Meditasi: Pengaruh dan Refleksi Diri


Catatan Roy B. Efferin Meditasi Pengaruh dan Refleksi Diri

http://www.facebook.com/#!/notes/roy-b-efferin/meditasi-pengaruh-dan-refleksi-diri/317640973671

Meditasi: Pengaruh dan Refleksi Diri

 19 Februari 2010 jam 19:03

Meditasi. Satu kata sederhana tetapi memiliki banyak perspektif di belakangnya. Mereka yang pro meditasi mengatakan bahwa meditasi adalah suatu teknik (atau bahkan ilmu) tingkat tinggi yang hanya segelintir orang bisa lakukan untuk mencapai kesaktian dan superioritas terhadap orang lain. Sementara yang kontra menganggap bahwa meditasi ‘berbahaya’ karena membuat pelakunya menjadi tidak terikat oleh agama dan moral; jika bermeditasi maka pikiran akan kosong dan bisa dimasukkan apapun, entah kerasukan setan atau bisa dihipnotis.

Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi.

Institute of HearthMath menemukan bahwa jantung manusia memancarkan medan electromagnet yang mempengaruhi sekitarnya. Bahkan ketika peristiwa 11 September 2001 muncul, tiga jam sebelum penyerangan, peneliti lain yaitu Roger Nelson dan timnya dari Universitas Princeton menemukan bahwa kesadaran dan emosi manusia mempengaruhi mesin penelitian mereka. Secara intuitif manusia memahami peristiwa besar akan terjadi. Secara kolektif dalam alam bawah sadar mereka, manusia sedang mempersiapkan diri untuk suatu bencana. Dan medan magnet bumi pun mengalami perubahan drastis hingga beberapa hari setelah 11 September. Perubahan medan magnet bumi ini dideteksi oleh satelit cuaca National Oceanic and Atmospheric Administration.

Secara intuitif manusia bisa mengetahui apa yang terjadi ketika akan terjadi ‘ledakan’ atau perubahan mendadak di alam. Kita menangkap seluruh vibrasi yang ada di semesta dan setiap perubahan vibrasi sebetulnya bisa dirasakan jika kita mau ‘mendengarkan’ vibrasi tersebut. Di sinilah salah satu fungsi meditasi. Meditasi membuat kita lebih peka, lebih memahami apapun yang terjadi di sekeliling kita, bahkan apa yang terjadi pada belahan bumi yang lain. Meditasi membuat pikiran-pikiran kita yang mengganggu emosi menjadi lepas dengan sendirinya.

Contoh pengaruh meditasi pada fisik, beberapa teknik yang diajarkan oleh Bp. Anand Krishna, dengan melakukan teknik napas cepat tertentu, maka kadar CO2 akan menurun cukup signifikan dan membuat otak mengira tubuh mengalami kejenuhan O2. Ini disebut hyperventilation dan otak akan memerintahkan pembuluh darah mengecil agar otak tidak mengalami kerusakan karena kelebihan O2 dan justru kadar O2 dalam tubuh berkurang. Ini yang menyebabkan orang yang melakukan meditasi sering merasa kebas tubuhnya. Efek ini berbeda dengan latihan-latihan yang disebut tenaga dalam, di mana untuk mendapatkan kekuatan instan, pembakaran tubuh justru ditingkatkan dengan teknik tertentu yang justru meningkatkan O2 dalam darah. Padahal O2 yang berlebihan dalam tubuh akan menyebabkan sel-sel tubuh mengalami pembakaran lebih cepat dan pemendekan usia sel.

Pada tatanan otak, dengan pasokan O2 berkurang secara menyeluruh dalam tubuh, otak mengalami penurunan kadar O2 dan synaps-synaps otak juga melemah. Synaps adalah hubungan antara sel-sel syaraf di otak. Setiap tindakan dan pikiran kita akan membentuk suatu pola synaps tertentu. Jika tindakan atau pikiran itu menjadi kebiasaan, maka pola synaps yang terbentuk akan menjadi makin kuat. Seperti pendapat psikologi bahwa manusia adalah makhluk kebiasaan. Walaupun kita tahu bahwa kebiasaan kita tidak memberi manfaat kepada kita, tetap saja kita lakukan. Synaps inilah yang oleh ilmu psikologi dianggap sebagai alam bawah sadar. Dari sisi neuroscience, ini terjadi karena synaps-synaps di otak sudah terbentuk dengan kuat. Bisa dikatakan bahwa orang yang kecanduan substansi, emosi, atau kondisi tertentu, dari sudut neuroscience terjadi karena synaps yang terbentuk sudah sedemikian kuat. Meditasi dengan beberapa teknik katarsis (seperti yang diajarkan oleh Bp. Anand Krishna) mampu melemahkan synaps-synaps tersebut hingga kita bisa membentuk synaps baru yang lebih produktif. Banyak peserta meditasi di Anand Ashram yang dulunya adalah pecandu rokok, narkoba, dll, berhasil melepaskan diri dari kecanduan mereka. Dari sudut pandang neuroscience, hipnotisme atau hipnoterapi bukanlah suatu solusi yang tepat untuk orang yang mengalami trauma, karena hipnoterapi tidak bisa mematahkan synaps dan yang dilakukan justru membentuk synaps baru di atas yang lama. Akibatnya, suatu peristiwa atau kondisi tertentu bisa memicu kembali kebiasaan atau trauma lama. Dan karena synaps lama sudah terbentuk lebih kuat, maka synaps yang baru terbentuk oleh hipnotis akan mundur ke belakang.

Jika dipandang dari sudut mekanika kuantum, setiap partikel memiliki muatan energy tertentu. Misalnya, partikel warna merah jika ditembakkan ke elektron maka tumbukan energi yang muncul tidak akan sebesar partikel warna ungu. Jika partikel warna ungu ditembakan ke elektron, maka elektron tersebut akan berpindah ke orbit yang lebih jauh dibandingkan warna lain. Bisa disimpulkan bahwa setiap warna mewakili vibrasi tertentu. Meditasi menyebabkan beban-beban pikiran, emosi dan mental yang menempel pada diri untuk lepas. Dan ketika sudah terlepaskan, vibrasi seseorang akan makin meningkat, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki vibrasi yang tinggi. Setiap beban pikiran, mental, emosional seperti depresi, sedih, kemarahan, dendam, stress, semuanya akan membuat vibrasi tubuh menurun dan tubuh akan mulai bekerja di luar range tubuh yang normal. Jika ini terjadi, maka tubuh akan mengalami ketidaknyamanan hingga akhirnya jatuh sakit. Jika pola ini dilanjutkan, maka penyakit-penyakit akan bermunculan hingga penyakit yang terminal. Kabar baiknya adalah, tubuh memiliki kemampuan rekuperasi yang luar biasa kuat sehingga jika kita bisa membebaskan diri kita untuk sejenak selama beberapa hari beban-beban yang mengganggu diri kita, maka kesehatan akan mulai muncul kembali.

Itukah tujuan meditasi? Seharusnya meditasi bertujuan untuk mengembangkan kesadaran, menumbuhkan cinta dari dalam diri, merasakan persatuan dengan semesta. Dalam bahasa awam, indikator yang lebih penting yang menunjukkan bahwa seseorang sedang berproses dalam meditasi adalah rasa cinta dan kasih yang meluap-luap terhadap semua makhluk hidup. Seseorang yang sedang mengalami cinta, berenang dalam kasih, tidak bisa mengangkat senjata atau menghujat orang lain, apapun perlakuan orang tersebut padanya. Mereka akan berusaha berdamai pada orang-orang yang berusaha menyalibkan. Mereka akan memaafkan kesalahan orang lain padanya. Namun pada titik tertentu, orang yang penuh kasih pun harus mengangkat senjata untuk melindungi kepentingan lebih luas. Mari kita renungkan apa tujuan kita bermeditasi? Atau mengkritik orang lain? Sudahkah kita mencapai kehidupan yang meditatif?

Iklan

4 Tanggapan

  1. […] Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi. Baca selebihnya » […]

  2. […] Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi. Baca selebihnya » […]

  3. […] Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi. Baca selebihnya » […]

  4. […] Kedua pandangan ini tidak memberikan penjelasan yang cukup baik tentang meditasi itu sendiri. Meditasi adalah proses yang berjalan. Ada berbagai macam teknik dan cara bermeditasi dan hampir dalam setiap tradisi atau agama mengenal satu atau lebih bentuk meditasi, seperti kontemplasi, adorasi, tafakur, atau semedi. Apakah meditasi identik dengan agama tertentu? Jelas tidak. Tetapi meditasi adalah suatu cara untuk membuat diri kita lebih reseptif dan sadar akan diri kita sendiri. Meditasi membuat kita lebih peka akan eksistensi kita sebagai bagian dari lingkungan, alam, bumi, bahkan makro kosmos. Dari sudut pandang Semesta di mana terdapat milyaran galaksi dengan masing-masing milyaran tata surya, bumi tempat kita berpijak bagaikan organisme satu sel yang hidup dan bernapas. Bumi bukanlah benda mati seperti dugaan kita dulu, tetapi suatu makhluk hidup yang mampu mengambil keputusan dalam kondisi tertentu. Ketika bencana muncul, sebetulnya bumi sedang melakukan penyeimbangan atas kondisi ekstrem yang manusia (dalam ketidaksadarannya) lakukan terhadapnya. Pembuktian terhadap hal ini makin marak dan tidak bisa disangkal lagi. Baca selebihnya » […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: