Tahun Macan, Saatnya Nurani Bangkit di Social Networks Sebagai Alternatif Mass Media


Seorang suami memanggil istrinya untuk melihat hasil browsing-nya di internet. Nampak seorang gadis begitu berbahagia di pelukan seorang yang penuh sifat kebapakan.

Sang Isteri: Lihat auranya, lihat mata mereka, sama sekali tak ada nafsu di antara mereka. Kasih yang suci. Mengapa foto yang menyentuh rasa terdalam manusia ini dijadikan bukti pelecehan seksual?

Sang suami: Setelah itu lihat di jejaring sosial Facebook, semua simpatisan dan para pencinta Sang Bapak menampilkan adegan yang jauh lebih menyentuh kalbu. Kasih seorang ayah terhadap putra-putrinya. Puluhan foto bernuansa sama bermunculan sebagai pengingat kepada mass media, mengapa mass media tidak menginterview mereka? Koran, majalah, dan televisi memang bukan media yang memberi peluang “user-generated content”. Informasi yang disampaikan melalui media tersebut, ditentukan “penjaga gerbang” mulai dari reporter, editor, sampai pemilik perusahaan.

Sang Isteri: Ketidak puasan dan ketidak berimbangan pemberitaan mass media membangkitkan keinginan masyarakat untuk menyuarakan suara nurani di social networks. Bahasanya boleh berlepotan , karena tidak sekolah tentang kewartawanan, tetapi semuanya keluar dari nurani.

Sang Suami: Kata orang tahun ini adalah Tahun Macan yang berkarakter keras, ingin menguasai, ingin menyergap, mereka yang sendirian tanpa memiliki perlindungan mass media. Tetapi apakah sang korban akan menyerah? Tidak! Masih ada jejaring sosial, saat nya bangkit dengan media alternatif. Tanpa modal kecuali semangat yang tumbuh dari hati nurani. Internet adalah produk masa pascaindustri. Media ini menawarkan jasa ruang di dunia maya, dan masyarakatlah yang menentukan konten-nya. Konten informasinya, dan kepada siapa informasi itu akan disebar, merekalah yang akan menentukan. Internet pun memberi peluang kepada penggunanya, untuk menentukan konten apa yang akan mereka ambil dari medium itu.

Sang Isteri: Ingat Macan, aku ingat Raksasa, ingat Rahwana. Kekuasaannya sangat kuat dibawah kendali Mahapatih Prahastha dan Putra Mahkota Indrajid. Kesalahan masyarakat Alengka adalah ketidak pedulian dan ketidakpekaan mereka terhadap ketidakadilan yang dilakukan terhadap Dewi Sinta. Mass Media begitu kuat dan begitu besar kekuasaannya. Akan tetapi sebagian dari mereka sebetulnya tunduk, berhamba kepada kekuasaan dan materi. Lain dengan jejaring sosial. Tidak ada seorang kuat pun yang dapat membuatnya bertekuk lutut. Suamiku, aku tidak berkata seluruh mass media bertekuk lutut pada materi, karena banyak juga media yang menyuarakan dengan hati nuraninya! Dan itu yang kita harapkan.

Sang Suami: Isteriku, nama lain dari Raksasa adalah Asura. Asura bukan makhluk masa silam, dalam setiap zaman selalu ada kelompok Asura, mereka yang tindakannya menakutkan, merasa benar dengan senjatanya, dan menepiskan suara hati nurani. Mereka yang tidak selaras dengan alam, tidak selaras dengan hati nurani. Pada zaman awal manusia, mereka nampak jelas, seperti Rahwana. Semakin maju, bentuk asura sudak tidak terlalu nampak jelas, misalnya para Korawa sudah berbaur dengan orang baik seperti Bhisma dan Widura. Mereka kuat dan senjatanya luar biasa. Tetapi Rahwana yang kuat kalah juga oleh  wanara-wanara kecil yang bersemangat Hanuman, Sang Komandan yang mempunyai “Trust” terhadap Sri Rama. Dalam Ramayana Sri Rama memilih kekuatan alternatif wanara-wanara untuk menghadapi para raksasa.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku. Raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti  “bhuta”, seperti “makhluk yang tidak berbadan”. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam. Kekuasaan dan senjata meminggirkan suara nurani kita.

Sang Suami: Benar istriku, Media tidak boleh takut. Media harus menyuarakan nurani rakyat. Janganlah memberikan porsi berlebihan kepada berita-berita yang dapat memecah belah bangsa. Gunakan kebebasan pers yang sedang kita nikmati ini dengan penuh tanggung jawab! Memalukan seorang gadis mengadukan ke kantor polisi berbekal foto beraura kasih. Seorang terapis dengan wajah tidak cerdas-cerdas amat kok di blow up? Ada apa dengan kita? Merendahkan derajat insani pers. Insan lo bukan raksasa.

Sang Isteri: Mari kita ajak teman-teman kita di jejaring sosial mengumpulkan seluruh tenaga dan bersuara dengan jelas. Suara kita akan terdengar, pasti. Sukarno, Gandhi, bahkan para nabi menjadi pemimpin karena keyakinan, semangat, suara. Percaya pada diri sendiri. Barangkali banyak diantara kita takut bersuara. Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara. Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut mengundang persoalan.

Sang Suami: Benar, kita mesti bersuara. Suara kita itu yang membedakan diri kita dari mereka yang hendak mengacaukan keadaan negeri ini. Kita perlu bersuara, supaya anak cucu kita tidak menuntut tanggung-jawab atas keterpurukan negara dan bangsa. Pertumbuhan pengguna situs blog mulai menjaring suara masyarakat. Dan mereka semakin berkembang di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, juga bisa dirasakan di Indonesia. Belakangan, bukan hanya blog yang dilihat sebagai alternatif media, tetapi juga kehadiran situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, atau Multiply. Jejaring sosial memberi akses kepada kita. Saya yakin masih banyak insan pers yang memakai hati nurani. Mari kita berdaoa untuk mereka.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: