Pengorbanan Sepenuh Hati Sunahsepa

Hubungan kita dengan sesama manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia. Interaksi dengan dunia dan hubungan dengan Tuhan adalah dua urusan utama manusia. Tidak ada urusan lain. Sejak lahir sampai mati, inilah dua hal yang harus diurusi. Karena itu, kesabaran dan keyakinan dapat dijadikan landasan bagi dharma, bagi kewajiban dan tugas kita di dunia. *1 Life Workbook

Kegalauan hati Sunahsepa

Sunahsepa merenung panjang, di depannya duduk bersila Resi Kausika dan berada di sebelahnya Rohita, putra raja Harischandra, keduanya sedang bersamadhi. Aura kedamaian sang resi membuat rasa ketentraman merayapi dirinya.

Sunahsepa ingat, beberapa hari yang lalu dia bersama Rohita berjalan menuju istana dan melewati tempat pertapaan Resi Kausika. Melihat Resi Kausika, raja terkenal yang meninggalkan segala kenyamanan untuk bertapa mencari makna kehidupan hatinya terketuk. Rasa kepedihan, kegelisahan dan kebingungan yang meliputi dirinya seakan menemukan pintu gerbang penyelesaian. Dirinya langsung menjatuhkan kepalanya pada pangkuan sang resi dan menangis terisak-isak. Sang resi membuka matanya dan mengelus-elus kepalanya, “Anak muda, ceritakan apa yang terjadi, sekiranya aku dapat mengurangi penderitaanmu akan kubantu sepenuh hati.”

Dirinya kemudian menjelaskan, “Wahai bapa resi yang suci, kami berniat melakukan dharma. Tetapi selalu ada pertempuran sengit di dalam benak kami. Kami ini dapat disamakan dengan anak yatim piatu, ayah kami sayang dengan kakak sulung, sedangkan ibu kami sayang dengan adik bungsu. Diri kami sudah bersedia berkorban demi kemuliaan keluarga, hanya kadang terasa pedih, bahwa kami seakan-akan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga mereka. Diri kami pun juga sering merasa sudah tidak dianggap lagi sebagai warga negara. Demi raja dan putra mahkota, kami akan mengorban nyawa, tetapi tak ada satu pun yang memikir diri kami yang akan melakukan pengorbanan. Mereka semua tidak peduli dengan kegalauan perasaan kami. Wahai bapa resi tolong kami”. Kemudian dirinya menceritakan masalah yang dihadapinya kepada Resi Kausika. Baca lebih lanjut

Iklan

Adat versus Budaya

Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind/?p=181

 

 

Sebagaimana diberitakan oleh Radar Bali (16/08/09), kawan saya Dewa Gede Palguna mengkhawatirkan “penghancuran” Bali oleh dirinya sendiri. Sebabnya adalah “kesatuan-kesatuan hukum adat” yang barangkali membutuhkan peremajaan dan “kesadaran kolektif” yang baru.

 

Saya sangat setuju dengan pendapat Palguna. Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Padahal, semestinya itu tidak terjadi. Semestinya kekhawatiran kita tidak beralasan. Namun, faktanya kita khawatir, pun alasan kita sangat kuat. Yaitu, sebagaimana dijelaskan oleh Dewa Palguna, adanya konflik antara dan antar kesatuan-kesatuan hukum adat.

 

Kenapa hal ini mesti terjadi?

Karena, kita telah menyalahartikan istilah “adat”. Baca lebih lanjut

Kisah Raja Citraketu dan Asura Vrta bagian kedua Mencapai Narayana

Sadar, bebas dan hidup. Perhatikan urutan ini. Anda harus mulai dari kesadaran. Sadar dulu, baru memproklamasikan kemerdekaan. Kemerdekaan, kebebasan tanpa kesadaran tidak akan tahan lama. Kesadaran adalah bekal awal. Tanpa bekal itu, kemerdekaan yang anda proklamasikan tidak bermakna sama sekali. Sewaktu-waktu, jiwa anda bisa dijajah kembali. Dulu penjajahnya lain, sekarang penjajahnya lain. Budak tetap budak. Sekali lagi, sadarilah kemampuan diri, potensi diri-keilahian dan kemuliaan diri. Setelah menyadarinya, baru memproklamasikan kemerdekaan. Baru membebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri anda, yang merantai jiwa anda. Kemudian anda baru hidup. Anda baru bisa menikmati hidup ini. Anda baru bisa merayakan kehidupan anda! *1 ABC Kahlil Gibran

Kutukan Sati

Raja Parikesit, terus menyimak kisah Resi Shuka, bagaimanakah hubungannya Raja Citraketu yang menguasai kesadaran Brahmavidya dengan asura Vrta. Dirinya sengaja semakin membuka diri, kisah Resi Shuka dibiarkan leluasa memasuki relung-relung hatinya. Pola pikiran lama sengaja disingkirkannya dan bahkan dibuang dari dirinya, dipersilahkan pemahaman baru mengisi relung-relung  yang ditinggalkan oleh pola lama. Baca lebih lanjut

Memeriksa Visi SBY “Indonesia 2025″

Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind/?p=187

 

Dalam pidato kenegaraannya pada 15 Agustus 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan kemandirian, daya saing dan peradaban yang unggul sebagai tiga faktor penting dalam perkembangan bangsa.

 

Kemandirian Diri Bangsa, atau Nasionalisme dalam bahasa presiden pertama kita Soekarno, tak bisa lagi bertahan di luar bingkai yang lebih besar dari Internasionalime. Kemandirian diri nasional kita harus mengenal kesalingtergantungan antar negara. Dunia kita telah menjadi sebuah kampung global, di mana pun terjadi sesuatu di sudut desa, atau pada penghuni desa, mempengaruhi seluruh desa dan warga kampung.

 

Menanggapi pengeboman JW Marriott dan Ritz-Carlton baru-baru ini, beberapa ahli, analis dan aktivis yang “berpengetahuan” menganggap bahwa pembom tak mempunyai cukup alasan untuk menyerang negara kita, karena Indonesia tak sedang berperang dengan mereka, dan bahwa sebagai gantinya mereka boleh saja membom beberapa negara lain yang berperang dengan mereka, barangkali misalnya USA.

  Baca lebih lanjut

Rendra punya Bali

Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind

 

Seperti Mbah Surip, seperti para seniman lainnya, seperti nantinya juga saya dan Anda, W.S. Rendra pun akhirnya mati. Namun, lain matinya Rendra dan Mbah Surip, dan barangkali lain pula mati kita.

 

Rendra, seperti juga Mbah Surip meninggalkan cerita, banyak cerita. Kita belum tentu meninggalkan apa-apa. Hidup kebanyakan orang tanpa cerita yang berarti. Sekolah, pacaran, bekerja, berkeluarga, banyak uang, sedikit uang, keluarga bahagia, keluarga kurang bahagia, cerai, paksa mempertahankan perkawinan, beranak-pinak. Dan, akhirnya mampus.

 

Banyak diantara kita yang lahir, hidup dan mati seperti itu. Cerita kita ibarat garis lurus, entah vertikal, entah horisontal. Tapi tidak banyak liku-liku. Banyak perkara, tapi semuanya biasa-biasa saja. Baca lebih lanjut

Kisah Raja Citraketu dan Asura Vrta bagian pertama Pelajaran Ilahi

Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Tidak, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Kenapa? Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. *1 Mawar Mistik

Putra sang raja

Raja Parikesit bertanya kepada Resi Shuka, “Engkau telah menceritakan tentang kekejaman Asura Vrta, tetapi pada akhir kehidupannya dia dapat mencapai Narayana. Bahkan Vrta disebut bhakta Narayana. Aku bingung, bagaimana hal itu dapat terjadi, mohon dijelaskan. Bukankah, di dalam dunia ini hanya sedikit yang menapaki jalan dharma? Dan di antara jumlah sedikit tersebut sangat sedikit yang berpikir tentang moksha, lepas dari kelahiran dan kematian yang berulang kali? Di antara seribu orang yang berkeinginan moksha , hanya seorang yang benar-benar melepaskan keterikatan duniawi.  Kemudian di antara suatu jiwa yang demikian hanya seorang  yang akan mampu mencapai Tuhan? Mohon dijelaskan Vrta dapat menjadi bhakta Narayana.” Baca lebih lanjut

Mengambil hikmah dari perjalanan ke Pekanbaru Riau

Oh Tuhan Maha Pengasih. Engkau kusalami dengan rendah hati. Kerendahan hati adalah “buah kesadaran”/ kerendahan hati “terjadi” bila kita sadar akan jati diri kita. Sadar akan keunikan diri kita. Sadar akan keterkaitan diri dengan alam dan lingkungan sekitar kita. Sadar akan hubungan kita dengan Sang Maha Pengasih. Kerendahan hati terjadi bila kita sadar akan tugas serta kewajiban kita masing-masing. Dan, melaksanakannya dengan baik. Kerendahan hati berarti mengubah diri. Tidak mengharapkan orang lain berubah untuk dirinya. Dan, di atas Segalanya kerendahan hati berarti tidak angkuh ; tidak sombong; tidak merasa “sudah” cukup rendah hati…….. * 1 Fiqr

Riau yang unik

Begitu mendarat di Riau, para tamu akan disambut Lambang Provinsi Riau. Lambang tersebut juga terdapat di banyak baliho dan di  setiap papan nama kantor pemerintah. Sebuah lambang yang mengungkapkan kebahagiaan menyambut proklamasi kemerdekaan dan mengetengahkan akar budaya asal yang telah tertanam dalam pada masyarakat Riau.

Mata rantai tak terputus berjumlah 45 butir, membentuk tameng. Memberi arti persatuan dan kesatuan bangsa yang telah diprokalamasikan sejak tahun 1945. Di dalamnya berisi padi, kapas, gelombang laut, keris dan lancang kuning, jenis kapal layar yang khas daerah Riau. Padi kapas melambangkan kesejahteraan rakyat, lancang kuning mengandung arti semangat rakyat Riau dengan hasil laut yang melimpah. Gelombang 5 lapis melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Dan Keris Berhulu, kepala burung Serindit adalah kepahlawanan rakyat Riau berdasarkan kebijaksanaan dan kebenaran. Baca lebih lanjut