Kisah Tentang Ahalya, Penebusan Kesalahan Seorang Wanita


Beda orang, beda isting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin. Mereka semua sama-sama jatuh. Tidak perlu membeda-bedakan antara kulit pisang, kulit mangga, dan lantai yang licin. Seseorang yang kelemahannya makan berlebihan tidak perlu mengkritik orang lain yang kelemahannya menelan pil ekstase. Dua-duanya sama lemah. Untuk itu, dengan penuh kesadaran, keadaan, tempat, atau individu yang dapat menjadi umpan dan memancing insting hewani dalam diri perlu dihindari. *1 Shangrila

 

Hasrat Indra terhadap Ahalya

Dalam perjalanan menuju Mithila untuk mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Sinta, Sri Rama, Laksmana dan Resi Wiswamitra melewati sebuah bekas peninggalan gubuk tua yang tidak terawat dan sebuah batu besar  yang  tertutup oleh semak belukar. Tak ada manusia yang mau beristirahat  sejenak pun di tempat tersebut.  Mereka berhenti sebentar dan Resi Wiswamitra menceritakan tentang Kisah Ahalya dan Resi Gautama yang hidup satu abad sebelumya di gubuk tersebut.

Konon adalah seorang wanita sangat cantik bernama Ahalya, dia adalah saudari dari para Kartika, putri-putri Bintang. Ahalya disebutkan sebagai wanita paling cantik di dunia dan disamakan dengan bintang Pleiades. Indra sangat tergila-gila dengan Ahalya dan ingin bercinta dengan Ahalya. Akan tetapi Ahalya selalu berada dekat dengan suaminya Resi Gautama.

Indra berusaha mendekati Dewa Matahari agar membantu keinginannya, akan tetapi dengan diplomatis sang dewa matahari menolak. Dewa Bulan tidak seberuntung Dewa Matahari, dia ditekan dan terpaksa membantu Indra. Dewa Bulan memberitahu Indra bahwa setiap subuh, Resi Gautama selalu melakukan puja di Sungai Gangga. Dan pada suatu saat Dewa Bulan meniru suara ayam jantan berkokok, sehingga sang resi segera bergegas ke sungai Gangga. Begitu sang resi pergi, Indra menyaru sebagai Resi Gautama dan masuk ke gubuk dimana Ahalya berada.

Ahalya sebetulnya tahu bahwa yang datang kembali itu bukan Resi Gautama, tetapi dia merasa bangga sekali ada Raja Dewa yang terpikat kecantikannya. “Apa yang membuat kekasihku pulang kembali?” Indra yang menyaru sebagai Resi Gautama menjawab, “ Saya butuh bersamamu, kekasihku”. Bagaimana seorang Ahalya dapat menolak keinginan Raja Dewa yang tampan? Maka mereka pun melakukan permainan asmara. Dalam diri Ahalya masih tersimpan instink hewani, dan potensi tersebut muncul terpicu oleh kebanggaan bahwa sang raja para dewa pun tergila-gila kepadanya. Ahalya ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya.

Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Tidak, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Kenapa? Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. *2 Mawar Mistik

 

Kutukan Sang Resi

Alkisah setelah sang resi sampai di sungai, Dewi Gangga memberitahukan perselingkuhan yang terjadi di gubuknya, dan sang resi bergegas kembali ke gubuknya. Sang resi merasa ditipu oleh Dewa Bulan yang menyaru sebagai ayam jantan, maka ayam jantan tersebut dipukul dengan handuknya dan meninggalkan bekas lubang hitam pada bulan yang tetap terlihat sampai kini.

Setelah sampai di gubuknya, sang resi  mengutuk Indra menjadi kehilangan testis, impoten dan ribuan kemaluan wanita akan memenuhi tubuhnya.

Dalam Srimad Bhagavatam disebutkan tentang hukuman di neraka bagi seorang yang suka berselingkuh. Bahkan di Kertagosa, Klungkung, Bali gambaran tentang neraka tersebut dilukis di plafon rumah pengadilan adat. Sebetulnya lukisan tentang neraka tersebut sebagai pendidikan agar seseorang sadar akan semua perbuatannya. Seseorang yang berselingkuh harus lahir ribuan kali lewat kemaluan wanita untuk menyelesaikan akibat perbuatannya, digambarkan dengan air dari ribuan kemaluan wanita yang mendidih.  

Kebiasaan yang sudah mendarah daging  dalam perselingkuhan sudah menjadi bagian bawah sadarnya dan terbawa dalam banyak kehidupan berikutnya. Membebaskan diri dari keterikatan akibat pola yang sudah menjadi bagian bawah sadar tersebut sangat berat. Sehingga seorang yang suka melakukan perbuatan yang tidak selaras dengan alam, hanya memuaskan indera cenderung mengulangi perbuatan tersebut.  Dalam hal demikian manusia telah menjadi budak dari inderanya.

Manusia mendambakan kebebasan, tetapi yang dikejarnya justru perbudakan. Keterikatan dan keinginan berlebihan sesungguhnya menjerat manusia, memperbudak dirinya, membelenggu jiwanya. Sungguh tragis bila ia tidak menyadari hal itu. Padahal, kebebasan yang ia dambakan. *3 Nirtan

Panca indra, pikiran dan tubuh adalah alat yang kita miliki untuk berinteraksi dengan dunia. janganlah membiarkan mereka memperalat kita. “Perbudakan” pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makanan melulu… bukan hanya “makanan” yang masuk ke dalam tubuh kita lewat mulut, tetapi juga yang masuk lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran. *2 Mawar Mistik

Hanya dengan kemauan keras dan cleansing atau katarsis setiap saat, kebiasaan yang mengikatnya tersebut dapat ditinggalkannnya. Padahal setiap perbuatan yang tidak selaras dengan alam selalu ada konsekuensinya, misalnya merusak hubungan rumah tangga. Dan dia harus mengalami semua akibat dari benih perbuatan yang telah ditanamnya, itulah sebabnya dia harus lahir berulang kali.

Sang resi kemudian mengutuk Ahalya untuk tetap tinggal digubuknya, tidak makan kecuali udara, berbaring menderita dan tak ada makhluk hidup yang memperhatikannya bagaikan sebuah batu. Ahalya memohon dengan penuh iba pada sang resi, “ Berbuat salah adalah tindakan manusia, tetapi memaafkan adalah tindakan Ilahi. Mohon kami diampuni.”  Sang resi mengurangi hukumannya, “Setelah mengalami kutukan selama seabad, akan datang avatara Wisnu yang memijak dirimu yang telah menjadi batu, dan kesalahanmu akan diampuni serta akan kembali menjadi istri setiaku.” Setelah kejadian tersebut sang resi pergi ke Himalaya untuk bertapa.

Kutukan terhadap Ahalya tersebut dapat dimaknai, untuk menyelesaikan sebab-akibat dari perbuatannya, Ahalya akan lahir dengan hanya berdiam diri di rumah tidak dapat keluar rumah, mungkin dengan tubuh kurang sempurna, dan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, karena lahir tanpa daya tarik. Dengan upaya yang keras, suatu saat dia sadar tentang ilusi dunia, mendapatkan rahmat Gusti, yang digambarkan dengan diinjak kaki teratai seorang suci.

 

Berakhirnya kutukan sang resi

Mendengar cerita Resi Wiswamitra, Sri Rama menginjak batu tersebut dengan kakinya, dan selesailah hukuman Ahalya untuk kembali hidup setia dan berbahagia dengan Resi Gautama kembali. Saat ini mereka dapat dilihat sebagai konstelasi rasi bintang Ursa Mayor, tempat Resi Gautama dan bintang Pleiades tempat Ahalya.

Sebelum pergi, Ahalya mengucapkan terima kasih kepada Sri Rama, “Paduka Prabu, hamba berterima kasih atas kemuliaan paduka yang telah menganugerahi kaki teratai paduka ke badan hamba. Hamba telah lepas dari kutukan dan berdoa, semoga Paduka mendapatkan seorang istri yang setia, yang tak tergoda oleh pria lain. Kami akan kembali hidup bersama dengan suami hamba. Semoga kisah kasih Paduka dengan isteri Paduka akan abadi.”

Konon Dewa Indra minta pertolongan Asura untuk mengembalikan kejantanannya. Para asura bergembira membantu, karena apabila Indra tidak melakukan hubungan suami istri, maka Indra akan semakin sakti dan menakutkan mereka. Konon mereka mengganti testis Indra dengan testis kambing pengorbanan. Mungkin itulah sebabnya banyak orang gemar memakan daging kambing, khususnya testisnya, agar kembali kejantanannya seperti Indra. Kemudian Indra bertapa agar ribuan kemaluan di badannya dapat berubah menjadi ribuan mata.

Tidak mudah dimengerti mengapa Indra seorang Raja Dewa sering melakukan perbuatan yang tidak selaras dengan alam.  Sebetulnya, tidak selalu Indra dimaknai Raja Dewa, sering Indra dimaknai sebagai indera manusia yang menjadi raja raga dan senang memuaskan keinginannya. Seribu kemaluan diganti seribu mata, juga dapat dimaknai manusia yang berbuat kesalahan harus merasa selalu diawasi seribu mata agar tidak melakukan kesalahan lagi.

Sifat asura dalam diri manusia juga senang bila tubuh dan pikiran dapat memuaskan indera, dan tidak senang diawasi seribu mata, sehingga asura dalam diri menjadi perkasa dan dapat malang melintang tanpa diganggu hati nurani.

Bagi seorang yang sadar bahwa hubungan dengan lawan jenis, apalagi yang bukan haknya, hanya akan menimbulkan banyak permasalahan. Dan walaupun ia memenuhi hasratnya, segala sesuatu yang telah tercapai akan terasa hambar dan minta peningkatan kualitasnya. Sampai kapan hal tersebut dapat dinikmati, akan ada penyesalan besar diujung cerita sehingga harus menanggung akibatnya dalam beberapa kehidupan.

 

Mencoba memahami Dewa Indra

Agak sulit juga memahami Raja Dewa Indra yang sering melakukan kesalahan. Yang jelas dalam buku tebal Srimad Bhagavatam, belum ada satu penjelasan pun bahwa Indra mencapai keabadian. Perannya menjadi Spesialis Dewa.  Padahal Raksasa Jaya dan Wijaya sudah lahir kedunia tiga kali sebagai pasangan Hiranyaksa-Hiranyakasipu, Rahwana-Kumbakarna, Sisupala-Dantavakra, yang membenci Tuhan, Narayana tetapi telah mencapai kaki Narayana. Demikian pula Kamsa yang takut dengan Tuhan, Narayana, sehingga membunuh anak-anak Dewaki-Vasudewa dan selalu berusaha mencelakai Sri Krishna malah sudah mencapai kaki Narayana. Demikian pula Asura Vrta yang telah melepaskan dualitas dengan menguasai pengetahuan Brahmawidya.

Tuhan, Gusti, Narayana melampaui dualitas . Bagi-Nya yang penting adalah intensitas hubungan dengan-Nya. Karena kebencian, karena ketakutan, karena bhakti yang penting adalah intensitas dan setiap saat ingat nama-Nya. Dalam mimpi, ketika berbaring, duduk, ataupun berjalan selalu ingat nama-Nya dan larut dalam diri-Nya.Bila mendengar nama-Nya disebut, hatinya bergetar. Sehingga manusia perlu introspeksi ke dalam dirinya, sampai kapan badan ini dapat digunakan untuk melayani-Nya.

Guru berkata, “Pada zaman dulu seorang raja, mungkin direktur utama perusahaan pada saat ini, dia yang bijak setelah berusia 60 tahun, sudah cukup lama memerintah kerajaan, akan melepaskan tahtanya untuk melakukan wanaprasta, meninggalkan istana, keduniawian untuk meningkatkan kesadaran, perhatiannya terfokus, terserap  terhadap Gusti Kang Murbeng Dumadi. Bahkan setelah usia 48 tahun, sudah seharusnya mengurangi kegiatan seksnya, sehingga api yang masih tersisa dapat digunakan untuk berkarya, melakukan bhakti dan meningkatkan kesadaran. Api tersisa yang hanya dimanfaatkan untuk kegiatan seks tidak menunjang peningkatan kesadaran. Bagi yang percaya adanya sistem daur ulang, tidak selalu seorang yang cerdas di kehidupan berikutnya menjadi cerdas lagi, akan sangat tergantung pada lingkungan, orang tua dan pendidikan. Akan tetapi “bhakti” dalam diri seseorang melekat dengan jiwa dan akan dibawa dalam kehidupan mendatang untuk melanjutkan proses penyatuan dengan Gusti.”

Terima Kasih Guru atas panduan dan bimbingan dalam menapaki jalan hidup ini. Guru lebih tahu apa yang lebih baik bagiku. Biarlah Guru yang bersemayam dalam nurani, menjadi jiwa bagi diriku dan aku sekadar menjadi tangan-Mu saja. Namaste. Aku bersujud pada Dia yang berada dalam diri-Mu.

 

*1 Shangrila                       Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*2 Mawar Mistik         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*3 Nirtan                   Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

September 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: