Kisah Rantideva Sang Pemberi Agung


Mari kita melakukan introspeksi diri: Apa saja yang kita lakukan selama ini, mengembangkan rasa kasih tidak? Pendidikan agama di sekolah dasar mengembangkan rasa kasih atau justru menciptakan jurang pemisah berdasarkan agama? Mengikuti talk-show dan perdebatan di televisi berkembang rasa kasih atau justru rasa tegang, rasa benci? Profesi atau pekerjaan saya menunjang pengembangan rasa kasih atau tidak? Begitu pula dengan persahabatan saya, pergaulan saya, lingkungan saya….. Sebaliknya, bila dengan melihat kayu salib, atau kaligrafi Allah dan Muhammad, atau patung Buddha dan Laotze dan Kuan Yin timbul rasa kasih di dalam diri seseorang, maka kritikan kita terhadapnya sungguh tidak bermakna. Daripada berpolitik dan menyebarkan kebencian, lebih baik duduk diam menghadapi kaligrafi atau patung. Setidaknya bisa menimbulkan rasa kasih di dalam diri kita. Orang menganggap Anda gila, ya biarlah. Itu anggapan mereka. Hormatilah anggapan mereka. Tidak perlu membela diri. Lha mereka belum bisa melihat sisi lain kebenaran, mau dipaksa bagaimana? But again, silahkan berpolitik dan berusaha dan ber-“apa saja” bila semua itu menunjang pengembangan rasa kasih di dalam diri. *1 Narada Bhakti Sutra

Kisah Resi Shuka tentang leluhur Parikesit

Raja Parikesit, menunggu kematian, dan dalam beberapa hari ke depan maut akan menjemput. Raja Parikesit bersyukur atas kisah-kisah Resi Shuka yang membawa kedamaian, sudah ratusan kisah didengarnya, semua kisah membuka dirinya, berbagai kisah tentang leluhur, tentang karma, tentang pertentangan antara para asura dengan para dewa. Kemudian para asura yang dalam masa kemudian mewujud dalam raja-raja dunia dan kebenaran yang diwujudkan dalam para ksatriya kekasih para dewa.

Raja Parikesit termenung, baru saja Resi Shuka bercerita yang tidak lagi membicarakan peperangan antara adharma dengan dharma, tetapi peperangan antara nafsu dan kasih yang ada dalam diri manusia. Namanya saja dongeng, tidak logis sehingga dapat melampaui mind dan harus dipahami dengan rasa bukan dengan pikiran.

Salah seorang bhagavan pernah berkata, “Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju kebebasan. Selama ini manusia merasa nikmat berada di dalam rumah pikiran. Di batasi oleh dinding-dinding tembok pola pikiran lama. Kemudia dia mulai melangkah ke halaman rumah, melampaui dinding-dinding tembok pikiran yang kaku. Mulai merasakan kebebasan di halaman rumah, memasuki alam rasa. Alam rasa yang tidak terkotak-kotak dinding-dinding pola pemikiran yang memisahkan. Dan sebetulnya halaman rumah ini sudah berhubungan dengan alam bebas. Bagaimana pun dia masih harus tidur dalam rumah lagi, akan tetapi dia telah memahami adanya kebebasan. Pandangannya tidak picik lagi. Alam rasa sudah melampaui sekat-sekat dinding pikiran yang membelenggu selama ini.

Sewaktu tubuh kita sehat, tidak ada keluhan, nyaman dan penuh vitalitas, kita merasa tubuh kita adalah satu. Baru setelah ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi. Kita baru bilang gigi atau bagian lain dari tubuh sakit. Rasa keterpisahan terjadi ketika kita sedang tidak sehat. Keterpisahan kita dengan seluruh mahluk apakah juga karena kita tidak sehat? Penyakit ego membuat keterpisahan dan keterpisahan terjadi karena jiwa kita tidak sehat, karena tertipu oleh ilusi sang maya.

Dalam dinasti Bharata tersebutlah Pangeran Rantideva. Ia mempunyai kekayaan tak terukur yang datang dengan mudah seperti datangnya hujan di musim penghujan.

Bila memandang air hujan sebagai materi karena ada wujudnya, maka di balik wujud tersebut adalah energi. Bila dunia ini nampak dan dapat dirasakan karena ada wujudnya, maka di balik dunia ini adalah energi yang tak nampak. Tetapi energi pun adalah materi. Einstein menyebutkan energi adalah materi dalam fungsi kecepatan tertentu. Pada hakikatnya semua materi adalah energi. Tetapi apa yang ada di balik energi? Pada hakikatnya semua benda terdiri dari atom-atom. Tetapi atom sendiri adalah suatu asumsi. Dibalik asumsi tersebut ada hal yang merupakan misteri.

 

Sang Pemberi Agung

Di balik materi yang dimiliki Pangeran Rantideva, terdapat rasa kasih yang begitu besar. Semua harta benda yang diberikan kepadanya, dibagikan kepada mereka yang membutuhkannnya. Pangeran Rantideva sudah tidak mempunyai rasa ‘aku’ dan ‘milikku’. Sudah tidak mempunyai ego, jiwanya sudah tidak sakit. Gusti Hyang Maha Misteri juga menganugerahkan istri dan anak-anak yang memahami jiwa sang pangeran.  

Konon pada suatu saat tubuh pangeran Rantideva sangat lemah. Sudah empat puluh delapan hari tanpa memiliki suatu apa pun. Bahkan tidak ada makanan yang tersedia di depan Pangeran Rantideva beserta isteri dan anak-anaknya. Yang tersisa hanya rasa kepuasan diri setelah membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

Kepuasan diri adalah energi yang kita butuhkan. Kepuasan diri akan mencegah terjadinya pemborosan energi. Kepuasan diri malah akan melipatgandakan energi di dalam tubuh kita. Berpuaslah dengan apa yang kita peroleh sebagai hasil jerih payah kita. *2 Be Happy halaman 76

Pada hari keempat puluh sembilan, Pangeran Rantideva mendapatkan nasi yang dimasak dengan ‘ghee’, air dan kue gandum.

Setelah selesai berdoa dan bersiap untuk  makan, seorang brahmin datang meminta makanan. Rantideva berkata kepada dirinya sendiri, “Narayana ada di mana-mana dan sekarang Ia telah datang kepadaku meminta makanan. Merupakan kebahagiaan bagi diriku untuk dapat melayani Narayana di balik wujud sang brahmin.” Dan, sebagian besar nasi diserahkan kepada tamunya. Kemudian,  isteri dan anaknya mendapatkan sebagian.

Dan, ketika Pangeran Rantideva mulai makan sebagian dari bagiannya, seorang sudra datang minta makanan. Pangeran Rantideva menyadari bahwa pada dasarnya semua orang adalah Brahman. Manusia dan dunia ini adalah proyeksi dari Brahman. Sejatinya yang ada hanya Brahman. Tidak ada yang lain kecuali Brahman. Dan dia memberi bagian makanan miliknya kepada sudra tersebut.

Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.

Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita.

Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita.

Setelah sebagian nasi diberikan kepada sang sudra, dan Pangeran Rantideva belum sempat makan sisanya, datang pengemis bersama empat anjingnya minta diberi makanan. Rantideva memberikan semua sisa makanan yang ia punyai dan ia senang karena telah mengurangi rasa lapar dari tamu dan binatangnya.

 

Kasih adalah memberi, memberi dan memberi

Anugerah-Nya berlimpah, seolah Tangan-Nya selalu terbuka untuk memberi dan memberi dan memberi. Kita tidak mampu menghitung pemberian-Nya, berkah-Nya. Ia memberi tanpa menampakkan Diri. Hendaknya kita belajar dari sifat-Nya yang satu ini: Memberi tanpa menampakkan diri, tanpa bergembar-gembor. Tidak perlu publisitas. Berilah karena cinta, karena kasih. Bukan karena pengakuan oleh masyarakat, oleh institusi, ataupun karena anjuran si Fulan. Berilah karena memang memberi adalah sifatmu.*3 Panca Aksara halaman 100

Manakala Pangeran Rantideva akan minum dari air yang tersisa padanya, seorang chandala datang minta air. Jantung Rantideva dikoyak rasa kasih pada chandala, “Aku tidak menginginkan kekayaan. Aku tidak ingin minta tempat di surga. Yang aku lakukan adalah mengambil penderitaan orang lain dan membebaskan dirinya dari penderitaan.”

Ada perbedaan yang jelas sekali antara Kasih dan Kasihan. Kasih adalah sesuatu yang timbul tanpa alasan. Tidak ada logika, tidak ada matematika, tidak ada kalkulasi. Kasih juga bukan filsafat. Kasih berada di atas segalanya. Apa yang akan dikatakan oleh Arjuna, bukan karena kasih, tetapi karena kasihan. Dalam Rasa Kasihan, ego kita, keangkuhan kita masih tetap ada. Kita memberikan sedekah kepada fakir miskin. Ini bukan Kasih – kita hanya tergerak karena rasa kasihan. Sewaktu memberikan sedekah pun keangkuhan kita tetap ada: Aku yang memberikan sedekah itu, aku yang membantu pembangunan tempat ibadah itu, aku yang melayani mereka yang susah. Di mana-mana Anda akan menemukan ‘aku’ atau keangkuhan, Kasih tidak akan pernah ada. Kasih belum bisa muncul. Kasih adalah pelepasan keangkuhan. Begitu ‘aku’ terlepaskan, Kasih pun muncul. Arjuna terdorong oleh Rasa Kasihan, bukan Rasa Kasih. *4 Bhagavad Gita

“Dengan penuh kesadaran, diriku memberikan air ini agar penderitaan sang chandala berkurang. Rasa lapar, dahaga, kelemahan duka cita yang terjadi dalam diriku membersihkan diriku dari semua penyakit keterikatan dan khayalan.”

Mereka yang sedang naik gunung kesadaran, pandangannya terfokus ke puncak, kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mungkin mereka yang memahami hukum alam disebut Resi. Tetapi ada Resi Drona yang hidupnya dibiayai dengan dana Korawa. Ada Resi Durwasa yang tidak bisa mengendalikan diri dan suka mengutuk. Mereka mempertahankan dirinya untuk mencapai puncak gunung kesadaran.

 

Mengikuti Guru yang turun dari Gunung Kesadaran

Sebaiknya manusia mengikuti para Guru yang sudah mulai turun dari puncak gunung kesadaran. Mereka sudah tidak mempunyai keinginan apa-apa lagi kecuali sekadar berbagi kesadaran selama hayat masih di kandung badan.  Mereka melihat keadaan di bawah lebih jelas. Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan, Maitreya. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus, Yang Mulia Buddha, Sri Krishna jelas sangat spiritual, tetapi perhatikan ajaran kemasyarakatannya. Sri Krishna tidak duduk diam menjadi resi di puncak Gunung, beliau ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan.

Para seniman negeri China sejak zaman dahulu menggambarkan Maitreya sebagai seorang buddha yang ketawa membawa arak dan buntalan pakaian. Tak ada hal yang dirisaukan lagi olehnya. Dia turun gunung ke pasar dunia berbagi kesadaran.

Banyak orang mengikuti resi yang sedang naik ke puncak, kurang peduli dengan lingkungan, maka kedamaiannya yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari ketidak pedulian mereka. Mungkin Indonesia habis dan terpecah-belah, dan mereka belum sampai ke puncak kesadaran juga.

Banyak juga pemuda yang penuh semangat terjun ke masyarakat karena peduli dengan lingkungan. Akan tetapi, tanpa dibekali kesadaran, mudah sekali dia melenceng dari tujuan mulia setelah mendapat kenyamanan di dunia.

Mendapatkan pencerahan dulu atau peduli dengan masyarakat dengan kesadaran yang ada? Para master berbeda pendapat. Bagi kami pribadi mengikuti Guru yang sudah turun gunung akan mendapatkan keduanya, sambil meningkatkan kesadaran sambil berbhakti pada masyarakat dan lingkungan.

Pangeran Rantideva ikhlas, bukan hanya harta kepemilikannnya yang dipersembahkan kepada Narayana yang mewujud dalam berbagai bentuk. Nasi, air dan bahkan dirinya pun dipersembahkannya.

Di dinding Candi Borobudur, juga ada kisah serupa. Beberapa orang manusia sedang tenggelam karena air laut yang naik akibat tsunami. Seekor kura-kura raksasa menolong mereka agar menaiki punggungnya. Mereka akhirnya terdampar di pulau dalam keadaan kelelahan dan kelaparan. Dan sang kura-kura merelakan tubuhnya disantap manusia agar mereka dapat bertahan hidup dan mencari makanan di pulau tersebut.

Selagi Pangeran Rantideva masuk dalam keheningan, tiba-tiba para tamunya berkumpul dan mereka mewujud menjadi diri mereka yang sebenarnya, Brahma, Vishnu, Shiva dan para dewa lainnya. Mereka disenangkan oleh Pangeran Rantideva. Rantideva menghormati mereka dan sama sekali tidak minta anugerah apa pun. Pangeran Rantidewa sadar dibalik wujud para dewa, kuasa Ilahi, adalah Dia yang tak berwujud. Di balik wujud selalu ada yang tak berwujud. Yang penting bukan menyembah tetapi melayani Dia. Pikirannya ditujukan kepada Dia.  Ketika sedang merenungkan Narayana, avarana yang disebut maya yang terdiri dari tiga guna meninggalkannnya. Pangeran Rantideva terjaga dan menyatu dengan Yang Maha Agung, Paramatma, Param Brahman, atau di Nusantara menjadi Prambanan.

Nama-nama Candi di Nusantara bukan sekadar nama, melainkan mempunyai makna yang dalam.

 

Memerintah dengan penuh kesadaran

“Demikianlah wahai raja, Pangeran Rantidewa memerintah kerajaannya selama beberapa puluh tahun kemudian. Memerintah dengan dilandasi kesadaran. Dinasti Bharata patut berbangga mempunyai leluhur yang amat bijaksana.” Demikian Resi Shuka berkata.

“Wahai raja, nanti di akhir zaman Dwapara Yuga, akan banyak raja membangun sekian banyak tempat ibadah di mana-mana, sang penguasa menganggap dirinya sudah berbuat baik. Dia tidak peduli apakah tempat-tempat itu dimanfaatkan untuk beribadah atau untuk apa? Untuk menyebarkan kesejukan atau kebencian? Sebaik apa pun karma kita, bila tanpa kasih, sungguh tak berarti. Tanpa kepedulian yang lahir dari cinta, itu semua sungguh tak bermakna. Para rohaniawan pun demikian. Banyak di antara mereka yang hanya membaca buku dan meneruskan informasi kepada para jemaah, kepada umat masing-masing. Banyak yang tidak peduli apakah informasi yang mereka sampaikan itu “mengutuhkan” jiwa para pendengar atau justru sebaliknya, membagi, mengkotak-kotak dan mencabik-cabik jiwa mereka. Jiwa sendiri sudah tidak utuh, kemudian ketidakutuhan itu pula yang kita tularkan kepada orang lain. *1 Narada Bhakti Sutra

 

Kedamaian bukan ketenangan sesaat

Raja Parikesit bersimpuh di depan sang guru,“Guru, siswa masih ingat nasehat Guru,” 

“Janganlah menyalahartikan kedamaian sebagai ketenangan sesaat. Jangan pula menyalahterjemahkan kebahagiaan sebagai kenikmatan sementara. Kita sedang berbicara tentang kedamaian yang langgeng, abadi, dan kebahagiaan yang kekal, sejati. Sesungguhnya, kedamaian dan kebahagiaan ibarat dua sisi kepingan uang logam yang sama. Dimana ada kebahagiaan, disanalah ada kedamaian. Atau sebaliknya, dimana ada kedamaian, di sanalah ada kebahagiaan. Tuhan Maha Damai adanya. la bagaikan langit atau lebih tepatnya ruang kosong, kasunyatan abadi dimana segala macam kejadian sedang terjadi. Berlalunya awan sesungguhnya sama sekali tidak mempengaruhi sifat langit. Sebenarnya langit tidak pemah berawan. Awan hanya melaluinya saja. Langit tidak pemah mendung. Apa yang kita sebut “mendung” itu hanyalah sebuah kesan, persepsi kita sendiri. Adanya awan antara mata kita dan langit bisa menciptakan seribu satu macam “adegan” – kendati demikian adegan-adegan itu tidak mempengaruhi langit. Atau, layar bioskop, layar proyektor. Layar itu tidak terpengaruh oleh gambar-gambar yang diproyeksikan padanya. Banjir dan hujan lebat dalam film tidak membasahinya. Seperti itulah sifat Tuhan. Sadaa Shiva, Kebahagiaan Abadi, dan Shaanta Svarup, Wujud Kedamaian. Sifat-sifat ini pula yang harus dikembangkan dalam diri setiap insan. Bahagia dan damai, membahagiakan dan mendamaikan. Jadilah penebar mutiara kebahagiaan dan benih perdamaian.”*3 Panca Aksara

Kala membicarakan nasehat sang Guru, air mata Parikesit menitik, “Guru aku pasrah pada-Mu, Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Biarlah Guru yang bersemayam dalam nurani, menjadi jiwa bagi diriku dan aku sekadar menjadi tangan-Mu saja. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu.”

Jay Gurudev!

 

*1 Narada Bhakti Sutra                        Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.

*2 Be Happy                               Be Happy! Jadilah bahagia dan berkah bagi dunia, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.

.*3 Panca Aksara                        Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.   

*4 Bhagavad Gita                                   Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September 2009.

Iklan

2 Tanggapan

  1. memang benar Tuhan telah menciptakan satu bumi satu langit satu manusia, masalahnya kita tidak bisa memilih takdir lahir dimana, sebagai anak apa/siapa dan kondisi yang bagaimana sebagai modal awal kita menempuh kehidupan, namun sebenarnya didunia ini kita hanya dihadapkan pada 2 pilihan : (-) atau (+) saja, yang nilai antara (-) dan (+) adalah = 0, selama kita mengikuti guide line menuju kebaikan dari agama manapun serta kebijakan seperti renungan dari Bpk Triwidodo ini, tentu nilai kita (+) selamat dunia akhirat.

  2. Terima Kasih Pak Agung Suseno. Menanam padi tunggu akibat 4 bulan lagi. Menanam mangga tunggu akibat 7 tahun lagi. Tanam Jati tunggu 25-50 th lagi. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita adalah biji tanaman yang tunggu akibatnya kemudian. Kita membatasi diri dengan badan yg umurnya seumur manusia, tetapi jiwa manusia, ruh manusia hidup abadi. Ada kesempatan untuk menerima akibat di tubuh yang lain. Menurut kami apa yang kita terima adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Setelah sadar, mulai sekarang tidak berbuat yang tak selaras dengan alam. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: