Perlindungan Hanuman Sang Pengawal Gerbang “Gateless Gate”, Belajar dari the Hanuman Factor


 

Seorang saudara pernah memberi burung beserta sangkarnya kepada anak bungsu kami yang pada waktu itu masih sekolah TK. Tak berapa lama, burung tersebut lepas dari sangkar dan terbang ke angkasa luas. Si burung sudah terbiasa dijatah makan dan minum setiap hari akan tetapi dia menyadari jati dirinya yang bebas dan tidak menyukai keadaan terkurung dalam sangkar sempit. Kami menasehati anak kami, “Apakah kamu suka bila kamu dikurung dalam kamar indah, diberi makan dan minum yang lezat, tetapi tidak boleh keluar kamar?” Saat duduk di Sekolah Dasar, anak kami sempat berkunjung ke Taman Safari Cisarua, dan dia melihat para binatang merasa bebas dan nyaman dalam “kurungan” besar seluas taman tersebut. “Comfort zone” telah melalaikan para binatang di Taman Safari tentang jati dirinya, apakah kita para manusia juga terjebak dalam comfort zone, dan melupakan jati diri kita?

Mencari Perlindungan Kepada Hanuman

Berikut ini kami terjemahkan secara bebas dari buku *1 the Hanuman Factor halaman 116-117

Burung-burung yang terkurung dalam sangkar, pada awalnya mencoba membebaskan diri. Selang beberapa waktu mereka menerima nasibnya dan menikmatinya. Para burung tidak menyadari bahwa kenyamanan artificial yang mereka rasakan ditukar dengan harga kebebasan mereka. Keadaan kita tidak jauh berbeda. Kurungan kita lebih luas. Bergerak ke sekeliling kita telah memberi rasa kebebasan yang salah. Kita seperti para binatang yang berada di Taman Safari. Kita telah berpikir taman sebagai hutan alami.

Profesionalitas, afiliasi politik dan keagamaan secara bersama telah membentuk comfort zone, zona kenyamanan kita. Ini adalah kurungan di mana kita terjebak. Dan kita telah terkurung begitu lama, sehingga kita telah terbiasa dengannya. Kita begitu terbiasa bergerak sekeliling dalam pagar pembatas, sehingga merasa bebas. Cobalah bergerak dalam satu arah, fokuskan pandangan matamu sejauh yang dapat kamu lihat, kamu akan melihat pagar pembatas dan Hanuman menunggumu di sana. Berdiri di luar pagar adalah Hanuman atau kesadaran dan kebebasanmu. Itulah takdirmu. Loncatlah, pagarnya tidak tinggi-tinggi amat, mengapa takut? Hanuman atau kesadaranmu akan melindungimu dan memandumu setiap langkah.

Mencari perlindungan nampak menurunkan harkat manusia. Akan tetapi apakah sebetulnya harkat manusia itu? Ketidaktahuanlah yang telah memberi identitas sebagai harkat manusia, akan tetapi tetapi identitas yang dibuat oleh masyarakat dan lembaga sosial tersebut salah. Mencari perlindungan menghilangkan identitas. Melenyapkan ego kita. Dan ego manusia tak menyenanginya.

Seseorang yang mencari suaka pada sesuatu yang lebih tinggi, sesungguhnya telah memisahkan diri dari kesadaran rendahnya, dari egonya. Obsesi dan nafsu mendapatkan kesenangan dari ego. Dan ego kita mendapat masukan energi dari mereka. Ketika kamu mencari perlindungan kepada Hanuman, kamu sesungguhnya mencari perlindungan pada kesadaran. Nafsu dan obsesi akan mengganggumu, “Kesadaran itu hanya mitos, impian!”, kata mereka. “Kamu telah dapat merasakan kami dalam aliran darah, tulang dan sumsummu. Mengapa kamu memilih hal yang tidak diketahui daripada yang diketahui?” Ego mendukung mereka, “Yang tidakdiketahui itu mencemaskan dan penuh dengan ketakutan.”

Pada saat tersebut jika kamu berani dan bijak, kamu bisa melawan ego, “Ketakutan itu milikmu. Saya ditakdirkan melampauimu dan ketakutanmu, itulah sebabnya saya mencari perlindungan.” Bagaimana pun bila kamu tidak berani dan tidak bijak, kamu menerima alasan kesadaran rendah dan ego sehingga kamu tetap dijadikan budak mereka.

Berlindung pada saat cuaca subuh

Pada saat kesadaran baru mulai tumbuh, kita perlu minta perlindungan.

Cuaca subuh berarti keadaan dimana kesadaran diri baru tumbuh. Seperti keadaan bayi yang baru lahir. Sudah jelas, ia membutuhkan perlindungan. Harus ada yang memeliharanya, menjaganya, merawatnya dan membesarkannya. Kalau sudah besar ceritanya lain lagi. Tadinya membutuhkan perlindungan, tadinya harus dipelihara dan dijaga, sekarang ia bisa memelihara dan menjaga. Tadinya harus dirawat, sekarang ia sanggup merawat. Subuh kesadaran merupakan etape yang sangat berbahaya. Kalau tidak cepat-cepat bangun dan meninggalkan ranjang, anda bisa ketiduran lagi. Dan matahari kesadaranpun akan terbit tanpa anda. *2 Surah Terakhir halaman 72

Dalam ayat ini, Nabi Muhammad memperoleh perintah. Ia diperintahkan untuk mengingatkan anda dan saya, untuk mengingatkan anda dan saya, untuk mengingatkan kita semua, agar selalu memohon perlindungan dari cuaca subuh. Rayuannya sungguh hebat. Jangan tergoda, jangan tertidur lagi! Tinggalkan ranjangmu! Kita semua telah mendengarkan panggilan sang muazin, tetapi tidak semuanya menjawab panggilan itu. Tidak semuanya memenuhi panggilan itu. Sang muazin sedang mengingatkan bahwa Ia-lah yang Maha Besar. Kita menganggap diri kita besar. Sang muazin mengingatkan bahwa Ia-lah satu-satunya yang ada dan tidak ada sesuatu kecuali Dia. Kita masih juga mengada-ada. *2 Surah Terakhir halaman 72

Cuaca subuh mewakili keadaan diantara sadar dan tidak sadar. Dibilang tidak sadar ya tidak, dibilang sadar ya belum sepenuhnya. Kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar. Kemungkinan kaki terpeleset dan jatuh selalu ada. Berada pada etape ini, anda harus sangat hati-hati. Ayat pertama ini merupakan “ayat kunci” dalam Surat Al Falaq. Dan “Kunci” ini sangat berguna bagi mereka yang berada pada etape “subuh kesadaran”. Anda sudah memasuki alam meditasi, shalat anda sudah memasuki alam meditasi, shalat anda sudah mulai meditatif sudah mulai khusyuk. *2 Surah Terakhir halaman 72

Dalam ayat ini, kita diajak untuk memohon “perlindungan” dari kejahatan. Dan selama berabad-abad, kita tidak memahami arti sebenarnya. Selama ini, kita sibuk melawan “kejahatan” dan dalam perlawanan itu, kita sendiri menjadi “jahat”. Kata-kata yang hampir sama pernah diucapkan oleh Isa, Sang Masiha, “Do not resist evil.” Janganlah melawan kejahatan! Karena, untuk melawan kejahatan biasanya kita akan ikut menjadi jahat. Pembunuhan akan kita balas dengan pembunuhan. Masalah pun tidak terselesaikan. Tidak ada jalan lain, kecuali memohon perlindungan. *2 Surah Terakhir halaman 77

“Ketika gelapnya ketidaksadaran membentang luas, Ya Allah, Ya Rabb, O Tuhan, Widhi, Tao, Buddha, Bapa di Sorga, lindungilah aku! Jangan membiarkan aku tertidur. Pertahankan kesadaranku.” demikian maksud ayat ini. “Ketika setiap orang sekelilingku berada dalam keadaan tidak sadar, Ya Allah, Ya Rabb, jagalah kesadaran diriku. Jangan sampai kesadaran diriku ikut tertidur!” – demikian makna tersirat dalam ayat ini. Mempertahankan kewarasan diri di tengah ketidakwarasan, itulah pesan yang ingin disampaikan lewat ayat ini. Jangan ikut-ikutan. Setiap orang menyeleweng, dan kita pun ikut menyeleweng. Lalu di mana letak perbedaan antara kita dan mereka? Setiap orang mengejar kedudukan, ketenaran, kekayaan, dan kita pun ikut mengejar semuanya itu. Lalu, siapa kafir dan siapa mukmin? *2 Surah Terakhir halaman 77

Orang yang dengki menjadi kalap; matanya tertutup. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk. la dikuasai oleh “alkohol”, oleh “anggur”. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain. Dalam perjalanan, jika anda bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan anda lakukan? Menyadarkan dia? Percuma. la tidak akan menghentikan kendaraannya. la tidak akan mendengarkan nasihat anda. Satu-satunya jalan adalah “menyingkir”, melindungi diri. Jangan sampai jadi korban ketololannya. *2 Surah Terakhir halaman 95

Mind menurut para scientist

Pandangan para scientist tentang mind:

Wujud-wujud yang kita lihat sekitar kita sesungguhnya ciptaan mind kita sendiri. Dalam keadaan tidur pulas, ketika kita tidak dipengaruhi mind, segala wujud sirna. Wujud-wujud sekitar kita, barangkali ada, tetapi bagi kita tidak ada. Kemudian, kita menciptakan nama. Itulah kemampuan kita yang kedua, Nama. Ini meja, itu kursi. Ini batu, itu pohon. Ini kelinci, itu anjing. Semua nama adalah ciptaan mind. *3 Otak pemimpin kita halaman 14

Ketiga, Nilai. Kita juga menciptakan nilai bagi setiap wujud dan nama yang telah kita ciptakan. Kita menilai emas lebih tinggi dari besi. Kita mendewakan berlian, dan menganggap rendah batu. Kita menghiasi leher dengan kalung emas berliontin berlian. Kita tidak menggunakan besi untuk membuat kalung dan tidak menghiasi leher dengan liontin batu. Keempat adalah Keinginan, hasrat, obsesi, niat. Perasaan kita bergejolak, pikiran pun gelisah bila ada keinginan yang tidak terpenuhi. Kelima, Tanggapan. Cara kita menanggapi suatu situasi. Bisa dengan senyuman, bisa dengan beraduh-aduh. *3 Otak pemimpin kita halaman 14

Keenam, Pandangan. Kita memandang hidup sesuai dengan referensi yang sudah terekam oleh otak kita. Bila rekaman kita mengatakan “A” jelek, maka setiap kali melihat “A”, kita akan menyimpulkan, “Itu jelek.” Padahal, barangkali “A’ sudah berubah, sudah tidak jelek lagi. Ciptaan Mind Ketujuh, barangkali yang paling berat, adalah Harga Diri. Kita menentukan harga diri kita, juga harga diri orang lain. Umumnya kita menaruh harga sangat tinggi bagi diri sendiri, dan sangat rendah bagi orang lain. Masih banyak ciptaan mind yang lain. Tujuh ciptaan yang saya sebut hanyalah beberapa di antaranya. *3 Otak pemimpin kita halaman 14

Sesungguhnya, kita menderita karena ulah kita sendiri, karena ciptaan mind kita sendiri. Namun, kita tidak mau menerima hal itu, selalu mencari kambing hitam, menyalahkan situasi atau bahkan orang lain. Dengan demikian kita terus menambah konflik. Kita “menciptakan” konflik. Susah-senang, panas-dingin, semuanya karena mind. Bila kita mencari sebab di luar diri, kita menciptakan masalah baru. Bila kita menyalahkan orang lain, kita memulai konflik baru. *3 Otak pemimpin kita halaman 14

Melepaskan diri dari sangkar pikiran dan terbang ke angkasa luas

Pikiran membelenggu, kesadaran membebaskan.

Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu. *4 Bhaja Govindam halaman 308

Mind ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind)dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable! *5 Bodhidharma halaman 27

Buddha sedang berupaya untuk menyadarkan Anda bahwa “kesucian” dan “ketidaksucian” sesuatu disebabkan oleh perasaan, pandangan, pikiran dan nilai yang Anda berikan terhadap sesuatu itu. Yang suci bagi sekelompok masyarakat, belum tentu suci bagi kelompok masyarakat lain. Orang Hindu menganggap sapi sebagai binatang suci. Orang Islam dan Kristen akan menyembelihnya. Orang Hindu tidak apa-apa jika melihat seekor babi, orang Islam merasa jijik dan mengharamkannya. Bagi seorang Buddha, semuanya itu adalah produk pikiran. Permainan pikiran dan perasaan dan pandangan dan lain sebagainya. Begitu pula dengan deskripsi-deskripsi Anda tentang Tuhan. *6 Ah Hridaya Sutra halaman 82

Mind – pikiran yang berpikir tentang kebaikan – akan berpikir tentang keburukan pula. Yang berpikir tentang kebajikan akan berpikir tentang kebatilan juga. Sesungguhnya gesekan-gesekan antara baik dan buruk itulah yang menciptakan mind. Energi yang terciptakan oleh gesekan tersebut melestarikan mind. Setiap orang yang bicara tentang sorga dan neraka, tentang baik dan buruk, tentang panas dan dingin, tengah melestarikan mind-nya. Ia pun tidak sadar. Memang harus tidak sadar. Karena kalau Anda sadar, Anda tidak akan bicara tentang kebaikan dan keburukan, tentang sorga dan neraka. Karena Anda tahu bahwa dua-duanya adalah produk mind. Dan jika Anda ingin “menyatu” dengan Ia yang tak terjangkau oleh mind, oleh pikiran, Anda pun harus melampaui mind. *6 Ah Hridaya Sutra halaman 84

Yang memberikan kesan adanya benturan adalah mind. Yang membedakan antara agama A dan agama B juga mind. Anda masih sepenuhnya terjebak dalam permainan mind. Dan mind akan selalu menghitung untung rugi. Sebaliknya, kasih tidak pernah menghitung untung rugi. Jadi di mana ada mind, ada pikiran, ada perhitungan untung rugi, ada perbedaan antara A dan B, di sana belum ada cinta, belum ada kasih! *6 Ah Hridaya Sutra halaman 85

Seorang pengecut selalu berada dalam sangkar pikirannya. Sangkar itulah dunianya. Rasa aman semu yang diperolehnya dari sangkar itu membelenggu jiwanya. Sesungguhnya, jeruji sangkar itu pun tidak rapat. Bila mau, ia dapat membebaskan dirinya kapan saja. Sesungguhnya, jeruji sangkar itu pun tidak rapat. Bila mau, ia dapat membebaskan dirinya kapan saja. Tapi, ia takut dengan kesadaran luas di luar. Ia memilih untuk tetap berada dalam sangkar. *7 Kidung Agung halaman 54

Lapisan mental/emosional, pikiran/perasaan adalah yang paling sering menjadi korban rasa takut, karena rasa takut itu sendiri dari materi yang sama, yaitu emosi. Dengan menyerang lapisan yang jelas-jelas “sejenis”, ia memperoleh kepuasan dan kebahagiaan yang luar biasa. Setiap pikiran dan setiap perasaan ibarat makhluk-makhluk kecil yang membentuk kepribadian kita. Kepribadian kita terbentuk oleh gugusan pikiran, perasaan, angan-angan, impian, ingatan dan materi-materi lain sebagainya. *8 Fear Management halaman 61

Buddha menempuh Jalan Pengetahuan menuju “Jalan Raya”

Banyak jalan menuju “Jalan Raya”. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan : Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian. Memasuki alam meditasi lewat jalur pengetahuan berarti menyadari “inti kehidupan” lewat instruksi; meyakini bahwa pada hakikatnya segala bentuk kehidupan memiliki “inti” yang sama. Bila “tampak dan terasa” berbeda, hal itu semata-mata karena sesuai yang kita peroleh, sesungguhnya perbedaan itu hanyalah ilusi, khayalan. Mereka yang telah melampaui dualitas dan menyadari kembali hakiki diri (berada di jalur Pengetahuan). *5 Bodhidharma halaman 17

Melampaui mind cara Hanuman

Memasuki alam meditasi lewat Jalur Pengabdian berarti mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan, menyesuaikan diri dengan keadaan, berhenti mengejar sesuatu, dan menerjemahkan dharma dalam hidup sehari-hari. *5 Bodhidharma halaman 34

Hanuman menempuh Jalan Pengabdian, Jalan Bhakti, semua hal dilakukan semata-mata demi Sri Rama. Ego Hanuman yang merasa mengasihi Sri Rama telah lenyap. Yang ada hanya Sri Rama dan kasih, lalu pada suatu saat Sri Rama dan kasih itu sendiri melebur menjadi satu.

Bhakti berarti pengabdian tanpa pamrih. Pengabdian yang sesungguhnya merupakan manifestasi Kasih. Tanpa Kasih, kita tidak dapat mengabdi. Yang mengasihi harus “mati”, harus “lenyap”. Tinggal Yang Dikasihi dan Kasih itu sendiri. Lalu,pada suatu saat Yang Dikasihi dan Kasih itu pun akan melebur menjadi satu. Tinggal…… *9 Masnawi satu halaman 17

Untuk bisa melihat “wajah Tuhan” dalam “Cermin Jiwa”, “keangkuhan seorang Pengasih” pun harus gugur. Aku “beragama”,aku “beribadah”, aku ‘mencintai” Tuhan-dalam setiap pernyataan tadi, masih ada “aku”. Masih ada ego. Pada suatu ketika nanti, yang mengasihi, Yang dikasihi dan kasih itu sendiri akan melebur , menjadi satu. Rumi bisa mempercepat proses peleburan. Sekarang tinggal persiapan diri kita. Siapkah kita? *9 Masnawi satu halaman 18

Demikian Hanuman, sehingga dalam Hanuman Chalisa, karya Tulasidas syair ke 21 menyebutkan bahwa Rama adalah pintu sedangkan Hanuman adalah pengawal pintunya, tidak mungkin seseorang melewatinya tanpa izin Hanuman. Hanuman adalah kesadaran kita, sedangkan Sri Rama adalah Gusti yang berada di setiap makhluk. Dalam tradisi Shinto, pintu tersebut disebut Gateless Gate, pintu tanpa daun pintu.

Pintu tersebut sebagai simbol batasan diri penciptaan oleh pikiran. Sesungguhnya, pintu tanpa daun tersebut adalah mind kita.

Terima Kasih Hanuman, Terima kasih Guru, semoga kesadaran-Mu memberkati alam semesta. Namaste.

*1 the Hanuman Factor The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

*2 Surah Terakhir Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*3 Otak pemimpin kita Otak Para Pemimpin Kita Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005.

*4 Bhaja Govindam Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004

*5 Bodhidharma Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005.

*6 Ah Hridaya Sutra AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan. Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*7 Kidung Agung Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

*8 Fear Management Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*9 Masnawi satu Masnawi Buku Kesatu, Bersama Jalaludin Rumi Menggapai Langit Biru Tak Berbingkai, Anand Krishna,PT Gramedia Pustaka Utama,2001.

Sudah lengkapkah Perpustakaan Anda dengan Buku-Buku Bapak Anand Krishna?

Enak dibaca, perlu dihayati dan layak dipraktekkan”

Informasi buku silahkan menghubungi

http://booksindonesia.com/id/

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: