Dari Topeng Monyet ke Wanara Hanuman, Perjuangan Melampaui Insting Hewani Menuju Ilahi


Seorang sahabat berkata bahwa 90% orang tidak menyenangi pekerjaannya, sehingga hasil yang dicapainya tidak maksimal dan juga tidak membahagiakannya. Seseorang yang mencintai pekerjaannya tidak pernah merasa capai dalam bekerja, dia selalu kreatif, dinamis dan selalu dalam keadaan berbahagia ketika bekerja. Hanuman bukan hanya mencintai pekerjaannya, melainkan dia mencintai semua tindakannya yang dilakukannya sepanjang waktu. Fokusnya hanya satu menyenangkan Sri Rama (yang bermakna Dia Yang Berada Di Mana-Mana), dan tindakan itu selalu menyenangkannya sehingga Hanuman bertindak dinamis, kreatif, bijak, kuat , cepat dan penuh semangat. Tulisan ini dilhami buku *1 the Hanuman Factor

Antara Manusia dan Kera

Studi genetika terhadap DNA memperkuat kesimpulan mengenai kemiripan molekuler antara manusia dan simpanse. Diantara 16.000 posisi nukleotida dalam molekul, hanya sekitar 1.400 (8,8%) yang berbeda, antara manusia dan simpanse.

Ilmu pengetahuan manusia telah bekembang pesat secara luar biasa. Menurut kantor berita AFP tahun 2009, para ilmuwan di Jepang berhasil mengembangbiakkan transgenik primata pertama di dunia yang bisa mengembangbiakkan kera yang nampak berpijar kehijauan kulitnya. Bisa dikatakan bahwa manusia sudah bisa menciptakan seekor kera.

Disamping kecanggihan manusia, ternyata sifat kehewanian kera juga masih bertahan dalam diri manusia. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa “kera-kera yang lebih sempurna” sudah dapat menciptakan kera. Dan karena masih mempunyai sifat “kekeraan” dalam dirinya, maka tindakan “kera yang lebih sempurna” itu pun bisa membahayakan diri mereka sendiri.

Dengan mengadakan introspeksi ke dalam diri, dapat disadari bahwa “kekeraan” atau insting hewani manusia belum banyak berubah, kecuali kualitas hewaninya saja yang meningkat.

Dilihat dari sudut pandang biologis, kebutuhan dasar manusia dan hewan amat mirip dan kebutuhan dasar tersebut biasa sebagai disebut sebagai insting hewani. Pertama, kebutuhan makan untuk mengatasi lapar dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia makanannya sudah dimasak sedangkan hewan makanannya masih mentah. Kedua, kebutuhan seks untuk mengatasi gejolak nafsu, dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia membutuhkan surat nikah dan pengakuan masyarakat sedangkan hewan sekadar naluri suka sama suka. Ketiga, kebutuhan tidur untuk mengatasi mengantuk, dimana manusia memilih tidur di rumah yang bagus sedangkan hewan di lubang dan goa dan pepohonan. Keempat, kebutuhan akan rasa nyaman untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan bahkan membunuh sedangkan manusia pun kadang masih demikian.

Bila manusia dalam hidupnya hanya bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya atau insting hewaninya, ia masih seperti hewan. Pikirannya masih dikendalikan oleh bagian otak yang bernama Lymbic. Lymbic adalah bagian otak yang berhubungan dengan kehidupan dasar, pengaturan hormon dan emosi primitif. Bila dia mempertimbangkan tindakannya dengan matang dan bukan sekedar “fight ot flight” atau reaktif maka dia dapat disebut manusia. Bila di dalam dirinya sudah rasa timbul kasih baru pantas disebut manusia. Kasih dapat berarti memaafkan kesalahan orang; kasih dapat berarti memberi tanpa menerima; dan rasa kasih tidak dapat di logika karena sudah masuk ranah hati.

Berada pada tingkat kesadaran kasih, kita baru mengambil langkah pertama dalam hal memanusiakan diri. Kasih merupakan sifat manusia. .. Kasih mampu menyaring sifat-sifat hewani kita. *2 Kundalini Yoga halaman 92

Saya ingin mengaitkannya dengan kundalini dan chakra. Kebutuhan makan berkaitan dengan Chakra Pertama, Lapisan Kesadaran Pertama. Kemudian, kebutuhan seks berkaitan dengan Chakra Kedua, Lapisan Kesadaran Kedua. Dan, kebutuhan tidur dan rasa nyaman berkaitan dengan Chakra Ketiga, Lapisan Kesadaran Ketiga. Dalam teks-teks kuno di Timur, tiga lapisan kesadaran awal ini memang dikaitkan dengan instink hewani. Dalam bahasa para bijak jaman dulu, binatang pun memiliki tiga chakra awal tersebut. Baru Chakra Keempat, Lapisan Kesadaran Cinta, yang merupakan inti kemanusiaan dalam diri manusia. Chakra kelima sampai dengan ketujuh dikaitkan dengan Keilahian. Jadi tiga lapisan pertama bersifat hewani. Lapisan keempat bersifat manusiawi. Dan lapisan kelima sampai dengan ketujuh bersifat Ilahi. *3 Medis Meditasi halaman 24

Sebagian orang meyakini bahwa “wanara” adalah makhluk yang menghubungkan antara kera dan manusia. Wanara adalah manusia awal berbentuk kera. Dan Hanuman adalah “wanara terpilih”, yang menghubungkan antara kehewanian dengan kemanusiaan bahkan dengan keilahian.

Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Neo Cortex inilah yang menciptakan sistem nilai dan bertanggung jawab pula atas pengembangan intelektualitas kita. Terdorong oleh Lymbic, hewan hidup secara alami. Kebutuhan mereka pun seolah terjatah. Berdasarkan kebutuhan, Lymbic mendorong mereka untuk makan dan minum secukupnya. Tidak lebih, tidak kurang. Dari film dokumenter tentang singa atau macan.Ternyata mereka hanya mencari mangsa dalam keadaan lapar. Kemudian, buruannya pun tidak dimakan sekaligus. la menyimpannya di dalam gua, dan memakannya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhannya. *4 Otak pemimpin kita halaman 9

Alam bawah sadar kita masih terpengaruh naluri hewani. Itu sebabnya kita tidak segan-segan mencelakakan orang lain, demi kepentingan diri. Kita harus melanjutkan perjalanan kita. Berada pada tingkat ini pun, sebenarnya kita belum manusiawi. Berbadan manusia, tetapi belum cukup manusiawi. Bukan hanya kenyamanan diri, kita juga harus bisa memikirkan kenyamanan orang lain. Untuk itu kita harus meningkatkan kesadaran kita sedikit lagi lepas dari pengaruh naluri hewani. *2 Kundalini Yoga halaman 89

Topeng Monyet

Topeng monyet adalah kesenian tradisional yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Pertunjukan topeng monyet juga dapat dijumpai di India, Pakistan, Thailand, Vietnam, Cina, Jepang, dan Korea.

Seekor monyet memakai celana blue jean overall, berkacamata hitam, dengan topi laken di kepala, dan tas sekolah dipunggungnya, mengayuh sepeda kecil dengan dada dibusungkan. Dengan penampilan luar sesuai penampilan manusia, mungkin dia sudah  merasa sebagai manusia. Bunyi gendang, tepuk tangan dan sorak sorai penonton, membuat dia semakin yakin bahwa dirinya adalah manusia yang sedang menari. Akan tetapi……….. ketika ada anak nakal menebarkan kacang didepannya, dia lupa persepsinya sebagai manusia, dilupakannya penampilannya dan dengan cepat diambilnya kacang tersebar dan dimakannya sambil berjalan.  Sifat bawaan asli tidak dapat diubah dengan hanya memperbaiki penampilan luarnya saja. Perbaikan harus menyentuh subconscious mind-nya.

Memperhatikan tingkah Topeng Monyet, kita perlu introspeksi apakah kita pun hanya berbaju manusia dan merasa sebagai manusia, tetapi begitu datang kesukaan dan kenikmatan di depan kita, ternyata kita pun tidak berbeda dengan Topeng Monyet. Apakah setelan jas dan dasi, peci, batik, baju koko, jilbab serta seragam kesatuan unit kerja hanya penampilan luarnya saja, dan ketika ketika ada fulus kita berebut tanpa etika?

Kita menjadi bodoh karena memang belum ada kesadaran di dalam diri kita. Peran Lymbic masih dominan. Lymbic yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, memiliki peran yang penting sekali. Bila kita tidak makan, minum, tidur, kita akan mati. Apa yang saya makan dan yang anda makan, apa yang saya minum dan apa yang anda minum, boleh beda. Tapi, kita semua masih tetap membutuhkan makanan dan minuman, demi keberlangsungan hidup kita. Saya perlu tidur sekian jam setiap hari, anda mungkin membutuhkan kurang atau lebih dari itu,  tetap saja kita semua membutuhkan istirahat. Sebab itu, “kualitas” Lymbic harus ditingkatkan. Subconscious mind kita harus dibebaskan dari mekanisme Fight or Flight, istilah yang sering digunakan dalam cabang ilmu psikologi. Biasanya reaksi kita terhadap suatu keadaan memang antara dua itu, “fight atau flight”. *4 Otak pemimpin kita halaman 67

Banyak sekali pimpinan yang memegang kekuasaan yang masih dikuasai oleh lymbic.

Celakanya bila dalam satu masyarakat atau satu kelompok agama, para pemimpin dan mereka yang dipimpin, para rohaniwan dan mereka yang menganggapnya sebagai panutan – sama-sama dikuasai oleh Lymbic. Ketaksadaran bertemu dengan ketaksadaran, hewan bertemu dengan hewan, dan terciptalah Persatuan Hewan-Hewan. Lagi-lagi persatuan itu boleh diberi nama apa saja. Mereka hanya menipu diri dan menipu sesama yang masih terkendali oleh Lymbic. *4 Otak pemimpin kita halaman 71

Mereka tidak bisa menipu orang yang sudah bebas dari kendali Lymbic. Sesungguhnya mereka patut dikasihani. Terdorong oleh fight or flight mechanism, mereka hanya bertindak sesuai dengan perintah Lymbic yang menguasai mereka. Karena sangat individualistik, mereka selalu merasa “terancam” dan dalam keadaan bahaya. Mereka tidak pernah hidup tenang dan kegelisahan pula yang mereka sebarkan kemana-mana. *4 Otak pemimpin kita halaman 71

Bebas dari kendali Lymbic, kita dapat menentukan sendiri apa yang baik, dan apa yang tidak baik “bagi diri kita”. *4 Otak pemimpin kita halaman 74

Yang membuat kita terbelenggu kebiasaan lama, bukan hanya sifat bawaan saja, akan tetapi pengalaman hidup pun mempengaruhi pikiran bawah sadar kita. Terbentuknya suatu synap baru di otak, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Meditasi mengantar manusia pada penemuan jati diri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya.

Seorang meditator pun masih memiliki sifat-sifat hewani. Itu tidak dapat dihindari. Yang dapat dia lakukan hanya satu. Dan penjinakan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan satu kali saja. Penjinakan adalah proses sepanjang usia, seumur hidup. *5 Bhaja Govindam halaman 24 

Hanuman

Berlapis-lapis pikiran mengurungi kita. Tetapi ada 3 lapisan utama :

  1. 1.      Lapisan pertama, adalah yang anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali.
  2. 2.      Lapisan kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.
  3. 3.      Lapisan ketiga adalah yang anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda – semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Buddha sedang mengundang anda untuk membebaskan diri dari kurungan. Tetapi anda ragu-ragu. Di dalam kurungan, hidup saya cukup “secure”. Cukup terjamin. Seorang Yesus sangat persuasif. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin anda bebas dari kurungan. Untuk menerima undangan seorang Buddha, anda haruslah seorang pemberani. Berani loncat keluar dari kurungan.  *6 AH Hridaya Sutra

Hanuman telah melampaui ketiga lapisan kurungan tersebut. Semua yang dilakukan Hanuman hanyalah untuk menyenangkan Sri Rama (Dia Yang Berada Di Mana-Mana). Ego-nya telah dilampaui. Hanuman adalah bhakta yang sempurna.  Hanuman melakukan devosi (bhakti) yang murni. Hanuman membantu membuat jembatan ke Alengka, berkelahi dengan para raksasa, mencari tanaman obat untuk Laksmana dan dia bekerja tanpa pamrih pribadi dan semata-mata untuk menyenangkan Sri Rama.  

Oleh karena tindakan-tindakannya, Hanuman dikaruniai usia ribuan tahun (Chiranjiwin), dia akan hidup selama kebesarannya masih disuarakan di dunia. Hanuman menghubungkan antara seorang bhakta (hamba) dengan Tuhan. Hanuman bertugas melayani, melindungi dan memberi inspirasi kepada bhakta (hamba) Tuhan. Konon banyak orang-orang suci yang medapat “dharsan”,  penampakan ilahi dengan Hanuman.

Hanuman muncul di Treta Yuga, zaman kehidupan Sri rama, akan tetapi juga nampak di Dwapara Yuga, zaman kehidupan Sri Krishna.  Pada waktu itu Hanuman membantu Bhima, serta dalam perang Bharatayudha dia berada dalam bendera kereta Arjuna memberi semangat dalam dada para prajurit Pandawa berperang melawan Korawa.

Karakter Hanuman mengajari kita tentang ketakterbatasan dalam diri kita. Hanuman memfokuskan semua energinya untuk melakukan bhakti terhadap Sri Rama. Kemudian karena kebahagiaan dalam melakukan devosi tersebut, maka Hanuman bebas dari kecapaian fisik.

Hanuman putra angin, paling bijak, cepat dan paling kuat diantaraa kera. Kelemahan utama manusia adalah tidak bijak. Kita mungkin menguasai bermacam-macam pengetahuan. Kita mempunyai gelar dan penghargaan. Akan tetapi semua itu tidak menjamin kita menjadi bijak. Kebijakan adalah pengetahuan yang sudah tercerna yang telah menjadi bagian dari keberadaan kita. *1 the Hanuman factor halaman 29

Walau sering dimaknai putera Dewa Angin, lebih tepat Hanuman dimaknai “angin yang muda”, “youthful wind”. Angin berada di mana-mana bermakna luas, lembut dan tak terbatas. Dan, elemen angin ini ada dalam diri kita yang perlu ditumbuh-kembangkan. *1 the Hanuman factor halaman 30

Elemen angin juga berhubungan dengan kekuatan, intelegensia atau kebijakan dan pengetahuan atau skill. Kekuatan angin tersebut dapat menghalau awan kebodohan dan delusi. Kuat, bijak dan skill ketiganya sangat penting. Kita tidak dapat mencapai kebergasilan bermodalkan otot saja. *1 the Hanuman factor halaman 30

Manusia mempunyai potensi ketiga faktor tersebut, dan perlu dikembangkan.

Selanjutnya Hanuman juga mempunyai sifat berani. Keberanian adalah sifat alami manusia. Kita dilahirkan lewat orang tua dan para leluhur kita yang bila ditelusuri mereka bisa melahirkan putra-putri setelah selamat dari berbagai bencana, kecelakaan dan perang. Kita mempunyai warisan genetik sebagai makhluk perkasa. Bila leluhur kita tidak perkasa dan tidak selamat dari berbagai bencana, dia akan mati sebelum menurunkan putra-putrinya yang menjadi leluhur kita.

Hanuman telah berjuang meningkatkan harkat kehewanian, kemanusiaan dan keilahian dalam dirinya. Hanuman telah memaksimalkan semua potensi dalam dirinya. Dan semua tindakannya hanya dipersembahkan kepada Sri Rama. Hanuman pasrah sepenuhnya kepada Sri Rama. Pasrah atau “effortless” bukan berarti malas dan tidak bekerja. Mind Hanuman-lah yang tidak berusaha. Seorang Guru menanam benih kesadaran pada diri sang murid. Bila sang murid telah membabat habis tanaman rumput egonya, maka yang tersisa hanyalah tanaman kesadaran Sang Guru. Sang murid bertindak atas tanaman kesadaran Sang Guru bukan bertindak atas upaya egonya, itulah yang disebut “effortlessness”, tanpa usaha. Hanuman bertindak sebagai duta membawa pesan kepada Sita di Alengka, berkelahi dengan putra Rahvana, dan dia bekerja tanpa pamrih pribadi dan semata-mata untuk menyenangkan Sri Rama.

Kita dapat mencapai-Nya dengan dua cara, lewat dua jalan: Pertama dengan berusaha, berupaya, berijtihad, berjihad dalam arti kata sesungguhnya, yaitu “berkarya dengan kesungguhan”. Sesungguhnya, apa yang kita peroleh sepenuhnya disebabkan oleh hukum aksi-reaksi, hukum sebab akibat yang menjadi dasar bagi segala sesuatu di dalam dunia. Belum tentu kita mencapai-Nya dengan cara ini. Paling banter kita mencapai istana-Nya. Paling-paling kita memperoleh kenikmatan surgawi – itu saja.  Kedua, dengan melepaskan segala usaha, dan bersandar pada-Nya, sepenuhnya. Declare your bankruptcy…………….Serahkan saja urusan kita kepada Dia. Banyak orang yang mencari apa yang mereka sebut “keseimbangan” di antara kedua cara tersebut. Mereka mencari Jalan Tengah. Pengalaman saya mengatakan bahwa tidak ada jalan tengah. Bahkan dari pintu gerbang istana-Nya sudah tidak ada jalan-jalan lagi. Yang ada hanya satu jalan masuk… Satu, tunggal. Jalan menuju-Nya hanya satu, yaitu Penyerahan Diri. *7 Ishq Ibadat halaman 32 

Semoga kita dapat memaksimalkan potensi Hanuman dalam diri kita masing-masing. Terima Kasih Guru, semoga kesadaran Guru memasuki diri seluruh putra-putri Ibu Pertiwi.

Tulisan ini kami persembahkan kepada Guru dan seluruh Sahabat-Sahabat kami. Namaste.

*1 the Hanuman Factor                        The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

*2 Kundalini Yoga        Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.

*3 Medis Meditasi       Medis & Meditasi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001/

*4 Otak pemimpin kita Otak Para Pemimpin Kita Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005.

*5 Bhaja Govindam      Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004. 

*6 AH Hridaya Sutra    AH! Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern, Anand Krishna Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*7 Ishq Ibadat             Ishq Ibadat Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005. 

Sudah lengkapkah Perpustakaan Anda dengan Buku-Buku Bapak Anand Krishna?

“Enak dibaca, perlu dihayati dan layak dipraktekkan”

Informasi buku silahkan menghubungi

http://booksindonesia.com/id/

 

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2010.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Salam Indonesia,
    Dalam cerita Ramayana, Hanuman memang mengajarkan kita tentang pengabdian dan pengendalian, dengan kekuatan sangat hebat yang Beliau miliki.
    Saya juga penasaran, apakah cerita SU GO KONG dengan perjalanan ke Baratnya bersumber dari Tokoh Hanuman?
    Terima kasih.

    • Terima kasih. Hanuman pada zaman Treta Yuga (sewaktu Sri Rama hidup) diperkirakan sekitar 9.000 Sebelum Masehi. Sedangkan Bhiksu Xuan Zhang (Thong Sam Cong) mengadakan perjalanan ke Barat melalui Jalur Sutra ke India mencari dan menerjemahkan Kitab Tripitaka berangkat tahun 629 M dan kembali lagi sampai Chang’An tahun 646 M (selama 17 tahun). Bahwa banyak cerita dari India masuk Tiongkok bisa saja. Hanuman sendiri juga dikenal di daerah Kamboja dan Thailand. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: