“Trust” Kepada Guru, Belajar Dari Pertemuan Kanjeng Nabi Musa dengan Kanjeng Nabi Khidir


Malam telah larut dan seorang pria setengah baya bercengkerama dengan istrinya di bawah lukisan Semar yang telunjuk tangannya selalu mengarah ke atas.

Sang Isteri: Suamiku, telunjuk tangan Romo Semar seakan-akan selalu mengisyaratkan hanya ada “satu”. Bukankah Einstein yakin, semua yang berwujud materi pada hakikatnya adalah energi? Massa dalam kecepatan tertentu adalah energi. Tak ada yang lain selain energi dan Dia adalah Energi Yang Agung.  Bukankah itu pun selaras dengan adwaita, tauhid, bhinneka tunggal ika, sesungguhnya tidak ada yang lain selain Dia. Bukankah Michael Jackson pun yakin bahwa yang ada adalah Dia yang menari dan alam ini adalah tarian-Nya? Luar biasa penggambaran para leluhur kita tentang Romo Semar.

Sang Suami: Bila di Nusantara, kita mengenal Romo Semar dengan gaya khas-nya, di daerah Sindh dan Timur Tengah dikenal Kanjeng Khidir,  seorang Sufi Fakir, Seorang Pengelana tanpa kepemilikan, namun miliki seluruh semesta, berpakaian hijau-hijau. Di sekitar Sindh, masih banyak orang yang percaya bila menyerunya dengan penuh keyakinan dan hati yang suci, dengan kesungguhan, maka ia akan muncul. Warna Hijau selalu dikaitkan dengan Cinta, dan dengan Chakra ke-empat, Pusat atau Roda Energi Ke-Empat dalam diri kita. Pusat ini adalah Jiwa kita, Hati dari Jiwa kita, tepat di tengah-tengah dada kita.

Sang Istri: “Menurut hadist dan dalam surat Al-Kahfi, Nabi Musa merasa bahwa dialah orang yang paling bijaksana dari semua Nabi. Allah Yang Maha Pemurah memberi pelajaran pada Musa dan memerintahkannya untuk mencari seseorang yang Dia sebut sebagai “salah satu dari hamba-hamba Kami”. Banyak yang berpendapat bahwa hamba yang dimaksud adalah Al-Khidr.

Sang Suami: Ada cerita tentang pertemuan antara Kanjeng Nabi Musa dengan Kanjeng Nabi Khidir. Kanjeng Nabi Musa bertemu Nabi Khidir dan mohon dapat mengikutinya untuk menimba ilmu. Nabi Khidir memberitahu bahwa dia sekali-kali tidak akan sanggup dan sabar bersamanya. Akhirnya, Nabi Musa boleh mengikuti akan tetapi tidak boleh bertanya mengapa Nabi Khidir melakukan sesuatu sebelum dijelaskan olehnya. Pertama, mereka sampai pada sebuah perahu yang terus dilobangi oleh Khidir, dan nabi Musa bertanya mengapa hal tersebut dilakukan. Nabi Khidir dengan dahi berkerut tak menjawab dan meneruskan perjalanan. Kedua, tatkala berjumpa dengan seorang anak muda Nabi Khidir langsung membunuhnya. Kembali Nabi Musa mempertanyakan tindakannya, dan Nabi Khidir mengerinyitkan alisnya lalu meneruskan perjalanannya. Ketiga, saat sampai ke suatu desa yang tidak ada seorang pun warganya yang bersedia berbagi makanan kepada mereka, Nabi Khidir tiba-tiba memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh. Kembali Musa mempertanyakannya dan Nabi Khidir sebelum berpisah menjelaskan: Pertama, kapal yang dilobangi tersebut milik orang-orang miskin, dan sebentar lagi akan ada kepala suku yang merampas kapal yang masih kondisinya dalam keadaan baik. Kedua, anak muda yang kubunuh tersebut sangat jahat, padahal kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan anak muda tersebut akan mendorong kedua orang tuanya menuju kekafiran. Kedua orang tua tersebut akan mempunyai anak lagi yang sholeh. Ketiga, dinding rumah yang hampir roboh tersebut kepunyaan dua anak yatim dan di bawah dinding tersebut ada harta warisan mendiang orang tua mereka. Gusti menghendaki agar mereka berkembang menjadi dewasa baru mendapatkan harta warisan tersebut. Kanjeng Nabi Musa tercerahkan, berterima kasih kepada Nabi Khidir dan berjuang mengembangkan diri pribadinya. Dalam kisah tersebut tak ada satu pun kata-kata yang menyebut Murid dan Guru. Guru tak pernah menyebut diri mereka Guru. Hubungan Guru Murid adalah sangat personal. Mereka yang mengaku di media massa sebagai murid belum memahami makna sebenarnya.

Sang Isteri: Terima kasih Suamiku, nampaknya pada saat tersebut Nabi Musa pun masih memakai mind, sedangkan Nabi Khidir sudah melampaui mind, sehingga tindakannya tidak dapat dirasionalisasi. Diperlukan “trust” kepada seorang yang kita anggap sebagai Guru. Masih beranikah kita menyebut diri sebagai murid? Padahal kita belum juga mempunyai “trust”.

Sang Suami: Ada 4 kelompok yang “merasa” sebagai murid. Pertama, mereka yang datang part time, dia masih memakai pola pikirannya yang lama, datang kepada dia yang dianggapnya sebagai Guru untuk mencari, apabila ada, pengetahuan baru yang sesuai dengan pola pikiran lamanya. Kedua, yang tidak pernah pergi dari seseorang yang dianggap Gurunya. Sudah berulang kali dia keluar masuk, sekarang malas keluar, di luar juga tidak ada apa-apa. Ketiga, the seeker, mereka mempunyai segudang pertanyaan, dan pada suatu saat mereka mendapatkan pengetahuan sejati. Keempat, mereka yang hanya mengabdi, tujuan hidupnya hanya mengabdi kepada Gusti dan dia pasrah sepenuhnya kepada kebijaksanaan seseorang yang dianggapnya sebagai Guru. Mereka yang memfitnah dia yang dianggap sebagai Gurunya masih memakai pola pikir lamanya, walau sudah lima tahun berada dekat dengan dia yang dianggapnya sebagai Guru, dia belum pantas mendapat predikat murid. Apalagi seseorang yang mengaku baru satu tahun aktif dan merasa sudah punya hubungan spesial dengan seseorang yang menurut dia adalah Sang Guru. Masyarakat awam belum paham makna Guru yang sebenarnya. Hubungan Guru-Murid sangat personal. Ada beberapa yang menyebut seseorang sebagai Guru, akan tetapi dia sendiri belum merasa sebagai murid. Murid adalah seorang murad, yang tujuan hidupnya semata-mata untuk Gusti. Betulkan kita sudah menjadi murid?

Sang Isteri: Terima kasih Suamiku, dalam Kidung Ramayana ditunjukkan Hanuman sebagai Murid Sejati Sri Rama. Dia “trust” bahwa kawanan wanara dapat mengalahkan para raksasa yaitu  mereka yang mengandalkan kekuatannya, dan meminggirkan hati nuraninya demi memenuhi  keserakahannya.

Sang Suami: Benar Isteriku, Hanuman adalah seorang yang kuat, punya skill dan bijak. Dia sekuat dan secepat angin dan dalam pikirannya tidak ada yang lain kecuali Gustinya. Semoga kita dapat meneladani Hanuman. Bolehlah seseorang yang kita “trust” sebagai Guru sudah melampaui mind bertindak yang tak dapat kita pahami, akan tetapi sebagai seseorang yang sedang berusaha menjadi murid, sesuai skill yang dimiliki kita harus membela seseorang yang telah memandu kita dalam meningkatkan kesadaran. Ibaratnya, sudah beberapa kali kehidupan kita takut bersuara dan dalam kehidupan ini kita harus berani bersuara.

Sang Isteri: Kita tidak tahu mengapa seseorang yang kita hormati tidak melakukan tindakan yang setimpal kepada mereka yang memfitnahnya. Tetapi itu adalah pola pikiran kita. Dia lebih tahu. Kita “trust” kepadanya.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: