Kisah Resi Vasishtha tentang Akibat Persembahan Ilusi dan Sepotong Kisah Resi Agastya


Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut “Tuhan” dan kejahatan dengan apa yang kita sebut “Setan”.

Hidup dalam istana, dilayani oleh para gadis belia sungguh sangat nikmat. Lalu kita menghubungkan kenikmatan dengan “kebaikan” dengan Tuhan. Hidup dalam hutan sungguh sangat berat, penuh dengan penderitaan. Lalu kita menghubungkan penderitaan dengan Setan.

Apa yang kita “suka”, kita kaitkan dengan Tuhan. Apa yang kita “tidak suka” kita kaitkan dengan setan. Apa yang kita anggap baik, kita hubungkan dengan Tuhan. Apa yang kita anggap tidak baik, kita hubungkan dengan setan. Jika begitu terus betapapun rajinnya kita mendatangi tempat-tempat ibadah, betapapun seriusnya kita mengkaji ajaran-ajaran agama, kita akan masih tetap jauh dari kebenaran, karena kebenaran tidak tergantung pada apa yang kita sukai dan apa tidak kita sukai. Kebenaran adalah kebenaran. Kesukaan dan ketidaksukaan kita tidak akan mengubahnya. Bahkan sesungguhnya, apa yang kita sukai dan apa yang kita tidak sukai, dua-duanya adalah sisi kebenaran. *1 Surah-Surah Terakhir

Pesulap Indrajali

Pada suatu hari Resi Vasishta berkata kepada Sri Rama, “Ramji, aku sudah sudah beberapa kali menyampaikan kepadamu bahwa Avidya, kurang pengetahuan, kurang kesadaran adalah sifat sang pikiran. Avidya ini hadir kala seseorang melupakan Sang Atman dan akan hilang kala Sang Atman muncul.”

Prabu Lavan adalah raja dengan kekayaan melimpah dari dinasti Surya yang menguasai negara Uttrapad. Pada suatu hari datanglah seorang pesulap bernama Indrajali ke istana untuk menampilkan keahliannya. Sang Pesulap menggerakkan sehelai bulu burung merak di tangannya ke arah sang prabu, dan sang prabu tiba-tiba merasa diberi anugerah seekor kuda dari leluhurnya.Sang prabu merasa menunggangi kuda tersebut ke sebuah tempat yang jauh.

Setelah beberapa saat sang prabu nampak sangat pucat, keringat dingin menetes dari tubuhnya yang setengah tidak sadar dan berkata, “Siapakah raja yang berkuasa di istana ini?”

Para petinggi negara terkejut dan segera menyadarkan sang prabu. Setelah sadar sang prabu mencari Indrajali sang pesulap yang ternyata telah hilang lenyap. Kemudian sang prabu menyampaikan pengalamannya.

“Sewaktu Indrajali menggerakkan bulunya, seketika aku melihat sinar sang surya berubah menjadi pelangi yang indah. Kulihat leluhurku memberikan seekor kuda kepadaku, yang setelah kunaiki segera lari cepat menuju sebuah gurun pasir. Di gurun tersebut, tidak terdapat setetes air pun, sehingga aku merasa sangat kehausan dan menderita sekali. Kemudian aku melihat seorang wanita membawa  rantang berisi nasi dan air.  Aku meminta sedikit makanan dan minuman kepadanya, namun dia menolak dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang chandala dari kaum Nisada, kaum pemakan anjing, sedangkan diriku adalah seorang raja.”

 

Menjadi seorang chandala

“Selanjutnya, aku memaksanya dan dia bersedia memberikan makanan dan minuman asalkan aku bersedia mengawininya. Aku setuju dan kemudian melakukan pernikahan di hadapan orang tuanya.  Semenjak itu aku sehari-hari hidup bersamanya.  Setiap hari aku hanya makan daging anjing, karena tidak ada makanan yang lain. Istriku melahirkan seorang putri dan tiga tahun kemudian melahirkan seorang putra. Selanjutnya istriku melahirkan banyak anak. Aku pun berubah menjadi chandala dan mengalami penderitaan dalam kehidupan tersebut. Aku telah kehilangan identitasku, dan merasa benar-benar hidup sebagai seorang chandala.”

“Pada suatu saat, terjadi bencana kekeringan yang berkepanjangan dan kami semua terpaksa pindah ke daerah lain. Di perjalanan, putra bungsu yang kusayangi kelaparan dan menangis terus. Hatiku merasa seperti diiris-iris, tetapi aku memang tidak mempunyai makanan apa pun. Akhirnya kutawarkan badanku agar dipanggang dan dijadikan santapan bagi putra-putraku. Mereka setuju. Kuhidupkan api di tumpukan kayu bakar dan aku melompat ke tengah api tersebut. Pada saat itu badanku tergetar dan aku tak sadarkan diri. Kemudian aku siuman di depan kalian semua.”

Sri Rama bertanya, “Guru, siapakah Indrajali, si pesulap yang mampu menggoyahkan pikiran Prabu Lavan?”

Resi Vasishta menjawab, “Ramji, sebelum Prabu Lavan dihipnotis oleh Indrajali, sang prabu selama satu setengah tahun melaksanakan upacaya korban Rajasuya Yajna, seperti yang pernah dilaksanakan oleh kakeknya, Prabu Harishchandra, akan tetapi hanya dengan jalan membayangkan, hanya berbentuk imaginasi. Karena Yajna ini dilakukan secara imajinatif maka sesajen dan upacara pengorbanan bersifat khayalan juga. Ibarat seorang pesulap, maka hanya pikiran tersebut yang  memberikan rasa dan pengalaman tentang sesuatu yang sebenarnya tidak eksis.”

Pikiran memang tidak dapat membedakan antara hal yang imaginasi dan yang nyata. Misalkan kita mendapatkan ketenangan sewaktu duduk sore hari di sebuah tempat peristirahatan di pegunungan, maka seminggu kemudian kala membayangkan hal yang sama kita mendapatkan ketenangan yang sama. Sebaliknya bila kita kita begitu marah dengan seseorang, maka begitu mengingat dia, maka kemarahan akan muncul. Detak jantung pada waktu membayangkan hampir sama dengan detak jantung sewaktu mengalaminya. Yang disimpan dalam pikiran bukan peristiwanya, tetapi emosi yang terjadi pun ikut disimpannya.

Khayalan sang raja ini membuat Indra sangat gusar, dan beliau lalu mengutus salah satu dewa untuk menyamar sebagai Indrajali dan kemudian membuat sang prabu merasakan ilusi penderitaan sebagai seorang chandala.

 

Ilusi ketakutan

Kisah ini menunjukkan bahwa pikiran pun bisa menjadi benih sebab yang akan menghasilkan akibat di kemudian hari. Pikiran mempunyai karmanya. Menyakiti perasaan seseorang mempunyai karmanya. Semua pikiran, ucapan dan tindakan mempunyai karmanya. Sebuah tipuan mengakibatkan tipuan juga di akhirnya.

Oleh karena itu dalam berpikir pun seseorang tetap harus waspada.

Pikiran yang baik adalah pikiran yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. *2 Sms wisdom

Berdasarkan pemahaman dari buku *3 Paramhansa, dijelaskan solusi dari ketakutan yang dialami Prabu Lavan.

Rasa takut Prabu Lavan memang nyata, keringat dinginnya memang nyata, walaupun mimpinya sendiri tidak nyata, walaupun semuanya itu terjadi dalam mimpi. Lantas bagaimana melampaui ‘rasa takut yang nyata’ yang disebabkan oleh ‘mimpi yang tidak nyata’ – yang tidak ada?

Lagi pula apa gunanya melawan ‘mimpi yang tidak nyata’, sesuatu yang hanya berada dalam mimpi? Solusinya hanya satu: bangunlah, bangkitlah! Dan mimpi akan berakhir dengan sendirinya. Tidak perlu melawan mimpi. Kesadaran ibarat Alam Jaga. Ketidaksadaran ibarat Alam Mimpi. *3 Paramhansa

Para suci menjelaskan bahwa sebetulnya, baik kenyataan hidup maupun mimpi semuanya berasal dari pikiran.

Shivaguru sadar betul bahwa apa yang disebut “kenyataan hidup” dan apa yang dianggap “mimpi” sesungguhnya sama-sama berasal dari pikiran. Pikiran mewujud dan terciptalah gelombang kehidupan. Bila terjadi dalam alam jaga, perwujudan itu disebut kelahiran dan kematian. Bila terjadi dalam alam tidur, itu disebut mimpi. *4 Atma Bodha

Begitu bangun dari mimpi kita berkata kita telah terjaga.

Terjaga terhadap apa? Keluar dari satu alam mimpi, kau memasuki alam mimpi yang lain. Alam jagamu masih merupakan alam mimpi juga. Semuanya sedang lewat, berlalu. Tiada sesuatu yang bertahan. Bagaimana kamu bisa mengakhiri mimpi itu?  *5 Shalala

Hidup ini pun sejatinya hanya mimpi, dan bila memang hanya mimpi, mari kita mimpi dalam berkesadaran.

Ada yang mengejar harta, ada yang mengejar pahala. Ada yang mengejar takhta, ada yang mengejar sorga. Dilihat sepintas, mereka tampak berbeda. Padahal, tidak demikian. Selama Anda masih mengejar sesuatu, Anda belum “terjaga”. Anda kekurangan harta dalam mimpi, dan Anda mengejar harta dalam mimpi. Anda menginginkan pahala dalam mimpi, dan Anda mengejar pahala dalam mimpi. Anda tidak memiliki takhta dalam mimpi, dan Anda mengejar takhta dalam mimpi. Anda kehilangan sorga dalam mimpi, dan Anda mengejar sorga dalam mimpi. Ada yang pernah menanyakan kepada Siddhartha Gautama, “Siapakah Engkau sebenarnya? Manusia atau Dewa, Malaikat?” Sang Buddha menjawab, “Aku Buddha—Yang Terjaga!” * 4 Atma Bodha

Resi Vasishtha kemudian berkata : “Ramji, aku telah mengisahkan kepadamu keadaan dan kekuatan sang pikiran. Sesuai dengan kebutuhan kehidupan maka banyak ikatan yang terasakan oleh sang pikiran, namun sewaktu sang pikiran masuk ke dalam kondisi yang tenang, maka tercapailah kedamaian dan kesadaran. Oleh sebab itu lepaskanlah dirimu dari sang pikiran dan tetapkanlah pikiranmu ke dalam Sang Atman.”

 

Kisah Resi Agastya

Dalam buku *5 Shalala, disebutkan bahwa pada zaman Tetra Yuga, saat keberadaan Sri Rama, ada Tiga Resi Utama yang mempengaruhi pola pikir para petinggi di zaman itu.  Ketiga Resi Utama tersebut adalah Resi Vasishtha, Resi Bardwaja dan Resi Agastya.

Bila Dia berada di mana-mana. Di dalam diriku dan dirimu dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan, maka apalagi yang harus dilakukan? Semua ini permainan belaka. Dan Dia sedang menikmatinya lewat aku, lewat kamu, lewat bumi, dan lewat langit. Lewat bukit dan lewat lembah. Ahhhh! ………… Resi Vasishtha membisu. Mau bicara apalagi.

Bila Dia berada di mana-mana. Di dalam diriku dan dirimu dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan, kenapa hanya aku yang melihat-Nya? Kenapa hanya aku yang menyadari kehadiran-Nya? Kenapa kamu tidak? Kenapa masih ada orang-orang yang belum? Resi Bardwaja mulai mencari tahu sebab. Ternyata banyak orang yang masih tidur. Mereka belum terjaga. Sehingga tidak bisa melihat terbitnya matahari pagi. Dan dia berupaya keras untuk membangunkan mereka.

Dia berada di mana-mana. Di dalam diriku, dirimu, dan diri setiap makhluk, bahkan di balik bebatuan dan rerumputan. Mereka yang tidak menyadari hal itu, sungguh tidak sadar. Dan ketidaksadaran mereka bagaikan penyakit menular. Hindari mereka. Kala itu Resi Agastya menjadi angkuh. *5 Shalala

Yang terpengaruh oleh Vasishtha, menjadi sangat peace-loving. Pecinta kedamaian, kasih dan selalu menghindari pertengkaran.

Yang berada di bawah pengaruh Bardwaja, dan menjadi dinamis. Lewat wejangan, ceramah, dan kegiatan sosial, mereka berupaya meningkatkan kesadaran warga.

Yang terakhir adalah Suku Bangsa Bharata. Dengan jumlah warga terbanyak, wilayah kekuasaan mereka pun terluas. Pengaruh Agastya terhadap suku itu terasa sekali. Mereka menjadi agak angkuh, arogan. Bagi mereka, warga non-Arya adalah warga Dasyu. Warga kelas dua. Mereka yang tidak sadar atau ‘budak hawa nafsu’ – itulah makna Dasyu. *5 Shalala

Rita adalah Hukum Abadi yang dijunjung tinggi oleh setiap Arya. Dan sesungguhnya Rita sangat mudah untuk dilakoni.  Rita mengajarkan kebenaran, kebajikan, kasih sayang, kedamaian, dan sebagainya, dan seterusnya. Hanya saja, penjabaran Rita sangat tergantung pada mereka yang menafsirkannya.

Untuk mencapai kedamaian misalnya, seorang Agastya (kala itu…Penulis)akan membenarkan perang. Bhardwaja dan Vasishtha tidak. Untuk menegakkan apa yang dianggapnya kebenaran, Agastya akan membenarkan kekerasan. Vasishtha dan Bardwaja tidak akan menerima kebenaran yang perlu bersandar pada kekerasan. Bagi mereka berdua, kebenaran seperti itu sudah bukan kebenaran lagi.

Vasishtha dan Bardwaja sadar betul bahwa Rita bisa ditafsirkan sesuai dengan tabiat sang penafsir. Setiap penafsir memproyeksikan pikirannya, sifatnya. Itulah sebabnya mereka bisa menerima beda pendapat. Bisa menerima perbedaan.*5 Shalala

Setelah merasa bersalah atas peristiwa bunuh dirinya Ugra, putri raja dari bangsa Dasyu isteri dari Vishvaratha putra mahkota raja bangsa Arya serta tidak bersedianya Vishvaratha menjadi raja, maka Resi Agastya sadar dan memperbaiki pandangan hidupnya. (Baca buku *5 Shalala).

Agastya tidak pernah memaafkan dirinya. Di India Selatan dia hidup dalam pengasingan. Semacam self-exile – mengasingkan diri. Jauh dari keramaian. Bersama Lopamudra, dia menyebarkan pesan kasih dari padepokannya. Kadang pesan itu disampaikannya lewat kata-kata. Lewat ucapan. Lebih sering lewat getaran-getaran pikiran…

Agastya masih hidup. Berbadan dan berdarah daging, dia masih hidup. Lima ribu tahun yang lalu, setelah kematian Lopamudra, dia pindah ke Yava-Dvipa. Ke Jawa – sekarang disebut Indonesia. Di sana dia dikenal dengan nama Semar. *5 Shalala

 

Semar Roh Indonesia

Semar adalah roh Indonesia. Jiwa Indonesia. Itulah sebabnya orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam tidak melunturkan budaya asal mereka.

Ya, Agastya gelisah. Sejak beberapa abad terakhir, beliau memang sangat gelisah. Manusia ‘beragama’ semakin fanatik. Indonesia mulai melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendikiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Dan itu jelas salah. Agastya juga ingin beristirahat sebentar. Ingin tidur sebentar di pangkuan ‘Himalaya’. 

Agastya ingin mengunjungi tempat-tempat suci yang bermunculan dalam 5.000 tahun terakhir. Tetapi sekarang beliau sudah kembali ke Indonesia.

Negeri itu bagaikan kereta yang sudah turun dari jalur. But don’t worry, he will fix it. Agastya bisa menangani hal itu. Tanpa bantuan siapa-siapa, bisa melakukannya sendiri. Beruntunglah kalian, sehingga terpilih sebagai pembantu Sang Guru. *5 Shalala

Semar berkomunikasi dengan mereka lewat pikiran. Saat mereka dalam keadaan reseptif dan terbuka, mereka mendengarkan suara Semar. Dan suara Semar sesungguhnya suara hati. Suara kesadaran tinggi. Suara ‘diri’ mereka yang hakiki.

Sungguh beruntung kalian bisa melihat wujud Semar. Bisa melihat Roh Indonesia, Jiwa Bangsa itu berwujud…………Dan hal itu hanya terjadi, bila seseorang dalam keadaan sangat reseptif, terbuka…. yaitu bila seseorang sudah melampaui hawa nafsu dan berada pada tingkat kasih. *5 Shalala

Terima Kasih Guru, semoga virus kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara.  Aku bersujud pada Dia yang mewujud dalam diri Guru untuk memandu kearah Kebenaran. Namaste.

 

*1 Surah-Surah Terakhir               Surah-Surah Terakhir Bagi Orang Modern, Anand Khrisna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*2 Sms wisdom                                         SMS Wisdom, Anand Krishna

*3 Paramhansa                           Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002

*4 Atma Bodha                           Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

*5 Shalala                                  Shalala, Merayakan Hidup, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 .

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Oktober 2009.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Semoga kesadaran SEMAR ini tersebar keseantero wilayah nusantara ini …… dan kesadaran bangkit ditengah-tengah bumi pertiwi ini …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: