Pendidikan


Oleh Anand Krishna

140509

Dalam beberapa kesempatan saya selalu mengatakan bila buku pertama saya “Kehidupan” adalah manifesto saya. Buku2 lain adalah pejabaran dari manifesto awal tersebut. Tidak berarti bila manifesto itu harga mati. Bisa berkembang, tetapi hingga saat ini memang masih relevan, dan belum ada perubahan yang signifikan.

Dalam salah satu artikel saya menulis tentang pendidikan, bahwasanya sebagai orangtua kita hanya memfasilitasi anak-anak kita untuk berkembang sesuai dengan potensi diri mereka, dan tidak memaksa mereka untuk mewujudkan mimpi kita.

Saya juga percaya bila pendidikan adalah tulang punggung suatu bangsa. Keadaan bangsa yang terpuruk ini tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan, dan khususnya cara kita mendidik anak-anak kita. Apakah kita kekurangan jumlah sarjana? Tidak. Tetapi negeri ini masih saja terbelakang, walau kita memiliki sumber alam yang berlimpah.

Keadaan ini mesti dirubah. Dan, perubahan mesti terjadi lewat pendidikan. Dengan pendidikan tentunya, adalah seluruh sistem dan paradigma yang saya maksudkan.  Pendidikan formil dan non-formil. Pendidikan dalam kelas dan di luar kelas.

Sayang sekali, rasanya hal ini tidak saja tidak dipahami, tetapi barangkali tidak di terima oleh banyak teman.

Semoga YPAK dengan sekolah One Earth School di Bali dapat menjadi contoh yang baik. Dimana anak-anak dididik untuk membawa revolusi dalam bidang pendidikan itu sendiri.

Sebagai orangtua, sebagai guru, kita mesti MENGAKU GAGAL, karena hasil dari apa yang kita lakukan selama ini sudah ada di depan mata – yaitu, keadaan negeri kita.

Dalam 3 hari terakhir ini saya bertemu dengan tiga orang penting di negeri ini – dan melihat ketakberdayaan mereka menghadapi carut-marutnya keadaan negeri ini, saya semakin yakin bila mesti terjadi revolusi besar dalam bidang pendidikan.

WHO AMONG YOU CAN LEAVE YOUR PETTY HOUSES THAT YOU CALL HOME AND SERVE THE NATION, THAT IS YOUR TRUE HOME, WITHOUT ANY SELFISH MOTIVE?

IBU PERTIWI NEEDS YOUR SACRIFICE. SACRIFICE YOUR PETTY COMFORTS TO SERVE HER. WAKE UP TO THE CALL OF BUNDA….. SHE IS DESPERATELY CALLING YOU!

PS. TOLONG DISHARE DENGAN PARA ANGGOTA TOCHBEARERS DAN ORANGTUA MEREKA, PARA TORCHGUARDIANS DAN ANGGOTA FELLOWSHIP.

 

Tambahan Tanggapan

Guru, Orangtua dan Masyarakat – ketiga-tiganya memiliki peran yang penting dalam hal memfasilitasi seorang anak untuk mengembangkan dirinya.

Guru disini terjebak dalam permainan angka/kompetisi dan lain sebagainya (DI FINLAND TIDAK, SEHINGGA LULUSAN HIGH SCHOOL DARI FINLAND ADALAH CONTOH NYATA AKAN PENDIDIKAN YANG BAIK DI SELURUH DUNIA)

Orangtua ingin mewujudkan mimpi mereka lewat anak-anak mereka. Bahkan dengan meintimidasi anak untuk hal itu. Anak boleh stress, boleh sakit tapi mesti ranking, mesti sarjana (FILM AMIR KHAN “Taare Zameen Par” MEMPEROLEH PENGHARGAAN DARI PEMERINTAH INDIA DAN SEKOLAH2 DI INDIA DIANJURKAN UNTUK MENONTON DAN MENGAMBIL INSPIRASI DARI FILM TSB)…

Masyarakat hanya membutuhkan robot untuk melaksanakan tugas. Untuk itu gelar sarjana, S2 dan sebagainya dibutuhkan untuk kemudian dijadikan begging bowl untuk mengemis pekerjaan. Tidak membutuhkan kejeniusan dalam hal berpikir, tidak ada entrepreneurship (HASILNYA ADALAH NEGERI KITA)

how do u correct this?

ONE EARTH SCHOOL AKAN MENAMBAH JUMLAH SEKOLAH2 TAK BERGUNA, bila ia tidak membawa perubahan. Dan, perubahan itu mesti terjadi dari para guru dan pengurus yayasan terlebih dahulu. Semoga…

I have asked Dr Made to organize a discussion on the subject discussed by you Ma Archana, from the medical and psychological point of view such parents must be corrected and shown their mistakes.

In any other country, the state would deprive such parents from the right to raise their children. This is an act of violence against children, to force and intimidate them to follow their parent’s dreams and wishes against their own wishes.

Your example Maya is a very good one. With all due respects to your siblings, we all know that it is only you who actually “made” it. You are a national figure now, although you are not part of political or any other rotten social system. Thank you for sharing your experience

Iklan

2 Tanggapan

  1. Tapi kesalahan bukan hanaya pada mereka yang mencari S1dan S2, tetapi mereka dituntut dari bidang pekerjaannnya jika diteliti lebih dalam mereka sudah lebih dari cumlaude dari materi yang diberikan, karena mereka sudah langsung problemsolving. Nah perusahaan sekarang tidak mau tau skill yang penting lembaran yang dinamakan ijasah yang berperan jadi jangan terlalu disalahkan pendidikannya tapi konsumen yang memerlukan karena tanpa lembaran kertas tersebut maka posisi akan stag. Kalau sudah begini mana yang salah ……..

    • Terima Kasih. Justru Singapura sudah mulai menggiatkan Politeknik agar dalam usia kreatif karyawan sudah bekerja. Bagi bidang tertentu mungkin diperlukan S2. Tetapi kebanyakan, ilmunya sedikit yang terpakai dan masuk kerja usia sudah tua dan tidak kreatif lagi. Semoga bangsa kita cepat sadar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: