Asura Hiranyaksa dan Varaha Avatara


“Saya bukan seorang ateis, dan tidak terpikir saya dapat menyebut diri saya sebagai seorang panteis. Posisi kita seperti seorang anak kecil yang memasuki perpustakaan raksasa yang dipenuhi buku-buku aneka bahasa. Anak itu mengetahui seseorang pasti telah menulis buku-buku tersebut. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia tidak tahu bahasa-bahasa yang digunakan untuk menulis semua itu. Anak itu menduga ada sebuah keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu, namun tidak mengetahui apakah itu. Seperti demikian itu menurut saya, adalah sikap setiap manusia dengan keluhuran intelegensi terhadap Tuhan. Kita melihat jagat raya yang tertata secara mengagumkan dan tunduk pada suatu hukum, tetapi hanya sedikit yang memahami hukum ini.” Albert Einstein.

Perenungan Diti

Diti yang hamil tua menghela napas setelah mengalami pergulatan batin panjang. Matanya masih merah, dan napasnya masih tersengal-sengal. Diiringi isak-tangis kecil tertahan-tahan, benak Diti menerawang ke masa lalu……

Suaminya Resi Kasyapa diminta menikahi tiga belas putri Daksa, ayahandanya. Dirinya adalah salah satu istri Resi Kasyapa. Suaminya memang lembut lahir dan batin serta sangat tampan. Dirinya teringat kejadian masa lalu dan dirinya menjadi malu sendiri.

Pada saat itu, dirinya begitu bergelora ingin bercinta dengan suaminya, padahal suaminya sedang melakukan puja di kala matahari mulai terbenam. Perasaan cinta yang menggelora menyebabkan dirinya menderita yang tak tertahankan. Dirinya ingat, pada waktu itu suaminya berkata, “Tentu isteriku, seorang isteri mendapat tempat terhormat dalam jantung suaminya. Bahagia sekali aku dapat menemanimu. Akan tetapi ini adalah waktu suci, waktu siang dan malam bertemu, waktu yang belum tepat untuk memeluk istri. Sabar sebentar sayang…”

Kala itu wajah dirinya memerah, menahan marah dan malu. Waktu itu dirinya begitu angkuh……. pertahanan suaminya itu seberapa kuat sih? Dan dirinya mulai mengambil inisiatif, dan suaminya takluk, sehingga terjadilah peristiwa itu.

Pikiran, ucapan dan tindakan adalah benih yang akan berkembang menjadi lembaga, pohon, bunga  dan buah pada saatnya. Sesuatu yang telah terjadi tidak dapat ditarik kembali. Manusia dibekali pikiran jernih, sehingga tidak bertindak reaktif menuruti hawa nafsunya. Itulah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk yang lebih rendah tingkat kesadarannya.

Banyaknya peristiwa mesum di kuburan, di semak-semak belukar, menandakan tingkat kesadaran para pelakunya masih rendah. Apalagi bila secara sengaja minum minuman memabokkan sebelumnya. Dengan kata lain sudah sengaja menutup pikiran jernih. Kalau sudah demikian, maka nurani pun akan menyingkir. Selama belum berbuat dengan penuh kesengajaan, nurani akan selalu mengingatkan.

Dalam diri manusia masih terdapat ‘animal instink’. Hewan hanya beda kelas sedikit dengan manusia. Hewan makan daging mentah, manusia diberi bumbu dan diolah. Hewan tidur di liang dan manusia di rumah. Hewan melakukan seks pada saat musimnya dengan siapa saja tanpa pandang waktu dan tempat, manusia melakukan berdasarkan etika masyarakat.

“Diperdaya oleh nafsu cinta aku menjadi tuli dan buta terhadap lingkungan. “

Panca indra, pikiran dan tubuh adalah alat yang kita miliki untuk berinteraksi dengan dunia. janganlah membiarkan mereka memperalat kita. “perbudakan” pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makanan melulu… bukan hanya “makanan” yang masuk ke dalam tubuh kita lewat mulut, tetapi juga yang masuk lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran. *1 Mawar Mistik

Dirinya menyadari, bahwa pada saat itu dirinya ingin kebebasan dalam melakukan segala sesuatu tanpa belenggu aturan, namun sebetulnya yang terjadi dirinya malah diperbudak oleh nafsunya.

Manusia mendambakan kebebasan, tetapi yang dikejarnya justru perbudakan. Keterikatan dan keinginan berlebihan sesungguhnya menjerat manusia, memperbudak dirinya, membelenggu jiwanya. Sungguh tragis bila ia tidak menyadari hal itu. Padahal, kebebasan yang ia dambakan. *2 Nirtan

Dengan menghela napas Diti menyadari bahwa dirinya telah diperbudak nafsu. Dirinya lupa bandul lonceng itu semakin dekat pusat, pengaruhnya ke bawah semakin besar. Sedikit gerakan pemimpin di pusat akan memberikan goyangan besar di masyarakat. Dirinya berada dekat dengan pusat dunia. tindakannya akan berpengaruh besar terhadap dunia. Tanpa sadar, kama-nafsu, mada-keangkuhan dan krodha-kemarahan telah membakar dirinya kala berhubungan dengan suaminya.

 

Diti Dan Resi Kasyapa mohon ampun

“Aku takut, aku sudah menghina Shiva, sang Mahadewa, yang dilambangkan sebagai lingga dan yoni. Segala sesuatu dimulai dengan bertemunya energi Feminin dan energi Maskulin, Yin dan Yang, sperma dan ovum. Saat pertemuan yang seharusnya suci itu telah dipengaruhi aura kemarahan, keangkuhan dan nafsu yang menggelora. Apakah aku akan melahirkan seorang raksasa?”

Dirinya ingat, setelah beberapa malam berlalu, seakan Shiva, Sang Mahadewa mengajarinya bagaimana melakukan tindakan suci lewat mimpi. Dirinya melihat sepasang suami isteri mengadakan ritual dan kemudian sambil berdiri mereka berdoa bersama, “Kami mengundang seluruh kekuatan alam untuk menyatakan dan mengungkap kehadirannya di upacara pertemuan antara Yin dan Yang, Shiva dan Shakti yang akan terjadi sesaat lagi.” Selanjutnya sepasang suami-istri duduk berhadapan dalam posisi namaskar sang pria bicara, “Aku menyembah shakti yang ada dalam dirimu berkenanlah untuk menerima persembahan dan mengungkapkan dirimu padaku sehingga mahashakti menjadi parashakti.” Sang Wanita menjawab, “Aku menyembah Shiva yang ada dalam dirimu berkenanlah untuk menerima persembahan dan mengungkapkan dirimu padaku sehingga adishiva menjadi sadhashiva.”…….. begitu sakral.

Bangun dari mimpi, dirinya melihat suaminya sedang bersedih hati. Dirinya mendekati Resi Kasyapa, suaminya yang sedang berlinang air mata. “Isteriku, pikiran kita telah diisi keduniawian, maka kita akan mempunyai dua putra yang jahat. Yang mengganggu tiga dunia dan para Dewa akan menderita.”

“Baiklah Suamiku, mari kita perbaiki kesalahan kita. Mari kita mohon ampun pada Gusti. Ada permohonanku pada Gusti, biarlah putra-putraku nanti dibunuh oleh tangan Wisnu sendiri dan tidak karena kutukan Brahmin.”

Doa mereka seakan-akan terjawab, mereka seolah-olah mendengar suara, “Dosa akan berkurang jika sudah ada penyesalan. Anakmu akan dibunuh Wisnu sendiri dan cucumu yang bernama Prahlada akan menjadi bhakta Gusti yang terbesar.”

Pada dasarnya, ‘Kau’ – ‘Aku’ yang menghuni badan ini tak ternodakan. Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Begitu kau sadar, kau dapat mengoreksi dirimu. Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadaran-Nya, dalam kesadaran ‘Aku’ yang sejati, dalam kesadaran Ia. Pada kondisi semacam itu kekhilafan tak akan terjadi. Dalam kesadaran ‘Itu’, seseorang tidak dapat menjadi khilaf lagi. Ia tak membunuh, juga tak terbunuh. *3 Bhagavad Gita

Beberapa purnama kemudian, dalam mimpi, Dirinya melihat dua raksasa tinggi besar dan perkasa bersimpuh dihadapannya. “ Ibu, sudah lama kami menunggu. Sifat bawaan dari pasangan ayah ibu sesuai dengan jiwa  kami untuk menyelesaikan perhitungan kami di dunia.” Dirinya merasa ada dua ruh raksasa kembar yang masuk kedalam janin yang dikandungnya……..

 

Pengawal Gerbang Istana yang angkuh

Sepasang Patung Raksasa yang sampai kini ditempatkan di kanan kiri gerbang masuk bangunan di seantero Nusantara adalah gambaran dari dua pengawal istana Vaikunta yang setia. Jaya dan Wijaya adalah penjaga gerbang Istana tempat Wisnu berada. Bung Karno juga memberikan nama puncak gunung di Papua sebagai Gunung Jaya Wijaya sebagai penjaga gerbang di sebelah Timur.

Resi Sanaka dan tiga saudaranya bermaksud akan bertemu Wisnu dan ditolak oleh Jaya dan Wijaya, karena Wisnu sedang bercengkerama dengan Laksmi. Resi Sanaka tidak suka atas cara penolakan mereka. Ketika Resi Sanaka bilang bahwa dia sudah mempunyai perjanjian dengan Wisnu, mereka tetap melarang. Resi Sanaka mengutuk mereka, “Aku melihat adanya kemarahan, keangkuhan dan nafsu merasa benar ketika melarangku. Kalian merasa begitu dekat dengan Wisnu, sudah seharusnya kalian menolakku secara baik-baik. Disebabkan tindakan kalian. Maka kalian akan lahir di dunia dengan kama-gairah nafsu, krodha-kemarahan, mada-keangkuhan untuk melawan Wisnu.”

Wisnu keluar dari istana dan kedua penjaga berlutut di bawah kaki Wisnu. Wisnu berbicara pelan, “Semuanya memang harus terjadi, Aku merestui tindakan Resi Sanaka mengutuk kalian. Kalian akan dilahirkan di dunia tiga kali. Kalian akan membenci aku dengan kebencian yang teramat besar. Itulah Jalan pintas  penyatuan, jalan pintas yoga dimana kalian berpikir lebih banyak tentang diriku daripada kalian menjadi menjadi bhaktaku. Prioritasmu adalah mengalahkanku, semua pikiran lain kau kesampingkan. Bahkan selain saat tidur lelap, dalam mimpi pun kalian hanya memikirkan diriku.”

Sedih dan putus asa menghinggapi benak Jaya dan Wijaya, bahkan pada saat meninggal, keduanya hanya berpikir tentang Wisnu dan kesalahan yang telah diperbuat mereka.

Apa yang menjadi obsesi dan penyesalan saat menjelang kematian konon mengakibatkan seseorang lahir kembali, untuk menyelesaikan hutang dan obsesinya. Konon seorang yang Master yang ingin lahir kembali untuk memandu masyarakat, membuat diri nya sendiri menyesal menjelang  akhir hayatnya. Misalnya dengan penyesalan bahwa belum ada satu orang muridnya pun yang memahaminya. Alam akan berbahagia, merasa mendapat berkah dari Master yang  bersedia memandu manusia dalam kehidupan mendatang.

 

Pusat Rehabilitasi Diri

Lahir ke dunia merupakan bukti nyata bahwa kita belum sempurna

Tetapi dunia bukan bui atau penjara

Menurut Guru,

Dunia lebih cocok disebut Pusat Rehabilitasi

Programnya disesuaikan bagi setiap diri

Rehabilitasi khusus yang didisain mulia

Agar setiap jiwa menjalani program pembersihan dan pelurusan

Semuanya terarah bagi jiwa

Agar mengalami proses pensucian dan pengembangan

 

Kelahiran di lingkungan tertentu pada suatu masa

Orang tua dan saudara pun bukan tanpa rencana

Negara kelahiran diselaraskan pula

Sahabat dan musuh juga ada alasannya

Semuanya mempunyai tujuan utama

Untuk pensucian dan pengembangan jiwa

 

Rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan

Dimaksudkan demi pembersihan dan pengembangan

Menyalahkan orang lain dan mencari kesalahan

Mengeluh dan kecewa berlebihan

Belum menyadari program dari Keberadaan

 

Memahami hal demikian

Sudah waktunya menerima semua dengan penuh kesadaran

Melampaui kesenangan dan kedukaan

Biarlah mekanisme alam yang berjalan

 

Dari pagi hingga malam

Sejak matahari terbit hingga saat terbenam

Sejak membuka mata hingga waktu terpejam

Biarlah semua diatur alam

Jalani semua

Lampaui semua

Perjalanan mulia

Kembali kepada-Nya

 

Hiranyaksa

Malam itu Hiranyaksa mempersiapkan diri untuk menghadapi duel dengan Wisnu.  Hiranyaksa merasa apabila dirinya berhasil mengalahkan Wisnu dirinya akan menjadi penguasa mutlak tiga dunia. Memang dalam dirinya hanya ada satu keinginan, keinginan menaklukkan Wisnu yang amat dibencinya. Dan, pikirannya melayang ke masa sebelumnya…….

Ayahnya adalah Resi Kasyapa yang bijak. Ibunya adalah seorang perempuan energik yang bergelora semangatnya. “Genetik mereka berada dalam diriku. Aku adalah Asura yang cerdas dan bersemangat. Tiga dunia praktis sudah kukuasai. Asura tunduk padaku dan pada Hiranyakasipu, saudaraku. Para Dewa miris terhadap aku dan saudaraku. Hanya Wisnu, satu-satunya penghalangku.”

Dirinya ingat bahwa dia berkeliling mencari Wisnu dan begitu angkuh saat bertemu Ular Raksasa Varuna. Dirinya bermaksud mengajak duel. Tetapi Varuna berkata pelan, “Aku sudah tua dan sudah lama menghentikan perkelahian.  Berkelahilah dengan Wisnu, musuhmu yang sebanding. Temuilah Narada dan tanyakanlah di mana Wisnu berada.”

Narada berkata, “Kamu ingin berkelahi dengan Wisnu? Dia sedang mengambil wujud Varaha, Celeng Raksasa. Dia sedang di Rasatala, sedang mengangkat bumi.”

Tatkala Varaha menaikkan bumi dari dasar samudera, Hiranyaksa mengejarnya. Hiranyaksa menantang Varaha berduel dan menghinanya. Sang Varaha, menggeram, “Aku sedang menjadi binatang buas maka aku mendengar ocehanmu. Kau mengatakan bahwa dirimu pembela para Asura dan ingin membersihkan jalan Asura dari duri yang melukainya. Aku kau anggap duri. Bukan, Aku bukan duri, Aku Maha Pembalas Kejahatan. Sudah banyak sekali korban kezalimanmu. Sudah berulang kali kau menggunakan kekerasan dalam memaksakan kehendak. Kau telah menakut-nakuti masyarakat dengan menebar ancaman. Aku tidak suka kekerasan, tetapi aku sedang mewujud menjadi binatang buas, mari bertarung! Saatnya kau mempertanggung-jawabkan kekerasan yang telah kau lakukan berkali-kali.”

Pertarungan yang luar biasa, berdarah-darah. Dunia gemetar, bumi berguncang, laut menggelegak, gunung-gunung tak sanggup menahan dan mengeluarkan muntahan api, taufan badai mengamuk. Pada akhirnya Hiranyaksa terbunuh oleh tangan Wisnu yang sedang mewujud sebagai Varaha.

 

Alam sungguh adil

Hiranyaksa yang keras dan kejam, meninggal dengan penuh kekerasan dan kekejaman. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan evolusi, manusia modern juga telah banyak membunuh hewan dengan cara tidak langsung. Sudah sepantasnya manusia pun akan dibalas dengan cara yang tidak langsung pula.

Karena kita telah membunuh 6000 ekor ayam semasa hidup kita, ditambah lagi dengan sekian kerbau, sapi, kambing, udang, kepiting, dan ikan, tidak berarti setiap hewan akan menyerang kita kembali, dan kita harus mati sekian kali. Tidak demikian. Yang menjadi persoalan adalah “pembunuhan” itu sendiri. Hewan-hewan yang kita sembelih itu tak akan membunuh kita satu persatu. Mereka menyerang kita lewat sekian banyak virus, kuman yang kemudian menyebabkan kematian kita. Alam sungguh adil. Kita membunuh, kita terbunuh. Kematian yang kita anggap alami sesungguhnya tidak alami. Kita mendapatkan hukuman atas serangkaian pembunuhan yang kita lakukan semasa hidup. Ini baru “satu” contoh. Masih banyak contoh-contoh lain. *4 Vadan

Terima Kasih Guru.  Guru merupakan sumber pengetahuan yang tak ada habisnya. Semua terberkati oleh-Mu. Jay Gurudev!

*1 Mawar Mistik         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka                           Utama, 2007.

*2 Nirtan                   Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003.

*3 Bhagavad Gita        Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna,                          PT Gramedia Pustaka Utama  2002.

*4 Vadan                   Vadan Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,                           2003.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: