Ritual “Parasan”, Cukur Rambut Bayi Dan Pendidikan Bagi Bangsa


Dalam buku Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999, di jelaskan tentang makna Wedhatama. Wedha, Veda berarti Pengetahuan. Utama berarti “Yang Tertinggi”. Apabila dilihat dengan meminjam kacamata Sri Mangkunagoro IV, Pengetahuan Yang Tertinggi tidak bertujuan mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin. Rupanya kita ini salah kaprah, dengan mendidik anak menjadi cerdas belaka. Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri Anda cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan kemasyarakatan kita.

 

Tradisi ritual “Parasan” Cukur Rambut Bayi

Pada Temu Hati dengan Bapak Anand Krishna pada tanggal 31 Mei 2009, Bapak Anand Krishna berhasil membangkitkan keingintahuan  peserta tentang makna pendidikan.

Seorang anak bayi lahir menagis dan kedua tangannya dalam posisi menggenggam. Walau dicoba direnggangkan, posisi tangannya tetap mencoba menggenggam. Seakan sang bayi menggenggam sesuatu dari masa lalu. Sebagai sebuah tradisi, maka setelah usia mencapai selapan, 35 hari, sang bayi digunduli rambutnya. Ada juga yang dilakukan pemotongan rambut setelah “akekah” ataupun setelah puput pusar. Pada prinsipnya “rambut lama” di-“deconditioning”, ibarat sebuah komputer maka program lama di-“delete”, dan dimasukkan program baru. Proses “deconditioning” dan “reconditioning” ini adalah pendidikan. Betapa dalamnya makna penggundulan rambut bila dihayati oleh orang tua mereka.

Dalam buku: AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan,  Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000, diuraikan tentang 3 lapisan utama pikiran yang mengurung kita.

  1. Lapisan pertama, adalah yang kita warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi kita dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga kita masih harus lahir kembali (bagi yang tidak mempercayai adanya siklus kehidupan, anggaplah lapisan pertama sebagai potensi karakter bawaan kita).
  2. Lapisan kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.
  3. Lapisan ketiga adalah yang kita peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok kita – semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Buddha sedang mengundang kita untuk membebaskan diri dari kurungan. Tetapi kita ragu-ragu. Di dalam kurungan, hidup saya cukup “secure”. Cukup terjamin. Seorang Yesus sangat persuasif. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin kita bebas dari kurungan. Untuk menerima undangan seorang Buddha, kita haruslah seorang pemberani. Berani loncat keluar dari kurungan. Pola lama di-“deconditioning” dan setelah itu di-“reconditioning” dengan kesadaran baru.

Pola lama dapat dibaratkan tumpukan baju lama yang memenuhi almari kita, tak pernah dipakai lagi, tetapi kita tidak rela untuk membuangnya. Padahal di komputer kita rela  men- “delete” program Word 2003 dan kita memasukkan program Word 2007 yang lebih baru, canggih dengan file yang kecil.

 

Rawannya pendidikan bagi anak kecil

Berikut ini contoh ekstrem bahwa pendidikan terhadap anak kecil mempunyai dampak yang sangat besar bagi kehidupan dirinya dan kehidupan masyarakat. Di bawah ini adalah contoh pendidikan yang tidak membangkitkan kesadaran, tetapi ternyata sangat efektif dalam membentuk kepribadian anak.

Seorang anak perempuan berusia tiga tahun di Rusia dirawat anjing peliharaannya karena sang ibu menelantarkan anak tersebut. Ketika ditemukan para pekerja sosial, anak itu dalam keadaan tanpa baju sambil merangkak dan menggigit tulang bersama anjing-anjing peliharaan ibunya. Menurut Daily Mail, Rabu (25/2), media massa di Rusia melaporkan bahwa anak yang diberi nama Madina ini hanya tahu dua kata: ‘ya’ dan ‘tidak’. Ia juga menggeram seperti anjing ketika ada orang mendekatinya.

Seseorang menulis tentang kejadian di Pakistan: Ambil seorang anak lelaki kecil dan penjarakan dia di madrasah terpencil. Jauhkan dia dari dunia dan halangi dia agar tidak berinteraksi dengan manusia. Doktrin dia dengan agama versi yang  menyimpang dan ceritakan bahwa dia bukan milik dunia. Ajari dia tentang dunia indah  yang menunggunya di surga,  dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya, termasuk tubuh miliknya. Pada saat dia berusia enam belas, anak ini telah menjadi lebah jantan: pria yang bukan manusia. selain remaja segar, mereka telah punya robot di urat nadi masyarakat yang siap meledakkan diri atas pesanan khusus.

Mendidik anak menjadi fanatik sejak kecil akan membentuk pola yang membelenggunya sampai dia dewasa. Semoga model sekolah interfaith One Earth School di Bali berhasil membentuk anak-anak menjadi lebih sadar untuk memilih keputusan secara dewasa bagi diri mereka.

 

Pendidikan Rasa oleh Sri Mangkunagoro IV

Sri Mangkunagoro IV, yakin bahwa Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin. Rupanya kita ini salah kaprah dengan mendidik anak menjadi cerdas lebih dahulu. Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri Anda cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan kemasyarakatan kita.

Mengembangkan rasa dalam anak berarti membuat dia peduli dengan lingkungan. Pendidikan harus memberikan pengetahuan tentang kesadaran sehingga murid bisa memilih mana yang benar atau mana yang salah.

Yang ingin disampaikan oleh Sri Mangkunagoro IV adalah “ngelmu luhung”, pengetahuan luhur. Pengetahuan yang berasal dari pengalaman para leluhur kita sendiri.  Tanpa terjadinya pengembangan rasa, anak-anak kita akan menjadi fanatik. Dan fanatisme adalah induk eksklusivisme, fasisme – induk segala sesuatu yang dapat mengguncangkan persatuan bangsa kita. Pengembangan rasa akan membuat, putra-putri kita semakin lembut, semakin peduli terhadap sesamanya, semakin halus dan semakin manusiawi.

 

Pendidikan model Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara, Leluhur kita, Bapak Pendidikan kita, telah merumuskan cara memandu masyarakat dengan rumus, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”. Ini adalah model pendidikan yang memunculkan kesadaran. Bukan model diktator ataupun bebas lepas.

Ing Ngarsa Sung Tulada. Di depan memberikan keteladanan. Sebagai orang tua, guru atau sebagai pimpinan sebuah organisasi macam apa pun, anak-anak, para murid dan para bawahan akan memperhatikan tingkah laku orang tua, guru atau pimpinannya. Angin tidak perlu gembar-gembor, cukup bertiup dengan pelan, akan menyejukkan orang yang kepanasan. Masyarakat membutuhkan keteladanan, bukan untaian kata-kata belaka. Betapa banyak petinggi negara kita yang pandai bebicara, tetapi tindakannya tidak sesuai dengan yang diucapkannya. Kepandaian bicara tanpa keteladanan itulah yang dicontoh masyarakat masa kini.

Ing Madya Mangun Karsa. Di pertengahan memberi semangat. Dalam pergaulan sehari-hari ketika melihat anak-anak, murid atau bawahan mulai mandiri, menjalankan hal yang benar, mereka wajib diberi dorongan, diberi semangat. Kepedulian terhadap perkembangan anak, murid dan bawahan diwujudkan dengan memberi dorongan kepada mereka untuk menjalankan hal yang benar. Seorang anak, murid atau bawahan perlu diberi semangat dalam menjalankan kewajibannya.

Tut Wuri Handayani. Di belakang memberi dukungan. Anak-anak, murid atau bawahan yang mulai percaya diri perlu didorong untuk berada di depan. Orang tua, guru atau pimpinan perlu memberi dukungan dari belakang. Sudah seharusnya generasi tua memberi kesempatan kepada generasi yang lebih muda untuk berkiprah. Para sesepuh yang masih bercokol dan tidak mau meninggalkan jabatannya menunjukkan kelalaian dan ketidakberhasilan diri mereka dalam membina generasi penerusnya.

 

Membentuk Gembala yang mumpuni, bukan membentuk Domba yang patuh

                Mengikuti perkembangan anak, murid atau bawahan dengan penuh perhatian berdasar cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksanya. Seorang tua, guru atau pimpinan termasuk pemimpin spiritual dapat diibaratkan sedang membentuk Gembala yang mumpuni dan bukan membuat Domba yang patuh yang tergantung sepenuhnya kepada orang tua, guru atau pimpinan. Memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada yang muda untuk membina disiplin pribadi secara wajar, melalui pengalamannya sendiri, pemahamannya sendiri dan usahanya sendiri. Yang penting diperhatikan adalah menjaga agar pemberian kesempatan ini tidak akan membahayakan mereka sendiri atau memungkinkan timbulnya ancaman bagi keselamatan orang lain. Demikian nasehat Ki Hajar Dewantara yang mengingatkan para orang tua, guru dan pimpinan sebagai Pemandu, agar masyarakat dapat memberdaya diri.

Terima kasih Guru. Semua berkat rahmatmu.

Jay Gurudev!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Juni 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: