Yudistira dari Filosuf ke Tindakan Nyata Menegakkan Dharma


Sebuah filsafat, pandangan hidup yang tidak mampu meningkatkan kualitas hidup sungguh tidak berarti. SMS Wisdom, Anand Krishna.

Introspeksi Sang Prabu

Prabu Yudistira larut dalam permenungan yang dalam……….. Semasa remaja, Pandawa dan Korawa belajar bersama pada guru yang sama. Dalam hal ilmu perang guru mereka adalah Pandita Drona, dan Arjuna menjadi murid terpandai. Kemudian para remaja tersebut mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dan, dalam ini, Yudistira tampil sebagai murid terpandai, sehingga Resi Krepa sangat mendukung agar tahta Hastinapura diserahkan kepada Sulung Pandawa tersebut.

Di masa mudanya, hanya satu kelemahan diri yang belum dapat diatasinya, yaitu kegemaran untuk bermain dadu. Bermain dadu dan memegang janji taruhan sebagai dharma. Kerancuan pikiran inilah yang membuat Pandawa terlunta-lunta karena dirinya kalah bermain dadu dengan Korawa akibat kelicikan Shakuni. Pandawa harus menyerahkan negara beserta isinya dan menjalani hidup di hutan selama 12 tahun dan hidup menyamar dalam sebuah kerajaan selama 1 tahun. Dia telah bejudi secara pribadi tetapi mengorbankan seluruh negara dan keluarganya. Dahi Yudistira berkerut, wajahnya dipenuhi mendung penyesalan yang amat tebal.

Kemudian, ingatannya melompat pada saat pengasingan, Sri Krishna yang menjadi penasehatnya menyampaikan bahwa sebagai seorang raja, dharmanya adalah memperhatikan rakyatnya. Kepentingan masyarakat luas tidak boleh dikalahkan kepentingan pribadi. Sang Prabu Yudistira tersadarkan, “Aku masih mempunyai keterikatan pribadi pada pujian luar bahwa dirinya adalah manusia unggul, suci, sabar dan cinta damai.” Dan atas nama reputasi yang tanpa makna tersebut dia telah membawa keluarganya dalam penderitaan lahir batin.

Sri Krishna telah memberi nasehat: “Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, imbalan, penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan intelegensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama: Pertama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang. Yang kedua, sumber di luar diri dari pujian dan pengakuan. Solusinya adalah berkarya tanpa pamrih.”

 

Yudistira sang filosuf

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh adik-adiknya mencari air minum. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.

Yudistira kemudian berangkat menyusul adik-adiknya dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Kemudian muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat saudaranya tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan sang raksasa untuk bertanya. Satu per satu, pertanyaan demi pertanyaan berhasil dia jawab.

Diantaranya tentang dharma, artha, kama dan mokhsa. Jawaban Yudistira selaras dengan penjelasan dalam buku SEXUAL QUOTIENT, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra, Anand Krishna, PT. One Earth Media, 2006

“Kama, Artha, Dharma dan Moksha harus bertemu… dan titik temunya itulah tujuan hidup, itulah Jatidiri! Titik temu antara pasangan yang berseberangan. Pertemuan antara Kama dan Artha itulah yang selama ini terjadi…. Kita berkeinginan untuk mengumpulkan uang, mencari keuntungan dan menambah kepemilikan. Kama harus bertemu dengan Moksha, itulah titik di seberangnya. Berkeinginanlah untuk Meraih Kebebasan Mutlak. Kemudian Artha dengan Dharma… carilah harta hingga kau dapat berbuat baik, dapat berbagi dengan mereka yang kekurangan. Berikan makna kepada hidup dengan berbagi kebahagiaan, keceriaan, kedamaian, kasih. Selama ini kita menggabungkan Dharma dengan Moksha. Berbuat baik, beramal saleh untuk meraih kebebasan. Kemudian kebebasan pun kita terjemahkan sebagai keselamatan bagi diri, jiwa, atau sebuah kapling di surga. Ruh atau batin melampaui suka dan duka. Ruh atau batin adalah napas-Nya yang ditiupkan-Nya ke dalam apa yang disebut diri kita.”

Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Sang Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madrim, yaitu Nakula.

Sang Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.

…….. Kembali Yudistira larut dalam permenungan yang amat dalam. Keahliannya hanya berfilsafat, kebetulan Keberadaan membantunya dalam masalah di telaga beracun tersebut. Orang yang cerdas, ahli filsafat terlalu banyak pertimbangan. Mind memang kesukaannya berdiskusi dan meragukan sebuah tindakan. Adiknya Arjuna yang cerdas pun bimbang dan ragu di tengah medan peperangan Kurukshetra, apakah perbuatan dia yang akan membunuh para kerabat yang tidak sadar, termasuk perbuatan mulia? Kenapa tidak mengalah saja? Beruntung Arjuna, adiknya, adalah murid Sri Krishna, dan dengan tembang Ilahi Bhagavad Gita Arjuna sadar dan maju perang menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatriya.

 

Yudistira Menipu Drona

Bhisma memimpin pasukan Korawa selama sepuluh hari. Setelah ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh Pandita Drona, yang mendapat amanat dari Prabu Duryudana supaya menangkap Prabu Yudistira hidup-hidup. Drona senang atas tugas tersebut, memahami niat Duryudana menjadikan Yudistira sebagai sandera untuk memaksa para pendukungnya menyerah. Berbagai cara dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung banyaknya sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi Yudistira, termasuk Prabu Drupada, sahabat masa kecil yang dibenci Drona.

Kini Yudistira dihadapkan pada pergolakan batin lagi. Pandita Drona adalah gurunya, guru yang harus dijaga kehormatannya, karena murid bisa pandai karena ada gurunya. Akan tetapi berkata dengan jujur pada Drona akan merugikan negara. Yudistira telah menerima petunjuk Sri Krishna. Pada hari ke-15, Sri Krishna menemukan cara untuk mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama Aswatama. Aswatama juga merupakan nama putera tunggal Drona. Kemiripan nama tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk menipu Drona. Yudistira hanya diminta mengatakan kepada Drona, “Injih Esti Aswatama mati”. Dan Drona akan menerjemahkan Esti sebagai betul, sedangkan Yudistira menerjemahkan sebagai Esti sebagai Gajah.

…………. Dan, pikiran tidak perlu diupayakan. Kau lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payahmu di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upayamu saat ini. Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-‘install’ dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu…….. BHAJA GOVINDAM Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 halaman 308.

Matahari Kesadaran Yudistira sebagai Maharaja dari sebuah blok sekutu yang sedang berperang terbit, dan awan pikiran yang selalu ragu dalam mengambil keputusan pun dilampauinya. Yudistira sudah bebas dari rasa takut berdusta, karena ia sibuk bekerja memimpin pasukan. Ia telah sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan saat ini. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bernostalgia tentang masa lalu atau memikirkan harapan masa mendatang. Ia larut dalam tugasnya pada “the Now”.

Atas perintah Sri Krishna, Bhima segera membunuh gajah Aswatama dan berteriak mengumumkan kematiannya. Pandita Drona cemas mendengar berita kematian Aswatama. Ia segera mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut. Yudistira berkata tidak jujur dengan penuh kesadaran. Ia membenarkan berita kematian Aswatama tanpa berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan putera Drona.

Jawaban Yudistira itu membuat Drona jatuh lemas. Ia membuang semua senjatanya dan terduduk lemas. Ingatannya melayang kepada isterinya dan anak semata wayangnya Aswatama. Tiba-tiba gambaran ingatannya berubah, muncul bayangan Bambang Ekalaya yang menyerahkan ibu jari kanannya sebagai persembahan terhadap dia. Dan dia pun dapat melihat Bambang Ekalaya sebagai prajurit Jarasandha terbunuh dalam perang melawan prajurit Sri Krishna karena dia berperang tanpa jempol. Tiba-tiba saja Bambang Ekalaya mendatanginya dan……… Drestadyumna putera Drupada membunuh Drona karena ayahnya telah dibunuhnya.

Prabu Yudistira melihat seluruh kejadian dengan mata kepalanya sendiri, dan tiba-tiba dia merasakan gumpalan kabut kemarahan Aswatama yang masih hidup mendekat dari kejauhan kepada Drestadyumna, kepada dirinya, kepada Bhima, kepada Sri Krishna dan kepada seluruh Pandawa. “Gusti! Keseluruhan tubuhku hanya melakukan perintah-Mu dengan penuh kesadaran, dan diriku berlindung pada-Mu yang mewujud dalam dalam diri Sri Krishna!”

 

Yudistira melawan Prabu Salya

Salya adalah kakak Dewi Madrim ibu dari Nakula dan Sadewa, kakak ipar ayahandanya. Arjuna, adik yang paling disayanginya, sebelum terjun ke dalam peperangan ragu-ragu untuk melawan kerabatnya sendiri. Sekarang kegelisahan Arjuna dapat dirasakannya. Pada hari ke-18, Prabu Salya diangkat sebagai Panglima Sekutu Korawa oleh Duryudana.

Nakula dan Sadewa menjawab pertanyaan Sri Krishna tentang kelemahan Prabu Salya, kakak ibunya. Ketika masih muda Prabu salya bernama Narasoma, beliau kawin dengan Endang Pujawati, putri cantik seorang Resi Raksasa bernama Bagaspati ,yang hidup berdua dengan sang putri karena istrinya telah meninggal dunia. Sebagai seorang putra mahkota raja yang muda dan tampan, Narasoma malu mempunyai mertua raksasa walaupun amat sakti. Pada suatu hari dia menyampaikan permintaan kepada istrinya. Bila bapaknya yang berhati suci dan telah terkenal mempunyai darah putih yang mengalir di tubuhnya, mestinya berkenan memberikan ilmunya kepada sang menantu. Bagaspati mendengar percakapan tersebut, bahkan kemudian pasrah mewariskan aji Candrabirawa kepada menantunya yang menyebabkan kematiannya.

Bagaspati boleh ikhlas, tetapi alam tidak akan demikian, alam bertindak dengan adil. Tidak berarti kalau ada seseorang yang kita sakiti dan dia telah memaafkan, diri kita terlepas dari hukum sebab-akibat. Pada suatu saat kita akan disakiti juga dan orang tersebut juga akan kita maafkan. Hukum Fisika Murni, Hukum Aksi-Reaksi. Bagaspati selalu berbuat kebaikan dan berdarah putih. Dan, Sri Krishna paham bahwa hanya Yudistira yang selalu berbuat kebaikan dan berdarah putih pula yang dapat mengalahkan Prabu Salya.

Sesaat ada rasa takut di hati Yudistira melihat kesaktian Prabu Salya. Akan tetapi Sri Krishna berusaha untuk lebih dulu membebaskan Yudistira dari rasa takut. Rasa takut bagi Sri Krishna adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia semestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Seperti diuraikan dalam buku THE GITA OF MANAGEMENT, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama.

Krishna juga tahu bahwa rasa takut disebabkan oleh:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Ketidak tahuan tentang potensi diri, potensi manusia.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Hilangnya rasa percaya diri.

Berarti rasa takut mempengaruhi tiga lapisan utama dalam diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensia, akal sehat atau pikiran jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri.

Sri Krishna memberi nasehat……. “solusinya juga dengan menggunakan jasa pikiran dan perasaan. Berusahalah supaya pikiran dan perasaan selalu selaras, harmonis. Bila terjadi konflik, cepat-cepat diselesaikan. Untuk itu, solusi yang paling tepat adalah dengan cara memahami hukum-hukum alam. Dengan begitu, muncul kesadaran bahwa apa pun yang terjadi sudah sesuai dengan hukum alam. Jika lebih suka dengan istilah Kehendak Ilahi, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya.

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Apa pun yang saat ini kita miliki, pernah dimiliki oleh orang lain. Kepemilikan kita tidak langgeng…. Lalu kehilangan apa yang mesti ditakuti?

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Suami, istri, anak, saudara, orang tua, kawan, kerabat , semuanya adalah hubungan-hubungan yang “terjadi” dalam hidup ini, dan di dunia ini. Saat aku lahir, tak seorang pun menemaniku. Kelak, ketika aku mati, perjalanan selanjutnya pun mesti kutempuh seorang diri.  

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Aku lahir seorang diri, dan mati seorang diri. Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan, penerimaan, pengakuan, pujian, maupun makian seseorang tak mampu memengaruhi kualitas hidupku. Aku sendiri yang menentukan kualitas hidupku.  

Prabu Salya mengerahkan ilmu Candrabirawa berupa raksasa kerdil yang mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru semakin bertambah banyak. Ratusan prajurit Padawa binasa. Dan, tiba-tiba Prabu Salya berhadapan dengan Prabu Yudistira. Dalam pandangan Prabu Salya, Prabu Yudistira nampak berubah sebagai almarhum mertuanya Resi Raksasa Bagaspati yang tersenyum padanya. Ilmu Candrabirawanya seketika lumpuh dan tiba-tiba dadanya merasa sakit, saat Yudistira melemparkan Jamus Kalimasada. Prabu Yudistira menggumam pelan, “Gusti, Guru Sejati , tanganku tidak membunuh manusia, Engkaulah yang memakai tubuhku sebagai alat. Ramanda Prabu Salya juga hanya tubuhnya yang meninggal, ruh nya akan melanjutkan evolusi kesadaran di kehidupan mendatang. KRISHNA, Guru Sejatiku, aku senyatanya tunduk kepada-Mu.”

Yudistira dan Kakek Agung Bhisma

Menjelang kematiannya, Bhisma mengajarkan dharma kepada Yudistira dan kemudian bersabda, “ Cucuku, jangan berpikir bahwa kamu sebagai Pemimpin Pandawa sudah membunuh aku. Kamu bahkan sudah memberikan padaku kebebasan dari perbudakan hidup. Dulu aku pernah berjanji pada ibuku Satyawati yang dikenal sebagai Dewi Gangga, bahwa aku tidak akan mati sampai tahta Wangsa Kuru pada Bumi Ibu Pertiwi Hastina dibentuk dengan kuat. Terima kasih, aku telah menepati janjiku karena keberhasilanmu. Kamu tidak tahu, aku telah lelah hidup. Kamu adalah seorang Maharaja dan seorang Maharaja tidak akan memikirkan dirinya. Ia milik rakyatnya dan kecemasanmu mulai sekarang adalah kesejahteraan mereka dan tidak ada yang lain.”

” Power of the Will to attain the Truth, Power of Knowingness to always have an Awareness and Power of Action on whole life , makes Yudistira success.

Semua terjadi berkat rahmat Guru. Jay Gurudev!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Juni 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: