Hidup yang Dijalani dalam Keseimbangan ialah Hidup yang Spiritual


Oleh Anand Krishna

Terjemahan Nugroho Angkasa

http://www.aumkar.org/ind/?p=160#more-160

 

Ada pepatah di kalangan mistik Sufi: Dahulu, “Sufi” sebagai sebuah istilah tidak ada, tapi orang menghayati ajaran Sufi. Sekarang, istilah “Sufi” ada – tapi tak ada yang menghayati pesannya.

Sayangnya, hal ini terjadi pula pada Tri Hita Karana – sebuah ajaran spiritual yang berakar dari dalam kebudayaan kuno di Indonesia dan masih begitu populer di Bali.

Tri berarti “Tiga”. Uniknya “3” ialah salah satu angka terpenting dalam semua tradisi agama. Ada Trinitas di kalangan umat Kristiani: Tuhan sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ada Trinitas Sufi, yakni Guru Spiritual atau Murshid; Nabi atau Rasul; dan Tuhan, Allah.

Trinitas asli Bali dan dari kepulauan Indonesia disebut Trimurti – “Tiga Bentuk”. Ketiga bentuk tersebut bisa dijelaskan dengan menguraikan kepanjangan kata “God”; “G” Generator, Pencipta, “O” Operator, Pemelihara dan “D” Destroyer, Pemusnah. Dalam bahasa kuno, ketiga fungsi tersebut mengacu pada berturut-turut sebagai Brahma, Visnu dan Shiva.

Dalam Trinitas masyarakat Bali, fungsi Tuhan sebagai pemusnah dibutuhkan sebagai prasyarat regenerasi. Secara berkesinambungan mencari keseimbangan dan harmoni, ketiga fungsi yang tampaknya berbeda membentuk sebuah lingkaran. Shiva sering disimbolisasikan sebagai Lingga atau organ kelamin pria, dengan Yoni atau organ kelamin wanita di bawahnya. Ini simbol yang sudah lengkap dalam dirinya sendiri; simbol yang dapat merepresentasikan ke-3 fungsi Tuhan tersebut.

Di zaman modern, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggunakan angka “3” untuk merespon isu panas perubahan iklim dan dampaknya pada kita semua: Reduce (Kurangi), Reuse (Pakai Ulang) dan Recycle (Daur Ulang). Demikian pula di ranah ilmu pengetahuan, kita memiliki elektron, proton dan neutron. Neutron ialah Visnu atau aspek operasional Tuhan. Mereka menggandeng bersama proton atau Brahma; dan elektron atau Shiva, sebagai elemen positif dan negatif.

Selain itu manusia memiliki tiga lapisan kesadaran utama: secara umum disebut tubuh, pikiran dan jiwa. Bisa juga disebut lapisan fisik, mental/emosional dan psikis. Dengan mengembangkan ketiganya, kita berevolusi secara spiritual.

Sekarang, lebih jauh tentang Tri Hita Karana….

Hita ialah “Kemakmuran”, dan Karana berarti “Sebab”. Tiga Sebab Kemakmuran, atau lebih tepatnya Sejahtera lahir-batin – itulah arti Tri Hita Karana. Atau, kalau Anda mau, bisa juga diartikan sebagai tiga panduan untuk hidup seimbang dengan keberadaan.

Di masa lalu, tak hanya penduduk di pulau Bali, tapi juga seluruh masyarakat di kepulauan Indonesia menghayati hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Tri Hita Karana. Walaupun, di zaman tersebut, konsep yang mendahului penggunaan tersebut berupa istilah Tri Hita Karana belum ada. Frase tersebut baru dikenal kemudian. Para akademisi melacak penggunaan kembali istilah tersebut pada sebuah konferensi di Universitas Dwijendra Bali pada tanggal 11 November 1966.

Tapi, cukuplah tentang sejarah istilah tersebut; mari kita menelusuri kedalaman maknanya. Penjelasan umum yang diberikan di Internet dan media cetak tentang Tri Hita Karana begitu sederhana: ”Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dan Tuhan; antara manusia dan manusia lain, dan antara manusia dengan lingkungan alam.” Dalam bahasa Bali, kita memiliki 3 istilah untuk ketiga tipe hubungan tersebut: Parahyangan untuk hubungan kita dengan Tuhan atau para Dewa; Pawongan untuk hubungan kita dengan sesama manusia; dan Pelemahan untuk hubungan kita dengan lingkungan alam.

Pemuka agama kita sering menjelaskan hubungan kita dengan Tuhan secara vertikal. Sedangkan hubungan kita dengan sesama umat manusia dan lingkungan alam dikatakan sebagai hubungan horisontal. Bagaimana kita bisa membuat garis semacam itu? Saya juga ingin bertanya: Apakah ini mungkin?

Kesalahpahaman yang lebih parah ialah anggapan bahwa ada tingkatan dalam hubungan-hubungan tersebut; bahwa hubungan dengan Tuhan memiliki tingkatan lebih tinggi di atas hubungan dengan alam dan umat manusia.

Sebab utama menjadi ”Sejahtera”, Karana pertama dari Hita – ialah bukan menjaga keseimbangan dan harmoni antara kita dan Tuhan, tapi ”menyadari Tuhan dalam satu dan segalanya”. Ini berarti mengalami kemahahadiran Tuhan – yang merupakan sebab utama keberadaan manusia.

Sebab utama ialah dasarnya, di mana kedua sebab lainnya berdiri. Atau, lebih tepatnya, ketiga sebab tersebut pada hakikatnya Tri Tunggal. Tiga tapi Satu. Trinitas Suci abadi yang tak terpisahkan.

Kepercayaan kepada Tuhan tak bisa membantu tapi bisa dipahami sebagai mencintai pelayanan terhadap kemanusiaan. Kasih Tuhan membawa keceriaan di antara anggota masyarakat manusia. Apa gunanya kepercayaan kita pada Tuhan, jika kita tidak dapat hidup secara damai dan harmonis dengan tetangga di sebelah kita? Ini sebab kedua, Pawongan.

Ini bukan keseimbangan antara sesama umat manusia, tapi prinsip dari ”satu untuk semua, dan semua untuk satu” – di mana ”satu” bukanlah ego kecil kita, suka atau tidak suka, syak-wasangka dan kepentingan diri – tapi ”kebaikan bagi sebanyak mungkin orang”.

Sebab ketiga ini mencurahkan perhatian bagi lingkungan: alam – tumbuhan dan binatang. Ini ialah realisasi spirit yang satu dan sama – elan vital kehidupan yang satu dan sama adanya dalam semua makhluk hidup. Ini ialah laku jaman dahulu yang mengejawantahkan teori modern Relativitas Einstein. Inilah kebijaksanaan di balik penemuan besar para ilmuwan.

Jauh sebelum Al Gore, PBB dan lembaga-lembaga lainnya mulai berbicara tentang perubahan iklim dan dampaknya pada kita semua; jauh sebelum pemanasan global menjadi isu panas – para leluhur kita sudah menasehati kita agar berdamai dengan lingkungan alam di sekitar kita.

Bagaimana kita bisa mencintai Tuhan, Sumber dan Asal Muasal segala sesuatu di balik yang ada ini, dan masih membenci keberadaan itu sendiri? Bagaimana kita tetap bersahabat dengan Sang pencipta, dan merusak ciptaannya? Pembom di Bali, anggota Taliban, dan kelompok teroris lainnya musti memahami, dan memahaminya dengan baik, bahwa mereka tidak beragama.

Tindakan kriminal yang mereka lakukan atas nama agama – tak bisa dibenarkan. Sebutan ”Ia yang dikasihi oleh Allah” atau ”Kekasih Allah” yang mereka sering cantumkan didepan nama – menunjukakan itu semata khayalan dan halusinasi ciptaan mereka sendiri.

Sama halnya, dengan para pejabat, pengusaha dan koleganya di Bali dan di mana saja, lebih baik memahami, dan musti memahaminya dengan benar juga – bahwa pengrusakan alam dan lingkungan akan menyebabkan lingkungan tak menghargai mereka pula. Mereka dapat bermain dengan hukum dan peraturan buatan manusia, tapi mereka tak dapat menipu hukum keberadaan – hukum sejati alam ini.

Anand Krishna ialah aktivis spiritual dan pengarang lebih dari 120 buku lebih, beberapa di anataranya berbahasa Inggris. Kunjungi websitenya, http://www.aumkar.org dan http://www.anandkrishna.org. Artikel ini ialang saripati dari bukunya yang berjudul sama. Untuk informasi lebih lanjut tentang buku-bukunya dan aktivitas lainnya hubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595, 8477490.

Oleh Anand Krishna uUntuk The Bali Times(27 Juli 2009)
Terjemahan oleh Nugroho Angkasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: