Babak Akhir Perjalanan Batin Dewi Sinta

 

  • Keheningan bukanlah ketiadaan kebisingan, melainkan ketiadaan pikiran.

*1 Maranatha halaman 89

 

  • Hati yang tidak tergantung pada sesuatu di luar. Hati yang tidak berdoa untuk meminta, tetapi untuk mensyukuri. Hati yang tidak cengeng. Hati yang ceria; hati yang bersuka-cita; hati yang senantiasa menari dan menyanyi. Hati yang tengah merayakan hidup!

*2 Neo Psyhic Awareness halaman 27

 

  • “Hatimu tertutup, bukalah hatimu, biarlah angin segar memasuki ruang hatimu… biarlah hatimu berlembab…” Mereka yang memahami maksud bisikan dan membuka diri, menemukan cinta, menemukan kasih dalam keterbukaan itu.

*3 Ishq Ibadat halaman 4

 

  • Bukalah hatiku sehingga terdengar suara-Mu yang berasal dari dalam diriku juga. Selama ini yang terbuka hanyalah pikiran kita. Itu pun baru terbuka sedikit saja.

*4 Fiqr halaman 81

Di depan rombongan Sri Rama yang menemuinya, Dewi Sinta mengheningkan cipta. Semua yang hadir menunggu dengan penuh kesabaran.  Suasana damai menyelimuti semua insan. Beberapa saat  kemudian Dewi Sinta membuka matanya. Dirinya baru saja mengingat kala berada di pondok sederhana di kaki pegunungan yang indah. Terdengar bunyi burung bersahutan dilatarbelakangi gemericik suara aliran air Sungai Tamsa. Kemudian dia mengucapkan syair ungkapan perasaan dan semua yang hadir menyimak penuh perhatian… Baca lebih lanjut

Iklan

Pelajaran-pelajaran dari Indonesia untuk India yang sekuler

Senin pukul 3:40 Dinihari

http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=324841435246&id=601700011&ref=mf

Indonesian lessons for secular India

Oleh Tarek Fatah

Terjemahan Rahmad D.

“[Islam] sampai [di Indonesia] melalui perdagangan dan bukannya melalui penaklukkan, melalui pedagang India dan bukannya Arab… Masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven dan kata neraka untuk hell. Namun kultur pluralisme dan toleransi seperti ini tidak bisa lagi diterapkan begitu saja. Sekarang ini, Indonesia tengah berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Islam moderat dan Islam radikal yang telah memecah-belah komunitas-komunitas Muslim dari Maroko sampai Mindanao. Para Muslim radikal, mereka yang berusaha mengurusi setiap tetek bengek dalam masyarakat dan negara—sejak dari burqa sampai masalah perbankan—dengan menggunakan hukum syariat memang masih minoritas, namun jumlah mereka terus bertambah. Selain itu orang-orang radikal ini berusaha menambah jumlah mereka dengan kegiatan, organisasi serta keyakinan bahwa sejarah ada di fihak mereka.” Baca lebih lanjut

Dharma Bhakti Teguh Para Garuda

Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia.

Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  + Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan.

Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan. *1 Kundalini Yoga 

Kelahiran Sang Garuda

Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.

Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa. Baca lebih lanjut

Laporan Pandangan Mata: Silaturahmi Islamic Movement for Non Violence dengan Tokoh Muslim Bali

Muslihah Razak

http://www.facebook.com/muslihah.razak#/notes/muslihah-razak/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-toko/180518735403

 

Islamic Movement for Non Violence (IMN)

Restoran de Surau Denpasar Bali, 13 November 2009

 

“Inna ad-din ‘Inda-Allah Islam: the Way to God is Peaceful Surrender” with Prof. Amina Wadud

 

Bertempat di Denpasar bali, Islamic Movement for Non Violence atau IMN mengadakan acara silaturahmi dengan tokoh-tokoh muslim Bali, diantaranya Masrur, Ketua MUI Badung, Khabibah Ahmad dari Fatayat NU, Suri Handayani dari Muslimat NU, Yayuk Herawati dari Forum Majlis Taklim Denpasar, Ariful Akmal dari Religious Affairs Denpasar, dan masih banyak lagi seperti perwakilan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), perwakilan Himpunan Pengusaha Muslim Bali, perwakilan dari Departemen Agama, dan ada juga dari Universitas Udayana Hadir pula dalam acara tersebut Maya Safira Muchtar sebagai penggagas IMN

 

Yang membuat acara ini lebih special adalah kehadiran tokoh pemikir islam yang kontraversial Prof. Amina Wadud, yang hari itu berbagi dengan kami apa sebenarnya makna dari Inna ad-din ‘Inda-Allah Islam.

 

Amina memulainya dengan peringatan agar kita tidak sempit dalam memahami Al-quran karena dalam al-quran sendiri dijelaskan bahwa pesan-pesan Allah tidak hanya didalam a-quran tetapi juga diseluruh alam, tanda-tandanya berada dimana-mana. Dan alquran diturunkan bukan hanya untuk orang-orang yang mengerti bahasa arab saja, ataupun bangsa arab saja tetapi untuk semua ummat manusia Baca lebih lanjut

Kelahiran Rahwana Dan Sekelumit Tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda. *1 Medis dan Meditasi

Latar belakang keluarga para pelaku dalam Ramayana

Prabu Dasarata penuh hasrat mendapatkan seorang putra, sehingga mengawini tiga orang wanita yang ternyata tiga-tiganya belum dapat memberikan putra juga. Akhirnya dengan suatu upacara ritual ketiga istrinya melahirkan empat putra. Keempat putranya saling mengasihi.

Kemudian karena sang prabu kalah janji dengan istri ketiga, maka putra terkasihnya Sri Rama harus meninggalkan istana yang menyebabkan kesedihan sang prabu yang membawanya keujung kematian.

Resi Gotama bertapa seratus tahun dengan harapan mendapatkan anugerah isteri seorang bidadari. Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang bersedia menjadi istrinya, akan tetapi dia memiliki cupu manik Astagina yang pada setiap saat konon dapat berhubungan dengan Bathara Surya lewat cupu tersebut.

Pasangan suami istri tersebut melahirkan tiga anak, Guwarsa yang akhirnya menjadi Subali, Guwarsi yang menjadi Sugriwa dan Retno Anjani yang melahirkan Hanuman.  Dua bersaudara Subali dan Sugriwa berseteru hingga akhirnya Subali mati dipanah Sri Rama. Sedangkan Hanuman melakukan “total surender” pada Sri Rama, sang avatara.

Dewi Sukesi, putri raja Alengka Prabu Sumali, seorang wanita yang sangat percaya diri dan bersemangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan pasangan hidup melalui pertarungan antar ksatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih pasangan hidup siapa pun yang dapat menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Baca lebih lanjut

Nilai Sejati dari “ARTHA”

Anand Krishna*

(Radar Bali, Rabu 21 Oktober 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=235:nilai-sejati-dari-artha&catid=15&Itemid=56

 

 

 

Bagi masyarakat di kepulauan ini, di mana Bali menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, artha, “kekayaan” atau “uang” bukanlah tujuan akhir, tapi sarana untuk mencapai kesejahteraan total. Dan kesejahteraan total bukan sekedar kesejahteraan ekonomi, tapi juga keamanan sosial. Di atas segalanya, artha ialah sesuatu yang memberi makna bagi kehidupan seseorang.

 

Satu dari teman saya di Singapura memberi nama perusahaannya Cash dan Gold Pte. Ltd. Nah, “cash” dan “gold” dalam bahasa Inggris tak lagi mempunyai arti lain. Cash ya fulus dan gold ya emas. Tapi di sini, svarna artha, walau berarti sama secara harfiah, “emas” dan “uang,” toh bisa memiliki implikasi makna yang berbeda.

 

Svarna bisa juga berarti kekayaan, kejayaan atau kemuliaan. Emas adalah logam mulia, tapi bisa juga berarti nilai-nilai luhur yang mulia, misalnya kejujuran dan integritas. Bukan hanya materi, karakter pun bisa menjadi sesuatu mulia. Baca lebih lanjut

Hanuman Sang Duta Pembawa Pesan Ilahi

Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau ‘demon’ itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah “bentuk” atau “wujud” kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu. *1 Atisha

Peringatan Alam sebelum bencana tiba

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. *2 Reinkarnasi

Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Keberadaan terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera taubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.

Semua tindakan mempunyai akibat masing-masing, akan tetapi sebelum melakukan tindakan yang semakin tidak harmonis dengan alam, kita dingatkan Keberadaan melalui berbagai tahapan peringatan. Baca lebih lanjut