Kisah Raja Citraketu dan Asura Vrta bagian pertama Pelajaran Ilahi


Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Tidak, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Kenapa? Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. *1 Mawar Mistik

Putra sang raja

Raja Parikesit bertanya kepada Resi Shuka, “Engkau telah menceritakan tentang kekejaman Asura Vrta, tetapi pada akhir kehidupannya dia dapat mencapai Narayana. Bahkan Vrta disebut bhakta Narayana. Aku bingung, bagaimana hal itu dapat terjadi, mohon dijelaskan. Bukankah, di dalam dunia ini hanya sedikit yang menapaki jalan dharma? Dan di antara jumlah sedikit tersebut sangat sedikit yang berpikir tentang moksha, lepas dari kelahiran dan kematian yang berulang kali? Di antara seribu orang yang berkeinginan moksha , hanya seorang yang benar-benar melepaskan keterikatan duniawi.  Kemudian di antara suatu jiwa yang demikian hanya seorang  yang akan mampu mencapai Tuhan? Mohon dijelaskan Vrta dapat menjadi bhakta Narayana.”

Selanjutnya Raja Parikesit menyimak kisah Resi Shuka dengan seksama.

“Raja Citraketu adalah seorang raja yang bijaksana. Hanya saja semua isterinya tidak melahirkan seorang putra pun.” Sang raja selalu berdoa memohon kelahiran seorang putra yang akan menjadi putra mahkota. Pada suatu hari Resi Angirasa dan Resi Narada datang ke tempat sang raja. Resi Angirasa berkata, saya sangat senang dengan keramahtamahan raja dan sudah melihat sendiri kearifan sang raja. “Baik aku mencoba menolongmu. Mari kita mengadakan upacara persembahan. Selanjutnya berikan sisa-sisa ritual persembahan ini untuk dimakan isteri tertuamu.”

Sang raja sangat berterima kasih dan dalam waktu kurang dari setahun  sang putra lahir. Kegembiraan raja tak mengenal batas. Dia menjadi sangat terikat dengan sang anak. Demikian pula sang ibu, isteri tertua yang merasa paling berbahagia dan menjadi kurang tenggang rasa terhadap isteri-isteri lainnya.  Para isteri lainnya sangat cemburu, dan kejernihan pikiran mereka hilang.  Pada waktu sang ibu lengah, maka putra tersebut diracuni oleh mereka.

Sang raja dan isterinya menjadi sangat sedih dan membuat mereka hampir kehilangan ingatan.

 

Petunjuk Resi Angirasa

Beberapa saat setelah kematian sang putra, Resi Angirasa dan Resi Narada menemui sang raja yang pada saat itu sudah tidak mengenali mereka lagi. Pikiran raja sedang kacau balau. Di waktu larut dalam kesedihan, semua pengetahuan tentang hukum sebab-akibat yang sudah berada dalam benaknya menjadi terlupakan.

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada. Pertemuan kita, perpisahan kita, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. Yang namanya takdir itu apa? Memang yang tengah kita alami sekarang ini merupakan takdir kita, sudah ditentukan oleh masa lalu kita. Tetapi yang menentukannya siapa? Kita, kita juga. Apa yang kita buat pada masa lalu menentukan masa kini kita. Nah, Sekarang, apa yang kita buat sekarang, dapat menentukan masa depan kita. Takdir sepenuhnya berada di tangan Anda. Bagi mereka yang mengetahui mekanisme alam ini, hidup menjadi sangat indah. Ia tidak akan menangisi takdirnya. Ia tahu persis bahwa ia pula yang menentukan takdirnya sendiri. Ini yang disebut Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat. Karma berarti tindakan, karya. Karma bukan berarti tindakan baik, ataupun tindakan buruk, sebagaimana anda tafsirkan selama ini. Anda yang menderita, anda katakan itu Hukum Karma. Hubungan-hubungan Anda pada masa lalu, menghubungkan Anda kembali dengan mereka yang menjadi kawan Anda, keluarga Anda pada masa kini. *2 Reinkarnasi

Resi Angirasa berkata, “Raja cobalah berpikir jernih, kau adalah raja yang arif bijaksana. Kau sangat kehilangan putramu. Coba pikir apakah di kehidupan-kehidupan sebelumnya  dia adalah putramu?  Kemudian nanti di kehidupan-kehidupan sesudahnya, apakah dia juga menjadi putramu? Dalam kehidupan ini, kamu dan putramu hanya bersama dalam sementara waktu.”

“Seperti tumbuhan yang lahir dari benih, demikian pula tak seorang pun dapat mengklaim sebagai anaknya. Ditipu ilusi maya kau sangat sedih. Ini hanyalah masa sesaat dimana anakmu hidup bersama denganmu. “

“Dia menciptakan, Dia pula yang memusnahkan. Raga binasa mengikuti aturan hukum alam. Apa pun yang lahir akan mati. Bagaimana pun jiwa tidak mati.  Dengan demikian tak usah berkabung terlalu dalam. Ikatan terjadi karena ketidaktahuan. Sekali engkau melenyapkan ketidaktahuan ini, dukacitamu akan lenyap.”

Raja Citraketu tersinggung, “Siapakah kalian?  Jiwa yang bebas seperti  kalian pergi ke seluruh dunia  untuk memberi pelajaran kebenaran untuk menipu orang-orang seperti diriku.”

“Wahai raja, aku adalah Angirasa yang membantumu mendapatkan seorang  putra, dan ini adalah Narada. Dulu kami datang kepadamu untuk mengajari Brahmavidya, pengetahuan keilahian. Akan tetapi kami melihat kamu masih terjerat ilusi. Kamu mempunyai keinginan duniawi untuk mempunyai seorang putra. Dan keinginanmu sudah terkabul…… Dan, sekarang kau menderita karena kehilangan putramu.”

“Wahai raja, perempuan, anak, rumah, kekayaan, kemuliaan dan obyek indera adalah penyebab penderitaan.  Mereka semua itu adalah mimpi. Mereka tidak abadi. Kamu suka ketika mendapatkannya dan kau berduka ketika kehilangannya. Padahal semua hal tersebut tidak ada yang abadi. Setelah kesukaan akan timbul kedukaan. Bangunlah dari mimpi wahai raja.”

 

Mantra Resi Narada

Resi Narada berkata, “Aku akan memberimu sebuah mantra. Setelah mengulang selama satu minggu, kau akan melihat  wujud ilahi. Kemudian kamu akan melepaskan dualitas. Dan akan mencapai kebebasan.”

Selanjutnya Resi Narada menghidupkan sang putra dan sang putra pun hidup kembali dan memberikan pesan kepada ayah dan ibunya.

“Ayahanda dan ibunda, simak kisahku tentang satu batang emas. Batang emas tersebut pada hari ini ditempatkan pada seorang yang pelit. Sebelumnya batang emas tersebut masih berada dalam kotak penjual emas.  Setelah itu akan batang emas tersebut selama bertahun-tahun dalam penyimpanan harta seorang raja. Si pelit, penjual emas dan sang raja masing-masing mengatakan pada suatu saat  bahwa emas tersebut berada dalam kotak mereka.  Tetapi mereka tidak menyadari bahwa batang emas tersebut bukan milik kotak emas atau pun milik pemilik emas. Demikian pula atman tidak punya keterikatan dengan kotak atau raga yang sedang  membawa dirinya ataupun orang tua dari pemilik raga.  Atman tidak terikat dengan kotak siapa pun.” Dan, sang putra pun lenyap.

Mereka yang hadir sadar, mereka semua telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, Raja Citraketu dan  ibu sang putra sadar. Demikian pula para istri lainnya sangat menyesal terhadap tindakan mereka.

Dunia Benda ini tidak kekal, tidak abadi. Kebendaan berubah terus. Apa yang kumiliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja. Sebab itu, Kebendaan tidak dapat membahagiakan diriku untuk selamanya. Sesuatu yang bersifat tidak kekal, tidak abadi – tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi. Lalu, adakah sesuatu yang abadi? *3 Panca Aksara

 

Penampakan wujud ilahi

Raja Citraketu mematuhi panduan Resi Narada dan melaksanakan puja mantra selama satu minggu dan dia mendapatkan penampakan wujud ilahi.

Narayana bersabda kepada sang raja, “Ini adalah pelajaran brahmavidya. Seluruh alam ini diliputi oleh Aku. Aku adalah penglihat, yang dilihat dan proses melihat.”

“Manakala sedang tidur seorang manusia melihat dunia: pohon, pegunungan dan obyek-obyek  lain. Wajar bahwa seluruh dunia mimpi diciptakan olehnya sendiri dengan pikirannya.  Bagi orang yang telah menyadari Tuhan, dunia ini pun dianggap sama dengan mimpi. Dan manakala ia bangun dari mimpi itu, maka dia tahu bahwa semua di dunia ini hanya merupakan ilusi.”

“Seorang manusia mengalami tiga keadaan, terjaga, mimpi dan tidur lelap. Manakala ia terjaga, maka dunia mimpi tidak ada. Manakala ia bermimpi maka dunia jaga tidak ada. Tetapi dalam tiga keadan tersebut ada sesuatu yang berkata, aku terjaga, aku mimpi dan aku tidur lelap.  Sesuatu itu adalah atman, itu adalah aku dan kamu. Sekali kau menyadari kebenaran ini, setelah itu tak ada lagi penyebab penderitaan dan kesenangan. Kamu tidak bisa membedakan dua hal karena keduanya adalah sama.  Keadaan yang membuat kamu melihat segalanya diliputi oleh aku adalah keadaan  Brahmi.”

Kapan saja kebenaran ini dilupakan, kemudian  jiwa terlibat dalam dunia obyek, dan melupakan alami yang sebenarnya. Ia menjadi korban dari permainan yang bertentangan dan ia tidak mendapatkan kedamaian.

“Dalam dunia orang bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan dan mereka mencoba untuk menghindari ketidakbahagiaan. Mereka tidak mencapai kebahagiaan maupun kebebasan dari ketidakbahagiaan. Manusia harus menyadari yang satu ini. Pertimbangkan pelajaran ini dan kamu akan segera mencapai aku dan menjadi satu dengan-Ku.”

Ternyata, apa yang terjadi, perubahan yang terjadi pada badanku, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta merta merubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Kau berhadapan dengan Sang Aku Sejati, Aatmaa. Ketika “aku” menyadari hal itu, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu – dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Wow, setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq.*3 Panca Aksara

Wujud Ilahi menghilang dari penglihatannya, dan raja diliputi kedamaian  yang berada di luar semua pemahamannya. Ia bahagia dan ia mengetahui bahwa ia tidak pernah tak berbahagia. Beribu-ribu tahun dilalui sang raja dengan gembira dan dia tak mempunyai keterikatan dan tidak punya penderitaan. Ia menghabiskan waktunya di dalam menyanyikan pujian pada Tuhan dan demikian waktu lewat.

Raja Parikesit terharu, butir-butir air matanya membasahi kedua pipinya. “Terima Kasih Guru, tanpa panduan-Mu, diriku tidak dapat mengenal Tuhan. Semua menjadi jelas karena rahmat dan karunia Guru. Jay Gurudev!”

Kehidupan abadi tidak berarti bahwa seseorang dapat menghindari kematian. Sama sekali tidak, karena kelahiran dan kematian merupakan dua sisi kehidupan. Ia akan sadar bahwa yang mati adalah raga, bahwasanya jiwa tidak mati. Begitu ia mengidentifikasikan dirinya dengan jiwa, kematian raga tidak akan membuatnya gelisah lagi. Dalam kesadaran jiwa, kita semua hidup abadi. Hanya saja, ada yang sadar akan hal itu, ada yang belum sadar. * 4 Bhagavad Gita

Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu!

*1 Mawar Mistik         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*2  Reinkarnasi           Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.

*3 Panca Aksara            Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.*

* 4 Bhagavad Gita               Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Agustus 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: