Ngambekan, Dendaman Dan Mudah Sakit Hati, Waktunya Menoleh Ke Dalam Diri

Malam telah larut dan sepasang orang tua setengah baya belum tidur juga, mereka berbincang-bincang tentang sejarah bangsa.

Sang Istri: Ken Arok meminta Empu Gandring untuk membuat Keris Sakti yang sangat ampuh. Kemudian, agar Empu Gandring tidak dapat membuka rahasia maka dia dibunuhnya untuk menjaga kerahasiaan agar tertutup rapat. Empu Gandring memberikan kutukan yang selaras dengan hukum alam semesta, keris ini akan meminta tumbal tujuh nyawa. Keris ini adalah wujud dari pikiran yang penuh ambisi yang menghalalkan segala cara termasuk dengan darah pembuatnya. Ibarat buku “The Secret”, maka pikiran yang mempunyai bentuk yang luar biasa kuat ini akan menarik gelombang pikiran serupa. Dan pikiran kuat ini mampu mempengaruhi beberapa generasi sesudahnya. Apakah keris sakti ini seperti halnya mass media, dia bisa digunakan dan dia akan kembali meminta korban dirinya sendiri sesuai hukum alam aksi reaksi? Who knows?

Sang Suami: Genetik kita diwariskan dari leluhur secara turun temurun. Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit, genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur dan juga genetik pelaku kekerasan Ken Arok dan Arya Penangsang . Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam genetik seseorang terdapat catatan evolusi panjang kehidupannya sampai saat ini. Hal ini harus dipahami lebih dahulu.

Sang Isteri: Benar suamiku, melihat bonek dan kerusuhan dalam pertandingan sepakbola, perkelahian antar kampung dan antar kampus, bahkan komentar para wakil rakyat kita dalam menghadapi kasus besar, nampaknya warisan kekerasan masih mewarnai bangsa kita. Dalam DNA kita bukan hanya pengalaman leluhur masa lalu, insting kehewanian pun masih kita warisi. Bukankah tindakan sebagian besar bangsa kita berdasarkan naluri fight or flight? Pakaiannya boleh berdasi, akan tetapi dalam dirinya kerakusan hewan masih ada dalam diri. Baca lebih lanjut

Iklan

Peduli Keindahan Suara dan Kebijakannya, Tak Peduli Kehidupannya, A Bad News is a Good News

Sepasang suami istri setengah baya kita, kali ini membicarakan tag dari notes sahabat mereka di FB, yang satu dari Kalimantan dan yang satu dari Lampung, Sumatera.

Sang Suami: Sahabat kita menulis bahwa mass media adalah kekuatan yang sangat ampuh di atas bumi ini. Mereka mempunyai kekuasaan untuk membuat orang suci menjadi bersalah dan membuat orang bersalah menjadi suci. Kekuatan yang luar biasa, karena media dapat mengendalikan pikiran massa.

Sang Isteri: Sahabat kita dari Kalimantan, men-tag bahwa almarhum Michael Jackson adalah salah satu korban yang parah dari sikap mass media yang berprinsip “a bad news is a good news”. Selama bertahun-tahun, sang legenda menderita dalam penghinaan atas kasus “pelecehan seksual” terhadap anak-anak, yang tidak pernah terbukti kebenarannya! Bahkan sesaat setelah kematian sang legenda, anak yang dilecehkan tersebut mengaku bahwa ia hanya disuruh oleh orang tuanya untuk membuat keterangan palsu! Baca lebih lanjut

Kegenitan Pembuat Peraturan, Pembangkitan Kesadaran serta Kode Etik Jurnalistik

Di depan sebuah laptop yang connect dengan internet, sepasang suami istri bercengkerama membicarakan banyaknya peraturan yang dimaksudkan untuk membuat tindakan warga negara menjadi lebih baik akan tetapi terkesan semakin merepotkan. Lebih penting membuat banyak peraturan atau membangkitkan kesadaran?

Sang Suami: Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berkata, “Saya melihat munculnya UU yang kadang kala tumpang tindih itu karena menteri-menteri genit. Artinya, kalau menjadi menteri harus membuat UU meski UU sudah ada, ingin diubah. Pokoknya biar ada tandanya dia jadi menteri itu buat UU. Itu sebabnya Prolegnas, Program Legislasi Nasional di DPR jadi menumpuk. Karena setiap menteri  usulkan UU ini, tanpa jelas urgensinya. Apa naskah akademiknya, bahwa itu perlu,”……. Saya merasa ada benarnya juga pernyataan tersebut, berbagai peraturan telah dibuat pemerintah, akan tetapi seakan tidak mengubah kondisi juga, bahkan terkesan lebih merepotkan.

Sang Isteri: Ya, dan Menkominfo Tifatul Sembiring tidak setuju dengan pernyataan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD terkait banyaknya UU yang tumpang tindih karena menteri kegenitan. Kata Tifatul, RMP Konten Multimedia yang digodoknya bukan untuk cari perhatian…….. Mungkin sang menteri melihat berbagai kebebasan di dunia maya merugikan beberapa pihak, bukankah ada group yang mengatakan “Say No” kepada suatu organisasi. Group tersebut dalam bulan ini sudah menyembunyikan diri, entah karena pemilu telah lama usai, walapun group itu mungkin pernah merugikan organisasi tersebut? Baca lebih lanjut

Melihat Panggung Sirkus Bangsa Menggunakan Kacamata Mass Media

Kali ini pembicaraan antara suami istri setengah baya berkisar pada sebuah artikel pada surat kabar harian yang masih menggunakan hati nurani dalam menulis pemberitaan.

Sang Suami: Istriku, saya baru saja membaca artikel J. Kristiadi di Kompas tanggal 23 Februari 2010.  Disampaikan bahwa suatu kasus nasional hadir dalam panggung dengan pemeran yang dapat dinikmati masyarakat. Disebutkan bahwa salah satu keahlian para pemimpin kita adalah “mimikri”, kodrat sebuah hewan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Teman-teman saya sudah pada jenuh, masyarakat tak bisa berharap banyak, seorang pemimpin sekarang menggebu-gebu dan besok pagi bisa takluk bersimpuh. Masyarakat hanya dibutuhkan lima tahun sekali, setelah itu disuruh nonton sandiwara.

Sang Istri: Benar suamiku, kok seperti “bunglon” saja, ahli mimikri. Teman arisan saya melihatnya seperti “keledai” manajemen zaman baheula yang digerakkan dengan wortel dan tongkat. Jika menurut dikasih wortel, jika tidak menurut dipukul tongkat dan diungkit-ungkit sejarah lamanya. Salah kita juga yang telah memilihnya. Aslinya tak seindah foto baliho sebelum pemilihan. Baca lebih lanjut

Meditasi: Pengaruh dan Refleksi Diri

Catatan Roy B. Efferin Meditasi Pengaruh dan Refleksi Diri

http://www.facebook.com/#!/notes/roy-b-efferin/meditasi-pengaruh-dan-refleksi-diri/317640973671

Meditasi: Pengaruh dan Refleksi Diri

 19 Februari 2010 jam 19:03

Meditasi. Satu kata sederhana tetapi memiliki banyak perspektif di belakangnya. Mereka yang pro meditasi mengatakan bahwa meditasi adalah suatu teknik (atau bahkan ilmu) tingkat tinggi yang hanya segelintir orang bisa lakukan untuk mencapai kesaktian dan superioritas terhadap orang lain. Sementara yang kontra menganggap bahwa meditasi ‘berbahaya’ karena membuat pelakunya menjadi tidak terikat oleh agama dan moral; jika bermeditasi maka pikiran akan kosong dan bisa dimasukkan apapun, entah kerasukan setan atau bisa dihipnotis.

Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi. Baca lebih lanjut

Sembilan Elemen Jurnalisme

http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=319416137595#!/notes/ahmad-yulden-erwin/sembilan-elemen-jurnalisme/369579915883

Catatan Ahmad Yulden Erwin

ANDREAS HARSONO

(www.pantau.or.id)

“Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi.”

HATI nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya “karir panjang dan terhormat” sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach.

Wartawan yang nyaris tanpa cacat itulah yang menulis buku The Elements of Journalism bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana. Baca lebih lanjut

Hipnotis dan Hipnoterapi: Bisakah membantu?

Catatan Roy B Efferin: Hipnotis dan Hipnoterapi Bisakah membantu?

http://www.facebook.com/#!/notes/roy-b-efferin/hipnotis-dan-hipnoterapi-bisakah-membantu/325880818671

Hipnotis dan Hipnoterapi: Bisakah membantu?

Beberapa tahun yang lalu hipnotisme sempat memiliki konotasi yang negatif. Suatu ilmu yang dianggap lebih hebat dari persuasi, suatu teknik komunikasi yang mengandalkan pada pemahaman psikologis manusia. Dianggap lebih hebat, karena orang awam menilai bahwa seseorang yang dihipnotis tidak memiliki pilihan sedikitpun untuk menolak. Mereka beranggapan bahwa hipnotis adalah absolut. Seperti bertahun-tahun silam banyak kejahatan dengan menggunakan MO hipnotis yang disebut gendam. Seseorang akan melakukan kontak entah dengan sentuhan, bicara sambil melihat mata, atau apapun, dan korbannya tidak sadar sampai seluruh uang dan barang berharganya hilang dicuri. Atau kasus Selly yang sedang marak, bagaikan Leonardo DiCaprio dalam film Catch Me if You Can, menipu sekian banyak orang dan banyak korbannya kemudian mengklaim bahwa mereka telah terhipnotis Selly sehingga dengan gampang ditipu. Demikian juga tuduhan pelecehan seksual oleh Bapak Anand Krishna terhadap Tara dan Sum di mana pihak Tara menggunakan dalih hipnotisme dan pencucian otak.

  Baca lebih lanjut