Refleksi Pribadi Menjelang 81 Tahun Sumpah Pemuda

Bagi para Sufi Dalam, syariat bersifat sangat pribadi, Walau tujuannya untuk berinteraksi dengan dunia luar. Karena itu pula, syariat mereka berlapis-lapis. Berada pada tingkat kesadaran yang paling rendah, ia masih dapat mengangkat pedang untuk membela dirinya. Berada pada tingkat kesadaran teratas, ia akan memaafkan orang yang memedanginya. Syariah mereka yang berkesadaran rendah menuntut “balas dendam”, syariat mereka yang berkesadaran tinggi mengajar kesabaran, kasih dan pemaafan.

Tujuan akhir syariat yaitu memanusiakan manusia, menjadikannya manusia sempurna atau insan kami tak pernah terlupakan oleh para sufi di Sindh. Pada saat yang sama, syariat juga tidak disejajarkan dengan Tuhan, dan kemanusiaan yang merupakan inti ajaran-ajaran agama. Sebagai jalan menuju Tuhan, syariat senantiasa diperbaharui dan dibenahi. Tak ada keterikatan fanatik terhadap peraturan-peraturan diri tidak dibenarkan atas nama kepercayaan dan peraturan agama. Esensi agama dikawinkan dengan budaya setempat sebelum dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. *1 Haqq Moujud

Sumpah Pemuda

SOEMPAH PEMOEDA. Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA. Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA. Batavia, 28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda merupakan hasil Kongres Pemoeda yang berlangsung pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928, di Batavia, nama kota Jakarta pada waktu itu.

Ada beberapa peristiwa penting bagi kemerdekaan Indonesia. Pertama Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908. Kedua Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kebetulan kami mengikuti acara Temu hati Bapak Anand Krishna pada tanggal 26 Oktober 2009 di Semarang  yang membicarakan tentang Sumpah Pemuda. Tulisan ini dijiwai pemahaman yang diperoleh dari acara penuh makna tersebut.

…….. Seandainya para pelaku sejarah tersebut melihat kondisi Indonesia pada saat ini, yang terpikir oleh kami adalah apakah kira-kira mereka pernah memperkirakan kejadian yang yang dialami Indonesia saat ini? Bukan mau mengecilkan peranan pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat, tetapi kinerja suatu pemerintah harus dilihat secara holistik. Baca lebih lanjut

Iklan

Belantara Hasrat di Hutan Dandaka

Kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stress dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yangmenemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. *1 si Goblog

 

Menemui para resi yang tinggal di Hutan Dandaka

Di dalam hutan belantara hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri. Hukum Rimba “fight or flight” ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya.

Sri Rama menemui para resi yang tinggal di hutan belantara Dandaka. Semua resi merasa terberkati dan mempersembahkan ilmu yang diperolehnya kepada Sri Rama. Kemudian, ada beberapa resi yang mohon bantuan Sri Rama untuk memusnahkan para raksasa. Menurut mereka sudah banyak resi yang dibunuh para raksasa dan mereka memperlihatkan tumpukan tulang belulang korban pembunuhan para raksasa. Sri Rama berjanji akan memusnahkan para raksasa. Baca lebih lanjut

Antara ‘Serat Tripama’ dari Sri Mangkunagara IV dan ‘Heal the World’ dari Michael Jackson

Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan. *1 Narada Bhakti Sutra

Antara Musik dan Nostalgia

Di tahun 60-an, sebagai anak kecil kami sering mendengar almarhum kakek saya, Mbah Darmo, pensiunan mantri sekolah, sambil berkebun, menyanyi untuk dirinya sendiri yang di Jawa dinamakan ‘uro-uro’. Beliau sangat menikmati ‘uro-uro’ tersebut, dan mungkin lagu tersebut ditujukan baik bagi dirinya sendiri ataupun kepada cucunya agar nasehat dalam tembang tersebut meresap ke dalam hati. Lirik dari ‘uro-uro’ biasanya berupa ‘pitutur-pitutur luhur’, nasehat-nasehat yang mulia. Kakek kami adalah penggemar berat Pujangga Ronggowarsito dan Sri Mangkunagara IV, buku-buku tulisan kedua pujangga tersebut menumpuk di meja dan selalu dibolak-balik setiap hari.

Hampir setengah abad kemudian, ketika saya menembangkan Serat Tripama dari Sri Mangkunegara IV, anak bungsu kami berkomentar, “Nostalgia nih pah, yang bisa menikmati tembang papa kan hanya teman-teman sebaya, yang kata papa beberapa sudah berada di balik papan, menyelinap ke bumi. Aku lebih suka papa nyanyi ‘Heal the World’. Bukankah Guru papa minta papa belajar menikmati “lagu pop” biar tulisannya dibaca anak-anak muda?” (^.^) Baca lebih lanjut

Material dan Immaterial (Bagian 2)

Anand Krishna*

(Radar Bali, Rabu 30 September 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=231:material-dan-immaterial-bagian-2-radar-bali-rabu-30-september-2009&catid=15&Itemid=56

 

Barat itu materialistik, Timur spiritual. Pengaruh orang Baratlah yang merusak landasan spiritual kita. Kita orang timur merasa begitu nyaman menyalahkan Barat atas segala penyakit sosial yang terjadi di masyarakat kita.

 

Menunjuk orang lain, mengkritik mereka, dan mencari kambing hitam atas kelemahan, kesalahan, dan keliruan kita selalu mudah. Sebaliknya, mengakui kesalahan kita sendiri begitu sulit.

 

Apa itu materi, atau sekala, apa itu spirit, energi, atau niskala? Jauh sebelum ilmuwan modern menemukan koneksi antara keduanya, para bijak kita dan para resi telah menyatakan, “Semua ini adalah Energi.” Baca lebih lanjut

Kisah Resi Vasishtha tentang Akibat Persembahan Ilusi dan Sepotong Kisah Resi Agastya

Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut “Tuhan” dan kejahatan dengan apa yang kita sebut “Setan”.

Hidup dalam istana, dilayani oleh para gadis belia sungguh sangat nikmat. Lalu kita menghubungkan kenikmatan dengan “kebaikan” dengan Tuhan. Hidup dalam hutan sungguh sangat berat, penuh dengan penderitaan. Lalu kita menghubungkan penderitaan dengan Setan.

Apa yang kita “suka”, kita kaitkan dengan Tuhan. Apa yang kita “tidak suka” kita kaitkan dengan setan. Apa yang kita anggap baik, kita hubungkan dengan Tuhan. Apa yang kita anggap tidak baik, kita hubungkan dengan setan. Jika begitu terus betapapun rajinnya kita mendatangi tempat-tempat ibadah, betapapun seriusnya kita mengkaji ajaran-ajaran agama, kita akan masih tetap jauh dari kebenaran, karena kebenaran tidak tergantung pada apa yang kita sukai dan apa tidak kita sukai. Kebenaran adalah kebenaran. Kesukaan dan ketidaksukaan kita tidak akan mengubahnya. Bahkan sesungguhnya, apa yang kita sukai dan apa yang kita tidak sukai, dua-duanya adalah sisi kebenaran. *1 Surah-Surah Terakhir

Pesulap Indrajali

Pada suatu hari Resi Vasishta berkata kepada Sri Rama, “Ramji, aku sudah sudah beberapa kali menyampaikan kepadamu bahwa Avidya, kurang pengetahuan, kurang kesadaran adalah sifat sang pikiran. Avidya ini hadir kala seseorang melupakan Sang Atman dan akan hilang kala Sang Atman muncul.”

Prabu Lavan adalah raja dengan kekayaan melimpah dari dinasti Surya yang menguasai negara Uttrapad. Pada suatu hari datanglah seorang pesulap bernama Indrajali ke istana untuk menampilkan keahliannya. Sang Pesulap menggerakkan sehelai bulu burung merak di tangannya ke arah sang prabu, dan sang prabu tiba-tiba merasa diberi anugerah seekor kuda dari leluhurnya.Sang prabu merasa menunggangi kuda tersebut ke sebuah tempat yang jauh. Baca lebih lanjut

Obsesi Sang Prabu Dasarata dan Konsekuensinya

Lapisan Kesadaran Jasmani sungguh sangat sulit untuk dilampaui. Sementara ini, percaya tak-percaya, seluruh kesadaran kita terfokus pada lapisan yang satu ini. Dari makan, minum, tidur, sanggama, belajar dan berbisnis, hingga beragama, semua kegiatan tanpa kecuali, terjadi pada lapisan ini. Yang dimaksud dengan lapisan ini bukanlah badan, bukan tubuh, tetapi “perbudakan” pada badan, pada tubuh. Selama hidup di dunia ini kita tidak bisa tidak berbadan, bertubuh. Itu tidak dapat dihindari. Kendati demikian, tidak ada keharusan, tidak ada kewajiban bagi kita untuk membudak pada tubuh. Silakan bertubuh, silakan berbadan, silakan menikmati “kepemilikan”, tapi jangan menjadi budaknya. Jadilah pemilik, the master of your senses, not the slave. Jadilah raja dari panca indera dan pikiran yang kita miliki; janganlah menjadi budak mereka. *1 Mawar Mistik

Obsesi mendapatkan putra

Prabu Dasarata adalah Raja dari Kerajaan Kosala, dengan pusat pemerintahannya di kota Ayodya. Prabu Dasarata mempunyai istri Kausalya dan mereka hidup berbahagia. Sebagai seorang raja sang prabu menginginkan adanya seorang putra sebagai calon putra mahkota yang akan menjadi penggantinya di kemudian hari.

Setelah beberapa tahun tidak berputra, dengan kesepakatan Kausalya, sang prabu mengambil istri kedua, Sumitra, dengan harapan dapat menurunkan seorang putra. Akan tetapi setelah beberapa tahun pun Sumitra pun belum juga dikaruniai seorang putra juga . Atas kesepakatan Kausalya dan Sumitra, sang prabu mengambil istri ketiga Keikayi, putri prabu Keikaya. Prabu Keikaya mengizinkan Keikayi menjadi istri sang prabu, asalkan, putra yang lahir dari Keikayi akan menjadi raja pengganti Prabu Dasarata. Baca lebih lanjut

Material dan Immaterial (Bagian 1)

Anand Krishna*

(Radar Bali, Rabu 23 September 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=230:materil-dan-immaterial-bagian-1&catid=15&Itemid=56

 

Saya ingat pernah membaca Rudyard Kipling (1865-1936) saat saya masih duduk di bangku SMP: “Timur ialah Timur, dan Barat ialah Barat, dan kembaran tersebut tak akan pernah bisa bertemu.”Saya harus mengakui bahwa sampai saat itu, saya belum pernah melihat banyak tentang Timur, ataupun Barat. Oleh sebab itu, saya tak memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang ia maksudkan.

 

Bertahun-tahun kemudian ketika saya mulai berpergian, bertemu dengan beragam orang yang berbeda dan melakukan bisnis dengan mereka, saya menyadari bahwa ada kebenaran dalam apa yang dikatakan penulis besar tersebut. Kurang dari 50 tahun setelah kematian Kipling, saya baru menyadari bahwa Timur tetaplah Timur, dan Barat tetaplah Barat. Tapi kembaran tersebut dapat bertemu. Kemungkinan perjumpaan sangat mungkin di sana. Kita dapat bersua di atas landasan yang sama. Baca lebih lanjut