Mutiara Kehidupan: Jaka Tingkir, Perjuangan Tak Kenal Lelah Menuju Jati Diri


Ingat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat. Anda tidak bisa membeli “keilahian” ataupun “kemuliaan”. Bahkan anda tidak perlu membelinya, karena “keilahian” itulah kebenaran diri anda, karena “kemuliaan” itulah jatidiri anda. Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula “Keilahian” adalah Sifat Dasar Allah. “Kemuliaan” adalah Sifat Dasar “Ia Yang Maha Mulia”. Dan itu pula yang Ia berikan kepada Anda. Sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama”, Tuhan sudah membekali anda dengan “keilahian”, “kemuliaan”. *1 ABC Kahlil Gibran halaman 35

 

Kisah Jaka Tingkir

“Putriku, aku akan menceritakan kisah berlatar belakang dengan sejarah, memang hal-hal mengenai sejarah bukan keahlian Bunda, sehingga mereka yang pro ataupun kontra suatu versi sejarah biarlah diselesaikan para ahlinya. Bunda hanya ingin menyampaikan bahwa segala sesuatu itu harus dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan tanpa henti. Walaupun demikian Bunda juga menggunakan Wikipedia sebagai referensi.”

“Terima kasih Bunda, bagi kami hikmah pelajaran yang dapat diambil lebih penting dari pada fakta kering tak berlembab. Teruskan Bunda kami ingin mendengarkan.”

Ki Ageng Pengging adalah keturunan Pangeran Handayaningrat dengan Ratu Pembayun, putri sulung Raja Brawijaya. Ki Ageng Pengging mempunyai saudara seperguruan seorang dalang bernama Ki Ageng Tingkir,  kala berguru kepada Syekh Siti Jenar. Saat Mas Karebet, nama kecil Jaka Tingkir lahir,  Ki Ageng Pengging menggelar wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kebetulan sepulang mendalang Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia. Sewaktu Mas Karebet berusia sepuluh tahun, Ki Ageng Pengging yang diyakini masyarakat mempunyai darah Raja Majapahit dihukum mati, karena dianggap memberontak terhadap Kasultanan Demak. Sebagai eksekutor hukuman mati adalah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan menyusul almarhum suaminya meninggalka dunia fana. Sejak saat itu Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir sehingga terkenal sebagai Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir berguru kepada Sunan Kalijaga, kemudian juga berguru kepada Ki Ageng Sela dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Sela adalah cucu Raden Bondan Kejawan seorang pangeran berdarah Raja Majapahit yang beristrikan Retno Nawangsih, putri dari seorang perempuan suci Dewi Nawangwulan.

Jaka Tingkir kemudian mengabdi ke Kasultanan Demak dan akhirnya diangkat sebagai prajurit Demak bepangkat Lurah Wiratamtama. Saat bertugas menyeleksi prajurit, ada seorang pelamar sakti yang sombong bernama Dadungawuk. Jaka tingkir berniat menguji kesaktiannya, dan Dadungawuk tewas. Kemudian Jaka Tingkir dipersalahkan sehingga dia dikeluarkan dari tentara Kasultanan Demak.

Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru, yang juga saudara seperguruan almarhum ayahandanya dan setelah selesai dia kembali ke Demak bersama tiga teman seperguruannya. Sewaktu rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit, mereka diserang kawanan buaya yang ganas. Buaya tersebut dapat ditaklukkan dan akhirnya 40 ekor buaya dengan sukarela menarik rakit Jaka Tingkir di sungai menuju Demak.

Sang Bunda kemudian melagukan tembang megatruh: “Sigra milir, sang gethek si nangga bajul…… kawan dasa kang jageni, ing ngarsa miwah ing pungkur………….”

Saat itu Sultan Trenggana sedang berwisata dengn keluarganya di Gunung Prawoto dan seekor kerbau gila mengamuk dan menyerang pesanggrahan Sang Sultan. Semua prajurit tidak bisa mengendalikan, dan datanglah Jaka Tingkir menaklukkan sang kerbau. Atas jasa tersebut, Jaka Tingkir diangkat kembali sebagai prajurit dengan pangkat lurah wiratamtama.  Bahkan akhirnya Jaka Tingkir dinikahkan dengan putri Sang Sultan dan dijadikan Adipati Pajang dengan gelar Pangeran Hadiwijaya.

Ada rumor, bahwa kerbau tersebut adalah lambang dari pemberontakan masyarakat petani yang mungkin direkayasa oleh Jaka Tingkir sendiri. Bagaimanapun Jaka Tingkir nyata-nyata menyelamatkan Sultan bersama keluarganya, sehingga layak diberi penghargaan.

Kemelut di Demak

“Putriku, Bunda “flashback” ke Kasultanan Demak semasa pemerintahan Raden Patah. Kisah ini juga hanya salah satu versi yang berada di hutan belantara situs internet.”

Para pemimpin Kasultanan Demak di masa itu, telah melihat kemelut yang terjadi di Istana Majapahit dan yakin bahwa pemerintahan Raden Patah dengan penasehat para Wali akan mengalami kejayaan kembali seperti  Kerajaan Majapahit di masa jayanya berdasarkan tuntunan agama yang mulia. Mungkin mereka lupa apa yang ditabur akan dituai, perebutan kekuasaan Kerajaan Majapahit akan dialami pula oleh Kerajaan Demak. Kerajaan Majapahit mampu bertahan selama 4 abad, akan tetapi Kerajaan Demak, hanya beberapa generasi saja.

Raden Patah digantikan oleh Pati Unus menantu Raden Patah yang meninggal sewaktu menyerang Malaka dan terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sabrang Lor’, Pangeran yang menyeberangi laut ke utara. Putra Raden Patah, Pangeran Bagus Surawiyata, dibunuh oleh Sunan Prawata, putra  Trenggana. Trenggana adik Pangeran Bagus Surawiyata kemudian menjadi Sultan Demak. Pangeran Bagus Surawiyata sering disebut dengan sebutan ‘Pangeran Sekar Seda Lepen’, Pangeran yang meninggal di kali.

Sejak meninggalnya Sultan Trenggana di Panarukan, Arya Penangsang sebagai putra Pangeran Bagus Surawiyata merasa berhak mewarisi tahta, apalagi dia telah diangkat anak oleh Sunan Kudus, sang hakim agung kerajaan, dan sudah menjadi Adipati di Jipang Panolan. Bagaimana pun semua keputusan harus mendapatkan kesepakatan dari para Wali.

Meninggalnya Sultan Trenggana memang membuat kemelut Istana Demak memuncak. Ada perbedaan pendapat di antara para Wali. Pendapat Sunan Kalijaga, adalah Hadiwijaya Adipati Pajang menantu Sultan Trenggono yang pantas menggantikan sebagai Raja. Alasannya meski bukan keturunan langsung Raden Patah, tetapi masih mempunyai darah Raja Majapahit. Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa para Wali pernah mengangkat Pati Unus, menantu Raden Patah sebagai Sultan Demak, padahal Pati Unus tidak memiliki darah Raja Majapahit.

Sunan Kudus berpendapat bahwa  Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, putra Pangeran Bagus Surawiyata yang terbunuh  yang berhak sebagai Sultan Demak. Sunan Kudus meyakinkan bahwa Arya Penangsang memiliki kemampuan dalam tata negara dan merupakan pemimpin yang kharismatik.

Sedangkan Sunan Giri berpendapat bahwa  Pangeran Bagus Mukmin (Sunan Prawata), putra Sultan Trenggana yang berhak menjadi Sultan. Alasannya adalah sesuai adat dan hukum. Akhirnya Sunan Prawata diangkat sebagai Sultan oleh para wali.

Sunan Prawata akhirnya terbunuh dalam kemelut di Demak. Puteri Sultan Trenggana, Ratu Kalinyamat beserta suaminya Pangeran Hadiri datang menghadap Sunan Kudus untuk meminta keadilan atas kematian kakaknya yang dibunuh orang kepercayaan Arya Penangsang. Sunan Kudus menjelaskan bahwa Sunan Prawata terbunuh akibat karma, hukum sebab-akibat. Sunan Kudus berusaha agar suasana yang penuh  ketegangan dapat mereda.

Akan tetapi sepulang dari menghadap Sunan Kudus, mereka dicegat pasukan Arya Penangsang dan Pangeran Hadiri terbunuh. Ratu Kalinyamat amat marah dan mengatakan bahwa administrasi kerajaan dipindah ke Pajang, dimana adik iparnya menjadi adipati di sana. Dia ingin menjauhkan peran para wali di daerah pesisir terhadap pemerintahan dan kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja dan tidak akan berpakaian sebelum Arya Penangsang mati. Ratu Kalinyamat sakit hati terhadap Sunan Kudus sebagai Hakim Agung di Demak yang berpihak kepada Arya Penangsang.

Demak dinyatakan sudah kehilangan wahyu kraton dan berdirilah kerajaan baru, Kesultanan Pajang. Kesultanan Pajang dibawah Sultan Hadiwijawa (Jaka Tingkir), berdiri tahun 1530 tanpa ada pesta pelantikan, bahkan menurut kisah  turun temurun masyarakat disekitar wilayah Pajang, Raja Hadiwijaya tidak dilantik oleh para Wali. Kecuali dihadiri oleh Sunan Kalijaga dengan kapasitas sebagai seorang Guru Jaka Tingkir. Setelah itu tidak ada lagi Wali sebagai pengambil keputusan bidang pemerintahan.

Pengendalian diri

Putriku, apapun sebenarnya yang terjadi, dalam DNA kita selain mempunyai genetik bawaan dari Kerajaan besar Majapahit dan Sriwijaya, akan tetapi kita juga membawa genetik kekerasan dalam pergantian pimpinan bangsa, misalnya sewaktu Ken Arok merebut kekuasaan maupun kemelut di Demak. Hal demikian perlu disadari guna meningkatkan kesadaran berbangsa.

Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus ‘lahir-tumbuh-mandek-hancur’ dari suatu kehidupan sosial atau suatu peradaban, dan pada kenyataannya, kerajaan-kerajaan di Nusantara juga mengalami proses tersebut, akan tetapi semua pengalaman tersebut telah  tercatat dalam DNA kita. Adalah perjuangan sebuah bangsa untuk mengembangkan karakter bangsa yang baik dan memutus siklus karakter bangsa yang tidak baik.

Segala sesuatu itu kalah dengan sang kala, “waktu” yang menunggu kehancuran segala sesuatu dan mendaur-ulangnya menjadi kehidupan baru.

“Putriku dari segi kesadaran, kita perlu introspeksi adanya “Jaka Tingkir” di dalam diri yang berupaya meningkatkan kesadaran mendekati Sang Raja, Sang Keberadaan. Sebetulnya Jaka Tingkir sudah dekat dengan Sang Raja bahkan sudah diangkat sebagai Komandan Prajurit, akan tetapi keangkuhan dirinya yang ingin membuktikan bahwa dia lebih sakti dari pada Dadungawuk, calon prajurit yang suka menonjolkan kekuatan dirinya, menyebabkan dia harus dijauhkan lagi dengan Sang Raja.

Jaka Tingkir harus berguru lebih serius untuk meningkatkan kedekatannya dengan Sang Raja.

Tanpa mursyid, tanpa guru, tanpa master, kesadaran kita tidak juga akan pernah mengalami “kelahiran”. Tetap ada dalam diri, tetapi dalam bentuk “janin”, dalam bentuk “biji”. Tidak pernah tumbuh menjadi pohon. *2 Masnawi Buku Ketiga halaman 30

Atas nasehat Guru-nya, Jaka Tingkir kembali menyusuri sungai kehidupan menuju Sang Raja dan mendapat perlawanan dari buaya-buaya pancaindera yang tidak mau tunduk pada Sang Raja. Akan tetapi setelah buaya panca indera dapat di-“kendalikan”-nya, bahkan mereka membantu dirinya menuju Sang Raja.

Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad… Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengendalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang itu. *3 Be The Change halaman 20

Kepedulian terhadap lingkungan

Salah satu petikan dari Serat Sastra Gendhing, karya Sultan Agung menyebutkan tugas manusia terhadap alam yaitu: Mangasah mingising budhi; Mamasuh malaning bhumi; Mamayu hayuning bhawana. Mengasah tajamnya budi; membasuh lukanya bumi atau menyehatkan bumi yang sakit; dan memperindah alam semesta. Sakitnya bumi ini, terjadi karena manusia tidak mengasah budinya, dan telah bertindak melukai bumi dalam memenuhi keserakahannya.

Pada dasarnya manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan itu mendiami bumi yang sama. Pulau-pulau yang terpisah dengan laut, di dasar lautnya bersatu, Manusia, hewan dan tumbuhan hidup dalam lapisan kerak bumi yang sama. Apabila naik ke angkasa nampak bahwa langit ini juga satu. Semua makhluk hidup selain kakinya terhubung dengan bumi yang sama, napasnya juga terhubung dengan udara di langit yang sama.

“Putriku, perhatikan kisah-kisah para leluhur yang selalu menempatkan lingkungan alam dan binatang sebagai latar belakang. Para leluhur memahami pentingnya menjaga lingkungan. Mereka adalah keluarga kita, bagian dari masa lalu kita yang tercatat dalam buku DNA.”

Secara alamiah, lewat DNA, sesungguhnya kita sudah bertemu. Kita satu, sama. Manusia tidak terpisahkan dari manusia lain, dari sesama makhluk lain. Perpisahan yang dipaksakan oleh saudara-saudara kita yang selama ini menyalahpahami ajaran agama, sungguh semu. Tak akan bertahan lama. Sudah saatnya kita membuka diri. Bila tidak, kelak sains dan para ilmuwan akan memaksa kita untuk membuka diri. Pemetaan DNA kita sudah membuktikan adanya benang merah antara manusia dan keluarga besar mamalia. Kemudian, pemetaan DNA juga membuktikan bahwa keluarga besar mamalia pun masih punya hubungan dengan keluarga besar reptilia, amphibia, dan seterusnya ke belakang, sehingga binatang bersel tunggal. Bila kita menolak bukti pemetaan DNA, menolak semua tanda itu, tidak menerima ayat-ayat, bukti-bukti kehadiran-Nya yang bertebaran di mana-mana, kita sudah pasti dinyatakan buta. Merasakan kesatuan dan persatuan jelas tidak berarti melupakan kemanusiaan kita dan kembali merasakan diri sebagai amuba bersel tunggal seperti terbukti dalam pemetaan DNA. *4 Jangka Jayabaya halaman 80

Para leluhur rupanya memahami baik sifat hewani buaya dan kerbau masih ada dalam diri, dan hal tersebut kini dibuktikan dengan pemetaan DNA, mereka adalah masa lalu kita. Perlu perjuangan keras untuk menundukkan sifat kehewanian yang maih kita warisi dalam diri.

Membuka belenggu conditioned mind

Bila Arjuna mendapatkan bidadari kahyangan setelah menundukkan Raksasa Niwatakawaca, maka Jaka Tingkir mendapatkan wiwaha, penghargaan setelah mengalahkan kerbau gila yang membahayakan keluarga raja. Kerbau adalah potensi kehewanan dalam “subconcious mind” yang nampak jinak, akan tetapi potensi tersebut bisa meledak sewaktu-waktu menjadi “gila” dan merusak kesadaran. Menghabiskan potensi kehewananan dalam diri akan membuat manusia meningkat kesadarannya dan mendekat kepada sang raja.

Walau nampaknya kita hidup dengan spontan, sebetulnya kita bergerak atas “subconscious mind”, “conditioned mind” yang ada dalam diri kita.

Lepaskan dirimu dari belenggu conditioning. Bebaskan pikiranmu dari konsep-konsep yang membebani batin, membelenggu jiwa. Konsep-konsep yang justru menduakan Allah dengan menempatkan kepercayaan dan konsep itu di atas Allah. Selama conditioned mind, pikiran yang terkondisi, menguasai pancaindra, kita tidak mampu melihat Allah. Telinga kita tidak mampu mendengar-Nya. Tangan kita tidak mampu meraba-Nya. Tetapi bila conditioned mind tersebut sudah dilampaui, tidak ada yang bisa menghalanagi penglihatan kita. Mata kita melihat Allah dengan jelas. Telinga kita pun akan mendengar-Nya dengan jelas. Tangan kita akan meraba-Nya dengan mudah. *5 Atma Bodha halaman 70 

Setelah “Jaka Tingkir” dalam diri mengalahkan “kerbau-conditioned mind”, baru Jaka Tingkir dapat dekat dengan Sang Raja. Selanjutnya “Jaka Tingkir” dalam diri hanya melakoni kehidupan, menerima kehidupan, apa pun pemberian Sang Raja diterima, perintah melawan adharma pun diterima, sehingga akhirnya dia pun bisa menjadi raja. Jaka Tingkir tidak takut terhadap berbagai tantangan dalam kehidupan.

Di atas Segalanya, janganlah sekali-kali takut menghadapi sesuatu. Hidup ini penuh dengan tantangan, namun tidak ada satu pun tantangan yang lebih besar daripada dirimu. Ketika kau mendeteksi suatu tantangan sebagai “tantangan”, saat itu juga tantangan itu menjadi lebih kecil daripada dirimu. Ia sudah terdeteksi olehmu, maka kau sebagai “pendeteksi” menjadi lebih besar darinya. *6 Surat Cinta Bagi Anak Bangsa halaman 173

Dalam kisah hal tersebut, mendekati sang raja nampak mudah, padahal dalam kenyataannya sulit sekali, tetapi bukannya tidak mungkin. Guru telah mengalami hal demikian sehingga pada waktu “darshan”, bertemu seorang Guru, adalah melihat masa depan diri sedangkan sang Guru melihat masa lalu dalam sang calon muridnya.

Istilah dharsan hanya digunakan apabila Anda bertemu dengan seorang master. Pertemuan dengan seorang master bukan sekadar pertemuan. Anda tidak sekadar melihatnya, tetapi memperoleh “penglihatan”. Apabila seorang murid bertemu dengan gurunya, ia akan mengatakan, ‘Saya telah memperoleh dharsan’. Memperoleh Dharsan berarti memperoleh insight – penglihatan, pendalaman, visi yang mendalam. Apabila jiwa Anda dalam keadaan reseptif, pertemuan dengan seorang master bisa memicu terjadinya ‘pendalaman’. Anda akan terpicu untuk melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri. Namun, syarat utamanya adalah kesiapan awal, reseptivitas diri Anda. *7 Paramhansa

Jangan berguru pada mereka yang hanya menggunakan logika dan matematika. Mereka bisa menjadi pengajar, pendidik, tetapi tidak dapat jadi Master. Mereka bukan guru. Seorang guru tidak lagi menggunakan pikirannya. Ia hanya menyampaikan apa terdengar lewat nuraninya, yang selalu dalam keadaan mawas diri, yang dianugerahi dengan wahyu Allah – hanya merekalah yang pantas disebut Guru, disebut Master, disebut Murshid, Mustafa. Yang lain hanyalah pengajar biasa, hanya pendidik biasa. *8 Wedhatama

Kita harus mulai hidup berkesadaran. Pertama kita sadari bahwa potensi genetik kekerasan masih berada dalam diri. Keributan dalam pertunjukan dangdut, sepakbola, tawuran antar siswa, antar desa adalah bukti masih adanya potensi kekerasan dalam diri. Latihan meditasi atau olah batin dapat melembutkan diri. Latihan Katarsis dapat mengubah “conditioned mind” menjadi “created mind”, mind yang diharapkan.

Selanjutnya kita harus berjuang membuang potensi genetik lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, karakter baru dan akhirnya membuat perbaikan genetik. Dari studi genetika terbukti bahwa kita telah mengalami evolusi yang luar biasa, perbaikan karakter sudah pasti dapat dicapai dengan suatu perjuangan terus-menerus tanpa henti.

“Terima kasih Bunda, Terima Kasih Guru yang telah membangkitkan semangat untuk mencintai budaya leluhur. Namaste! Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi.”

*1 ABC Kahlil Gibran     Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

*2 Masnawi Buku Ketiga              Masnawi Buku Ketiga Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Kebijaksanaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*3 Be The Change        Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.

*4 Jangka Jayabaya     Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

*5 Atma Bodha           ATMA BODHA Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

*6 Surat Cinta Bagi Anak Bangsa    Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, Anand Krishna, One Earth Media, 2006.

*7 Paramhansa           Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002 halaman 401.

*8 Wedhatama           Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 halaman 48.

Informasi buku silahkan menghubungi

http://booksindonesia.com/id/

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Desember 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: