Altruisme Gatotkaca demi Ibu Pertiwi


Ada yang menganggap aku membantu pihak keluarga Ayahandaku, Bhima. Ada pula yang menganggap aku membalas budi kebaikan pamandaku, Arjuna, yang telah menolong kelahiranku. Bagiku, aku mewakili ksatriya dari Bumi Pertiwi dalam menegakkan Kebenaran. Pilihanku telah jelas, aku memilih pihak Pandawa daripada Korawa. Gusti itu ‘tan kena kinaya ngapa’, tak dapat disepertikan, diluar pikiran dan rasa manusia. Bagiku Ibu Pertiwi adalah salah satu wujud-Nya yang nyata yang dapat kulayani sepenuh hati. Hidup-matiku kupersembahkan kepada Ibu Pertiwi.

Ayah dan Ibu Gatotkaca

Perang Bharatayudha sudah berlangsung selama tujuh hari, dan setiap hari selalu saja mengalami perjuangan antara hidup dan mati. Dan, Gatotkaca larut dalam permenungan yang dalam. Gatotkaca mengatur napas, sejenak berada dalam kedamaian, dan berusaha mengingat beberapa kejadian penting dalam hidupnya.

Ibunya, Harimbi pernah bercerita bahwa dalam pengasingannya selama dua belas tahun, Bhima ayahandanya sempat mengembara sampai di sekitar Pegunungan Dieng. Bhima dapat menaklukkan kakak ibunya Raja Raksasa Harimba, penguasa hutan di pusat pulau Jawa. Ibunya jatuh cinta kepada ayahandanya, ksatria tinggi besar kuat berotot layaknya raksasa tetapi penampilannya menawan. Ibunya adalah seorang wanita raksasa, akan tetapi hatinya sudah lembut, evolusi jiwanya sudah mendahului penampilannya. Dewi Kunti, neneknya dari pihak ayah yang waskita ‘memoles’ ibunya dengan ‘operasi plastik zaman kuna’ menjadi wanita yang cantik, sehingga ayahandanya jatuh cinta. Ibunya juga bercerita bahwa Eyang Kunti, ibu ayahandanya, mematuhi nasehat dari keponakan Eyang Kunti, Sri Krishna untuk menggunakan perkawinan sebagai pengikat kasih, pengikat persaudaraan, perkuatan energi. Diharapkan seluruh Nusantara akan mendukung Koalisi Pandawa dalam berperang melawan Korawa.

“Ayahandaku adalah idola masyarakat Nusantara. Menurut Romo Semar, beliau mendapat ‘wisik’, bisikan gaib, ribuan tahun yang akan datang, ayahandaku akan diabadikan sebagai patung Kuntha Bhima di bangunan termegah di bumi ini. Nantinya pertemuan ayahandaku dengan diri sejatinya bahkan akan diabadikan dalam sebuah sastra ‘Suluk Dewaruci’ yang indah.” Menurut Romo Semar akan banyak keyakinan di Nusantara yang menjadikan profil ayahandaku sebagai lambang spiritual.

Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Shruti berarti “yang didengarkan”, pendengaran, tetapi bukan pendengaran  biasa—Pendengaran Ilahi. Dalam bahasa sehari-hari: “wahyu”. Sekali lagi, janganlah menganggap wahyu sebagai monopoli sekelompok orang, komunitas atau masyarakat. Wahyu bukanlah monopoli Anda atau saya. Sang Pemberilah yang tahu kepada siapa Ia memberikannya….. Sebenarnya Shruti bersifat sangat universal. Dan dalam hal itu, mayoritas masyarakat Hindu tak akan menolak penerimaan Shruti oleh para nabi dan mesias dari tradisi-tradisi lain di luar Hindu. Shruti bersifat amat sangat pribadi. Demikian, kata Shankara, “demikian menurut apa yang kudengarkan”. Shankara berbicara dari pengalaman pribadi. Bagi Shankara, Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia tak membatasi dialog-Nya dengan satu-dua orang pilihan saja. Ia dapat berdialog dengan siapa saja. Dapatkah manusia membatasi gerak-gerik-Nya? *1. Atma Bodha

Gatotkaca tersadarkan, “Romo Semar. Mendapat bisikan? Membisiki? Atau Bisikan itu sendiri? Atau ‘three being one’. Duh Gusti, Romo Semar adalah wujud dari Roh Ibu Pertiwi.”

 

Kelahiran Gatotkaca

Gatotkaca ingat bahwa Romo Semar sang ‘pamomong’ keluarga Pandawa selama di Nusantara pernah menceritakan peristiwa kelahirannya. Seluruh keluarganya berada dalam kerepotan, tali pusar dirinya tidak dapat diputus dengan berbagai macam senjata keris dan panah.

Alkisah kedua pamandanya Arjuna dan Karna sedang bertapa di tempat berbeda untuk mendapatkan senjata sakti sebagai persiapan perang di kemudian hari. Konon, Bathara Narada yang membawa karunia senjata panah Kuntawijayadanu sulit membedakan kedua satria putra Dewi Kunti tersebut. Dewa Surya memberi penerangan kepada tempat Karna bertapa, sehingga lebih mudah dicapai dan Bathara Narada memberikan senjata tersebut kepada Karna. Akan tetapi karena tersirat semacam ketidak baikan dalam diri Karna, maka Narada hanya memberikan ‘panah’-nya, sedangkan ‘sarung’-nya diberikan kepada Arjuna yang bertapa di tempat lain.

Dengan berbekal sarung senjata Kuntawijayadanu tersebut, Arjuna dapat memotong tali pusar Gatotkaca, dan sarung tersebut hilang masuk ke dalam diri Gatotkaca, sehingga dirinya menjadi sakti.

Ari-ari atau placenta selama sembilan bulan menjadi perantara kehidupan dari ibu kepada sang anak.  Ari-ari selalu dicuci sampai bersih sebagai penghormatan kepada Kesucian dan dipersembahkan kepada hewan-hewan air di sungai yang merupakan penghormatan kepada Unsur Alami Air, atau dipersembahkan kepada hewan-hewan dalam tanah dengan jalan dipendam di halaman rumah yang merupakan penghormatan kepada Unsur Alami Tanah. Diatas tempat memendam dinyalakan teplok’, lampu minyak tanah yang merupakan penghormatan kepada Unsur Alami Api. Apa pun semuanya dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa dan kepada lingkungan dan makhluk yang bersama-sama manusia menghuni Ibu Pertiwi ini.

 

Kecintaan pamanda Kalabendana

Pada malam hari ketigabelas dari perang Bharatayuda, setelah pertempuran yang meletihkan secara lahir dan batin, kembali Gatotkacha terlibat permenungan yang dalam. Siang ini kerabat dan sahabat karibnya Abimanyu gugur dalam pertempuran. Dan ingatan Gatotkaca menerawang pada masa kebersamaannya dengan Abimanyu, putra pamanda Arjuna.

Gatotkaca ingat bahwa sejak kecil dia dikasihi Kalabendana, adik ibunya yang paling kecil. Di Nusantara, paman termuda usianya tidak beda jauh dan sering menjadi kerabat terdekat. Kalabendana yang berwujud raksasa ‘kunthing’, cebol mempunyai karakter sangat jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia.

Pada suatu hari, dirinya bepergian bersama Abimanyu, sedangkan Siti Sundari, istri Abimanyu ditinggalkan bersama Kalabendana. Karena berhari-hari tidak kembali, Siti Sundari meminta Kalabendana mencari mereka. Dengan membaui keringat Gatotkaca, keponakannya, Kalabendana dapat menemukan Abimayu dan Gatotkaca yang sedang berada di kerajaan Wirata. Abimanyu sedang berkasih mesra dengan Dewi Utari. Melihat hal tersebut, Arya Kalabendana berteriak, agar dirinya dan Abimanyu segera pulang.

Untuk menutupi rahasia sahabat karibnya, tanpa sadar dia telah menampar pamannya. Ajian bajramusti di telapak tangannya telah menewaskan pamannya. Dia begitu sedih, tatkala paman Kalabendana menghembuskan napas terakhir. Tak ada rasa dendam di wajah pamannya. Gatotkaca ingat bahwa pamannya pernah berkata, “Aku tidak tahu, tetapi aku begitu mengasihimu sedemikian rupa sehingga ibaratnya kaubunuh pun aku rela.” Gatotkaca sadar bahwa sejak dulu pamannya telah paham bahwa garis kematiannya adalah oleh dirinya. Dia memperhatikan senyuman pamannya yang seakan berkata, “Gatotkaca kutunggu dirimu, aku ingin meneruskan kehidupan masa mendatang bersamamu.”

Terpatri dalam benak Gatotkaca pesan Romo Semar, “Jangan menganggap karma sebagai hukuman di dunia. Dunia lebih cocok disebut Pusat Rehabilitasi.  Programnya disesuaikan agar setiap jiwa menjalani program pembersihan dan pengembangan. Kelahiran di lingkungan tertentu, orangtua, saudara , negara pun bukan tanpa rencana. Sahabat dan musuh juga ada alasannya. Rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan dimaksudkan demi pembersihan dan pengembangan jiwa. Menyalahkan orang lain, mencari kesalahan, mengeluh dan kecewa berlebihan berarti kita belum menyadari program dari Keberadaan, skenario jagad. Jalanilah Program Pusat Rehabilitasi sebaik-baiknya sampai kau sembuh dan tidak sakit lagi.” “Perhatikan kala tubuhmu sehat, kau merasa dirimu satu, kemudian rasakan ketika gigimu atau organ yang lain sakit. Kau merasa ada bagian tubuhmu yang sakit. Rasa keterpisahan, rasa ketidakbersatuan disebabkan kamu dalam keadaan sakit. Manusia berada di dunia karena sakit. Kalau sudah sembuh dia tidak perlu berada di dunia.”

Tubuh manusia bukan seperti patung yang relatif stabil dan relatif terpisah dengan alam semesta. Tubuh manusia adalah medan energi yang dinamis, yang terus menerus bertukar energi dengan medan energi yang luas dari alam semesta. Tubuh manusia selalu diperbaharui dan berganti setiap saat. Dalam satu tahun lebih kurang 98 % tubuh manusia telah menjadi baru. Tulang manusia pun berubah setiap tiga bulan. Milyaran atom pembentuk tubuh keluar masuk dengan bebas melalui dinding sel secara terus menerus. Atom-atom baru mengalir terus ke seluruh tubuh, sedangkan atom-atom lama keluar dari tubuh ada. Atom yang keluar lewat pernapasan dihirup manusia dan makhluk lainnya, sehingga sesungguhnya manusia telah bertukar atom dengan manusia dan makhluk lainnya. Otak manusia pun, dimana sel-sel nya tidak mengalami regenerasi pada saat mati, terdapat karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen yang hampir semuanya terbaharui baru dalam waktu satu tahun…………. Sejatinya semuanya satu, Bhinneka Tunggal Ika.

 

Pengorbanan diri demi penegakan Kebenaran

Tubuh manusia terdiri dari trilyunan sel. Dan sebuah sel adalah prototipe dari makhluk yang hidup, yang lahir, berkembang, makan, bernapas, menjalankan kodrat dharma dan mati. Sel darah putih tidak pernah takut mati melawan musuh dari luar. Apabila tidak ada musuh yang datang, dalam tiga bulan sel darah putih  akan mati dan diganti dengan kelahiran sel lain. Demikian pula Gatotkaca sang ksatriya dari Nusantara. “Tanpa melakukan dharma pun diriku akan mati juga, kodratku, dharmaku, adalah berbhakti bagi Ibu Pertiwi. Apalagi Sri Krishna telah membuat perang kurukshetra menjadi dharmakshetra, medan dharma. Biarlah waktu yang singkat di kehidupan ini kugunakan untuk  berbhakti pada Ibu Pertiwi. Hutang-hutang perbuatanku kutebus dalam perang di medan dharma ini.”

“Abhimanyu telah memilih mati dalam medan dharma. Aku ini siapa? Diri sejatiku melampaui ‘passion, love and compassion’. Nafsuku bukan diriku. Rasa cintaku juga bukan diriku.Bahkan rasa kasihku pun bukan diriku. Kala mereka tak ada “aku” pun masih ada. Diri sejati ku adalah Kebenaran. Karena kebodohanku,  karena salah pandangan, jiwaku mengalami karma.”

“Bagiku dharma-ku sebagai perajurit adalah maju berperang, ‘sangha’-ku adalah Pandawa, persaudaraan pembela kebenaran, Kendra-ku, fokus tujuanku adalah Kebenaran”. Ada yang menganggap aku membantu pihak keluarga Ayahandaku, Bhima. Ada pula yang menganggap aku membalas budi kebaikan pamandaku, Arjuna, yang telah menolong kelahiranku. Dalam diriku memang mengalir darah Pandawa, itu aku syukuri. Tetapi bagiku, aku mewakili ksatriya dari Bumi Pertiwi dalam menegakkan Kebenaran. Pilihanku telah jelas, aku memilih pihak Pandawa daripada Korawa. Gusti itu ‘tan kena kinaya ngapa’, tak dapat disepertikan, diluar pikiran dan rasa manusia. Bagiku Ibu Pertiwi adalah salah satu wujud-Nya yang dapat kulayani sepenuh hati. Hidup-matiku kupersembahkan bagi Ibu Pertiwi.”

“Kemenangan perang nampaknya ditentukan oleh perang tanding kedua pamandaku putra-putra Eyang Kunti. Senjata Kuntawijayadanu milik pamanda Karna sangat berbahaya bagi pamanda Arjuna. Rama Semar menyampaikan bahwa sarung Kuntawijayadanu berada di pusarku. Penasehat Agung Sri Krishna memintaku menghancurkan pasukan Korawa agar Duryudana putus asa dan menyuruh Karna mengeluarkan senjata andalan Kuntawijayadanu.” “Wahai Ibu Pertiwi, putramu ini mewakili-Mu mengangkat nama-MU di kancah sejarah penegakan Kebenaran di dunia.”

Di angkasa badan Gatotkaca telah dikunci. Senjata Kunta Wijayadanu itu mengejar Gatotkaca bak peluru kendali. Akhirnya senjata itu menembus perut Gatotkaca melalui pusarnya dan masuk ke dalam sarungnya yang menyatu di perut Gatotkaca. Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkaca sudah tahu datangnya kematian yang menjemputnya. Gatotkaca ingat pelajaran dari Kumbakarna yang sebelum mati pun perlu memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Korawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping dan semua senjata yang berada di dalam keretanya meledak dan membunuh banyak pasukan Korawa. Dalam perang Baratayuda Gatotkaca gugur pada hari ke-15.

Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak…….. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan. *2. Be the Change

 

Rumusan Bhinneka Tunggal Ika

Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk ketika gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita. Ketika kita tidur nyenyak, ‘deep sleep’ maka segalanya tidak ada, kosong, hampa.

Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita.

Einstein merumuskan bahwa semua materi dalam kecepatan tertentu adalah energi. Semua materi pada hakikatnya adalah energi. Yang ada hanyalah energi. Bukankah rumusan itu selaras dengan iman bahwa tidak ada Dia yang  lain, selain Dia? Semua yang nampak ini sejatinya adalah Dia.

Orang-orang bodoh yang tidak memiliki akal sehat dan latar belakang ilmu yang memadai, mempersoalkan kesatuan dan persatuan. Bertanyalah kepada para ilmuwan seperti Einstein dan Hawking, mereka akan menertawakan perbedaan yang terlihat kasat mata itu. Ilmu Pengetahuan telah mengantar kita pada pemahaman ilmiah tentang semboyan-semboyan para leluhur kita. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekedar semboyan negara, bukan pula sekedar Saripati Budaya Nusantara… Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah Rumusan Ilmiah, Rumusan Kesadaran yang tak dapat dipungkiri. Sebuah rumusan hasil eksperimen panjang para leluhur kita jauh sebelum Einstein berbicara tentang Unified Field of Energy atau Medan Energi Terpadu. *3. Indonesia  Baru

Yang Mempersatuan Kita Bukanlah Sekedar Penderitaan, Musibah Atau Kesamaan Nasib… Yang Mempersatukan Kita, Putera-Puteri Indonesia, Adalah Sebuah “Kesadaran” Bahwasanya Di Balik Segala Macam Perbedaan Yang Terpandang, Adalah Kesatuan Dan Persatuan Ilahi. Betapa mulianya, betapa luhurnya cara pandang para leluhur kita yang bijak “Kita berbeda, namun itu tidak berarti bahwa aku harus memusuhimu, harus pilih kasih, dan berperilaku beda terhadapmu.” Kau Muslim, Kau Katolik, Kau Kristen, Kau Buddhis, Kau Konghucu, Kau Hindu, Kau Bahai, Kau Tidak Berada Dalam Salah Satu Agama Formil Namun Percaya Pada Kekuatan Ilahi… Siapa Pun Kau, Kau Orang Indonesia… Dan, Aku Cinta Kau! *3. Indonesia  Baru

Keterangan:

*1.Atma Bodha :    Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

*2. Be The Change :            Be the Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.

*3. Indonesia  Baru :                Indonesia  Baru, Anand Krishna, One Earth Media, 2005.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

Juli 2009.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Salam Kenal Pak Tri Widodo.

    Quote: Shruti berarti “yang didengarkan”, pendengaran, tetapi bukan pendengaran biasa—Pendengaran Ilahi. Dalam bahasa sehari-hari: “wahyu”. Sekali lagi, janganlah menganggap wahyu sebagai monopoli sekelompok orang, komunitas atau masyarakat. Wahyu bukanlah monopoli Anda atau saya. Sang Pemberilah yang tahu kepada siapa Ia memberikannya…..

    Menarik sekali frasa ini Pak. Saya lihat di Al-Qur’an ada beberapa ayat yang senada dengan hal ini:

    “..barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun 64:11)

    “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. ” (QS. Al-Baqarah 2:272)

    petunjuk = Al-Huda. Mungkin Shruti yang dimaksud adalah Al-Huda ini.

    • Terima Kasih. Wahyu adalah getaran-getaran ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan dimana anda berada saat ini. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah receiver, alat penerima – radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima anda. Semakin canggih radio yang anda miliki, semakin banyak siaran yang dapat anda terima.
      Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran-siaran manca-negara. Tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri. Wahyu adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam anda meniti ke dalam diri, semakin jelas penerimaan anda.
      Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad yang yatim piatu, pedagang yang buta huruf. Seorang Yesus – anak tukang kayu. Siddharta harus meninggalkan istana untuk menerimanya. Krishna seorang gembala sapi.
      Perbedaan yang terlihat disebabkan oleh alat penerima. Apalagi dalam hal ini, setiap alat penerima adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda. Alat penerima wahyu di Timur Tengahberbeda sedikit dari alat penerima di India. Begitu pula alat penerima di China tentu lain dari alat penerima yang lain. Setiap alat penerima dipengaruhi oleh budaya setempat.
      Getaran-Getaran Ilahi atas wahyu yang diterima oleh masing-masing alat penerima diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian setempat. Itu sebabnya setiap kitab suci selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat konstektual. Surah-Surah Terakhir AK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: