah yang perlu dihayati. Di pasar Kebon Sayur, kami sempat melihat berbagai cendera mata, akan tetapi kami hanya membeli tas terbuat dari manik-manik dan kaos untuk anak yang ada ‘khas Kalimantan’-nya.

 

Menghayati perjalanan

Pengetahuan hanya memuaskan otak dan pada saat ini informasi secara detail dapat diperoleh di internet. Akan tetapi sekedar pengetahuan terasa kering, diperlukan pengalaman ruhani yang lembab yang membangkitkan rasa. Perjalanan harus dialami, dirasakan. Bagi kaum Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya.

Ingatan kami menerawang kembali menuju perjalanan ke Kashmir pada tahun 2008. Professor Fida Hassnain adalah seorang sufi di Kashmir yang rumahnya berkisar setengah jam perjalanan dari Airport Srinagar. Beliaulah yang menulis foreword untuk buku ‘Christ of Kashmiris’ karya Bapak Anand Krishna.  Beliau menyambut rombongan dengan ramah dan setelah berbasa basi, beliau diminta Bapak Anand Krishna menyampaikan apa saja yang berharga bagi rombongan.

Beliau berpesan, “Agar kita bisa hidup bahagia, kita harus berpandangan, bahwa yang lama telah mati, yang akan datang belum lahir, dan bahagia adalah saat ini. Kalau sudah bisa demikian, maka setiap hari bisa dianggap ulang tahun, ‘celebration’. Kalaupun kita mati hari ini, kita pun  perlu tertawa”. Intinya adalah agar kita bisa menikmati perjalanan pada saat ini.

Air yang melewati kaki kita yang terendam dalam sungai adalah air yang baru, yang lama telah lewat, yang akan datang belum sampai, yang ada adalah air yang menyapa kita pada saat ini. Dalam setiap hari selalu ada milyaran sel baru dalam tubuh kita dan dalam satu tahun, sekitar 98%  sel tubuh kita terbaharui. Tubuh selalu menikmati sel baru dan kita pun harus merayakan setiap saat.

Merayakan sambil menikmati perjalanan: “Berjalanlah terus, berkembanglah terus! Jangan berhenti di Terminal Pengalaman. Setiap terminal harus dilewati, dilalui, ditinggalkan, demi perjalanan itu sendiri. Kebebasan dari terminal pengalaman itulah Moksha. Itulah Kebebasan Sejati”. SHALALA, Merayakan Hidup, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Terima Kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Mei 2009.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Salam kenal Pak Tri.
    Saya sungguh bahagia menemukan halaman2 renungan njenengan. Sungguh sangat bermanfaat bagi saya. Boleh kan pak di contek ulang utk catatan pribadi?:)

    monggo dilanjut pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: