Tahun Macan di Rimba Belantara Keserakahan, Saatnya Memilih Mass Media Yang Cinta Indonesia


Seorang suami kembali memanggil isterinya untuk mendekat melihat hasil browsing-nya pada laptop di meja kerjanya.

Sang Suami: Mengamati kasus Bank Century, kita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Semua pihak menggunakan segala cara untuk memenangkan pertempuran. Kemudian ada saja pihak yang nuraninya bisa terbeli oleh materi, ada pula yang dalam keadaan terdesak akan dibuka kelemahannya, dia tunduk. Pokoknya segala macam cara. Begitukah kondisi bangsa kita saat ini? Mereka yang sedang bertempur kedua-duanya adalah para elite pemimpin bangsa.

Sang Isteri: Saya juga turut prihatin, pers yang seharusnya memberikan keseimbangan berita, kadang justru mengetengahkan berita yang memanaskan suasana. Pers memang lukratif dalam posisi pertempuran ini. Para elite politik lupa akan persatuan bangsa, bahkan sengaja mengundang kelompok-kelompok yang samar-samar nampak menentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk mendukung pihaknya dengan konsesi tertentu.

Sang Suami: Benar isteriku, bukan kebetulan bila tahun 2009 diakhiri dengan meninggalnya Bapak Pluralitas Yang Konsekuen, Gus Dur. Bukan tidak kebetulan bila tahun 2010 diawali dengan hari Jum’at. Harinya Sukracharya guru para Asura, para Raksasa yang berhasrat memuaskan keserakahannya, dengan mengabaikan hati nurani. Bukan kebetulan pula, bila tahun ini adalah Tahun Macan, yang malang melintang di hutan rimba belantara. Pun bukan kebetulan pula bila seorang tokoh yang bersemangat mempersatukan negeri ini dituduh melakukan pelecehan seksual oleh seorang mahasiswi dan seorang terapis. Seorang pengacara, seorang pemilik mass media pasti melek hukum, dan paham bahwa hanya berbekal foto dan sms yang merupakan hal biasa dalam lingkungan tokoh tersebut tidak akan berhasil dalam pengadilan yang jujur. Mengapa hal tersebut di-blow up media masa. Saya belum tahu bagaimana polisi mengambil visum mereka yang dipegang punggungnya, bahkan mereka tidak mempunyai saksi mata. Nampaknya semata-mata hanya demi menjatuhkan kewibaan sang tokoh. Padahal suatu berita sebelum tampil pasti melalui “tiga penjaga gerbang” yaitu reporter, editor dan pemilik perusahaan.

Lihat di salah satu TV Swata, Si mahasiswi diberi waktu 25 menit, sedangkan pihak yang dituduh hanya diberi waktu 7 menit. Itupun presenternya bilang pihak tersebut belum dapat dihubungi, padahal mereka sudah menunggu lebih dari satu jam di studio. Dan begitu diberi kesempatan, pihak yang dituduh bicara dengan tegas, si pelapor nampak terdiam dan tertunduk. Ada apa?

Sang Isteri: Benar suamiku, akan tetapi bukankah raksasa dan macan pun mempunyai kelemahan? Mass media yang telah menjadi raksasa pun mempunyai kelemahan, mereka kurang memberi peluang bagi “konten”, muatan pengguna, pemirsa. Beberapa jejaring sosial, mereka seperti para wanara dalam lakon Ramayana, mereka efisien, tanpa memerlukan biaya tinggi. Internet adalah produk masa pascaindustri. Media ini menawarkan jasa ruang di dunia maya, dan masyarakatlah yang menentukan konten-nya. Konten informasinya, dan kepada siapa informasi itu akan disebar, merekalah yang akan menentukan. Internet pun memberi peluang kepada penggunanya, untuk menentukan konten apa yang akan mereka ambil dari medium itu. Saat ini telah Indonesia, terjadi kenaikan pengguna yang signifikan. Pada bulan Desember 2009 pengguna Facebook di Tanah Air sebanyak 13.870.120 dan di bulan Januari 2010 menjadi 15.301.280 user. Ini berarti mengalami kenaikan sebanyak 1.431.160 user, 10% dalam satu bulan. Para pengguna Facebook adalah mereka yang terpelajar, yang ekonominya mapan dan mereka adalah pangsa iklan yang potensiil. Mass media perlu berbenah diri. Secara global pengguna facebook sudah mencapai 350 juta pengguna aktif.

Sang Suami: Benar isteriku, demikian pula ada kelemahan para macan. Para macan membutuhkan asupan makanan yang tinggi. Tanpa asupan makanan yang memadai mereka akan limbung. Dan dalam raksasa media asupan tersebut adalah para pembaca, para pemirsa. Semakin banyak pembaca, semakin banyak pemirsa semakin banyak iklan masuk. Sudah waktunya demi Ibu Pertiwi tercinta, kita melakukan partisipasi aktif. Jangan beli, jangan tonton mass media yang tidak berimbang pemberitaannya. Jangan beli dan jangan tonton mass media yang tidak mendukung persatuan dan kesatuan bangsa. Pakailah mass media alternatif, lewat facebook,  atau situs jejaring sosial lain seperti Twitter, atau Multiply. Isteriku, mari kita berdoa demi kesatuan dan persatuan bangsa. Indonesia Jaya.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: