Pelajaran-pelajaran dari Indonesia untuk India yang sekuler


Senin pukul 3:40 Dinihari

http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=324841435246&id=601700011&ref=mf

Indonesian lessons for secular India

Oleh Tarek Fatah

Terjemahan Rahmad D.

“[Islam] sampai [di Indonesia] melalui perdagangan dan bukannya melalui penaklukkan, melalui pedagang India dan bukannya Arab… Masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven dan kata neraka untuk hell. Namun kultur pluralisme dan toleransi seperti ini tidak bisa lagi diterapkan begitu saja. Sekarang ini, Indonesia tengah berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Islam moderat dan Islam radikal yang telah memecah-belah komunitas-komunitas Muslim dari Maroko sampai Mindanao. Para Muslim radikal, mereka yang berusaha mengurusi setiap tetek bengek dalam masyarakat dan negara—sejak dari burqa sampai masalah perbankan—dengan menggunakan hukum syariat memang masih minoritas, namun jumlah mereka terus bertambah. Selain itu orang-orang radikal ini berusaha menambah jumlah mereka dengan kegiatan, organisasi serta keyakinan bahwa sejarah ada di fihak mereka.”

22 November 2009

Pelajaran-pelajaran dari Indonesia untuk India yang sekuler

Sadanand Dhume

The Times of India

Jika anda harus mengambil contoh tempat dalam dunia Muslim yang paling rentan terhadap ekstrimisme agama, maka anda akan sulit mendapatkan kandidat lain yang lebih baik dari Indonesia. Negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini berada di sisi timur Islam, terpisah oleh ruang dan waktu dari tempat lahirnya agama ini di jazirah Arab.

Islam masuk ke kepulauan Indonesia pada abad ke-12, berakar kuat pada abad ke-15 dan menjadi dominan selambat-lambatnya pada abad ke-17. Secara umum, Islam datang melalui perdagangan dan bukannya penaklukkan, oleh pedagang India dan bukannya Arab. Islam didahului lebih dari satu milenia oleh Hindu dan Buddha, yang salah satu pencapaiannya adalah termasuk candi Borobudur, yang adalah sebuah candi Buddha sangat megah yang dibangun pada abad ke-9.

Sebagaimana yang ditulis oleh seorang antropolog bernama Clifford Geertz yang membandingkan Indonesia dengan Maroko: “Di Indonesia Islam tidak membangun peradaban, ia hanya menghiasi dan melengkapinya saja.”

Di India, Islam orthodoks terkadang berkonflik secara terbuka dengan Hundhu. Tetapi di Indonesia, agama baru ini duduk dengan nyaman di atas landasan ajaran Hindhu-Buddha yang sudah ada sebelumnya. Seperti sebagian besar orang India, dan tidak seperti orang-orang Arab, sebagian besar masyarakat Indonesia tetap meyakini bahwa terdapat banyak jalan menuju Tuhan. Dan tetap demikian sampai baru-baru ini, Islam Indonesia—yang larut dalam budaya musik dan mistisisme—sinonim dengan toleransi. Secara umum satu dari delapan orang Indonesia yang adalah orang Kristen, Buddha, Hindu atau Animis, jarang menghadapi diskriminasi dan kekerasan agama.

Sangat jelas bahwa masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven dan kata neraka untuk hell. Namun kultur pluralisme dan toleransi seperti ini tidak bisa lagi diterapkan begitu saja. Sekarang ini, Indonesia tengah berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Islam moderat dan Islam radikal yang telah memecah-belah komunitas-komunitas Muslim dari Maroko sampai Mindanao. Para Muslim radikal, mereka yang berusaha mengurusi setiap tetek bengek dalam masyarakat dan negara—sejak dari burqa sampai masalah perbankan—dengan menggunakan hukum syariat memang masih minoritas, namun jumlah mereka terus bertambah. Selain itu orang-orang radikal ini berusaha menambah jumlah mereka dengan kegiatan, organisasi serta keyakinan bahwa sejarah ada di fihak mereka.

Bagi masyarakat India, drama yang tengah berlangsung di Indonesia ini secara khusus menjadi sangat penting disimak karena konflik yang terjadi di sana baik maupun secara kultur maupun politis adalah sebuah perang antara Islam yang sudah membaur dengan budaya setempat dengan Islam keras yang diimpor dari Arab. Selama 30 tahun terakhir ini, nama-nama Arab telah secara bertahap menggusur nama-nama Sansekerta di taman kanak-kanak. Jumlah wanita berjilbab meningkat sangat pesat di kampus-kampus. Di kantor-kantor, sapaan assalamualaikum telah digunakan sebagai ganti sapaan yang netral secara relijius seperti selamat pagi. Atap masjid bertingkat yang khas jawa telah digantikan dengan gaya atap dengan menggunakan kubah. Untuk pertama kalinya, generasi anak-anak Jawa tumbuh besar dengan menjadi tidak familiar dengan nama-nama Arjuna dan Bhima dari Mahabharata.

Konsekwensi-konsekwensi politis dari perubahan kultural yang luas ini telah tampak di permukaan. Koalisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyertakan PKS, sebuah partai kader yang akarnya bisa ditelusuri sampai kepada organisasi terlarang di Mesir, Ikhwanul Muslimin. Tahun-tahun belakangan ini, permintaan bahwa Muslim Indonesia harus mengikuti hukum syariat telah mengemuka.

Di universitas-universitas yang ada di seluruh penjuru negeri, para mahasiswa melaksanakan pengajian di masjid-masjid untuk mempelajari tulisan-tulisan dari tokoh radikal Mesir, Sayyid Qutb, atau menjadi anggota Hizbut Tahris, sebuah gerakan lainnya yang telah dilarang di banyak negara karena seruannya untuk menyatukan seluruh Muslim dalam sebuah kekhalifahan Islam. Jelasnya, hanya satu bagian dari Muslim orthodoks Indonesia saja yang melakukan gerakan-gerakan kekerasan, namun itu cukup untuk menjadikan masa satu dekade yang lalu menjadi yang paling berdarah dalam sejarah negeri ini sejak gerakan anti-komunis tahun 1960. Serangan-serangan teroris—bom Bali dan pemboman hotel di Jakarta—menjadi topik utama surat kabar. Tetapi sesuatu yang lebih buruk terus berlanjut dalam pemantauan Internasioanal. Di Maluku, yang dulunya adalah negeri dongeng rempah-rempah, dampak dari sebuah perang sipil berdarah telah memisahkan antara Muslim dengan umat Kristen dengan batas-batas agama. Di luar pulau Jawa, umat Kristen menghadapi bencana pembakaran gereja-gereja dan intimadasi dari orang-orang militan lokal. Sebagaimana di Pakistan, komunitas kecil Ahmadiyah juga berada dalam ancaman karena telah memisahkan diri dari pemikiran orthodoks Sunni yang diterima secara luas, dengan menyatakan bahwa pendiri gerakan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), menerima wahyu langsung dari Tuhan. Umat Hindu Bali telah memprotes apa yang disebut undang-undang “anti-pornografi”, yang mereka lihat sebagai sebuah usaha untuk memaksakan nilai-nilai orthodoks Islam pada orang-orang non-Muslim.

“Namun demikian, terlepas dari serangan-serangan dari para radikal ini, Indonesia masih jauh dari kekalahan. Para moderat bisa mengandalkan akar-akar kebudayaan Jawa yang menghujam dalam, hukum perundangan yang non-sektarian dan bisnis yang sekuler serta elit militer maupun para petinggi budaya. Indonesia mungkin masih menepati janjinya sebagai sebuah benteng pertahanan bagi moderasi, sebuah versi Muslim seperti Thailand. Namun jika kita melesuri wilayah negeri ini kita akan dikejutkan dengan hasil yang sangat berbeda, yakni Indonesia di mana Islam radikal terus melanjutkan kiprahnya untuk mencengkeramkan pengaruhnya dalam aspek budaya maupun politis bangsa ini, pendeknya seperti Pakistannya Asia Tenggara.”

Iklan

2 Tanggapan

  1. sebenarnya beragama itu ,untuk kedamaian bukan untuk permusuhan,karena islam ,majusi,nasrani yaqhudi i , itu,adalah agama alloh, tidak ada jihad perang setelah rasululoh wafat.hanya ada jihad melawan hawa napsu diri sendiri,dan konteknya itujuga di arab dan bagi manusia modern ,bagaimana menapkahi diri sendiri dan keluarga dan mengumpulkan kebaikan sebanyak banyaknya bukan menghancurkan sesama manusia ,tapi harus saling meluruskan karena ,bagi mereka yg paling baik adalah yang paling takwa diantara mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: