Yudistira dari Filosuf ke Tindakan Nyata Menegakkan Dharma

Sebuah filsafat, pandangan hidup yang tidak mampu meningkatkan kualitas hidup sungguh tidak berarti. SMS Wisdom, Anand Krishna.

Introspeksi Sang Prabu

Prabu Yudistira larut dalam permenungan yang dalam……….. Semasa remaja, Pandawa dan Korawa belajar bersama pada guru yang sama. Dalam hal ilmu perang guru mereka adalah Pandita Drona, dan Arjuna menjadi murid terpandai. Kemudian para remaja tersebut mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dan, dalam ini, Yudistira tampil sebagai murid terpandai, sehingga Resi Krepa sangat mendukung agar tahta Hastinapura diserahkan kepada Sulung Pandawa tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

Pengabdian Sepanjang Hayat Bhisma Bagi Ibu Pertiwi

Pesan Bhisma kepada Yudistira: Persatuan itu ‘unity’ bukan keseragaman atau ‘uniformity’. Persatuan berarti menerima perbedaan. Kemudian menemukan benang merah yang dapat mempersatukannya. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian. Anand Krishna.

Persatuan Hastina adalah prioritas hidup Bhisma

Prabu Sentanu yang kehilangan semangat hidup atas meninggalnya sang permaisuri, jatuh cinta terhadap perempuan cantik berbau harum Dewi Durgandini. Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinannya dengan Resi Parasara, hanya mau kawin apabila anak-anaknya kelak menjadi putra mahkota. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma putranya atas perkawinanannya dengan Dewi Gangga, mendiang permaisurinya, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Memikir terlalu dalam, Sang Prabu sakit keras. Sebagai seorang anak yang berbakti, Bhisma mengalah tidak mau menjadi putra mahkota bahkan bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Demikianlah kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, Ibu Pertiwinya, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari. Baca lebih lanjut

Kecintaan Kumbakarna Terhadap Ibu Pertiwi

Semua leluhurku bisa hidup karena dihidupi bumi pertiwi. Makanan, minuman, napas yang kuhirup, pakaian, peralatan, tempat tinggalku dan bahan-bahannya semuanya disediakan oleh bumi pertiwi. Disamping ibu genetikku yang melahirkanku, ibu pertiwilah yang menyediakan segala keperluan hidupku. Sekarang ibu pertiwiku, Ibu leluhurku dijarah orang. Dan, aku tidak rela. Aku akan berjuang demi ibu pertiwiku sampai hembusan nafas yang terakhir. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mulia untuk berbhakti demi ibu pertiwi. Mati pun aku rela, ibu……

Kelahiran Kumbakarna

Prabu Sumali sadar bahwa sayembara memperebutkan Dewi Sukesi sebagai isteri dengan cara perang tanding antar ksatriya akan menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang yang keras kepala, maka dia pun mengiyakan saja, walau Beliau sudah dapat merasakan akan muncul bencana di dunia sebagai akibatnya. Baca lebih lanjut

Keteladanan Raden Sumantri dalam Membela Ibu Pertiwi

Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.

Raden Sumantri

Dalam Serat Tripama, Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dengan memberikan tiga tokoh wayang yang pantas diteladani. Pemilihan ‘Tembang Dhandhanggula’ merupakan tanda bahwa yang akan disampaikan adalah ‘pitutur adiluhung’, nasehat yang sangat luhur, butir mutiara dari salah seorang Master yang lahir di Bumi Pertiwi. Salah satu tokoh yang diketengahkan beliau adalah Raden Sumantri. Baca lebih lanjut

Pergolakan Batin Destarastra di Akhir Kehidupannya

Dalam usia paruh baya, kami menyaksikan banyak pemuda terjun ke masyarakat demi tujuan mulia, tetapi karena belum mempeoleh Kesadaran mereka terserimpet godaan dan melenceng dari tujuan semula. Ada juga yang berhasrat mendapatkan Kesadaran dulu, mengabaikan ketidak-adilan yang terjadi di sekitar, tetapi sampai Yamadipati menjemput, mereka belum mendapat Kesadaran juga. Pilihan kami telah jelasmeng ikuti Guru yang sudah turun gunung.

Kehidupan sepasang insan tua di Istana Hastina

Semua putra-putra Destarastra telah mengalami pralaya. Dia buta, akan tetapi para keponakannya baik hati, dia dan istrinya memperoleh kehidupan terhormat di istana. Para Pandawa adalah ksatriya yang berbudi, mereka telah melupakan kesalahan paman mereka di masa lalu, sangat berbeda  dengan putra-putranya sendiri yang selalu menempatkan hawa nafsu sebagai landasan tindakan mereka.

Dia sangat berterima kasih pada Dewi Gandhari, sang isteri. Sejak perkawinan mereka , sang isteri telah menutup matanya dengan kain. Pelayannya pernah berkata bahwa kedua mata Dewi Gandhari telah lengket. Syaraf-syaraf matanya yang tidak digunakan sudah mengalami penurunan fungsi. Sudah menjadi buta sungguhan. Dan Dewi Gandhari tidak menyadarinya. Setiap habis mandi penutup matanya selalu diganti. Dan tak ada secercah keinginan pun untuk melihat barang sesuatu. Seorang istri yang amat setia. Yang telah menyatu dengan diri suaminya. Pikirannya hanya pada Destarastra. Bila dia sedih, istrinya pun sedih. Sepasang orang tua aneh yang menjadi bahan perbincangan seluruh kraton. Bhima yang kasar pun selalu tunduk begitu melihat mereka berdua berjalan dipandu pelayan mereka, dan menyapa dengan lembut. Tidak ada satu pun warga istana yang cemburu pada mereka dan semuanya melihat sepasang insan tua tersebut dengan penuh kasih sayang. Baca lebih lanjut

Dhruva, Tekad Pengabdian Seorang Anak

Apa yang akan kamu korbankan untuk dapat memenuhi keinginan hatimu?” “Hidupku sendiri! jawabnya.Hidup begitu remeh dan merupakan hal yang paling tidak penting yang bisa dikorbankan    setiap orang!” “Apa lagi yang kumiliki? Apa lagi yang dapat aku berikan?” “Pengabdian, sahabatku! Pengabdian! suara dari atas memberi jawaban. (BANKIM CHANDRA CHATTERJI dalam ANANDAMATH).

Terluka oleh Ucapan Sang Ibu Tiri

Uttanapada mempunyai dua isteri Suniti dan Suruchi. Suniti mempunyai putra bernama Dhruva dan Suruchi mempunyai putra bernama Uttama. Suruchi yang cantik jelita, sangat disayangi raja. Saat itu, Sang Raja main di kebun dan sedang menimang Uttama di pangkuannya. Dhruva ingin duduk di pangkuan Sang Ayahanda juga. Suruchi menyeret Dhruva menjauh dari Sang Raja dan berkata. “Kau putra raja tetapi bukan putraku. Kemalanganmu adalah kau putra perempuan lain. Berdoalah agar didalam kelahiran kembali kau menjadi putra Suruchi.” Baca lebih lanjut

OBAMA SPEECH in CAIRO UNIVERSITY, VERY ELOQUENT !

Sent by Klentheng Hawani, June 4. 2009 20:05 Facebook.

I am honored to be in the timeless city of Cairo, and to be hosted by two remarkable institutions. For over a thousand years, Al-Azhar has stood as a beacon of Islamic learning, and for over a century, Cairo University has been a source of Egypt’s advancement. Together, you represent the harmony between tradition and progress. I am grateful for your hospitality, and the hospitality of the people of Egypt. I am also proud to carry with me the goodwill of the American people, and a greeting of peace from Muslim communities in my country: assalaamu alaykum.

 

We meet at a time of tension between the United States and Muslims around the world – tension rooted in historical forces that go beyond any current policy debate. The relationship between Islam and the West includes centuries of co-existence and cooperation, but also conflict and religious wars. More recently, tension has been fed by colonialism that denied rights and opportunities to many Muslims, and a Cold War in which Muslim-majority countries were too often treated as proxies without regard to their own aspirations. Moreover, the sweeping change brought by modernity and globalization led many Muslims to view the West as hostile to the traditions of Islam. Baca lebih lanjut