Lack of Urgency dari Bangsa dan Peran Mass Media


Di suatu Saptu pagi, kala putra-putrinya sudah berangkat sekolah, sepasang suami istri bercengkerama sambil mendengarkan bhajan Shree Hanuman Chalisa, kisah kecintaan Hanuman kepada Sri Rama, hasil download di internet.

Sang Suami: Saya baru saja membaca opini di Jawa Pos, bahwa seorang senator, mantan Gubernur Indiana, dengan popularitas sangat tinggi tidak akan maju dalam pemilihan senator berikutnya. Dia berkata bahwa para koleganya tidak bekerja untuk rakyat, tetapi untuk partai dengan kepentingan jangka pendek. Mereka yang percaya kepada politik sebagai tugas suci akan selalu sendirian. Di ruang sidang yang terjadi adalah “jual beli” dengan partai sebagai “makelar”. Itu di sana, apakah di sini juga tidak berbeda? Semoga tidak demikian.

Sang Isteri: Saat kuliah para mahasiswa mengutuk Machiavelli yang percaya bahwa politik tak harus dijalankan dengan iman teguh. Menurutnya, kekuasaan sama sekali tak terkait dengan moralitas. Bagaimana mempertahankan kedudukan dan menciptakan stabilitas, itu yang utama. Rupanya sampai saat seseorang mendapatkan kekuasaan pun teorinya masih hapal di luar kepala. Akan tetapi dari tindakannya telah terbukti bahwa dia bertekuk lutut kepada Sang Machiavelli. Apakah ini hasil pendidikan kita? Hanya “smart dan etis” di konsep dan kehilangan jatidirinya di real life?

Sang Suami: Benar isteriku, dari berita mass media dapat diperkirakan bahwa sebuah kasus hanya digunakan sebagai wahana menguatkan posisi tawar terhadap pihak penguasa. Mereka tak mempedulikan konstituen. Rakyat sekedar noktah hitam yang dikunjungi 5 tahun sekali, kata opini Jawa Pos. Sehingga parlemen jalanan dan piranti jejaring sosial tetap digunakan mereka yang “sadar”.

Sang Isteri: Saya menjadi sangat kecewa, betapa tidak sadarnya seorang mahasiswi dan seorang terapis tanpa bukti kuat tentang pelecehan seksual dengan blow up dari mass media mempengaruhi opini masyarakat. Mengapa mass media menginterview mereka, dan tak menginterview para pakar dan para pecinta bangsa untuk bersuara sehingga masyarakat tidak dijadikan alat 5 tahun sekali saja?

Sang Suami: Kita telah kehilangan prioritas, lack of urgency dari sebuah bangsa, dan mass media pun hanya beberapa yang masih sadar. Mengapa memilih berita remeh temeh bagi bangsa, padahal tokoh yang dituduh betul-betul berbobot dan mempunyai dedikasi tinggi bagi negara ini. Pandangan Beliau akurat sekali, yang perlu ditumbuhkan adalah kesadaran pribadi dulu. Para aktivis yang mencintai negara tetapi belum sadar, sering tergoda kala memegang tampuk kekuasaan.

Sang Isteri: Bukankah banyak orang humanis, banyak pengamat ahli di negeri kita? Saya ingat bahwa saya pernah membaca buku tentang bagaimana menjadi aktivis.

Sang Suami: Benar isteriku, saya pengagum berat penulis tersebut. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kebodohan, ketidakpedulian, kehilangan prioritas, lack of urgency di sekitar kita harus dihentikan. Kita tidak bisa berharap seorang “satrio piningit” untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Bila sudah banyak orang bergerak, dia akan keluar. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Kita dibujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan bangsa ini.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, mari kita berdoa, semoga para anak bangsa dilimpahi kesadaran, dan yang telah sadar terus berjuang menyebarkan virus kesadaran tersebut. Indonesia Jaya.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Iklan

3 Tanggapan

  1. […] Lack of Urgency dari Bangsa dan Peran Mass Media Posted on Februari 23, 2010 by triwidodo […]

  2. […] Lack of Urgency dari Bangsa dan Peran Mass Media Posted on Februari 23, 2010 by triwidodo […]

  3. […] Lack of Urgency dari Bangsa dan Peran Mass Media Posted on Februari 23, 2010 by triwidodo […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: