Memikul Salib bersama Yesus

Anand Krishna*

(Catatan di Facebook Natal 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=240:admin&catid=17&Itemid=58

Mudah sekali bagi kita untuk mengutip seseorang yang “punya nama” kemudian menjabarakan apa yang dikatakannya. Mudah sekali bagi kita untuk mengutip Yesus, atau Muhammad, atau Siddhartha, atau Krishna, kemudian mengomentari kata-kata mereka.

Namun, tidak demikian dengan seorang Yesus. Ketika ditanya oleh para ahli kitab apa yang menjadi “ajaran utama” – bukan ajaran-“nya” – tetapi “ajaran”, titik. Mereka ingin mendengar sesuatu yang bersifat generik, dan berlaku bagi semua.

Maka, tanpa keraguan, Yesus pun menjawab bila mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan jiwa – adalah ajaran terutama. Dan, kedua adalah mencintai tetangga kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

  Baca lebih lanjut

Iklan

Mutiara Kehidupan: Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya dan Wahyu Raja Mataram

Kesalahan paling besar yang dilakukan Gajah Mada, menurut Mpu Tantular, adalah penerimaannya terhadap kebhinekaan, keberagaman tanpa memperhatikan benang merah yang mempersatukan manikam-manikam yang beda dalam untaian kalung manis nan indah. Keadaan kita saat ini tidak jauh berbeda. Banyak yang dapat menerima kebhinekaan, keberagaman atau pluralitas, namun sebatas penerimaan saja. Bagaimana menindaklanjuti penerimaan itu dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari tak terpikirkan.

Kebhinekaan, keberagaman dan pluralitas yang tidak bertujuan satu dan sama tidak berguna. Ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” adalah half-truth. Anda dapat merayakan kebhinekaan dengan penggalan ini, tetapi tidak dapat menggunakannya demi tujuan yang lebih mulia. Untuk itu, penggalan berikut dari Bhinneka Tunggal Ika mesti diperhatikan: “Tan Hana Dharma Mangrwa” – Tak Ada Dualitas dalam Dharma, dalam Kebijakan yang Melandasi setiap Karya bagi Negara dan Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Selain kebijakan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, mesti menjunjung tinggi kearifan lokal. Manusia Indonesia harus tetap menjadi  Manusia Indonesia, bukan fotokopian Arab, China, India atau Eropa. *1 Sutasoma halaman 32

Wahyu Cakraningrat

Pada masa akhir Majapahit terlihat adanya kebhinnekaan, keberagaman keyakinan dalam masyarakat, akan tetapi  benang merah yang mengikatnya kurang kuat, keberagaman tersebut belum tertuju ke arah persatuan dan kesatuan. Kemelut yang berkepanjangan dalam perebutan kekuasaan, membuat masyarakat memimpikan suatu raja yang kuat yang dapat menerima keberagaman dan mengikatnya dengan persatuan dan kesatuan untuk menyejahterakan bangsa dengan mengedepankan jati diri bangsa.

Istilah “Agama Ageming Aji” oleh Sri Mangkunagara IV bisa diterjemahkan bahwa agama sebagai pakaian yang merupakan tuntunan untuk bisa mengungkapkan jati diri. Bisa juga dimaknai bahwa agama adalah sarana untuk mengungkapkan jati diri. Titik fokusnya adalah jati diri. Masyarakat dapat menerima pakaian apa pun akan tetapi semestinya tetap yang dapat mengungkapkan jati diri. Dan semua pakaian pada dasarnya memang sarana untuk mengungkapkan jati diri. Dalam pelaksanaannyalah pakaian bisa dipakai bukan untuk mengungkap jati diri namun untuk memperoleh kekuasaan duniawi. Raja yang mengungkapkan jati diri adalah raja yang diimpikan masyarakat. Baca lebih lanjut

Mutiara Kehidupan: Jaka Tingkir, Perjuangan Tak Kenal Lelah Menuju Jati Diri

Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat. Anda tidak bisa membeli “keilahian” ataupun “kemuliaan”. Bahkan anda tidak perlu membelinya, karena “keilahian” itulah kebenaran diri anda, karena “kemuliaan” itulah jatidiri anda. Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula “Keilahian” adalah Sifat Dasar Allah. “Kemuliaan” adalah Sifat Dasar “Ia Yang Maha Mulia”. Dan itu pula yang Ia berikan kepada Anda. Sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama”, Tuhan sudah membekali anda dengan “keilahian”, “kemuliaan”. *1 ABC Kahlil Gibran halaman 35

 

Kisah Jaka Tingkir

“Putriku, aku akan menceritakan kisah berlatar belakang dengan sejarah, memang hal-hal mengenai sejarah bukan keahlian Bunda, sehingga mereka yang pro ataupun kontra suatu versi sejarah biarlah diselesaikan para ahlinya. Bunda hanya ingin menyampaikan bahwa segala sesuatu itu harus dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan tanpa henti. Walaupun demikian Bunda juga menggunakan Wikipedia sebagai referensi.”

“Terima kasih Bunda, bagi kami hikmah pelajaran yang dapat diambil lebih penting dari pada fakta kering tak berlembab. Teruskan Bunda kami ingin mendengarkan.” Baca lebih lanjut

Mutiara Kehidupan: Jaka Tarub, Dewi Nawangwulan dan Perbaikan Genetika Bangsa

Manusia Indonesia mesti bangkit. Ia mesti bangkit bila masih cinta pada Indonesia, masih mencintai keutuhan wilayahnya, masih mencintai persatuan bangsanya dan di atas segalanya, masih mencintai kebebasannya. Janganlah kau tertipu oleh mereka yang sedang meracuni otakmu. Bila mereka berkuasa, yang akan mereka rampas pertama adalah kebebasanmu. Kemerdekaanmu. Dirimu, jiwamu, ragamu, pikiranmu semuanya akan diperbudak. Bangkitlah untuk mempertahankan kebebasanmu, kemerdekaanmu. Bangkitlah untuk mempertahankan budayamu, budaya yang lembut, budaya yang penuh kasih, budaya yang subur dan menyuburkan, budaya yang hijau, budaya yang berlembab. Demi kekeringan padang pasir, janganlah kau menggadaikan kesuburan tanahmu. *1 Indonesia Under Attack halaman xviii

Kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan

Seorang remaja putri sedang mendengarkan dongeng dari ibunya tentang kisah bidadari yang hidup dan berumahtangga di dunia.

Ada seorang janda yang disebut Nyai Tarub mempunyai anak angkat yang dipanggil dengan nama Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah pemuda sederhana yang patuh terhadap ibu angkatnya dan mempunyai obsesi mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai anak keturunan yang mulia. Pada suatu hari, dia pergi ke puncak gunung yang dianggap keramat oleh penduduk desa setempat. Ternyata di puncak gunung tersebut ada sebuah telaga kecil yang indah. Baca lebih lanjut

Mutiara Kehidupan: Cindelaras dan Jatidiri Sebuah Bangsa

Para cendekiawan, para pakar agama, selalu berbicara tentang keseimbangan. Entah itu keseimbangan antara lahiriah dan batiniah, atau antara badan dan roh. Seorang sufi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Setidaknya, seorang Rumi tidak akan bicara tentang keseimbangan. Keseimbangan apa? Secara ilmiah terbukti sudah bahwa antara materi dan energi tidak ada keseimbangan, karena sesungguhnya materi dan energi tidak berbeda. Hanya beda wujud saja, intinya sama. Lalu keseimbangan apa pula yang harus dibicarakan antara lahiriah dan batiniah, antara badan dan roh? Untuk memasuki kesadaran batiniah, kesadaran lahiriah harus ditinggalkan. Mau mempertahankan “uap”; air harus dimasak sampai mendidih. Air itu sendiri harus “menguap”. Anda tidak bisa mempertahankan (keseimbangan) dua-duanya. Kendati demikian, dalam uap juga ada air. Itu sebabnya, Yesus menasihati kita agar mengejar Kerajaan Allah terlebih dahulu. Segala sesuatu yang lain, akan kita peroleh dengan sendirinya, karena dalam kerajaan Allah – segalanya ada. Saat ini, kita mengejar satuan. Kadang pensil, kadang pena. Kadang penghapus, kadang papan tulis. Carilah Si Penjual, Si Pemilik Toko, dan Dia akan memberikan segala sesuatu kepada anda. Tidak perlu mencari satu per satu. Buang waktu. *1 Masnawi Buku Kedua halaman 51

 

Kisah Cindelaras

Seorang ibu kembali bercerita kepada putrinya yang berangkat remaja tentang kisah Cindelaras.

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala yang mempunyai permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang amat jelita. Sang selir merasa lebih cantik daripada permaisuri dan dia berniat menjatuhkan martabat sang permaisuri. Apalagi ketika dia mendapat informasi bahwa sang permaisuri sedang hamil. Setelah sang putra lahir maka kedudukan sang permaisuri sebagai bunda putra mahkota akan semakin kuat.

Seorang tabib kepercayaan sang raja dapat dipengaruhi dan diajak melakukan konspirasi. Sang selir berpura-pura sakit parah, dan sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang iri kepada sang selir dan menaruh racun dalam makanannya. Ketika sang tabib mengatakan bahwa sang permaisuri yang melakukan kejahatan, sang raja percaya kepada sang tabib dan memerintahkan patih kerajaan untuk membunuhnya di tengah hutan. Baca lebih lanjut

Mutiara Kehidupan: Bawang Putih dan Bawang Merah antara Kesadaran dan Budak Mind

Setiap hari, manusia memperoleh pelajaran baru, tetapi dia tidak memahaminya dan tidak mampu mengambil hikmahnya. Dan hidup terasa tak bermakna, hambar. Kemudian dia mulai mencari makna. Dia mulai berkhayal, beranda-andai, “seandainya aku memiliki harta, hidupku akan bermakna; seandainya aku memiliki keluarga, hidupku akan bermakna; seandainya begini, aku akan begitu, seandainya begitu, aku akan begini.” *1 Masnawi Buku Kelima halaman 43

Kisah Bawang Putih dan Bawang Merah

Seperti biasa sebelum tidur, seorang ibu mendongeng kepada putrinya yang sedang berangkat remaja.

Bawang Putih hidup dalam keluarga harmonis sampai sang ibu meninggal karena sakit mendadak. Sang ayah berpikir seandainya kawin lagi dia akan bahagia dan sang putri akan terawat dengan baik. Dan dia pun kawin lagi dengan janda cantik berputri satu, yang putrinya  bernama Bawang Merah. Rupanya sang ayahanda keliru memilih istri, sehingga dia makan hati, sakit dan segera menyusul almarhum istrinya. Tinggallah sang Bawang putih menjadi bulan-bulanan sang ibu dan saudara tirinya.

Hampir semua pekerjaan rumah tangga diserahkan kepada Bawang Putih, akan tetapi apa pun pekerjaannya selalu membuat tidak berkenan ibu dan saudara tirinya. Setelah dituduh melakukan kesalahan, selalu saja dihukum dengan menambah pekerjaan tambahan, sehingga dia selalu sibuk bekerja, sedangkan saudara tirinya hanya makan dan tidur. Bagaimana pun Bawang Putih selalu mengerjakan apa pun penuh kasih dan kesabaran. Baca lebih lanjut

Mutiara Kehidupan: Ande Ande Lumut, Antara Hukum Rimba dan Ajaran Leluhur

Berada pada tingkat Bhoutik, kesadaran fisik, kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Berada pada tingkat Daivik, kesadaran psikis, energi, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak huga sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Sudah tidak perlu pindah agama lagi. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak adapat dijelaskan…. Menurut Sri Mangkunagoro, sruning brata kataman wahyu dyatmika: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadasran Anda sendiri. *1 Wedhatama halaman 73

Kisah Ande-Ande Lumut

Seorang Ibu bercerita kepada anak gadisnya, “Kemarin bunda bercerita tentang preya dan shreya, pilihan antara kemuliaan dan kenikmatan instant. Sekarang bunda akan bercerita tentang kearifan para leluhur kita yang rasanya lebih dekat dengan jiwa Bhagawad Gita daripada pendekatan hukum rimba ala Machiaveli maupun Sun Tzu yang dilakukan secara membabi buta. Keberhasilan dengan menghalalkan segala akan menerima akibatnya di kemudian hari atau di kelahiran mendatang, karena di dunia ini ada hukum alam yang berjalan sangat rapi. Yang mati itu hanya fisik, raga seseorang, tidak dengan jiwanya yang harus mempertanggungkan semua perbuatannya di kemudian nanti. Bhagawad Gita lebih dekat dengan nurani, sedangkan penggunaan hukum rimba berfokus pada pikiran yang menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh keinginannya.    Baca lebih lanjut