Ilusi Pikiran Dam, Wyal & Kat, Kisah Resi Vasishta Kepada Sri Rama


Apa yang disebut “kenyataan hidup” dan apa yang dianggap “mimpi” sesungguhnya sama-sama berasal dari pikiran. Pikiran mewujud dan terciptalah gelombang kehidupan. Bila terjadi dalam alam jaga, perwujudan itu disebut kelahiran dan kematian. Bila terjadi dalam alam tidur, itu disebut mimpi. *1 Atma Bodha

Penciptaan Dam, Wyal dan Kat

Guru adalah rakit yang membawa para muridnya menyeberangi lautan kehidupan. Semakin lama berada di atas rakit, semakin tenang, semakin jernih, semakin sadar, semakin besar rasa penyesalan di dada beberapa murid yang merasa selama perjalanan belum dapat memahami pikiran, ucapan dan tindakan Sang Guru. Rasanya tumpah seluruh air mata, di kala menyadari bahwa selama ini telah menyakiti hati Sang Guru. Menyakiti karena kebodohan, menyakiti karena melalaikan anugerah Keberadaan lewat Sang Guru. Karena masih terikat pola pikiran lama, karena merasa benar, karena mempercayai ego sendiri, sehingga murid telah melakukan kesalahan berkali-kali.

Di malam yang hening, kala sendirian, sang murid mohon maaf kepada Sang Guru lewat curahan air mata kepada Sang Keberadaan. Orang lain tak mudah memahami perasaan ini. Perlu waktu dan perjuangan tak kenal henti untuk dapat menyerahkan ego kepala ini kepada Sang Guru. Tidak demikian dengan Sri Rama, sang avatara sangat mengerti dan memahami Sang Guru sesaat setelah diberi pelajaran.

Pada suatu hari Resi Vasishta bercerita tentang Dam, Wyal dan Kat kepada Sri Rama. Sri Rama membuka diri sepenuh hati dan sengaja memberi jalan bagi cerita sang Guru untuk memasuki relung-relung nuraninya.

Samber adalah raja asura di alam Potala. Dengan kesaktiannya dia membangun kota yang bergemerlapan dengan berbagai fasilitas matahari dan rembulan serta pepohonan yang sangat indah. Untuk menjaga keamanan kota Samber mengangkat panglima keamanan. Sewaktu Samber keluar kota, para dewa merusak kota tersebut. Dan panglima keamanan tersebut terbunuh oleh para dewa. Samber marah dan menyerang kota Amarpuri tempat tinggal para dewata. Para dewa ketakutan dan kota tersebut dikuasai Samber yang kemudian membakar kota tersebut.

Samber kemudian menciptakan 3 panglima asura: Dam, Wyal dan Kat untuk menumpas para dewa. Para panglima asura ini bertindak semena-mena. Mereka diciptakan tanpa mempunyai vasana, keterikatan dalam bawah sadar, tanpa dharma, tanpa kesadaran dan ego, sebagaimana layaknya mesin robot perusak saja.

Para dewa kewalahan menghadapi mereka dan kalah total menghadapi ketiga panglima ini. Para dewa kemudian melapor ke Brahma yang segera memberi nasehat untuk mengatasinya, “Ketiga panglima tersebut tidak punya ego, maka tak terkalahkan.  Sekarang kalian semua menyerang mereka dari muka, dari samping kanan dan kiri, serta dari belakang, agar ego mereka mulai tumbuh. Seseorang yang tidak punya keterikatan dan bersikap sama terhadap semuanya tidak dapat ditumpas!”

Manusia pun sebetulnya mengalami ketidakterikatan pada saat tidur pulas, deep sleep. Hanya saja karena punya vasana, catatan keterikatan kejadian yang lalu dalam pikirannya, begitu bangun manusia terikat ilusi lagi.

“Saat tidur dan pikiran tak aktif lagi, perasaan-perasaan semacam itu hilang semuanya”. Saat tidur, dan tentunya tidak bermimpi—berarti dalam keadaan “tidur pulas”, pikiran tak aktif lagi. Bahkan istilah Sanskerta yang digunakan adalah Tannaache, yang berarti “mati” atau “musnah”. Dalam keadaan “tidur pulas”, mind, buddhi, pikiran apa pun sebutannya, musnah, mati! Dalam keadaan tidur pulas, tak ada keinginan lagi. Tak ada keterikatan. Tak ada suka tak ada duka. Keadaan tidur pulas meruntuhkan mind, tetapi reruntuhannya masih ada. Berkas-berkasnya, pondasinya masih ada. Dan semua itu merupakan potensi bagi kebangkitan kembali keesokan harinya. Dapatkah kita mempertahankan keadaan “tidur pulas” dalam hidup sehari-hari? *1 Atma Bodha

 

Bekerja di Yama Loka

Para dewa segera melaksanakan nasehat Brahma untuk menyerang ketiga panglima tersebut secara terpisah sehingga mereka terpencar dan berperang sendiri-sendiri di lokasi yang berbeda. Keadaan ini membuat mereka mulai merasakan timbulnya kekhawatiran dan ego mereka mulai tumbuh. Ketiga panglima asura ini kalah berperang dan melarikan diri ke Yama loka, dan mereka diterima sebagai pelayan di sana.

Pada suatu hari Dewa Yama berkunjung ke tempat mereka bekerja, dan karena mereka tidak mengenal Dewa Yama, mereka tidak menghormatinya. Oleh karena itu mereka dilempar ke api neraka dan musnahlah mereka.

Saat terakhir menjelang ajal yang dipikirkan mereka adalah betapa menderitanya diburu para dewa, dan mereka ingin gantian sebagai pemburu. Sesuai dengan obsesi di akhir hidup mereka para asura ini kemudian lahir sebagai pemburu. Mereka hidup dari berburu burung dan ikan. Selanjutnya mereka mengalami berbagai inkarnasi dan hidup sebagai anjing hutan, burung, nyamuk dan serangga. Demikianlah jalan hidup mereka dan kedamaian selalu menjauhi mereka di semua kehidupan.

Sri Rama bertanya, “Bapa Resi, bagaimana ketiga asura tersebut dapat berubah menjadi nyata, padahal mereka itu hasil ciptaan ilusi Samber yang seharusnya tidak nyata?”

Resi Vasishta menjawab, “Suatu benda atau apa pun yang tidak nyata tidak dapat dipahami. Mereka-mereka yang bodoh menganggap kepalsuan sebagai kenyataan, sehingga tidak pernah dapat memahami kenyataan tersebut. Ramji, coba simak baik-baik! Seperti halnya Dam, Wyal dan Kat yang sifatnya tidak nyata, demikian juga halnya dengan dirimu, diriku, para dewa, para resi dan seluruh alam semesta ini bersifat tidak nyata dan ilusif, namun diterima sebagai suatu kenyataan. Jadi hentikanlah pemahaman mayamu dan masuklah dalam keseimbangan Atman Yang Nyata. Cobalah perhatikan lanjutan kisah ini!”

Sewaktu Dam, Wyal dan Kat dibakar oleh Dewa Yama, maka para pelayan lainnya mohon agar Dewa Yama dapat menyelamatkan kehidupan ketiga asura tersebut pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Dewa Yama memenuhi permintaan mereka dan berkata, “ Baik, hal tersebut bisa terjadi sewaktu mereka bertiga terpisah satu dengan yang lainnya, sehingga ilusi mereka akan hilang. Seorang Suci akan memberi berkah kepada mereka sehingga mereka menyadari jatidiri mereka sebenarnya.” Yama mengatakan ketiga asura tersebut harus berpisah untuk melepaskan keterikatan.

Untuk keluar dari cengkeraman mind dan ketidaktahuan, kita harus melampaui keterikatan. Dan hal ini tidak sesulit yang Anda bayangkan. Keterikatan kita dengan dunia umumnya hanya dengan sekitar 20-an orang di sekitar kita. Kadang-kadang, malah kurang dari 20 orang. Tetapi, untuk mengurus  20-an orang di sekitar saja kita sudah ngos-ngosan, setengah mati. Kanapa? Karena ketidaktahuan yang tak berawal dan tak berakhir. Lalu mungkinkah kita keluar dari cengkeramannya? Mungkin, asal Anda meloncat keluar. Sementara ini kita berjalan, berlari. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan. Tidak keluar-keluar, karena ketidaktahuan melingkar, merupakan bulatan. Kita berjalan dan berlari dalam lingkaran. Lagi-lagi kembali pada titik yang sama. Satu-satunya jalan, ya itu tadi: meloncat keluar dari lingkaran. Taruhlah, kita berjalan dan berlari bukan karena keterikatan pada 20-an orang tadi, tetapi untuk mencari Tuhan. Tidak bisa juga, karena kita sedang berlari dan berjalan dalam Tuhan. Seperti seekor ikan yang sedang mencari air, padahal dia sudah hidup di dalam air. *1 Atma Bodha

Di danau kecil di Kashmir, mereka lahir sebagai ikan dan kemudian lahir lagi sebagai burung bangau. Pada suatu hari seorang Suci memberkahi mereka dan mereka kemudian terpisah dan meningkat kesadarannya. Selanjutnya di kota Pradyumna, mereka bertiga lahir sebagai burung beo, nyamuk dan burung kakak tua.  Seorang pelayan raja mengenali mereka dan menembangkan kisah tentang mereka. Ketiga raksasa ini sering mendengarkan kisah tersebut, dan akhirnya teringat tentang masa lalu mereka. Pada suatu hari mereka terberkati dan mencapai keadaan mulia.

 

Dharma artha kama moksha

Resi Vasishta melanjutkan, “Ramji, renungkan pelajaran kehidupan Resi Wiswamitra yang melalui upaya-upaya keras tak kenal lelah meningkatkan kesadaran dari tahap Raja resi menjadi Brahma resi. Musnahkan ego yang merupakan sumber malapetaka di dunia.”

Dalam buku *2 Life Workbook dijelaskan tentang tujuan-tujuan  dalam hidup di dunia dan tujuan hidup itu sendiri.

Pertama: Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.

Kedua: artha atau harta, uang, materi. Carilah harta, kumpulkan uang dengan cara dharma dengan baik dan tepat, tanpa merugikan orang lain.

Ketiga: kama atau napsu, keinginan. Gunakan harta yang dicari dengan cara dharma itu untuk memenuhi segala kebutuhan serta keinginan kita, tetapi jangan lupa menjaga keinginan itu supaya tidak melebihi penghasilan.

Keempat: moksha atau kebebasan, juga dapat diartikan sebagai “pembebasan” yang secara khusus berarti bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Ini adalah tujuan hidup manusia. Sekali hidup sebagai manusia semestinya sudah cukup untuk mengakhiri siklus kehidupan di dunia ini, sehingga jiwa dapat berevolusi lebih lanjut. Barangkali dalam alam yang berbeda.

Dharma, artha dan kama adalah tujuan-tujuan dalam hidup. Moksha adalah tujuan hidup, tujuan akhir. Karena itu, sesungguhnya keempat hal tersebut saling berkaitan. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Apa pun profesi atau pekerjaan kita, sudah pasti untuk menghasilkan harta, uang. Karena itu, bertanyalah pada diri sendiri, “Apakah pekerjaanku sesuai dengan tuntutan dharma?” Semiskin apa pun diri saya dan sekaya apa pun diri Anda, kita semua memiliki keinginan. Saatnya kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah keinginan-keinginanku melebihi penghasilanku?” *2 Life Workbook

Urutan dharma, artha, kama dan moksha ini penting sekali. Jangan mengacaukan urutan ini. Carilah uang dengan jalan dharma, dengan cara yang baik dan bijak. Berkeinginanlah sesuai dengan penghasilan. Dan, akhir, janganlah terikat dengan dunia ini, karena keterikatan berarti perbudakan, dan seorang budak tidak bisa menikmati hidup. Semewah apa pun sangka dimana kita berada, sangkat tetaplah sangkar. Walaupun terbuat dari emas, sangkah merampas kebebasan kita. *2 Life Workbook

 

Bhim, Bas dan Dridh

Resi Vasishta melanjutkan, “Ramji, kulanjutkan kisahku tentang Raja Asura Samber. Samber kemudian menciptakan tiga panglima baru, yang tidak terpengaruh oleh ego bernama Bhim, Bas dan Dridh.”

Masih ingat tentang kisah Asura Vrta yang melawan dengan gagah berani melawan Indra? Karena menguasai ilmu Brahmavidya, Vrta tidak takut kalah atau mati. Demikian juga dalam kehidupan sebelumnya Vrta yang hidup sebagai Raja Citrakethu juga tidak terpengaruh oleh kutukan Sati, istri Mahadewa yang telah mengutuknya dalam kehidupan selanjutnya akan lahir sebagai asura. Menghadapi kejadian apa pun, Citrakethu dan Vrta tidak goyah karena keyakinannya tentang Atman dalam dirinya.

Apa yang terjadi, perubahan yang terjadi pada badanku, pikiran serta perasaanku, status sosial serta ekonomi – semuanya tidak serta merta merubah-“ku”. Ketika kau menyadari hal itu, maka kau terbebaskan dari belenggu “aku” yang kecil dan bersifat individual. Kau berhadapan dengan Sang Aku Sejati, Aatmaa. Ketika “aku” menyadari hal itu, maka “aku” pun terbebaskan dari belenggu – dan pada saat itu juga Sang Aku Sejati “terungkap” dengan sendirinya! Wow, setiap orang yang terbebaskan dari individualitas – menemukan Sang Aku yang satu dan sama. Luar biasa! Maka, para resi merumuskan: “Itulah Kebenaran Hakiki”. Itulah Satya, Al Haqq.* 3 Panca Aksara

Demikian besar keyakinan ketiga panglima kepada Sang Atman sehingga kejadian apa pun di dunia tidak mengganggu mereka. Seperti Asura Vrta, mereka berperang secara kshatriya melawan para dewa. Walaupun terluka oleh senjata para dewa, mereka tidak peduli, karena merasa diri mereka adalah Atman, dan para dewa akhirnya kalah.

Selanjutnya, para dewa mohon pertolongan Wisnu dan Wisnu turun tangan sendiri menghadapi mereka. Wisnu menggunakan senjata sudarsana cakra memusnahkan Samber dan balatentaranya dan masuk ke badan halus  Bhim, Bas dan Dridh, mereka kemudian menjadi diam. Wisnu memberi anugerah dan mereka mencapai Wisnu.

Sri Rama bertanya, “Apakah sejatinya pikiran itu?”. Resi Vasishta menjawab, “Sewaktu chitta yang hadir dalam Kesadaran Murni berubah menjadi tidak murni dan jauh dari jatidirinya sendiri, itu disebabkan karena berhubungan dengan berbagai ide dan ilusi (sankalpa-wikalpa), maka ia disebut sang pikiran. Karena tidak murni maka ia mendapatkan ilusi duniawi ini. Sewaktu paham ide chitta diarahkan keluar dan dimanifestasikan dengan dunia ini, maka ia disebut sang jiwa. Seandainya raga ini dibedah maka yang ditemukan hanyalah tulang, daging dan darah. Dengan demikian jelaslah bahwa sang pikiran adalah Sang Jiwa itu Sendiri.”

 

Menuju Gerbang Kebebasan

Dalam buku *4 Rahasia Alam disampaikan cara mencapai kebebasan.

Bebaskan dirimu dari keterikatan, karena keterikatanmu bersifat ilusif. Keterikatan manusia tidak pada tempatnya. Keterikatan manusia adalah ciptaannya sendiri. Tercipta karena ketidaktahuan.  Rama bertanya, bagaimana menyadari hal itu? Dengan cara apa pula dapat kubebaskan diri dari keterikatan? “Ketahuilah Rama bahwa Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal pertama adalah Shaanti” Shaanti sering diterjemahkan sebagai “kedamaian”  padahal Shaanti juga berarti “Yang Mendamaikan” atau sekedar “Damai”. Ia yang sudah damai dapat merasakan kedamaian di dalam dirinya dan dapat pula mendamaikan. *4 Rahasia Alam

“Ketahuilah Rama bahwa Gerbang Kebebasan dijaga oleh empat pengawal. Pengawal pertama adalah Shaanti. Pengawal kedua adalah Aatma Vichaarana”. Aatma Vicharana berarti “menganalisa diri”, introspeksi diri, mawas diri, setiap upaya untuk mengenal diri dapat disebut Aatma Vichaarana.

Dalam beberapa teks kuno, Aatma Vichaarana juga disebut Sadvichaar, pikiran atau analisa yang tepat. Saadvichaar menuntut setting up priorities, menentukan prioritasmu dalam hidup apa saja? *4 Rahasia Alam

Pengawal ketiga gerbang kebebasan adalah santhosa berarti kepuasan. Bukan memuaskan diri, tetapi memang puas. Puas karena sudah mencicipi kepuasan itu. Bila anda puas karena sesuatu, sebetulnya anda belum puas. Kurangi sesuatu itu dari hidup anda dan kepuasan itu akan lenyap seketika. Santhosa bukanlah kepuasan yang disebabkan oleh sesuatu. *4 Rahasia Alam

Pengawal keempat gerbang kebebasan adalah Sadhusanga atau Satsanga berarti “Pergaulan dengan mereka yang baik”. Tidak perlu bermusuhan dengan dengan mereka yang kurang baik, tetapi anda juga perlu menghindari pergaulan yang tidak menunjang kesadaran. Bila ingin mempertahankan kesadaran. Bergaullah dengan mereka yang sadar. Perlu adanya kecerdasan pergaulan. Waspadai setiap langkah supaya tetap sadar. *4 Rahasia Alam

Umat manusia terbagi dalam dua kelompok utama. Kelompok yang masih tidur, masih bermimpi. Dan kelompok yang sudah terjaga. Ironisnya, kelompok yang masih tidur inilah kelompok mayoritas. Yang sudah terjaga, sedikit sekali. Syukur-syukur kalau mereka hanya tidur dan bermimpi. Di zaman Shankara, mungkin demikian. Sekarang, ceritanya lain lagi. Mereka tidak hanya bermimpi, tetapi berjalan dalam tidur, sehingga terjadilah kekacauan di mana-mana. *1 Atma Bodha

Pujangga Ronggowarsito menyampaikan bahwa seberapa beruntungnya mereka yang lupa kesadarannya, masih untung mereka yang sabar, sadar dan waspada.

Terima Kasih Guru, yang selalu memandu manusia agar selalu berada dalam kesadaran. Sembah sujud kepada Dia yang berada dalam diri Guru. Namaste.

 

*1 Atma Bodha           Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

*2 Life Workbook             Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

.* 3 Panca Aksara        Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.

*4 Rahasia Alam          Rahasia Alam Alam Rahasia, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: