Keteladanan Raden Sumantri dalam Membela Ibu Pertiwi


Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.

Raden Sumantri

Dalam Serat Tripama, Sri Mangkunegara IV mengetengahkan moralitas, kepahlawanan, kesetiaan dan dedikasi terhadap bangsa dengan memberikan tiga tokoh wayang yang pantas diteladani. Pemilihan ‘Tembang Dhandhanggula’ merupakan tanda bahwa yang akan disampaikan adalah ‘pitutur adiluhung’, nasehat yang sangat luhur, butir mutiara dari salah seorang Master yang lahir di Bumi Pertiwi. Salah satu tokoh yang diketengahkan beliau adalah Raden Sumantri.

Diceritakan bahwa Raden Sumantri adalah anak seorang pertapa yang mematuhi nasehat orang tuanya untuk mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu yang merupakan titisan Batara Wisnu. Cerita tersebut populer di tengah masyarakat dan sering dipentaskan dengan lakon Sumantri “ngenger”. Orang tua dari anak yang “ngenger” yakin bahwa wali yang memelihara putranya adalah perwujudan Ilahi yang akan membimbing putranya ke arah kemuliaan hidupnya. Pada saat mengabdi kepada raja, Raden Sumantri diberi tugas untuk memerangi musuh-musuh kerajaan. Dengan kesaktiannya segala musuh dapat dimusnahkan dan kembali ke kerajaan dengan membawa kemenangan.

Manusia tidak bisa bebas sepenuhnya dari insting hewani. Bagaimana bisa bebas sepenuhnya? Bebas dari sifat-sifat ini, ya berarti mati. Manusia tidak bisa bebas dari hewan di dalam diri, tetapi bisa menjaga kejinakannya. Oleh karena itu manusia harus sadar untuk mengendalikan hewan di dalam diri. Demikian uraian dalam BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Dalam ketidaksadarannya, Raden Sumantri mempertanyakan, kenapa dia dan bukan Sang Prabu yang berperang sendiri. Namun, setelah Sang Prabu menunjukkan kesaktian yang sangat tinggi yang tidak ada bandingannya, dia pun sadar dan tunduk terhadap Sang Prabu. Sang Prabu dengan penuh kasih mengingatkan, “Seorang ksatriya yang suka melakukan olah batin pun masih memiliki sifat-sifat hewani. Itu tidak dapat dihindari. Dan penjinakan bukanlah sesuatu yang dilakukan satu kali saja. Penjinakan adalah proses sepanjang usia, seumur hidup. Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk boss mereka, majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut ‘mind’—membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam… sepanjang tahun..sepanjang hidup.

Kemudian Sang Prabu memintanya memindahkan “Taman Sriwedari” ke istana, sebuah pekerjaan yang belum pernah dilakukannya. Adiknya Raden Sukrasana membantu dan terlaksanalah tugasnya dengan baik. Saat itu, Raden Sumantri malu diikuti oleh adiknya yang buruk rupa ke istana, dan dia menakut-nakutinya dengan senjata agar tidak mengikutinya. Dan, terlepaslah senjatanya membunuh sang adik tanpa sengaja. Dia telah melupakan nasehat Sang Prabu untuk mengendalikan sifat hewani dalam diri. Dia menyesal dan sejak saat itu berubah menjadi ksatriya yang bijaksana. Atas jasa-jasanya pada suatu saat dia diangkat menjadi patih Kerajaan Maespati dan diberi gelar Patih Suwondo.

Pengaruh Sang Prabu Harjuna Sasrabahu

Bagi Patih Suwondo, Dia Yang Maha Memelihara Alam telah mewujud dalam diri Sang Prabu.  Seseorang yang merasa sebagai abdi, sebagai hamba, maka dia wajib patuh terhadap apapun perintah rajanya. Sri Mangkunegara IV memberikan contoh bagaimana seseorang melakukan bhakti kepada seorang Prabu titisan Batara Wisnu. Bagi seorang abdi atau hamba hanya ada ‘one pointedness, eka grata’, satu fokus sehingga dia bekerja tanpa pamrih pribadi lagi. Dalam “bahasa musik karawitan”, seluruh niyaga, penabuh gamelan dengan berbagai alat musiknya telah bekerja menyatu mengikuti alunan suara ‘Sang Pembawa Vokal’ dalam irama yang harmoni. Para perwira, para menteri, para komandan yang patuh pada komitmen sangat diperlukan dalam mempertahankan kewibawaan suatu negara.

Hubungan antara Sang Prabu dengan Patih Suwondo adalah seperti hubungan Guru dan Siswa dalam buku BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Pikiran yang tak terucapkan saja bisa mempengaruhi kita, apalagi yang terucapkan. Setiap pikiran mempengaruhi medan energi sekitar pemikirnya; kemudian siapa saja yang mendekati medan itu akan terpengaruhi. Beruntunglah Patih Suwondo yang berada di sekitar medan pikiran Sang Guru. Kita yang hidup di kota-kota besar dipengaruhi medan pikiran yang bersifat sangat materialis. Selama kita masih bekerja, masih berusaha, interaksi dengan materi, medan energi materialis tidak bisa dihindari. Yang dapat dilakukan hanyalah meminimalkan pengaruhnya. Salah satu di antaranya adalah menjaga keseimbangan antara interaksi dengan dunia dan interaksi dengan diri, dengan batin. Meditasi atau olah batin menyadari adanya pengaruh luar tetapi hal tersebut tidak dapat mengganggunya.

Seorang Guru hanya akan ‘work on us’, bekerja terhadap murid, bila murid membuka diri sepenuhnya. Lapisan pengetahuan ‘semi’, pengetahuan yang belum menjadi pengalaman, justru menutup diri kita. Dan, seorang Guru tidak pernah memaksakan diri. Ia tidak akan memasuki diri murid secara paksa. Ia akan menunggu di luar pintu hati murid, sebelum murid sendiri membukanya dan mengundang dia masuk. Penyerahan diri secara total oleh seorang murid sama sekali bukan untuk kepentingan Guru, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Melepaskan keangkuhan, keakuan, ego dan tidak ‘ge-er’ karena ‘baru sekadar tahu’ adalah semata-mata demi kebaikan murid.

Hubungan antara guru dan siswa, antara murshid dan murid sungguh sangat aneh. Tiada kata untuk menjelaskannya. Tidak ada hubungan darah antara mereka. Tidak ada hubungan daging antara mereka. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk saling berhubungan. Tidak ada tuntutan dari tradisi, budaya, agama. Hubungan di antara mereka sepenuhnya karena “kesadaran”. Hanya dilandasi kesadaran. Beruntunglah Patih Suwondo yang membuka diri terhadap Sang Prabu.

 

Rahwana musuh Prabu Harjuna Sasrabahu

Sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya dengan teori Darwin, somehow kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi panjang. Itu sebabnya, lewat meditasi kita justru membersihkan otak. ‘Deconditioning’ dalam bahasa meditasi, dan detoksifikasi dalam bahasa medis—dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah, “Janganlah kau membunuh”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa, sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, dan perangkat lunak otak pun bersih dari program bunuh-membunuh. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan. BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 halaman 60.

Bagaimana seseorang bisa menjadi teroris? Karena insting-insting hewani di dalam dirinya dipertahankan. Tidak ada upaya untuk membersihkannya. Kisah-kisah yang disuguhkan kepadanya lebih banyak bercerita tentang permusuhan, pertengkaran dan kebencian antar kelompok.

Rahwana adalah seorang raksasa yang ingin menguasai jagad ini. Dia mempergunakan kekerasan untuk mencapai obsesinya. Pada saat itu, hanya satu raja yang ditakuti dan yang pernah mengalahkannya yaitu Prabu Harjuna Sasrabahu sang titisan Wisnu. Dengan pertimbangan dia akan dapat menaklukkan Sang Prabu, dengan tipu dayanya, maka fokus utama Rahwana adalah Patih Suwondo yang sakti. Dan, dia kini telah mempunyai ajian ‘rawerontek’ yang membuat dia hidup kembali ketika terbunuh, maka apa yang perlu ditakutinya lagi.

Dalam wayang Jawa dikisahkan Rahwana begitu terobsesi dengan titisan Dewi Widowati dari kahyangan yang lahir di dunia. Dewi Citrawati, istri Prabu Harjuna Sasrabahu adalah titisan Dewi Widowati yang manja sehingga dia pernah meminta dibuatkan taman Sriwedari di istananya, atau pun minta dibuatkan bendungan sekadar bisa mandi bersama dayang-dayangnya. Harjuna Sasrabahu begitu cinta pada sang permaisuri. Untuk itu Rahwana mengatur siasat ‘memlintir’ berita bahwa Sang Prabu telah mati dalam menghadapi Rahwana. Dewi Citrawati melakukan bunuh diri demi mendengar kabar suaminya meninggal. Konon dia akan lahir lagi sebagai Dewi Sinta yang penurut dan tidak merepotkan suaminya, Sri Rama yang juga merupakan titisan dari Prabu Harjuna Sasrabahu. Prabu Harjuna Sasrabahu sangat sedih dan sampai akhir hayatnya tidak mau berperang lagi karena kematian istrinya, pergi mengasingkan diri dan bahkan konon akhirnya memilih mati di tangan Rama Parashu.

Pertarungan melawan Rahwana

Dalam memenuhi kemanjaan Dewi Citrawati, Sang Prabu membendung sungai dan ternyata mengakibatkan banjir daerah Sakya di mana Rahwana sedang membuat pesanggrahan. Rahwana marah dan mengajak Patih Suwondo bertarung di hutan perbatasan.

Malam sebelum pertarungan, Patih Suwondo berada dalam permenungan yang dalam. Hubungan manusia dengan dunia saat kelahiran sangat minim. Satu-satunya hubungan penting saat itu hanyalah hubungan dengan ibu, atau dengan siapa saja yang berperan sebagai ibu. Perekat manusia dengan dunia saat itu hanyalah kasih ibu. Kemudian manusia menambah perekat-perekat baru. Akhirnya terperangkap oleh perekat-perekat ciptaan manusia sendiri. Adakah kebenaran di balik perekat-perekat ini? Adakah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berarti, bermakna di balik hubungan-hubungan manusia yang semu? Orang tua bisa wafat, pasangan hidup bisa menceraikan, anak dan saudara bisa pisah rumah. Kawan bisa berubah menjadi lawan. Is there anything more to life? ……… ‘Contemplate to the Essence’, hubungan dengan ‘Gusti Kang Murbeng Dumadi’?…… Tiba-tiba dia teringat kematian adiknya. Sudah seharusnya dia menyelesaikan hutang-piutangnya saat kehidupan ini. Tidak perlu menunggu kelahiran berikutnya. Adiknya berkata, ada saatnya dia akan menagih kematian kakaknya lewat taring seorang raksasa. Dia telah beberapa kali bertarung melawan raksasa dan selalu menang, dia tahu. Alam begitu berkuasanya, tak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari kejaran ‘panah cakra’ hukum karma. Mengapa dia tidak menyelesaikannya, apalagi tindakannya demi membela Ibu Pertiwi? ‘Vande Mataram’, sembah sujudku demi Ibu Pertiwi.

Sebagai ksatriya dia telah memahami petunjuk Narada tentang Bhakti,“Untuk mencintai dengan cara tamas, rajas maupun satva, bermalas-malasan, agresif maupun tenang, engkau harus bekerja keras, berupaya, karena tujuanmu jelas. Dan tujuan itu harus tercapai, sehingga engkau gelisah. Engkau memikirkan hasil melulu. Entah yang kau harapkan adalah kenikmatan sesaat atau kebahagiaan untuk selama-lamanya, harapan itu sendiri menggelisahkan.” “Berbhaktilah tanpa pamrih. Cinta yang tak bersyarat.”

Patih Suwondo mengabdi dengan tulus kepada Gusti yang bersemayam dalam hati nuraninya, maka dia hanya mendengarkan dhawuh, perintah hati nuraninya dan dia tidak memikir lagi tindakannya membawa hasil atau tidak. Dalam dirinya sudah tidak ada pamrih, sudah tidak ada pertentangan batin antara hati nurani dengan egonya.

Dan, keesokan harinya…. dalam pertarungan sengit, Patih Suwondo sempat beberapa kali menebas leher Rahwana, akan tetapi begitu kepala Rahwana menyentuh bumi, dia hidup lagi. Dan, tugasnya sebagai ksatriya adalah terus bertarung demi Ibu Pertiwi.

Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada Dia. Dia yang dicintainya dan Dia sedang mengulurkan tangan-Nya.

Demikian pemahaman kami sampai saat ini. Terima kasih Guru. Semua terjadi berkat rahmat Guru.

Jay Gurudev!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Juni 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: