ADNAN BUYUNG NASUTION: LEGENDA HIDUP


Anand Krishna

http://www.aumkar.org/ind/?p=191#more-191

 

Pada awalnya saya sangat menyayangkan Adnan Buyung Nasution (ABN) menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Saya khawatir sistem akan membuat dia tidak dapat ‘bergerak’. Untuk seseorang seperti ABN saya mengharapkan justru Presiden yang datang kepadanya dengan mengatakan: “Coba tolong beri saya nasehat. What should I do?
Ternyata kekhawatiran saya tentang duduknya ABN di kursi Wantimpres, salah. ABN tetap dapat bersuara lantang, meskipun ada keterbatasan. Ketika saya diundang di forum DPR untuk memberikan pendapat tentang UU Pornografi dan Pornoaksi, saya menyaksikan bagaimana ABN dengan tegas menolak, lengkap dengan alasan-alasannya. Kita tahu bahwa undang-undang ini menjadi sangat kontroversial sehubungan dengan keberagaman budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Saya menganggap sebagai seorang Wantimpres ketegasan ABN itu luar biasa. Ini adalah pelajaran yang kita harus ambil dari ABN. Janganlah seorang aktivis yang memperoleh jabatan, dari Presiden atau dari pemerintah, atau menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, lupa pada idealisme semula.

Langsung ‘Klik’

Perkenalan saya secara pribadi dengan ABN memang belum lama, yaitu ketika muncul masalah Ahmadiyah. Perlu dicatat, saya bukan orang Ahmadiyah, saya pribadi juga tidak sepaham dengan ajaran Ahmadiyah dalam beberapa hal, tetapi tidak berarti saya membiarkan orang-orang Ahmadiyah dizalimi. Ketika muncul persoalan Ahmadiyah itu saya bersama beberapa teman menghadap ABN. Ketika kami baru berbicara sedikit saja, langsung ‘klik’. Kesepahaman yang terjadi antara saya dan ABN adalah komitmen untuk kemanusiaan. Karena yang kami bicarakan adalah esensi kemanusiaannya. Seharusnya visi ABN tentang hak asasi manusia itu dapat sampai ke tingkat grass root, kita bina dan kita berikan semacam edukasi. Bukan dogma, bukan tentang surga dan neraka, tapi edukasi.

Secara pribadi sekali lagi saya jelaskan bahwa saya tidak sepaham dengan ajaran Ahmadiyah dalam beberapa hal. Misalnya pandangan mereka yang menomorduakan wanita. Tetapi ketika mereka dizalimi, hal itu menjadi tidak pantas dan merupakan penghinaan terhadap warga negara kita, bangsa kita. Karena itu saya menawarkan kepada Ahmadiyah: “Kalau memang anda tidak punya seorang juru bicara di luar negeri, saya bersedia membawa kasus Anda ke PBB atau ke mana pun”

Saya memiliki komitmen yang sama dengan ABN mengenai hak asasi manusia, bahkan komitmen ABN lebih hebat. Dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai bagian dari hak asasi manusia, ABN bersama sejumlah orang bergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Dalam diri ABN terdapat komitmen yang begitu besar terhadap penegakan hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia. Banyak orang yang berbicara tentang hak asasi manusia, banyak aktivis yang dulunya begitu gigih memperjuangkan penegakan hukum, demokrasi , dan hak asasi manusia, tapi begitu menjadi bagian dari sistem yaitu diangkat sebagai pejabat, cepat atau lambat termakan oleh sistem. Tetapi ABN tidak termakan oleh sistem. Ini adalah sikap yang saya kagumi.

Memiliki Kesamaan Visi

Padepokan Anand Ashram yang kami dirikan mempunyai visi: one earth, one sky, one human kind (satu bumi, satu langit, satu umat manusia). Padepokan yang pertama di Sunter, Jakarta, di suatu rumah kecil. Kemudian berkembang di Ciawi pada tahun 2000, dan sekarang berada di beberapa kota lain. Kami tidak ingin menjadi eksklusif, sehingga di dalam komunitas ini tidak ada keanggotaan. Setiap orang boleh datang dan pergi seenaknya.

Selain program untuk kesehatan holistik, ada juga kursus-kursus yang kami berikan, misalnya manajemen stress. Kalau seseorang lulus, bukan lulus dengan pengertian ada rapornya, tapi dia sudah merasa puas menjalani kursus itu. Dalam perjalanan waktu 10 tahun, 15 tahun, sampai sekarang 18 tahun, sudah puluhan ribu orang pernah mengikuti program-program kami. Beberapa teman yang melihat pencapaian ini mengusulkan agar visi ini dikonkretkan. Maka lahir padepokan di Ciawi yang kami namakan One Earth. Di situ ada 21 keluarga yang hidup bersama, dari latar belakang dan agama yang berbeda. Untuk umat Islam ada Mushala, untuk umat Katolik ada Gua Maria, untuk umat Hindu ada Kuil. Dan, ada hall cukup besar di mana kami bisa bertemu bersama, melepaskan segala macam perbedaan. Ada program untuk anak-anak mereka, ada sayap muda-mudi yang kami sebut torchbearer, pembawa obor. Tidak ada pagar di antara kelompok-kelompok itu.

Dengan adanya komunitas tersebut kami ingin memberikan contoh bahwa this is possible, kebersamaan itu bukan sesuatu yang mustahil. Pernah pada tahun 2005 kami mengadakan seminar, dibantu oleh Menteri Pertahanan dan juga Lemhanas. Menteri Pertahanan memberikan statement bahwa memang yang dibutuhkan bangsa ini pertahanan kultural, pertahanan nonmiliter, karena sekuat-kuatnya pertahanan militer sampai kapan dapat mempersatukan kita sebagai suatu bangsa?

Beberapa bulan terakhir ini kami melakukan eksperimen di padepokan di Bali, di mana mayoritas yang datang beragama Hindu dan ketuanya seorang Muslim. Meskipun umat Islam minoritas, tapi menurut kami tak menjadi soal. Sebaliknya di padepokan Joglo Semar, Jakarta, mayoritas yang datang beragama Islam yaitu 60%, sedangkan 40% Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Minoritasnya Katolik dan Kristen. Tapi ketuanya seorang dokter dan dia Katolik. Kami melihat bahwa semuanya bisa berjalan dengan baik. Ternyata memungkinkan.

Saya ingin mengubah paradigma bahwa agama menjadi sesuatu yang harus kita pertimbangkan dalam memilih seorang pemimpin. Salah satu perjuangan kami adalah menghapuskan kolom agam di KTP. Dalam hal yang menyangkut hukum dan hak asasi manusia tidak ada sekat-sekat agama. Karena itu seharusnya tidak ada pengacara yang mengatasnamakan agama: pembela Muslim, pembela Kristen, dan lain-lain. Apa urusannya dengan agama? ABN sendiri sudah sering mengatakan kepada para pengacara untuk tidak menggunakan istilah-istilah itu.

Setiap tanggal 1 September, sejak tahun 2006, berturut-turut kami memberikan penghargaan Aku Bangga Jadi Anak Indonesia, yaitu kepada Sultan Hamengkubuwono X, I Made Mangku Pastika (Kapolda bali), dan tahun 2008 kepada ABN. Saya katakan, sebenarnya dengan memberikan penghargaan ini saya sekaligus ingin ’menodong’ ABN agar selalu berada di garis terdepan dalam membela kebenaran dan keadilan, demokrasi, dan hak asasi manusia, meskipun tanpa ditodong juga kami tahu bahwa ABN sudah berada di garis terdepan. Saat pemberian penghargaan ABN sedang sakit, jadi tidak dapat hadir, tapi beliau mengirimkan pesan lewat video yang kami putar di Art Center di Bali, dihadiri kurang lebih 5000 orang. Putri dan keluarga beliau hadir menerima penghargaan tersebut. Saya merasa tersanjung ketika beberapa minggu kemudian, ketika ABN sembuh, menyempatkan diri datang ke Center kami di Bali.
Visi ABN adalah juga visi saya. Saya merasa bahwa tatkala saya berdialog dengan ABN (juga dengan Syafii Maarif dan Nurcholish Madjid), kami memiliki visi dan komitmen yang sama.

Manakah ABN-ABN Muda?

Setelah kunjungannya di padepokan di Bali, kami mengundang ABN ke padepokan kami di Ciawi untuk memberikan wejangan tentang makna Sumpah Pemuda. Hadir sekitar 150 mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus.

Secara fisik ABN sakit, jadi beliau berjalan dengan dipapah. Tapi dalam keadaan sakit itu pun tidak ada perbedaan pada suaranya, pada semangatnya. Ini yang istimewa. Biasanya penyakit fisik akan memengaruhi emosi dan pikiran. Tapi ABN tidak. Bahkan ketika kami ingin memberikan kursi beliau mengatakan: ”Tidak. Saya akan bicara berdiri.” Ketegaran seperti ini luar biasa, jarang orang yang memilikinya.

Pada kesempatan itu saya melihat betapa bahagianya seorang Adnan Buyung Nasution ketika dapat berbicara langsung dengan para pemuda-pemudi, dan begitu besar harapan beliau terhadap mereka. Saya juga melihat pemuda-pemudi yang hadir terkesima, terpesona, dan sangat terinspirasi oleh apa yang disampaikan ABN. Barangkali mereka baru mengenal beliau lewat tulisan, lewat media massa. Ketika bertatap muka langsung dan dalam kelompok yang relatif tidak besar terjadi interaksi yang sangat intensif, sangat mendalam. Itu pengalaman yang menarik sekali yang beruntung saya saksikan. Saya mengharapkan apa yang menjadi pemikiran ABN dapat disosialisasikan melalui tulisan beliau, opini beliau. Saya bahkan mengharapkan ABN mengadakan roadshow untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikirannya.

Masalah utama yang dihadapi oleh bangsa kita adalah pendidikan. Antara lain kenyataan bahwa di zaman sekarang kita perlu memiliki kemampuan berbahasa Inggris untuk melakukan komunikasi dalam berbagai hal dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, fakta berbicara bahwa baru sejumlah kecil saja masyarakat kita yang mampu menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Dari kisah hidup ABN kita tahu bahwa sejak muda ABN sudah lebih pandai berbahasa Inggris dibanding kawan-kawannya, sehingga memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih melesat mengembangkan diri.

Yang membuat saya semakin kagum, sampai setua ini pun ABN masih mau belajar. Maksud saya tentunya bukan hanya belajar di institusi formal, tetapi dengan banyak membaca buku. Saya memiliki buku-buku di perpustakaan di Ciawi yang belum pernah dibacanya, dan beliau ingin tahu apa isinya, beliau ingin mempelajarinya. Tidak ada ego barrier dalam diri ABN, seperti anggapan: ”Ah, saya sudah mencapai tingkat ini, status ini, saya tidak perlu belajar lagi.” Memperoleh dan mengembangkan wawasan sangat penting, sebab itu tahun ini mudah-mudahan kami dapat membuka sekolah di Bali yang kami sebut One Earth School. Kita butuh anak-anak muda yang berwawasan, yang mampu go international, sekaligus tidak melupakan kebudayaan dan jati diri bangsa.

Tularkan Semangatnya

Pada tanggal 14 Januari yang lalu kami mengundang ABN sebagai tamu kehormatan pada acara ulang tahun padepokan kami yang ke-18, di Taman Mini Indonesia Indah. Beliau masih sakit, syaraf pinggangnya terjepit. Kami diberitahu bahwa ABN hanya hadir untuk 15-20 menit, tapi ternyata beliau bersedia duduk selama dua jam. Agaknya ABN sangat tertarik pada acara yang kami suguhkan, yaitu sendratari yang dimainkan oleh kelompok tari internasional dari Bali dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kisahnya diangkat dari Sutasoma karya Empu Tantular 500 tahun yang lalu. Kisah itu menjadi acuan bagaimana kita memandang kebergaman dan perbedaan, yang menjadi indah dengan adanya benang merah yang mempersatukan kita. Kita sudah memiliki falsafah pluralisme itu begitu lama, sudah ratusan tahun.

Ketika saya bertemu seorang biarawan di India, dia bercerita bahwa 1000 tahun yang lalu banyak pelajar dan cendekiawan India pergi ke Kerajaan Sriwijaya untuk belajar. Bukan sebaliknya. Mereka punya catatan ajaran apa saja yang diberikan kepada para pelajar itu di Swarnadwipa, dan dibawa pulang ke Tibet dan ke India. Ketika saya bertemu dengan Dalai Lama ke-14 di tempat pengasingannya, kami juga membicarakan tentang hal itu. Karena itu, saya ingin mengatakan, janganlah kita melupakan jati diri kita, jangan sampai kehilangan akar budaya kita.

Apa yang terjadi sekarang ini adalah kita melihat MTV generation, yang arahnya kebarat-baratan. Atau kelompok orang yang arahnya kearab-araban. Atau sinetron kita menjiplak habis India. Atau ’euforia’ Cina seolah-olah Cheng Ho datang untuk mengajarkan budaya kepada kita. Ini tidak benar. Kita sudah memiliki budaya yang tinggi jauh sebelumnya. Indonesia memiliki budaya sendiri yang sangat kaya dan beragam. Ada penelitian yang dimuat di dalam tiga buku tebal karya seorang profesor dari Kanada, tentang sejarah kita dari zaman Majapahit sampai zaman Megawati Soekarnoputri. Penelitian itu menarik sekali. Intinya, yang mampu mempersatukan kita dari satu pulau ke pulau yang lain adalah landasan budaya kita.

Harus diakui sudah cukup banyak orang muda Indonesia yang muncul dan maju ke depan, tapi saya belum melihat komitmen mereka yang sekuat ABN. Kalau di masa pra dan awal kemerdekaan kita tidak hanya melihat ada Soekarno dan Hatta, tapi saya juga mengagumi tokoh seperti Syahrir, Mohammad Yamin, Ki Hajar Dewantara, Sanoesi Pane, yang dengan cara masing-masing berkontribusi dan berkomitmen untuk kejayaan bangsa ini. Tokoh-tokoh seperti mereka, sekarang ini jarang kita miliki. ABN adalah seorang dari yang jarang itu.

Bagi saya ABN adalah seorang legenda hidup. Harapan saya pada bangsa ini, pada muda-mudi kita, belajarlah dari beliau sebanyak-banyaknya. Pemikiran ABN juga dapat dipelajari lewat buku-bukunya. Dan, yang paling penting harus dipelajari adalah semangatnya, dan tularkanlah ke dalam diri kita masing-masing.

Oleh Anand Krishna
(Diambil dari Buku ”75th Adnan Buyung Nasution INSPIRATOR”, penyunting: Nina Pane, penerbit: Galacita, 2009)

Iklan

5 Tanggapan

  1. Banyak hal yang ingin saya ketahui secara lebih mendalam perihal sepak terjang dan perjuangan seorang “legenda hidup” yang selama ini banyak saya peroleh dari orang tua saya yang begitu mengagumi tokoh tersebut.

  2. Excellent! Semalam saya nonton acara SAVE OUR NATION yang menampilkan ABN, legenda hidup kita. Saya tersentak dgn keberanian beliau omong tentang perda-perda SI (sekarang sudah 150 perda SI plus 1 perda Injil). Penasaran, saya telusuri profil ABN di Google dan membaca tulisan hebat ini dari Mas Tri. Kami punya Lembaga Pembinaan & Pember-dayaan Masyarakat Majemuk, diketuai budayawan Ishak Ngeljaratan (IN), saya menjadi sekretaris. Program kami ke depan: pendidikan/pelatihan/pembentukan Komunitas Peng- gerak Masy Majemuk utk menumbuhkan ABN2 & IN2 muda. Paket sudah mantap, sayangnya terkendala dana.

  3. Luar biasa,seandainya artikel ini dibaca oleh mereka – mereka yang menjadikan diri kelompok2 eksklusif….
    selalu bawa bangsa ini dalam doa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: