Akashic Memory Ratu Leela, Kisah Resi Vasishta kepada Sri Rama

Otak kita “mengerjakan” lebih dari 15 miliar sel dalam seluruh tubuh kita. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi radio waves, gelombang suara. Karena itu, hampir semua agama bicara tentang cahaya sebagai awal kejadian. Electric impulse, radio waves itu seperti petir: pertama kita melihat cahayanya, kemudian mendengar suaranya. Saat melihat cahaya, kita sudah dapat memastikan sesaat lagi akan mendengar suaranya. Fenomena petir ini berlangsung pula pada manusia. Setiap pikiran yang muncul dalam otak kita juga merupakan sebuah electric impulse. Kemudian, electric impulse itu berubah menjadi radio waves, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir pun terucap oleh kita. Namun, ada yang membedakan manusia dari petir. Ini pula yang membedakan manusia dari hewan, dari makhluk-makhluk lain. Cahaya petir yang terlihat dan suaranya yang terdengar “berjarak”, persis seperti pikiran dan ucapan atau tindakan manusia, namun, jarak antara cahaya dan suara petir merupakan harga mati. Jarak itu sudah tidak dapat diganggu gugat; tidak dapat diperpanjang; tidak dapat diperpendek. Cahaya maupun suara mengikuti hukum alam dan sampai ke mata atau telinga kita dengan kecepatan yang sudah diatur. Kecepatan itu tidak dapat diubah. Tidak demikian dengan manusia. Jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakannya dapat diubah; dapat diperpanjang; dapat dihapus menjadi nihil atau menjadi tak terbatas. *1 Neo Psyhic Awareness

Antara waktu dan kecepatan cahaya

Kecepatan cahaya sekitar 300.000 km/detik sedangkan kecepatan suara sekitar 344 m/detik atau 1238 km/jam.

Jika kita bergerak cepat mendekati kecepatan cahaya, maka benda-benda yang bergerak nampak bergerak secara perlahan.  Ketika kecepatan gerakan kita sama dengan kecepatan cahaya maka benda yang bergerak akan nampak diam. Kecepatan waktu diasumsikan sama dengan kecepatan cahaya. Berdasarkan hal tersebut, maka jika kita bergerak melebihi kecepatan cahaya maka kita kita bisa pergi ke masa depan atau masa lalu. Itulah dasar pijakan dari film-film fiksi tentang masa lalu dan masa depan. Baca lebih lanjut

Kisah Tentang Ahalya, Penebusan Kesalahan Seorang Wanita

Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin. Mereka semua sama-sama jatuh. Tidak perlu membeda-bedakan antara kulit pisang, kulit mangga, dan lantai yang licin. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dua-duanya sama lemah. Untuk itu, dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat menjadi umpan dan memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari. *1 Shangrila

 

Hasrat Indra terhadap Ahalya

Dalam perjalanan menuju Mithila untuk mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Sinta, Sri Rama, Laksmana dan Resi Wiswamitra melewati sebuah bekas peninggalan gubuk tua yang tidak terawat dan sebuah batu besar  yang  tertutup oleh semak belukar. Tak ada manusia yang mau beristirahat  sejenak pun di tempat tersebut.  Mereka berhenti sebentar dan Resi Wiswamitra menceritakan tentang Kisah Ahalya dan Resi Gautama yang hidup satu abad sebelumya di gubuk tersebut.

Konon adalah seorang wanita sangat cantik bernama Ahalya, dia adalah saudari dari para Kartika, putri-putri Bintang. Ahalya disebutkan sebagai wanita paling cantik di dunia dan disamakan dengan bintang Pleiades. Indra sangat tergila-gila dengan Ahalya dan ingin bercinta dengan Ahalya. Akan tetapi Ahalya selalu berada dekat dengan suaminya Resi Gautama. Baca lebih lanjut

Pengantar Tulisan Kisah-Kisah dalam Ramayana

Alam tak terkendali oleh adat. Alam lebih tinggi dari adat. Adat adalah bagian dari alam. Adat bersifat sementara. Alam langgeng, abadi. Alam tak tertaklukkan oleh adat. Dan, sesungguhnya sifat dasar manusia bersifat “alami”. Sifat dasar seorang bayi bukanlah produk suatu adat. Adat dan kebiasaan adalah pemberian masyarakat dimana dia lahir. Saat baru lahir, manusia tidak memiliki adat. Tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan adat. Silakan ber”adat” dan ber “kebiasaan”, tetapi sadarlah bahwa jatidirimu melampaui segala kebiasaanmu. Manusia berada di atas adat. Adat diciptakan untuk menunjang kebidupannya, untuk meringankan bebannya, untuk dapat membuat hidupnya lebih nyaman. Saat ini, adat justru menjadi beban. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah harus diubah masih dilestarikan atas nama …… Ah, sudah ya. *1 Vadan halaman 114

Mengapa menulis kisah-kisah dari Mahabarata, Srimad Bhagavatam dan tentang Ramayana. Ramayana adalah kisah epik pertama yang ada dalam sejarah manusia. Srimad Bhagavatam sangat menarik, seperti hadist, riwayat, dan ada legendanya. Sedangkan Mahabharata dikatakan sangat lengkap, apa yang tidak ada dalam Mahabharata tak ada dalam dunia ini.

Menurut seorang suci, Baca lebih lanjut

Tantangan bagi Bali

 ANAND KRISHNA

Oming Oke menulis pada 18 September 2009 http://www.facebook.com/topic.php?topic=9825&uid=31614314790

 

BEBERAPA waktu yang lalu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyampaikan bila sekitar 90 ribu masyarakat Bali menderita depresi. Beliau juga menjelaskan sebab utamanya, yaitu konflik antara modernitas dan nilai-nilai tradisional atau adat.

 

Banyak teman di Bali, termasuk beberapa cendekiawan yang saya temui, menganggap bila angka yang disebut itu berkelebihan. Sesungguhnya tidak, malah menurut saya angka yang itu sangat konservatif.

 

Jumlah yang disebut oleh beliau, adalah jumlah kasus yang terdeteksi. Mereka yang berobat pada dokter ahli, atau setidaknya memperoleh bantuan lain, medis maupun non-medis.

 

Fenomena ini adalah fenomena universal. Belasan tahun yang lalu, saya pernah diwawancara oleh salah satu koran di Singapura tentang hal yang sama. Saat itu, diperkirakan 1 diantara 10 warga Singapura mengalami depresi ringan/berat, bahkan gangguan jiwa. Saya diminta untuk berkomentar tentang Indonesia. Berdasarkan pengalaman saya di lapangan sebagai fasilitator meditasi, saya mengatakan bila di Indonesia situasinya lebih parah, ”barangkali 2 atau 3 di antara 10 orang.” Baca lebih lanjut

Vasudewa dan Devaki orang tua Sri Krishna

Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda. *1 Atma Bodha

Membersihkan adharma

Raja Parikesit, berterima kasih atas kisah-kisah Resi Shuka tentang leluhur para Pandawa. Dan, kemudian mohon sang resi menceritakan tentang Sri Krishna Sang Avatara Agung dan Balarama yang konon adalah wujud dari Ananta, Sesha yang selalu bersama Narayana.

Resi Shuka baru saja berpikir tentang Vasudeva dan Devaki dan pikiran Resi Shuka terfokus pada Narayana yang telah mengambil suatu wujud untuk membersihkan racun yang sedang mencekik dunia. Air mata sang resi mengalir, mengingat kebesaran Narayana.

 Bila sebelumnya sang resi berkisah tentang dinasti Purawa atau Korawa, keturunan Puru putra Yayati, maka kisah dinasti Yadawa, keturunan Yadu putra Yayati telah menggetarkannya. Baca lebih lanjut

Kisah Rantideva Sang Pemberi Agung

Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya….. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri. *1 Narada Bhakti Sutra

Kisah Resi Shuka tentang leluhur Parikesit

Raja Parikesit, menunggu kematian, dan dalam beberapa hari ke depan maut akan menjemput. Raja Parikesit bersyukur atas kisah-kisah Resi Shuka yang membawa kedamaian, sudah ratusan kisah didengarnya, semua kisah membuka dirinya, berbagai kisah tentang leluhur, tentang karma, tentang pertentangan antara para asura dengan para dewa. Kemudian para asura yang dalam masa kemudian mewujud dalam raja-raja dunia dan kebenaran yang diwujudkan dalam para ksatriya kekasih para dewa.

Raja Parikesit termenung, baru saja Resi Shuka bercerita yang tidak lagi membicarakan peperangan antara adharma dengan dharma, tetapi peperangan antara nafsu dan kasih yang ada dalam diri manusia. Namanya saja dongeng, tidak logis sehingga dapat melampaui mind dan harus dipahami dengan rasa bukan dengan pikiran. Baca lebih lanjut

Kebebasan Paripurna

Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind/?p=206

 

Moksha – Kebebasan Paripurna, Keselamatan atau Pembebasan – ialah purushaartha keempat sekaligus terakhir, empat pilar yang menyangga struktur kehidupan kita. Tiga yang pertama telah dibahas sebelumnya, Dharma atau Kebajikan, Artha atau Kekayaan dan Kama atau Keinginan.

Lazimnya, moksha diartikan sebagai “kebebasan dari siklus kehidupan dan kelahiran.” Banyak pembicaraan, diskusi dan penelitian ilmiah pada subjek kehidupan setelah kematian, kehidupan setelah kehidupan, pengalaman dekat kematian, reinkarnasi dan seterusnya. Kendati demikian, moksha tetaplah sebuah misteri, karena ini bersinggungan dengan sebuah situasi di balik kehidupan dan di balik kematian. Dan yang paling penting, siapa dapat menggaransi bahwa anda tak akan terlahir kembali setelah anda mati “kali ini”?

  Baca lebih lanjut