Kisah Resi Wiswamitra Sebuah Perjuangan Keras Tanpa Henti


Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum.  *1 Atma Bodha

 

Ditaklukkan Resi Vasishta

Resi Wiswamitra dan Resi Vasishta adalah Guru-Guru Sri Rama.  Seorang avatar pun pernah berguru ketika masih muda. Demikian pula seorang resi. Resi Wiswamitra berjuang tanpa kenal lelah untuk meningkatkan kesadaran.  Konon di zaman Shaolin seorang suhu dari dunia ‘Kang Auw’ dapat mengetahui tulang berbakat dari seorang calon murid handal, sehingga memberikan pelajaran yang lebih keras kepada calon murid tersebut. Seorang pandai besi pembuat pisau juga memilih baja yang baik untuk membuat pisau yang tajam.  Logam yang lembek tak memiliki potensi menjadi sebuah pisau yang tajam. Demikian pandangan Resi Vasishta terhadap Raja Kausika, nama Resi Wiswamitra sebelum menjadi resi.

Alkisah pada suatu hari, putra mendiang Raja Gadhi bernama Raja Kausika dari dinasti Brighu, yang masih terhitung kakek dari Rama Bargawa atau Avatar Parasurama, beserta pasukannya mengunjungi Resi Vasishta. Mereka dijamu Resi Vasishta dengan hidangan berlimpah. Raja Kausika heran bagaimana caranya Resi Vasishta dapat menyiapkan hidangan begitu nikmat yang mencukupi kebutuhan pasukannya. Kemudian Resi Vasishta memanggil lembu Ilahi Sabala yang merupakan sumber segala kebutuhan yang tak ada habisnya, dan menjelaskan ke Raja Kausika bahwa Sagala lah yang menyediakan hidangan tersebut.

Raja Kausika berkata, “Wahai Resi, lembu ini lebih bermanfaat bagi kerajaan daripada berada di ashram pedesaan, biarlah lembu ini saya bawa ke istana.” Selanjutnya, Raja Kausika memerintahkan para prajuritnya menyeret Sabala. Keinginan untuk memiliki Sabala, dan keinginan untuk mempertahankan kenikmatan dari Sabala, membuat Raja Kausika lupa diri dan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa istana lebih butuh Sabala daripada ashramnya Resi Vasishta.

Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu – keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya. Kita terikat dengan rambut lebat yang masih hitam, maka uban dan botak sudah pasti menyedihkan. Kita terikat dengan harta benda yang terkumpul selama hidup, maka kematian menjadi sulit. Sementara itu, alam tidak pernah  sedih karena pergantian musim. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap saat. Penolakan kita terhadap perubahan menjadi salah satu sebab ketakselarasan dengan alam. Padahal penolakan itu tidak bearti apa-apa. Menolak atau menerima, apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. *2 Mawar Mistik

Lembu Ilahi Sabala meneteskan air mata, dia sangat sedih, mengapa Resi Vasihta yang sudah dianggap sebagai orang tuanya melepaskan dia begitu saja mengikuti sang raja. Tergerak oleh rasa kasih, Resi Vasihta berkata, “Sabala keluarkan pasukan untuk mengalahkan pasukan Raja Kausika.” Singkat cerita pasukan Raja Kausika mengalami kekalahan telak dari pasukan ciptaan Sabala.

Raja Kausika merasa malu, ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang resi. Raja Kausika pulang ke istana, menyerahkan kekuasaan kepada putranya dan bertapa mohon senjata dari Bathara Guru, Dewa Shiva. Dengan panah Bramastra anugerah senjata dari Dewa Shiva, Raja Kausika kembali mendatangi padepokan Resi Vasishta. Dengan panahnya padepokan tersebut dihancurkan menjadi abu dan akhirnya berhadapanlah Raja Kausika dengan Resi Vasishta.

Akan tetapi panah Bramastra pun terserap ke dalam gada Brahmadanda dari Resi Vasihta. Kembali Raja Kausika menderita kekalahan dan kembali bertapa ribuan tahun agar dapat menjadi seorang resi menandingi Resi Vasishta.

 

Raja Trisanku dan keturunannya

Raja Trisanku dari dinasti Surya, leluhur Sri Rama tidak ingin mati berpisah dari raganya, dan ingin ke surga bersama raganya. Dia meminta Resi Vasishta mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja mohon kepada para putra Vasishta, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala dan tak ada seorang pun yang mengenalinya, sehingga dia pergi mengembara dan tidak kembali ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Resi Kausika yang sedang bertapa. Kausika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trisanku. Raja Trisanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dharma, tetapi putra Vasihta telah mengutukku, mohon pertolongan Bapa Resi.”

Resi Kausika membantu Raja Trisanku, bahkan mengusahakan Raja Trisanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trisanku ke surga dan dan ditolak Indra, Resi Kausika membuatkan surga khusus bagi Trisanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya takut kepada kesaktian Resi Kausika.

Pada suatu saat Resi Kausika terketuk oleh pengorbanan Resi Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna agar cucu Raja Trisanku yang menjadi putra mahkota selamat. Resi Kausika memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Resi Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang raja menggantikan putra resi sebagai korban persembahan. Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar pemakan anjing Nisada selama 1000 tahun.

Kutukan tersebut bisa dimaknai, seorang putra yang tidak patuh dan berbakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Hutangnya adalah setia mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi orang tua, dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi.

Para putra Kausika masih menggunakan mind, intelegensianya terdorong ke pinggir. Mind, ego bersifat khas, pribadi sedangkan intelegensia bersifat universal. Altruisme yang dilakukan oleh Sunahsepa putra Ajigarta hanya dilakukan oleh seorang yang kadar intelegensianya tinggi.

Setelah Prana ada pula Mano-Budhi. Ada mind, ada intelejensia. Bukan intelek, tetapi intelejensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal. Misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Anda suka yang indah-indah. saya pun menyukai keindahan. Nah, menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. *1 Atma Bodha

Demikian juga kala Kausika sedang mengadakan upacara persembahan agar Trisanku bisa naik ke surga, para putra Vasishta melecehkannya, “Bagaimana bisa bekas raja dapat menaikkan seorang chandala ke surga.” Para putra Vasishta pun dikutuk  menjadi pengikut suku liar Nisada selama 1000 tahun. Kutukan tersebut dapat dimaknai, seorang brahmana yang membuat seorang raja menjadi chandala, dan menyepelekan tapa seorang ksatriya, maka dia pun harus merasakan bagaimana penderitaan seorang  akibat perbuatannya dan bagaimana rasanya disepelekan masyarakat.

Ada hukum Alam yang bekerja dengan rapi sekali. Yang mencela akan dicela.Yang menghujat akan dihujat. Yang menindas akan tertindas. Yang menzalimi akan dizalimi. Inilah Hukum Sebab Akibat. Dalam Fisika dikenal dengan sebutan Hukum Aksi-Reaksi. Setiap Aksi akan menimbulkan reaksi. Dan anda tidak dapat menghindarinya. Karena itu, mereka yang sedang berbuat baik sesungguhnya tidak perlu mengharap imbalan. Tidak perlu membuang energi memikirkan hasil. Imbalan akan datang sendiri. Hasil akan terlihat sendiri. *3 Masnawi jalaludin Rumi

Resi Vasishta memang bijaksana dan tidak mempunyai keterikatan terhadap keluarga. Resi Vasihta, tidak marah putra-putranya dikutuk, karena berpendapat sebuah kutukan hanya dapat terjadi karena hukum sebab akibat. Kesalahan masa lalu bisa saja memberikan akibat pada saat ini. Putra-putra kandungnya adalah para putranya pada kehidupan saat ini. Sudah ribuan putra dalam ribuan kehidupan dimiliki dalam kehidupan sebelumnya. Putra sejatinya adalah para muridnya, yang ingin meningkatkan kesadaran melalui dirinya sebagai seorang Guru. Resi Vasishta paham masalah hakim-menghakimi adalah urusan pikiran.

Jiwa tidak pernah menghakimi. Hakim-menghakimi adalah urusan pikiran. Pikiran tidak mengenal Jiwa, karena Kebenaran Jiwa melampaui keterbatasan pikiran. Yang mengenal Jiwa adalah Jiwa sendiri – ialah “aku” di dalam diri kita. Ialah Sang Aku Abadi. *2 Mawar Mistik

 

Bidadari Menaka

Indra yang takut pada kesaktian Wismamitra yang semakin keras bertapa, mengutus bidadari Menaka, untuk menggoda. Kausika tergoda dan hidup bersama Menaka selama 5 tahun dan lahirlah Dewi Shakuntala yang menjadi ibu dari Bharata, nenek moyang Pandawa dan Hastina. 

Walaupun sudah bertapa, potensi bawah sadar dari hasrat yang terpendam masih muncul juga dalam keadaan tertentu. Kenikmatan inderawi selalu minta pengulangan. Dan sesuatu yang dilakukan berulang-ulang menjadi kebiasaan, kecanduan bahkan mengubah karakter. Itulah sebabnya dikatakan bahwa setelah kesalahan dilakukan berulang-ulang, perasan bersalah sudah lenyap. Problemnya adalah bahwa kebiasaan yang sudah mendarah daging, akan menjadi bagian dari pikiran bawah sadar yang sangat sulit dilepaskan. Dosa adalah perbuatan yang tidak selaras dengan alam, tetapi taubat, metanoia, kembali ke jalan benar, kembali ke keselarasan alam terasa sangat sulit karena melawan pikiran bawah sadar. Lebih mudah menghindari daripada pengalaman melakukan berkali-kali kemudian melepaskan diri.

Ada dua cara untuk menghabiskan obsesi. Pertama nikmati sampai jenuh sehingga hal yang menjadi obsesi  sudah tidak menarik lagi. Kedua dengan menyadari bahwa obsesi tersebut tak ada batasnya, begitu tercapai akan muncul obsesi lebih besar, sedangkan bila tidak tercapai akan kecewa. Sadar setiap saat dan setiap reaksi datang perlu direspon dengan kesadaran.

Sebetulnya dengan datangnya Menaka, Keberadaan mengajari kelembutan terhadap Kausika.

Wanita tidak lemah, tetapi lembut. Seperti kelembutan bunga. Bagaimana anda menangani sekuntum bunga? Dengan cara yang sama pula anda harus menangaani seorang wanita. Sesungguhnya, dia memberi anda kesempatan untuk menjadi “lebih” lembut. Hubungan anda dengan seorang wanita, entah dia pasangan anda, ibu anda, saudara anda, kekasih anda atau siapapun dia, merupakan Rakhmat Allah. Lewat hubungan itu, Allah sedang “melembutkan” jiwa anda. Lewat hubungan dengan wanita-wanita disekitar anda, Allah sedang mengguyuri jiwa anda, menyirami jiwa anda dengan Air Kasih. Dengan kelembutan kasih. Allah sedang mengangkat derajat anda. Allah sedang meningkatkan kesadaran anda. *3 Masnawi Jalaludin Rumi

 

Brahmarsi Wiswamitra

Setelah mendapatkan pelajaran kelembutan, Kausika kembali meneruskan bertapa selama 1000 tahun. Takut tersaingin Kausika, Indra kembali mengutus bidadari Rambha untuk menggoda, tetapi kali ini Kausika tidak tergoda, bahkan mengutuk Rambha untuk hidup sebagai manusia selama 1000 tahun di dunia.

Dengan perenungan selama 1000 tahun, Kausika sudah tidak tergoda bidadari lagi. Akan tetapi, tiba-tiba kesadaran Kausika muncul, dia telah menguasai ilmu yoga, tetapi belum bisa mengendalikan diri dan masih sering mengutuk. Padahal dia sudah belajar kelembutan dari Menaka sebelumnya. Potensi kekerasan masih ada dalam dirinya. Selanjutnya Kausika segera meneruskan tapanya dengan membisu. Tak mau bicara dengan siapa pun.

‘Ucapan’ ibarat napas yang dihembuskan di depan cermin. Sebersih-bersihnya cermin itu untuk sesaat akan berkabut, sehingga wajah kita tidak akan terlihat jelas. *3 Masnawi Jalaludin Rumi

Bukan hanya diam agar tidak menyakiti orang lain, Kausika pun diam agar tidak ada keangkuhan dalam dirinya untuk memperlihatkan kelebihannya.

Lalu, jika anda sudah mendengarkan suara hati nurani dan sudah tidak mengabaikannya lagi, jangan berisik. Jangan pamer. Jangan cepat-cepat menganggap diri anda hebat. Belajarlah untuk menyimpan rahasia. Diam-diam saja. Karena, setiap kata,setiap ucapan akan menciptakan “kabut keangkuhan”. Dan “cermin kesadaran” pun akan berkabut kembali. Anda tidak akan bisa melihat wajah anda yang sebenarnya, yang hakiki. Anda tidak akan bisa menemukan jati diri. Hindari kata-kata. Hindari banyak bicara. Seorang penyelam meditasi tahu persis apa yang dimaksudkan oleh sang maulana. Dia menyadari bahaya yang disebabkan oleh “banyak bicara”. *3 Masnawi Jalaludin Rumi

Para dewa menghormati semangat tak kenal lelah Kausika dan memberinya sebutan Brahmarsi, Brahma Resi. Tetapi hal tersebut belum memuaskannya, dia hanya mau menyudahi tapanya bila Resi Vasishta mengakui dirinya adalah seorang resi.

Bila seorang murshid menerima anda sebagai murid itu bukan karena keahlian atau pun kebolehan anda, tetapi semata-mata karena belas kasihnya terhadap anda. Yang dia perhatikan adalah “muraad” simurid. Murid berarti “ia yang memiliki muraad”. Dan “muraad” berarti “keinginan”. Keinginan untuk apa? Untuk bergabung dengan “sang raja rimba”. Untuk bersatu dan menyatu dengan murshid, karena sang murshid sesungguhnya sudah bersatu, sudah menyatu dengan Keberadaan. *3 Masnawi Jalaludin Rumi

Dengan sabar Resi Vasishta mendatangi Kausika dan mengakui Kausika sebagai resi dan bergelar Resi Wiswamitra, Sahabat Universal, Sahabat Alam Semesta.

Resi Vasishta berkata, “Saat ini sudah kutunggu lama, akhirnya Resi Wiswamitra menjadi mitraku sebagai Guru Sri Rama selagi remaja. Semoga kita diberkahi Sri Rama, Dia Yang Berada di Mana-Mana.”

Demikian perjalanan hidup seorang resi yang menjadi guru dari seorang avatar. Resi Wiswamitra sejak zaman dulu sudah menjadi Guru dari dinasti Surya, sejak Raja Trisanku, Hariscandra putra Trisanku, Rohita putra Harischandra dan setelah beberapa generasi akhirnya menjadi guru Sri Rama, sang avatar. Dan setelah perkawinan Sri Rama dengan Dewi Sinta, tugasnya selesai dan pergi ke pegunungan Himalaya.

Terima Kasih Guru, semua berkat rahmat Guru. Semoga kesadaran Guru meresap ke seluruh putra-putri Ibu Pertiwi dan segera menyadari jatidirinya. Bangkitlah putra-putri Ibu Pertiwi!

Keterangan:

*1 Atma Bodha                                         Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

*2 Mawar Mistik                         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*3 Masnawi jalaludin Rumi            Masnawi Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai, Anand Krishna,PT Gramedia Pustaka Utama,2001.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: